RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Menghampiri Vika


__ADS_3

Setelah pengumuman pengganti CEO di perusahaan selesai, Dito tak serta merta menuju ruang kerjanya melainkan menemui Vika terlebih dahulu. Ia ingin tahu respon apa yang diberikan oleh Maya


"Selamat pagi pak Dito, perkenalkan saya Steffy, sekretaris anda disini, ada yang bisa saya bantu?" ucap Steffy dengan ramah.


"Gak ada.. Apa hari ini ada jadwal meeting?" tanya Dito memastikan.


"Disini tertulis tidak ada meeting atau pun janji temu dengan klien manapun pak, bisa dipastikan anda hari ini free," jawab Steffy membaca schedule.


"Baiklah.. Bagus, saya pergi dulu," ucap Dito lalu, beranjak dari ruangannya. Disepanjang jalan banyak karyawan yang menyapa Dito karena sekarang ini Dito resmi menjadi pemegang perusahaan.


Tiba di ruangan Vika, banyak pasang mata yang memperhatikan namun tak berani untuk bertanya. Mereka memutuskan untuk diam dan mendengarkan perbincangan yang terjadi diantara mereka.


"Vika..." sapa Dito berjalan mendekati meja Vika.


"Loh.. Dito, eh salah salah maksudku pak Dito, ada apa pak? Apa yang membuat bapak sampai datang sendiri kesini?" tanya Vika terkejut.


"Panggil nama saja," jawab Dito santai.


"Mana bisa begitu, kamu kan atasan saya di kantor dan lagipula ini masih jam kerja jadi ya harus bersikap layaknya atasan dengan bawahan," ucap Vika tak mau membuat kesalahan.


"Baiklah untuk kali ini, next time panggil nama saja, oke?" ucap Dito meminta jawaban.


"Saya usahakan pak, ada hal apa pak?" tanya Vika mengalihkan obrolan.


"Temani saya beli kopi di kafe seberang sana sekarang juga," jawab Dito dengan entengnya.


"Apa?? Bapak gak salah menyuruh orang kan? Saya ini hanya staf," tanya Vika kaget.


"Tidak.. Kamu Vika kan, Vika Isyana Cantika," jawab Dito menjelaskan dan Vika mengangguk.


"Yasudah ayo temani saya beli kopi, saya suntuk," ajak Dito, akhirnya Vika tak berani membantah dan mau tak mau Vika menemani bosnya.


Ketika mereka berjalan berbarengan banyak yang memperhatikan dan saling berbisik, sepertinya mereka penasaran dengan hubungan mereka berdua apalagi status keduanya berbeda jauh, Vika hanya staf biasa sedangkan Dito pemilik perusahaan.


"Eh itu kan cewek yang kemarin di kantin, inget gak dia tuh cewek yang suapin pak Dito," ucap salah satu pegawai.

__ADS_1


"Iya ya.. Baru inget gue, waktu itu pak Dito belum diberitahu kalau dia ternyata anak bos sini," celetuk salah satu pegawai lainnya dan masih banyak lagi slentingan demi slentingan yang menurut mereka benar tanpa mau mencari kebenarannya.


Tiba di kafe, keduanya duduk berseberangan namun jaraknya hanyalah sebuah meja bundar kecil.


"Pesanlah sesukamu," ucap Dito dengan angkuh.


"Masih kenyang," jawab Vika menolak halus.


"Halah gak usah sungkan begitu, anggap saja ini hadiah atas posisi baruku," ucap Dito mendesak.


"Posisi baru kok CEO," sindir Vika.


"La terus apa dong? Kan emang aku ini anak dari CEO tempatmu bekerja," tanya Dito heran.


"Dimana-mana tuh traktiran atas kenaikan jabatan, lah kamu? Tiba-tiba udah jadi CEO, ya itu bukan posisi baru tapi posisi turun temurun," sindir Vika.


"Yang penting dapat jabatan baru, dulu aku ini wakil papah namun melihat papah sudah semakin tua dan banyak handel perusahaan jadinya papah memberikan anak perusahaan ini padaku eh gak taunya kamu ternyata kerja disini," ucap Dito.


"Ya namanya juga aji mumpung, aku juga gak nyangka kerja disini kok," jawab Vika jujur.


Setelah mereka memesan makanan dan pesanannya tiba, baik Vika maupun Dito menyantap hidangan itu dengan nikmat. Memang ini adalah makanan kesukaan Vika, wagyu steak.


"Btw.. Congratulations ya untuk posisimu yang semakin bagus, jujur aja waktu disuruh ngumpul di ballroom banyak yang berpikir aneh-aneh loh, yang katanya perusahaan terancam bangkrut lah, pengurangan karyawan lah, ini itulah, makanya aku pun juga salah satu dari mereka yang khawatir dengan desas desus itu apalagi aku ini masih karyawan training, mudah banget kan aku di depak dari perusahaan?" ucap Vika berpikir logis.


"Meskipun kamu karyawan training jika kinerjamu bagus dan membawa dampak positif pada perusahaan ya pastinya bakal dipertahankan, ngapain harus takut? Di perusahaan kalau kamu sudah berumur tapi kinerja masih oke ya dipertahankan," jawab Dito geli dengan pikiran buruk Vika.


"Ya namanya aja orang khawatir, wajar aja pikirannya begitu," jawab Vika.


"Sekarang jangan khawatir lagi ya apalagi aku yang jadi bosmu, tenang aja posisimu bakal cemerlang kok," ucap Dito terdengar serius.


"Maksudnya?" tanya Vika tak mengerti.


"Nanti kamu tau sendiri, tunggu saja waktunya tiba," jawab Dito membuat Vika penasaran.


"Yaudah terserah.. Boleh gak aku minta tolong?" tanya Vika.

__ADS_1


"Boleh.. Apa itu?" tanya balik Dito.


"Ini kan masih jam kerja sedangkan jam istirahat udah lewat jadi tolong ya jangan main ajak aku keluar kayak gini lagi, jujur aja aku gak enak sama yang lainnya, mereka kan sama-sama kerja masak yang diajak cuma aku, lain kali jangan ya," tegur Vika.


"Kalau aku gak mau?" ucap Dito usil.


"Jangan karena kamu bos disini jadi bisa bersikap seenaknya, kerja ya kerja," tegur Vika kesal.


"Kalau tiba-tiba aku suntuk dan mau keluar cari angin kayak gini, gimana?" tanya Dito.


"Ajak sekretarismu dong, namanya sekretaris kan siap sedia menemani bosnya ketika kerja," jawab Vika.


"Gak mau ah, kalau aku maunya sama kamu ya pokoknya kamu harus nurut, kalau gak mau.." ucap Dito menggantung.


"Kalau gak mau kenapa?" tanya Vika penasaran.


"Potong gaji 50℅," jawab Dito terkekeh.


"Apa?? Gila.. Punya bos baru kejam banget, malah kayak dijajah, aku menolak potongan sebesar itu," protes Vika.


"Makanya kamu harus menuruti kemauan ku, ingat disaat jam kerja kamu itu bawahan ku," ucap Dito penuh penekanan.


"Tiba-tiba perutku kenyang, aku mau pulang dulu," ucap Vika yang tak selera makan. Ia tak menyangka jika Dito ternyata lebih kejam dari ayahnya, padahal pak Bramantyo terkenal sebagai bos yang baik, bijaksana dan juga loyal pada karyawannya lah anaknya? Kenapa berbanding terbalik gini sih? Terbuat dari apa hati dan pikiran si Dito.


"Jika aku menolak ajakan dia selama dua kali sama aja gue gak gajian sebulan full dong, astaga gini amat kerja dengan tetangga," batin Vika berusaha sabar, karena tak mau mendengar kekonyolan Dito yang lebih mengerikan lagi akhirnya Vika beranjak pergi.


"Mau kemana?" teriak Dito.


"Balik kerja, selera makanku hilang," jawab Vika menoleh sekilas.


"Tunggu dulu!" pekik Dito namun tak dihiraukan Vika.


"Pak satpam, tangkap wanita itu, dia belum bayar," teriak Dito yang membuat satpam segera mencengkeram tangan Vika dengan erat.


"Eh apa-apaan sih ini!!!" pekik Vika kesal.

__ADS_1


"Makanya dibilangin bos suruh tunggu ya tunggu dulu, main nyelonong aja gini akibatnya," jawab Dito dengan santai sambil tersenyum puas.


__ADS_2