
Kini mereka sudah bangun namun tidak untuk kedua anaknya, mereka masih saja tertidur pulas hingga membuat Ryan dan Dinda tak tega membangunkannya.
"Sudah biarkan anak-anak bangun dengan sendirinya, kita ke balkon saja," ucap Ryan lalu menggandeng tangan Dinda.
"Tapi anak-anak butuh sarapan mas," jawab Dinda.
"Biarkan kalau mereka lapar juga bangun, ini waktu liburan.. Biarkan mereka menghabiskan waktu dengan sesuai keinginannya," ucap Ryan dan Dinda hanya pasrah saja.
Karena keduanya sedang asyik menikmati pemandangan di balkon sampai tidak sadar bahwa makanan yang di pesan Ryan sudah berada di depan dan terus menerus memencet bel. Farel yang merasa kebisingan langsung bangun dan membukakan pintu.
Karena Farel kurang fasih berbahasa Inggris akhirnya ia berteriak memanggil kedua orang tuanya.
"Papah.. Mommy.." teriak Farel sangat kencang hingga membuat keduanya kaget dan bergegas menghampiri Farel.
"Kamu udah bangun sayang? Ada apa kok teriak?" tanya Dinda panik.
"Ini mom ada paket kayaknya antar makanan deh, masnya bikin Farel bingung soalnya pakai bahasa Inggris makanya Farel panggil mommy sama papah," jawab Farel sambil menunjuk pria yang sedang membawa beberapa makanan.
"Oh itu.. Benar sayang masnya memang bawa paket pesanan papah, yasudah kalian tunggu di meja makan ya," jawab Ryan membenarkan perkataan Farel dan menerima paket itu lalu membayarnya.
Akhirnya mereka bisa sarapan dengan sangat nikmat karena sambil melihat pemandangan yang sangat indah.. Dinda pun kali ini sangat menikmati momen-momen yang tercipta.
"Breakfast in Singapore," tulis caption Dinda sembari upload makanan yang ada di depan matanya.
Rio yang melihat status Dinda merasa kesal karena bisa-bisanya Dinda dan suaminya liburan sedangkan ia disini sedang fokus mengurus pengalihan hak asuh anak-anaknya.
Secara refleks Rio membanting ponsel mahalnya ke meja hingga membuat Mayang kaget,
"Kamu kenapa sih? jam segini udah marah-marah," tanya Mayang heran lalu mengambil ponsel Rio.
"Dinda dan suaminya mah.." jawab Rio geram.
"Mereka kenapa?" tanya Mayang penasaran.
"Mereka sekarang sedang di Singapura," jawab Rio malas membahas.
"Lalu kenapa kamu yang marah?" tanya Mayang heran.
"Jelas lah mah.. Mamah kan tau bagaimana Rio pontang-panting agar bisa mendapatkan kembali hak asuh anak-anak, lah ini mereka malah enak-enakan liburan," jawab Rio kesal.
"Ah kamu ini bukan kesal melainkan cemburu karena Dinda sekarang lebih bahagia sama suaminya dan anak-anak pun juga, sudahlah Rio kalau memang kamu tidak bisa memiliki Dinda dan juga anak-anak maka ikhlaskan, kamu sendiri kan yang melepas mereka secara cuma-cuma," tegur Mayang.
"Gak mah.. Untuk Dinda oke lah Rio bisa mencoba ikhlas namun kalau untuk anak-anak tidak mah.. Kelalaian yang mereka lakukan kemarin membuat Rio yakin bisa mengambil alih anak-anak," ucap Rio sangat yakin.
"Ingat Rio lawan mu pengacara handal," sindir Mayang.
"Gak akan gentar bahkan goyah mah.. Dia hanya pengacara tapi Rio adalah ayah biologisnya," ucap Rio dengan mantap.
"Eits.. Ryan juga ayah sambung mereka loh," ucap Mayang mengingatkan.
"Ayah sambung sama ayah biologis jelas menang ayah biologis dong mah," jawab Rio sebal.
"Mamah cuma mau mengingatkan jangan lagi kamu bermain api dengan mereka, biarkan mereka hidup tenang dan bahagia.. Kasihan mereka kalau terus menerus kamu usik," tegur Mayang.
__ADS_1
"Rio gak mengusik mereka mah andai saja mereka bisa menjaga anak-anak dengan baik," jawab Rio tak mau kalah.
"Mungkin peristiwa kemarin hanyalah kesialan saja bagi mereka toh nyatanya anak-anak bahagia kan?" tanya Mayang.
"Andai mereka trauma apakah mamah tau?" tanya Rio.
"I don't know," jawab Mayang lirih.
"Makanya itu Rio mau mempercepat prosesnya agar hasilnya sesuai ekspetasi Rio.. Kalau nantinya anak-anak trauma kan bisa menjadi senjata bagi Rio," jawab Rio sangat yakin dan tersenyum bahagia.
"Terserah kamu saja intinya kalau kamu nantinya kalah tolong terima dengan lapang dada," tegur Mayang.
"Iya mah.. Sebelum Rio menerima kekalahan maka Rio akan mengajukan kemenangan," ucap Rio sangat menggebu dan Mayang hanya bisa pasrah. Jika sang putra sudah berkeinginan maka harus segera dilaksanakan, entah bagaimana nanti hasilnya yang pasti Rio harus menggapainya dulu.
###
Di lain sisi.. Dinda dan Ryan sangat menikmati momen liburan mereka dan hari ini jadwal untuk USG di salah satu rumah sakit terbaik di Singapura. Baik Dinda maupun Ryan sudah tidak sabar untuk menengok sang anak yang semakin hari semakin membesar di perut Dinda.
"Mas kok aku jadi gugup gini ya?" tanya Dinda.
"Kenapa?" tanya Ryan khawatir.
"Gugup mau bertemu anak kita via USG apalagi ini tempatnya di luar negeri," jawab Dinda.
"Astaga sayang aku pikir tuh kenapa, kamu nih udah buat aku khawatir aja," jawab Ryan bisa bernafas lega dan Dinda hanya tersenyum manis.
Mereka mengendari mobil sewaan Ryan untuk pergi ke rumah sakit yang di tuju. Sesampainya di sana lagi-lagi Dinda dibuat kagum oleh pemandangan yang ada di depan matanya.. Sebuah rumah sakit yang mewah nan megah dengan di kelilingi bunga dan pepohonan yang lebat terawat, tidak hanya itu saja di depan rumah sakit ada air mancur yang sangat indah.
"Mas ini kan rumah sakit mahal," bisik Dinda.
"Banyak artis yang datang kesini mas," bisik Dinda.
"Kok kamu bisa tau?" tanya Ryan memancing.
"Tau dong kan masuk berita, kita pulang aja mas disini bukan kelas kita," ucap Dinda insecure.
"Siapa bilang? Semua rumah sakit bebas di datangi siapa saja, ayo masuk.. Kita udah booking loh," ajak Ryan menggandeng mesra tangan Dinda.
Sesampainya di ruang dokter Dinda semakin gugup karena ini pertama kalinya ia mendapat dokter seorang pria.. Namun melihat umur dan sepak terjangnya sepertinya tidak perlu diragukan lagi.. Ryan pasti sudah banyak menggali informasi sebelum akhirnya memilih dokter pria ini untuk dijadikan dokter kandungan Dinda.
Benar saja.. Dengan telaten dokter menjelaskan setiap bagian tubuh anak Dinda beserta panjang dan berat badannya, hingga dokter itu bisa memprediksi berapa kilo nantinya anak Dinda lahir.. Dinda merasa kagum dengan kemampuan dokter itu.. Dinda merasa nyaman dan tak lupa mengabadikan setiap tubuh kembang anaknya, meskipun nantinya dapat scan foto USG namun Dinda ingin bisa mengabadikan sendiri.
Selesai diperiksa kini Dinda dan Ryan menunggu antrian obat.. Di sana tak hentinya Dinda terus mengamati foto anak ketiganya dengan wajah penuh bahagia. Ryan yang bisa merasakan pancaran bahagia sang istri juga turut bahagia.. Setidaknya yang ia lakukan tidaklah sia-sia. Tanpa Dinda sadari, di rumah sakit itu ada 25 persen saham keluarga Ryan, maka tak heran kalau Ryan bisa dengan leluasa memilih dokter dan mendapatkan pelayanan prioritas namun Dinda tidak memikirkan sampai sana, pikiran Dinda karena ini rumah sakit mahal jadi wajar saja kalau sepi.
Sebenarnya ingin sekali Ryan mengatakan namun ia tidak mau gegabah, ia ingin Dinda tau seluk beluk keluarganya secara perlahan.
Sesampainya di vila kini Dinda rebahan di kasur dan melihat ada chat masuk.
Di sana tertera nama mantan suaminya, Rio..
"Aku tau kamu sedang di Singapura namun ingat satu hal.. Di sini aku tidak akan diam memperjuangkan hak asuh anak-anak agar jatuh ke tanganku, ingat itu Din.." isi chat Rio langsung membuat Dinda down. Dinda kepikiran tentang hal itu lalu berjalan ke balkon untuk menenangkan diri namun sayang ia terpleset dan mengeluarkan bercak darah di pahanya. Merasa kesakitan yang sangat luar biasa akhirnya Dinda menelpon suaminya, karena untuk berteriak Dinda sudah tidak kuat.
"Halo sayang kenapa sampai telepon?" tanya Ryan heran dengan istrinya.
__ADS_1
"Help.. help me mas.." jawab Dinda lirih sambil, menahan kesakitan.
"Kamu kenapa sayang? Halo? Halo?" tanya Ryan panik dan bergegas ke kamar beserta kedua anaknya. Mereka semua panik dan kaget melihat Dinda mengeluarkan cukup banyak darah di pahanya, tak mau ambil resiko kini Ryan menelpon dokter yang tadi untuk segera datang ke villa nya, tak lupa Ryan share lok vila yang sedang mereka tempati.
20 menit menunggu akhirnya dokter sudah tiba di vila Ryan dan langsung memeriksa keadaan Dinda. Ryan merasa panik apalagi kedua anak Dinda tak hentinya menangis karena ketakutan melihat mommy nya kesakitan seperti itu.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Ryan panik.
"Its okay.. Untung saja tuan segera menghubungi saya, terlambat sikit saja bisa bahaya untuk mereka," jawab dokter dengan tenang.
"Untuk pendarahannya? Apakah berbahaya untuk anak saya?" tanya Ryan.
"Hampir.. Tapi saya sudah memberikan obat agar pendarahan nyonya berhenti, tolong jaga keselamatan dan kesehatan nyonya ya.. Jangan sampai balik lagi," ucap dokter menasehati.
"Baik.. Makasih banyak dok.. Saya gak tau kalau tidak ada anda bagaimana nasib istri saya," ucap Ryan sangat lega.
"Its okay.. Tak apa.. Ini sudah lazimnya seperti ini," jawab dokter memaklumi.
"Sekali lagi makasih dok," ucap Ryan.
"Sama-sama.. Ini saya buatkan obat resep untuk nyonya, segera di belikan agar kandungan dan kondisi nyonya segera pulih, kalau macam tu saya pamit dulu," pamit dokter dan diantarkan Ryan sampai pintu depan.
Setelah selesai mengantar dokter kini Ryan kembali lagi ke kamar..
"Sayang.. Are you okay?" tanya Ryan khawatir.
"Sudah mendingan mas, tadi sakit sekali.. untuk teriak saja susah," jawab Dinda lirih.
"Syukurlah.. Kamu kenapa bisa keluar darah banyak sekali? Apa yang terjadi?" tanya Ryan.
"Tadi aku tidak sengaja terpleset mas dan lupa ganti sandal," jawab Dinda sedang menyembunyikan sesuatu.
"Lain kali tolong lebih hati-hati ya sayang, aku tau ada yang kamu sembunyikan dariku, kalau kamu belum siap cerita ya tak apa," ucap Ryan mencoba mengerti.
"Anak-anak.. Mommy sudah sehat kok, maafin mommy ya udah buat kalian panik dan takut, jangan nangis lagi dong nanti mommy ikut nangis," bujuk Dinda dan kedua anaknya berhamburan di pelukan Dinda.
"Mommy jangan kayak tadi lagi ya, kami takut mommy.." pinta Vanessa menangis di pelukan Dinda.
"Farel juga takut kalau nanti mommy kenapa-napa, dedek bayi juga," ucap Farel.
"Maafin mommy ya, janji gak akan terulang lagi, stop nangisnya ya sayang," pinta Dinda lalu kedua anaknya patuh.
"Good.. Sekarang kalian balik ke kamar ya ini waktunya bobo siang," ucap Dinda dan kedua anaknya pun segera ke kamar masing-masing.
"Mau cerita sayang?" tanya Ryan dan Dinda mengangguk.
"Ceritakan apa yang menganggu hati dan pikiranmu," ucap Ryan dengan penuh pengertian.
"Aku tadi sedang membaca chat dari mas Rio dan itu membuat aku down mas, ketika ingin di balkon untuk menenangkan diri malah aku kepleset dan ya terjadi pendarahan seperti tadi.. Aku takut mas waktu melihat pendarahan yang cukup banyak tadi, takut tidak bisa menyelamatkan anak kita," ucap Dinda sambil menangis.
"Rio lagi Rio lagi.. Memang gak ada habisnya dia menganggu kita," ucap Ryan emosi.
"Mana hpmu? Aku mau lihat pesan dia," tanya Ryan lalu Dinda menyerukan hpnya.
__ADS_1
"Sialan berani sekali dia mengancam istriku seperti ini, awas saja..Lihat pembalasan dariku, akan aku pastikan kamu akan kalah di pengadilan dan akan aku pastikan juga kamu akan sulit mengurus semua berkasnya, kejadian Dinda pendarahan tadi bisa menjadi bukti kuat kalau dia mengancam keselamatan Dinda.. Berani mengusik Dinda berarti siap perang dengan keluarga Hadiningrat" batin Ryan sembari mengepalkan tangannya.