RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
MENEMUI RIO (2)


__ADS_3

"Berani sekali kamu bermain api denganku.. Jika tidak tau bagaimana cara memadamkannya jangan sok melawan ku, awas kau Dinda," gumam Rio mengepalkan tangan melihat kepergian istri dan pengacaranya.


"Makanya mas kamu sih ngeyel banget gak dengerin omonganku, andai posisiku tadi ikut diskusi dengan kalian pasti tidak ada kejadian kayak gini, anakmu berhasil di bawa kabur kan," cibir Sisil kesal.


"Diam!!!" gertak Rio lalu masuk ke rumah.


Dinda setidaknya cukup puas dengan usahanya hari ini, ia berhasil membawa anaknya kembali ke pelukannya. Tak henti-hentinya Dinda menciumi anak laki-lakinya itu.


#di rumah Dinda#


"Bu.. Pak.." sapa Dinda sambil masuk ke rumah.


"Pak lihat ini pak cucu kita sudah kembali, akhirnya anakmu bersatu lagi," ucap Sri penuh syukur.


"Iya bu tapi kita gak bisa diam saja, Dinda harus sembunyi dulu karena Dinda yakin mas Rio dan keluarganya akan datang ke sini, tadi mas Rio marah besar bu," ucap Dinda sedih.


"Sudah kamu tenang saja, sebenarnya ibu dan bapak sudah mempersiapkan rumah untukmu, rumah itu sudah lama ibu beli dan baru minggu kemarin selesai di renovasi, tinggallah di sana sampai keadaan aman," ucap Sri sedih.


"Ibu sudah mempersiapkan rumah untuk Dinda?" tanya Dinda terkejut.


"Iya nak, ibu membelinya dengan harap ketika kamu sudah menikah tetap dekat dengan ibu, namun sayangnya kamu menikah dengan pria kaya raya yang sangat arogan itu nak, jadi rumah itu akhirnya kosong.. Entah ini sebuah firasat atau apa tiba-tiba ibu ingin merenovasi rumah itu karena ibu merasa kalau kamu akan menempatinya, firasat ibu benar kan.. Sekarang juga kamu ke sana, ibu gak mau terpisah lagi dengan cucu-cucu ibu," ucap Sri tergesa lalu Dinda mengikuti di ikuti Ryan di belakangnya.


Dinda sampai lupa jika masih ada pengacaranya yang ikut pulang ke rumah, mau malu tapi sudah kepalang tanggung.. Ia merasa jika Ryan adalah pengacara yang baik dan bisa menjaga rahasia kliennya.


"Ehem.." deheman Ryan membuyarkan obrolan mereka.


"Pak Ryan, maaf Pak saya lupa jika bapak masih di sini malah bapak juga mengikuti kami sampai sini, maaf.." ucap Dinda tak enak hati.


"Dia siapa Din? Ibu mau tanya juga lupa," bisik Sri penasaran.


"Kenalin bu dia pak Ryan, pengacara Dinda yang nantinya akan membantu Dinda menyelesaikan masalah, berkat Pak Ryan lah Dinda bisa membawa anak Dinda kemari," Jawab Dinda memperkenalkan Ryan dan mereka berjabat tangan.


"Selamat siang.. Perkenalkan saya Ryan Nugroho, saya pengacara dari saudari Dinda.. Senang bertemu dengan anda," ucap Ryan ramah.


"Siang Pak Ryan, saya ibunya dinda, panggil saja saya ibu Sri, senang juga bisa bertemu dengan anda dan Terima kasih sudah bersedia membantu Dinda," ucap Sri ramah lalu dibalas Ryan dengan anggukan kepala.


"Hmm kalau begitu saya permisi dulu karena masih ada pekerjaan yang lainnya, untuk Dinda kalau nanti butuh sesuatu bisa langsung whatsapp saya, mari.." pamit Ryan lalu berjalan ke luar di ikuti Dinda dan ibunya.


"Terima kasih banyak bantuannya pak, nanti kalau saya butuh konsultasi saya akan kabari bapak," jawab Dinda dan Ryan hanya mengacungkan jempol lalu masuk ke mobil dan pergi.

__ADS_1


"Pinter juga cari pengacara, ganteng," goda Sri mengedipkan mata.


"Ibu apaan sih, Dinda sengaja memakai jasa pak Ryan karena dia pengacara yang sedang naik daun, dia sukses memenangkan berbagai perkara, makanya itu bu Dinda berharap jika nantinya Dinda bisa menang dari mas Rio," harap Dinda.


"Kalau nantinya jatuh cinta pada pandangan pertama ibu juga setuju loh," goda Sri lagi dan Dinda hanya mendelik tak suka.


Lalu Dinda beristirahat dan anaknya juga sudah tertidur, Dinda merasa hari ini sangat melelahkan.


Malam harinya seperti prediksi Dinda kini Rio datang ke rumah orang tuanya bersama mamah Mayang dan Sisil. Untung saja Dinda sudah pindah rumah jadi kedatangan mereka kali ini sangat minim kemungkinan bisa membawa anak.


"Dinda keluar kamu," teriak Sisil dari teras rumah.


"Yang sopan Sil mau bagaimana pun ini rumah besan saya, Dinda masih istri sah Rio," ucap Mayang geram dan Sisil merasa kesal.


"Ada apa ini?" tanya Sri menemui mereka dengan wajah sinis.


"Dimana Dinda?" tanya Rio ketus.


"Anda berbicara dengan siapa? Hantu?" Sindir Sri.


"Maaf Bu, apakah Dinda ada di dalam? Kami ingin bertemu dengannya," tanya Mayang lembut dan Sri memasang wajah tak suka.


"Dinda sudah pindah rumah jadi kalian sia-sia datang kemari," ucap Sri mengejutkan mereka.


"Mau Dinda tinggal dimana itu urusan dia karena dia berhak menentukan hidupnya agar bahagia," ucap Sri sinis.


"Bu saya tidak bercanda, dimana Dinda?" tanya Rio geram.


"Memang jawabanku itu seperti lawakan yang membuat kalian tidak percaya? Dinda memang sudah pindah rumah jadi jangan ganggu dia lagi, urus saja pernikahanmu dengan dia (menunjuk Sisil)," ucap Sri menantang.


"Bu kedatangan kami kemari ingin berdiskusi dengan Dinda bukan membahas yang lainnya," ucap Rio kesal.


"Tadi pagi anak saya sudah ke sana bahkan sampai membawa pengacara jadi saya rasa tak perlu lagi di diskusikan, semua sudah jelas dan Dinda sebentar lagi akan mengurus perceraian kalian agar anak saya bisa segera bebas dari keluarga toxic macam kalian!! Saya sudah cukup sabar ketika anak saya sedang hamil besar kalian memperlakukannya secara hina, sekarang jangan salahkan kami jika ini saatnya kami merebut hak yang sudah kalian ambil, anak saya berhak bahagia," ucap Sri memasang wajah galak.


"Gak.. Rio gak akan menyetujui gugatan cerai Dinda jika dia tidak mau menyerahkan anak laki-lakinya," protes Rio.


"Setuju atau tidak keputusan sudah final, Dinda sudah mantap berpisah darimu.. Dia sangat mencintaimu dengan tulus namun kamu membalasnya dengan sangat menyakitkan, saya sebagai ibunya tidak terima anak saya di perlakukan seperti ini, jadi cukup jangan lagi usik hidup anak saya, bertemulah di pengadilan," ucap Sri menahan gemuruh di dada.


"Ini gak adil bu.." Protes Sisil.

__ADS_1


"Apa hak anda menyampaikan keadilan? Andalah biang dari semua masalah ini, jika di vonis tidak bisa memiliki anak ya jangan mengorbankan wanita lain demi ambisi mu menjadi wanita sempurna," sindir Sri membuat Sisil marah besar.


"BU SAYA JUGA TIDAK MAU DI POSISI SEPERTI INI, JIKA WAKTU BISA DI PUTAR LEBIH BAIK AKU TIDAK MENYELAMATKAN SESEORANG AGAR AKU TETAP BISA MEMILIKI KETURUNAN, AKU PUN JUGA MENYESAL BU," teriak Sisil tak terima.


Mayang dan Rio yang mendengar perkataan Sisil merasa terkejut, ia pikir Sisil ikhlas menerima takdir ini dan mengikhlaskan Rio menikah dengan wanita lain supaya Rio tetap bisa memiliki keturunan dan menuruti keinginan mamahnya.


"Kamu menyesalinya Sil?" tanya Rio tak percaya.


"Bu.. Bukan begitu mas, maksud Sisil bilang begitu hanya berandai saja," jawab Sisil salah tingkah dan gugup.


"Jangan bilang kamu menginginkan mamah celaka bahkan meninggal Sil?" tanya Mayang penuh penekanan.


"Eng.. Enggak lah mah, Sisil sayang banget sama mamah," Elak Sisil merasa terpojokan.


"Sudah sudah saya tidak mau mendengar permasalahan kalian jadi selesaikan di rumah dan silahkan pergi," usir Sri kesal.


"Rio belum bertemu Dinda," ucap Rio.


"Buat apa? Mau menculik anaknya lagi? Pergi atau kalian saya panggilkan warga sini supaya di usir," ancam Sri serius.


"Bu.. Saya ini masih menantu ibu, tega sekali ibu mengusir saya yang ingin bertemu anak dan istri saya sendiri," ucap Rio tak suka.


"Mantan menantu itu lebih tepatnya, saya tidak sudi lagi memiliki menantu yang jahat sepertimu, andai kamu tau bagaimana dahsyatnya rasa sakit ketika melahirkan, saya jamin kamu tidak akan tega menyakiti istrimu apalagi hanya memanfaatkan rahimnya, pergilah sebelum kesabaran saya habis," usir Sri.


"Ayo pergi dari sini, kita memang salah," ajak Mayang dan Rio bersikukuh tidak akan pergi.


"Gak mah.. Rio gak mau pergi dari sini sebelum membawa salah satu anak Rio," tolak Rio dan Sri hanya tertawa kecut.


"Tinggal bilang saja dimana Dinda sekarang maka kami akan ke sana dan segera menyelesaikan ini, jangan mempersulit keadaan deh bu, memakan waktu saja," cibir Sisil kesal.


"Dinda tidak tinggal di sini dan saya tidak akan memberitahu dimana anakku sekarang, jadi lebih baik kalian pergi karena percuma saja mau menunggu sampai malam pun Dinda tidak akan kemari," Usir Sri.


"Gak. Jangan menyembunyikan Dinda dong bu atau nanti saya laporkan ke polisi karena ibu sudah bersekongkol dengan Dinda menyembunyikan anakku," gertak Rio.


"Oh silahkan saja jika kalian masih memiliki muka, kalian yang menculiknya kok kalian yang mau melaporkan, silahkan saja gunakan kekuasaan mu itu, kami tidak takut," gertak Sri menatap Rio tajam.


"Jangan main-main dengan kami bu," gertak Rio.


"Kalian dulu yang memulai jadi kami yang akan mengikuti alurnya," ucap Sri santai.

__ADS_1


"Sudahlah kita pergi saja dari sini, gak ada gunanya juga kan mas toh sj Dinda pindah entah kemana," ajak Sisil sudah mulai malas dengan Sri.


"Ingat bu saya tidak tinggal diam," gertak Rio serius lalu mereka pergi dengan tangan kosong.


__ADS_2