
Setelah bersitegang dengan mertuanya kini Sisil lebih memilih mengurung diri didalam kamar tamu bukan dikamar pribadinya dengan sang suami, Sisil sengaja berada di sana karena dirinya sudah lelah selalu menerima omelan yang tak pernah ada ujungnya.
Sisil terus menangis dan meratapi nasibnya yang tak pernah bahagia, ketika ia merasakan kebahagiaan pun hanya bertahan sebentar saja. Apa memang dirinya tidak pantas bahagia? Apa memang dia ditakdirkan selalu menjadi wanita yang serba salah di mata suami dan mertua. Sisil sampai bingung harus menjelaskan dengan cara apalagi untuk membuat keluarga suaminya percaya jika dirinya memang tidak mengetahui kedatangan Ronald. Merasa pikirannya kacau balau akhirnya Sisil menghubungi Ronald untuk meminta penjelasan.
Drrt.. Drrt.. Dering ponsel Ronald dan tanpa menunggu lama langsung diangkat olehnya dengan senyum penuh kemenangan. "Akhirnya dia menghubungi gue juga, benar kan dugaan ku kalau di sana tak ada kebahagiaan untukmu,"
"Hai girl.." sapa Ronald ramah.
"Gue mau meminta penjelasan," ucap Sisil serius dan penuh penekanan.
"For what?" tanya Ronald pura-pura tidak tau.
"Gak usah drama.. Udah pasti lo tau apa yang gue maksud," jawab Sisil kesal.
"No.. Mana mungkin gue langsung tau arah pembicaraanmu emangnya gue ini cenayang," jawab Ronald.
"****!!! Gue mau nanya tapi tolong jawab dengan jujur," pinta Sisil.
"Of course girl," jawab Ronald.
"Darimana lo tau alamat rumah suamiku? Setahu dan seingat yang gue tau, gak pernah sekalipun gue memberitahu bahkan menuliskan alamat rumah dimana suami gue tinggal," tanya Sisil penasaran.
"Haha.. Gitu doang gak perlu dikasih tau semua orang juga tau kalik Sil dimana rumah suamimu," jawab Ronald terbahak.
"Hei jangan bercanda, gue serius!" gertak Sisil.
"Gue juga serius Sisil cantik.. Coba dipikir deh, siapa suamimu dan bagaimana latar belakangnya? Di internet ada kalik alamat rumahnya, semua orang awam pun juga bakalan tau tanpa perlu tanya-tanya," jawab Ronald membuat Sisil kaget.
"Gak.. Mana mungkin mas Rio memberikan informasi pribadinya," protes Sisil.
"Lihat saja sendiri di internet, harusnya suami kamu tuh lebih mem filter mana yang perlu diketahui publik dan mana yang bukan, sampai foto rumah suami pun ada kok.. Ya jelas dengan mudahnya gue tau lah," jawab Ronald semakin membuat Sisil kaget.
__ADS_1
"Gue bakal cek tapi kalau sampai lo bohong, awas saja!" ancam Sisil lalu mematikan panggilan dan berselancar di dunia maya untuk membuktikan perkataan Ronald. Benar saja, apa yang dikatakan Ronald sungguh membuat Sisil terkejut, bisa-bisanya suaminya itu membagikan semua hal pribadi ke internet, dari alamat rumah, foto rumah, apartemen dan juga villa nya.. Pantas saja dengan gampangnya Ronald tau, kenapa gue dari dulu gak tau sih? Kalau gini kan gue yang kerepotan. Dia sendiri yang membagikan malah gue yang kena semprot.
Lalu ada chat masuk dari Ronald. "Gimana? Sudah di kroscek? Benar kan?"
"Ya benar namun sayangnya gue baru tau sekarang," jawab Sisil membenarkan.
"Karena lo terlalu mencintainya dengan sangat, coba kalau lo masih gunakan logika mana mungkin bakal tersakiti," sindir Ronald dan Sisil hanya bisa diam, apa yang dikatakan oleh temannya itu benar adanya.
Tak juga mendapat balasan dari Sisil akhirnya Ronald melakukan panggilan video.
"Hai girl kenapa gak dibalas?" tanya Ronald.
"Tadi mau balas malah udah telpon," jawab Sisil asal.
"Jangan bohong.. Gue tau lo tersinggung dengan perkataan gue tadi kan?" tebak Ronald.
"Gak tuh," jawab Sisil ketus.
"Kalau kamu butuh teman cerita aku siap kok menjadi pendengar yang baik," ucap Ronald sangat perhatian dan Sisil tak bisa membendung lagi kesedihannya, dihadapan Ronald ia menangis.
"Tuh kan apa yang gue katakan itu bener, tolong jangan sakiti dirimu, buatlah dirimu bahagia.. Kalau bukan kamu sendiri yang melakukannya siapa lagi?" tanya Ronald.
"Niat gue mempertahankan rumah tangga ini karena papah mertua, hanya itu.. Sejujurnya gue udah capek sama suami juga mamah mertua gue, dimata mereka tak pernah sedikit pun ada kebenaran.. Yang ada gue selalu salah dan salah, jadi ya gue selalu kena omelan," keluh Sisil sembari terisak.
"Kenapa waktu itu mau-mau aja diajak balik ke rumahnya?" tanya Ronald.
"Karena gue kepikiran papah mertua yang dirawat di rumah sakit," jawab Sisil sedih.
"Kan gak harus tinggal serumah juga, yang penting ketika pulang dari kantor kamu mampir ke sana dan setelah itu balik ke rumahmu sendiri, gitu kan bisa," protes Ronald.
"Mana kepikiran, waktu itu gue panik dapat kabar kalau papah mertua masuk rumah sakit jadi apapun permintaan suami aku iyakan," ucap Sisil menyesal.
__ADS_1
"Sekarang hanya penyesalan yang kamu dapatkan.. Udah bagus keluar dari sana dan memulai hidup baru apalagi sekarang kamu udah bisa punya penghasilan sendiri, eh malah jatuh ke lubang yang sama," sindir Ronald.
"Ya gimana lagi.. Sekarang gue harus gimana dong?" tanya Sisil meminta solusi.
"Seperti apa yang gue katakan tadi di rumah suamimu," jawab Ronald dengan enteng.
"Itu bukan solusi tapi menambah masalah," tolak Sisil.
"Itu solusi yang tepat dan akurat supaya hidupmu kembali bahagia," jawab Ronald tegas.
"Tapi itu beresiko," tolak Sisil.
"Ada aku yang siap menanggung dan membantumu," jawab Ronald dengan mantap.
"Kenapa sih selalu saja lo bantuin gue?" tanya Sisil penasaran.
"Ya karena memang lo pantas mendapatkannya," jawab Ronald menutupi fakta yang ada bahwa dirinya sangat mencintai Sisil apalagi dengan mata kepalanya sendiri dia tau kalau kondisi rumah tangga orang yang dicintainya sudah tidak sehat lagi, semakin membuat dirinya nekat untuk lebih mendekati Sisil.
"Gue gak bisa kalau harus kabur gimana nanti dengan papah mertua, pasti nantinya dia bakalan tambah sakit," ucap Sisil bimbang.
"Pilihanmu ada 2 Sil, bahagiakan dirimu lalu bebas lah dari keluarga toxic itu atau yang kedua tetap bertahan namun hati selalu terluka dan kebahagiaan terenggut," ucap Ronald dengan tegas dan membuat Sisil kebingungan.
"Gue maunya lepas dari mas Rio namun tetap menjaga kesehatan papah mertua," jawab Sisil.
"Gak ada.. Kalau kamu memilih kesehatan papah mertua ya silahkan tapi siap-siap aja kamu selalu menyakiti dirimu sendiri.. Setiap hari yang kamu rasakan hanya sakit dan sakit," ucap Ronald memprovokasi.
"Aku juga capek selalu makan hati," keluh Sisil.
"Makanya pilih salah satu, hidup itu pilihan Sil, kalau kamu tidak tegas memilih ya siap-siap saja takdir dan keluarga suamimu semakin mempermainkan mu," pinta Ronald.
"Ini pilihan yang sulit," protes Sisil.
__ADS_1
"Ya gue hanya bisa memberi masukan 2 tadi, semua pilihan ada di tanganmu," jawab Ronald tak lagi mau memaksa.
"Baiklah aku memilih yang pertama, melepaskan semua yang membuat hidupku tak bahagia, selama ini gue udah mencoba mempertahankan semuanya dengan harapan yang besar agar suami bisa kembali lagi mencintaiku seperti dulu namun ternyata salah, harapanku pun musnah sudah," jawab Sisil yang membuat Ronald sangat bahagia. Dengan begini ia bisa lebih leluasa mendekati Sisil. Senyum kemenangan menghiasi wajah Ronald.