RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Mencari Sekolah Baru


__ADS_3

Diperjalanan Dinda dan Ryan saling diam karena sedang memikirkan masalah masing-masing, Dinda memikirkan nasib kedua anaknya apakah nanti di sekolah yang baru mereka lebih nyaman atau justru tidak betah.. Sebaliknya dengan Ryan, suami lebih dominan memikirkan banyak hal di kepalanya termasuk pekerjaan yang hampir sepekan ia tinggalkan, ia tidak bisa membayangkan bagaimana nantinya ketika dia kembali bekerja, sudah pasti nantinya akan bertumpuk-tumpuk seperti waktu dia cuti menikah dulu.. Tapi di satu sisi Ryan juga harus mementingkan kondisi anak-anaknya karena Ryan takut mereka akan terguncang bahkan memiliki trauma yang berkepanjangan.


"Mas.." panggil Dinda membuyarkan lamunan Ryan.


"Iya sayang?" tanya Ryan menoleh sekilas ke arah Dinda lalu kembali menyetir.


"Kamu lagi mikirin apa?" tanya Dinda kepo.


"Sudah pasti tentang anak-anak sayang," jawab Ryan tak mau menambah beban pikiran istrinya, kalau Ryan mengatakan jika ia memikirkan pekerjaan yang menumpuk sudah pasti besok Ryan disuruh berangkat kerja oleh istrinya.


"Gak ada yang lain?" tanya Dinda memastikan.


"Gak ada.. Memikirkan apa lagi coba?" tanya Ryan heran.


"Baiklah I believe," sindir Dinda yang seketika membuat Ryan merasa bersalah.. Ia masih mau menemani istri dan kedua anaknya sampai semuanya normal kembali.


"Gimana kalau anak-anak kita sekolahkan di British Internasional School saja?" saran Ryan.


"Ha?? Itu sekolah dengan budgetnya mahal sekali mas, takutnya nanti kita gak mampu membayar di tengah jalan," tolak Dinda berpikir logis.


"Kok kamu pesimis begitu?" tanya Ryan heran.


"Jelas dong mas, kita ini bukan konglomerat jadi ya jangan berharap terlalu tinggi deh mas, sekolahkan anak-anak sesuai budget saja.. Memang semua orang tua menginginkan pendidikan yang terbaik untuk anaknya namun kalau kita nantinya tidak mampu menyeimbangi gimana?" tanya Dinda.


"Hmm benar juga ya sayang.. Kamu memiliki pola pikir yang sangat bagus," puji Ryan bangga.


"Hanya antisipasi ke depannya mas," jawab Dinda tersipu malu.


"Tetap saja apapun itu alasannya aku bangga padamu," rayu Ryan.


"Sudah mas fokus sama kesembuhan anak kita dulu, waktu bermesraan bisa di lain hari," tolak Dinda padahal ia tersipu malu.


"Baiklah, gimana kalau besok kita ajak anak-anak ke psikiater? Lebih cepat ditangani malah lebih baik.. Aku takut nantinya mereka memiliki trauma yang berkepanjangan," ucap Ryan sangat peduli.


"Aku ikut bagaimana baiknya saja mas, asalkan anak-anak mau," jawab Dinda patuh.


"Baiklah.. Besok kita bujuk anak-anak ya," pinta Ryan dan Dinda melakukan gerakan hormat, Ryan yang gemas dengan sikap istrinya hanya bisa mencubit pipi istrinya dengan pelan, ingin mencium namun dia sadar kalau sedang menyetir.


"Kamu semakin hari semakin menggemaskan sayang, jangan-jangan kamu hamil ya?" goda Ryan membuat Dinda terbelalak kaget.


"Apa?? Gak mas.." jawab Dinda sangat yakin.


"Kok kamu bisa yakin begitu? Jangan bilang kamu ingin menunda punya anak," tanya Ryan kecewa.


"Tidak mas.. Memang bulan ini aku gak mungkin hamil soalnya tadi pagi datang bulan," jawab Dinda nyengir.


"Astaga.. Maafkan aku sayang sempat berpikir yang bukan-bukan, aku pikir kamu KB soalnya jawabanmu sangat meyakinkan banget, ternyata eh ternyata sedang datang tamu," jawab Ryan menelan kecewa, niat hati sampai rumah ingin melakukan penyatuan malah istrinya sedang datang bulan.


"Gak papa mas.. Aku gak KB dan gak pernah KB," jawab Dinda dengan tenang.


"Tapi kenapa lama sekali ya kita belum diberi momongan," tanya Ryan heran.


"Mungkin belum waktunya mas, jangan sedih ya.. Coba deh kamu pikir mas kalau aku di kasih hamil cepat sudah pasti aku bisa saja mengalami sesuatu di kandunganku secara masalah yang kita hadapi sungguh berat dan sangat menyita waktu, tenaga, pikiran bahkan kehidupan pribadi," ucap Dinda dan Ryan membenarkan apa isi pikiran istrinya.


"Iya sayang.. Aku setuju sama perkataan mu, Tuhan lebih tau mana yang terbaik untuk umatnya, ya kan?" tanya Ryan.


"Iya mas makanya itu jangan pesimis ya toh kita sama-sama masih muda kok jadi jangan khawatir," ucap Dinda menenangkan.


"Iya sayang.." jawab Ryan merasa lega dan akhirnya mereka saling diam sampai tiba di rumah.

__ADS_1


Setibanya di rumah mereka berdua bersikap seolah semuanya baik-baik saja dan mereka sepakat untuk terlihat selalu bahagia di depan anak-anak.


"Hai anak-anak mommy," sapa Dinda melebarkan kedua tangannya untuk di peluk.


"Mommy.." sapa mereka gembira.


"Papah gak di peluk nih, nanti papah sedih," rengek Ryan memasang wajah sedih.


"Papah jangan masang wajah gitu ah," protes Farel.


"Iya nih.. Gak cocok pah," protes Vanessa dan Dinda yang mendengarnya langsung tertawa lepas.


"Haha.. Memang papah kalian mana cocok akting sedih gitu," ejek Dinda dan Ryan hanya memasang wajah kesal.


"Huh.. Kalian gitu ya sama papah," rengek Ryan pura-pura marah.


"Papah marah?" tanya Farel.


"Pah.. Papah?" tanya Vanessa namun Ryan hanya diam saja dan melengos.


"Papah marah gimana nih? Kita bercandanya kelewatan ya?" bisik Farel pada Vanessa.


"Mungkin kak.. Kakak sih mulai duluan," bisik Vanessa membuat Farel kesal.


"Kok kakak sih?" protes Farel tak senang.


"Memang kakak duluan kok yang ejek papah, tuh lihat papah marah.. Minta maaf kak," protes Vanessa.


"Bareng dong," ajak Farel dan keduanya mendekati Ryan dengan harap-harap cemas.


"Haha rasain tuh gue kerjain makanya jangan ejek orang tua.. Emangnya enak," batin Ryan tersenyum geli.


"Pah.. Look at me," perintah Farel ketakutan.


"Why?" tanya Ryan dingin.


"Are you angry pah?" tanya Farel memastikan.


"Yes.." jawab Ryan ketus.


"I'm sorry pah," jawab Farel sedih.


"Vanessa juga minta maaf pah, gak ada maksud ejek papah kok," ucap Vanessa sedih.


"Papah gak marah kok hahaha papah juga mengerjai kalian wleee," ejek Ryan menjulurkan lidah dan si kembar melongo tak percaya, mereka kesal karena sudah di kerjain papahnya.


"Papah..." pekik keduanya memukul lengan Ryan.


"Sakit.. Sakit.. Ampun," pinta Ryan.


"Ini akibatnya kalau papah bohong," jawab Vanessa kesal.


"Kamu kalau marah sama persis kayak mamah mu," ucap Ryan yang langsung membuat Dinda kesal.


"Apa?? Aku?" tanya Dinda memasang wajah galak.


"Mampus gue.. Langsung di mangsa tiga orang," gumam Ryan ciut.


"Gak.. Gak kok sayang.. Salah dengar kali, ayo anak-anak mau dengar kabar baik dari papah gak?" tanya Ryan membuat mereka penasaran.

__ADS_1


"Apa itu pah?" tanya Farel dan Vanessa bergantian.


"Kalian sudah tidak lagi sekolah di sana dan mulai besok kita cari sekolah baru ya, kalian bebas milih mau dimana," ucap Ryan membuat kedua anaknya girang bukan kepalang.


"Serius papah? Yeee.." teriak keduanya senang.


"Kalian boleh browsing dulu deh mana sekolah favorit di sekitar sini kalau kalian ada pilihan besok kita langsung ke lokasi, kalau cocok malah bagus dong besoknya kalian bisa langsung sekolah," ucap Ryan antusias.


"Oke papah," jawab keduanya kompak dan fokus dengan tablet masing-masing.


Sambil menunggu kedua anaknya memilih sekolah yang mereka inginkan, Ryan dan Dinda masuk ke kamar untuk membersihkan badan. Cuaca hari ini sungguh panas sekali sehingga baju keduanya sampai basah keringat. Setelah selesai membersihkan badan dan berganti pakaian mereka langsung turun menemui anak-anaknya.


"Sudah ketemu mau sekolah dimana?" tanya Ryan duduk di sebelah Farel.


"Sudah pah tapi adik ini loh rusuh banget, jadi sampai sekarang belum ada satu tujuan mau sekolah dimana," ucap Ryan kesal.


"Memang Vanessa mau di sekolah mana?" tanya Dinda ikut duduk di sebelah Vanessa.


"Ini mom.. Sekolahnya keren banget," tunjuk Vanessa di sekolahan elite.


"Bagus.. Kalau kakak Farel maunya sekolah dimana?" tanya Ryan dengan lembut.


"Ini pah gimana oke kan?" tanya Farel sambil menunjukkan sekolah yang jauh lebih elite dari pilihan adiknya.


"Hmm oke.. Pilihan kalian bagus semua dan itu memang sekolah favorit disini sayang, lebih baik besok kita kunjungi semuanya ya biar kalian bisa klop mau sekolah dimana," ucap Ryan.


"Kalau nanti pilihannya tetap beda gimana?" tanya Vanessa.


"Yasudah kalian sekolah di tempat berbeda saja," jawab Ryan dengan entengnya dan membuat kedua anaknya terkejut.


"Gak mau.." jawab keduanya kompak.


"Kalau gak mau ya harus satu tujuan dong, kalau besok masih beda pendapatnya ya terpaksa sekolah kalian berbeda," jawab Ryan menakuti keduanya dan keduanya berhasil termakan omongan papahnya.


Baik Farel maupun Vanessa sama-sama saling memandang seperti mengirim sebuah kode isyarat, hanya anak kembar mungkin yang paham.


***


Keesokan harinya mereka semua sudah bersiap menuju dua lokasi sekolahan elite pilihan Farel dan Vanessa.


"Kita ke sekolahan pilihan kak Farel dulu ya soalnya dekat dari sini, gak papa kan Vanessa?" tanya Ryan meminta izin.


"Iya pah gak papa," jawab Vanessa patuh.


"Good girl," jawab Ryan senang lalu melakukan mobil menuju sekolah pertama.


Di sana Farel sangat cocok dengan kondisi sekolah dan juga suasana kelasnya, Farel langsung cocok namun sayangnya ia harus ikut ke sekolahan pilihan adiknya.


Setelah selesai mengelilingi lingkungan sekolahan pilihan Farel kini mereka bergegas menuju sekolah pilihan Vanessa.


Setibanya di sana Vanessa kurang suka dengan keadaan sekolahnya karena dekat dengan jalan raya, seketika Vanessa langsung mengingat kejadian penculikan yang terjadi beberapa hari lalu.


"Papah.. Mommy.. Pulang.. Pulang.." pekik Vanessa histeris.


"Kenapa sayang? Ada apa?" tanya Dinda panik.


"Vanessa gak mau disini, ayo pulang mom.. Vanessa takut," ucap Vanessa ketakutan bahkan badannya sampai gemetaran.


"Yasudah kita pulang," ucap Ryan langsung membopong Vanessa menuju mobil.

__ADS_1


Sesampainya di dalam mobil keadaan Vanessa semakin parah, ia sampai berteriak histeris dan terguncang batinnya.. Ia hanya mengatakan kata takut, takut dan takut.


Tak mau membiarkan keadaan ini berlangsung lama Ryan langsung tancap gas ke rumah sakit dan membooking psikiater terbaik di rumah sakit tersebut.


__ADS_2