RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Dinda Melahirkan


__ADS_3

"Halo mas?" sapa Dinda.


"Halo Din.. Maaf kalau menganggu waktunya tapi ini penting, ini mengenai anak-anak," jawab Rio to the poin yang membuat Dinda kebingungan.


"Memang anak-anak kenapa mas?" tanya Dinda khawatir.


"Tadi aku dapat info katanya anak-anak sedang di pantau oleh preman, tolong awasi anak-anak dengan baik ya Din aku takut mereka kenapa-napa apalagi nantinya mereka tambah trauma," ucap Rio panik.


"APA?? KAMU DAPAT INFO DARI MANA MAS? MEMANG APA YANG DI INGINKAN MEREKA?" pekik Dinda panik.


"Intinya jaga anak-anak dan pantau mereka selalu, aku tidak bisa berbuat banyak karena disini pun juga tidak aman, tolong jaga anak-anak ya Din.. Aku percaya padamu juga Ryan kalau kalian bakal melindungi anak-anak dengan baik, hanya itu yang mau aku sampaikan," ucap Rio lalu mematikan panggilan.


Dinda langsung panik dan menelpon suaminya berulang kali, sayang sekali Ryan saat ini sedang berada di ruang meeting dan ponselnya tertinggal di ruang kerjanya. Rasa panik yang melanda Dinda membuat kandungannya menjadi terganggu, ia merasa perutnya sangat sakit dan kencang sekali, semakin lama ditahan rasa sakit yang dirasa semakin bertambah.. Dinda sudah tidak kuat lagi lalu turun menemui Fio.


"Fio.. Fi.. Fio.." panggil Dinda sambil menahan sakit.


"Iya bu, astaga ibu kenapa?" tanya Fio panik.


"Tolong bawa saya ke rumah sakit, kamu bisa bawa mobil kan?" tanya Dinda sambil merintih.


"Saya gak bisa bu tapi ada Bimo yang bisa menyetir mobil, bentar saya panggilkan," ucap Fio lalu berlari memanggil Bimo dan memberitahu untuk segera membawa bosnya ke rumah sakit.


"Mari bu saya antar dimana kunci mobilnya?" tanya Bimo panik lalu Dinda segera memberikan kunci mobil sembari keringat bercucuran sangat deras. Fio membantu Dinda dengan memapahnya sampai ke mobil dan ikut menemani Dinda ke rumah sakit.


Di perjalanan tak hentinya Fio menelpon keluarga Dinda beserta suaminya, namun sayang Ryan sampai sekarang tak juga mengangkat telepon, di satu sisi Ryan memang sedang menangani kasus besar dan jika nantinya Ryan bisa memenangkan ini maka nama dia akan setara dengan pengacara-pengacara terkenal yang sering berseliweran di televisi.


Sesampainya di rumah sakit Dinda langsung dibawa ke ruang UGD dan orang tua Dinda sudah tiba di rumah sakit.


"Bu.. Pak.." sapa Fio.


"Iya nak, bagaimana kondisi anak saya? Apa yang terjadi padanya sampai harus dilarikan di rumah sakit?" tanya Sri panik.


"Saya juga kurang tahu bu soalnya ibu Dinda ketika turun menemui saya posisinya sudah merintih kesakitan dan meminta tolong untuk dibawa ke rumah sakit, karena saya tidak bisa menyetir mobil makanya saya menyuruh Bimo," ucap Fio menjelaskan kronologinya.


"Lalu dimana suaminya Dinda? Kenapa tak ada?" tanya Tono celingukan mencari keberadaan Ryan.


"Itu dia bu, pak, sedari tadi saya sudah mencoba menghubungi beberapa kali namun belum juga diangkat," jawab Fio dengan jujur.


"Tumben sekali, kenapa gak telpon kantornya?" tanya Tono.

__ADS_1


"Maaf Pak saya tidak kepikiran karena tadi saya juga panik antara menolong bu Dinda dulu apa mengabari keluarganya dulu," jawab Fio merasa bersalah.


"Yasudah pak jangan terus mencecar Fio seperti itu kasihan dia, untung pak Fio bertindak cepat dengan membawa Dinda segera ke rumah sakit, andai kalau terlambat mana kita tau nantinya apa yang terjadi dengan anak dan calon cucu kita pak," ucap Sri menengahi.


"Iya juga maafkan saya ya," ucap Tono merasa bersalah.


"Tidak papa pak saya memaklumi mungkin bapak dan ibu sedang panik," jawab Fio.


Sambil menunggu kabar dari Dinda, kedua orang tuanya tak henti mendoakan Dinda agar bisa melewati masa kritis ini. 20 menit menunggu kini dokter keluar dari ruang UGD.


"Gimana keadaan anak saya dok?" tanya Sri panik dan khawatir.


"Dari keluarga pasien atas nama Dinda Safitri?" tanya dokter dan kedua orang tuanya mengangguk.


"Sebenarnya saya butuh berbicara empat mata dengan suami nyonya Dinda namun mengingat ini adalah darurat maka saya akan sampaikan segera," ucap dokter membuat semuanya cemas.


"Katakan dok apapun itu mengenai anak dan calon cucu saya," ucap Tono mencoba tegar.


"Baik.. Jadi kandungan nyonya Dinda mengalami pendarahan dan air ketuban pun sudah keruh, jadi saya harap pihak keluarga menandatangi surat tindakan medis untuk nyonya Dinda dilakukan operasi sesegera mungkin mengingat kondisi ibu dan janinnya sangat mengkhawatirkan," ucap dokter membuat Sri tak kuasa menahan tangis, Fio yang mendengar pun merasa iba dengan musibah yang dialami bosnya.


"Tolong berikan jalan yang terbaik untuk ibu Dinda.. Dia wanita yang baik hati, kuat dan sangat menghargai sesama, saya tidak ikhlas jika ada sesuatu yang buruk menimpa ibu Dinda, tolong berikan yang terbaik menurutMu ya Tuhan," batin Fio berdoa dengan khusyuk.


"Coba ibu telepon Ryan sekali lagi, jika diangkat kita akan ikuti kemauan dia namun jika tak juga diangkat maka dengan terpaksa bapak akan menandatangani surat operasi Dinda," pinta Tono dan Sri langsung menghubungi Ryan berulang kali namun masih sama saja tak diangkat.


"Gak diangkat pak, apa dia masih sangat sibuk ya?" tebak Sri.


"Apapun itu nanti bisa kita tanyakan bu yang penting Dinda dan calon anaknya dulu, bapak ke ruang dokter dulu ya bu mau menandatangani surat operasinya Dinda," pamit Tono yang mau gak mau segera mengambil tindakan cepat.


"Baik pak.. Semoga ini bisa menyelamatkan semuanya," harap Sri dan Tono hanya mengangguk.


Setelah Tono selesai mengurus semua berkasnya kini Dinda sudah siap untuk di operasi, Dinda dibawa oleh beberapa petugas dari UGD menuju ruang operasi dan sebelumnya sudah menggunakan baju operasi.


Kedua orang tua Dinda tak henti mengikuti kemana para perawat membawa Dinda, namun mereka harus berhenti di sebuah pintu besar yang bertuliskan ruang operasi.


Di Sanalah Dinda berjuang sendirian dengan di kepung beberapa perawat juga dokter yang membantunya untuk menyelamatkan sang buah hati. Sedangkan diluar ruangan tak hentinya kedua orang tua Dinda juga Fio mendoakan kelancaran proses operasi Dinda.


Lalu ada sebuah panggilan masuk di ponsel Dinda yang kebetulan masih dibawa oleh Fio, di sana tertera nama Ryan-sang suami bosnya. Tak butuh waktu lama kini Fio mengangkat telepon itu,


"Halo sayang kamu gak papa kan? Kenapa telepon banyak sekali sampai ibu pun juga telepon," tanya Ryan panik.

__ADS_1


"Maaf Pak Ryan ini saya Fio, hp ibu kebetulan masih terbawa dan kini posisi ibu ada di rumah sakit," ucap Fio terpotong oleh Ryan.


"DI RUMAH SAKIT? KENAPA DENGAN IBU? APA YANG SEBENARNYA TERJADI FIO?" pekik Ryan panik.


"Ibu hari ini harus melakukan operasi karena kandungannya bermasalah dan juga membahayakan keselamatan keduanya, untuk lebih detailnya bapak silahkan datang ke rumah sakit dan bertanya langsung pada kedua orang tua ibu, kebetulan mereka juga ikut menemani," ucap Fio tak mau salah bicara dan tanpa jawaban Ryan langsung mematikan panggilan lalu bergegas ke rumah sakit dengan kecepatan tinggi, pikirannya sangat kacau jika menyangkut calon anaknya.


"Apa yang terjadi padamu kenapa harus melahirkan sedini ini? Semoga kalian baik-baik saja, maafkan aku sayang disaat situasi genting seperti ini aku tidak ada di sisimu, maafkan aku.... Entah kenapa tumben sekali ponselku tertinggal," gumam Ryan panik.


****


Setibanya di rumah sakit Ryan langsung menuju ruang operasi yang kebetulan masih ada Fio dan kedua mertuanya di sana.


"Pak.. Bu.. Fio.." sapa Ryan ngos-ngosan karena berlari dari parkiran menuju ruang operasi.


"Pak Ryan.." sapa balik Fio dengan sopan.


"Bu.. Pak.. Apa yang terjadi dengan Dinda?" tanya Ryan meminta penjelasan.


"Istri kamu harus segera melahirkan karena mengalami pendarahan dan air ketubannya keruh, jika dibiarkan maka akan membahayakan keduanya," jawab Tono dingin.


"Astaga kenapa bisa seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ryan panik.


"Maaf Pak kami juga kurang tau karena ketika di kantor tiba-tiba saja ibu turun memanggil saya sambil merintih kesakitan dan meminta tolong diantarkan ke rumah sakit," ucap Fio.


"Semoga gak terjadi apa-apa dengan kalian, semoga semuanya selamat dan sehat," harap Ryan dan diaminkan oleh Fio, kedua orang tua Dinda hanya diam saja.. Sejujurnya mereka cukup kecewa dengan menantunya itu karena di situasi istrinya seperti ini dia baru hadir.


Merasa kedua mertuanya marah dengannya, Ryan pun berinisiatif meminta maaf.


"Bu.. Pak.. Maafkan saya yang baru saja datang, jujur saja Bu Pak ponsel saya tertinggal di ruang kerja dan daritadi posisi saya ada di ruang meeting untuk membahas pekerjaan yang cukup besar, sungguh ini bukan kemauan saya untuk lalai pada Dinda maupun calon anak kami, sungguh ini diluar kendali saya bu pak, saya juga gak tau mengapa tumben sekali ponsel saya tertinggal," ucap Ryan merasa sangat bersalah.


Melihat penyesalan di wajah sang menantu membuat Sri tak tega, memang tidak biasanya dia sampai susah dihubungi, lagian ini masih jam kerja jadi wajar saja kalau menantunya sampai melupakan ponselnya.


"Baik saya maafkan, tapi lain kali tolong jangan di ulangi," ucap Sri berbesar hati dan Ryan merasa lega.


"Pak maafkan saya," ucap Ryan tulus.


"Saya tidak tau apa jadinya Dinda jika tidak ada kami, mungkin keduanya tidak akan selamat," ucap Tono masih enggan memaafkan.


"Saya tau pak tapi ini memang bukan keinginan saya, maafkan saya pak dan terima kasih karena sudah mengambil tindakan yang tepat bagi keduanya," ucap Ryan dan Tono masih enggan bergeming.

__ADS_1


__ADS_2