RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Aldo Syok


__ADS_3

Hari ini Aldo berencana untuk mengunjungi kantor temannya, Dinda. Kali ini Aldo ingin mengajak Dinda jalan, bosan rasanya jika hanya mengajak Dinda ke kafenya terus. Hari ini Aldo sudah berdandan sangat rapi bahkan menyemprotkan minyak wangi sangat banyak hingga bau minyak wangi mahalnya menguap sampai berpuluh-puluh meter.


"Bapak mau kemana? Tumben wangi sekali?" tanya pegawai kafenya heran.


"Memang biasanya saya bau ya?" sindir Aldo kesal, bukannya dipuji malah terheran-heran.


"Maaf Pak bukan maksud saya seperti itu, rasanya kok tumben sekali menggunakan minyak wangi banyak sekali, biasanya bapak selalu wangi dan rapi kok," puji pegawainya mengacungkan jempol.


"Nah gitu baru bener," jawab Aldo senang.


"Saya mau keluar sebentar soalnya ada urusan, kalau ada apa-apa tolong handle dulu, ok," pinta Aldo yang langsung berlalu pergi.


Hanya menyebrang saja kini Aldo sudah tiba di kantor milik Dinda, kebetulan toko sedang sepi jadinya Aldo bisa leluasa berbincang dengan Dinda.


"Hai Din.. Lama nunggunya?" sapa Aldo.


"Gak juga, kan aku sambil dibawa kerja jadi gak terasa, why?" tanya Dinda penasaran apalagi melihat penampilan teman kuliahnya sungguh berbeda dari biasanya apalagi parfum yang digunakan, rasanya membuat kepala Dinda pusing.


"Kenapa liatin gue kayak gitu? Ntar naksir loh," goda Aldo terlalu percaya diri.


"Tuh kan terlalu percaya diri, udah jujur aja mau apa kesini?" tanya Dinda mendesak.


"Hangout yuk," ajak Aldo.


"Kemana?" tanya Dinda.


"Gimana kalau nonton bioskop? Tau kan film yang lagi viral itu," tebak Aldo.


"Apa sih? Gak tau aku, lainnya nonton apa? Perjalanan jauh soalnya dan sudah pasti memakan waktunya, kenapa gak di kafe mu aja? Lumayan tuh makan gratis," usul Dinda.

__ADS_1


"Dinda.. Apa gak bosen ke kafe terus? Yang punya aja bosan," tanya Aldo dan Dinda menggeleng.


"Hmm mendingan kita ke pantai aja yuk kan deket tuh dari sini," ajak Aldo dan Dinda pun setuju, sebelum pergi Dinda memberitahu pada salah satu pegawainya terlebih dahulu.


Diperjalanan menuju pantai, keduanya mengobrol ringan dan sesekali bersenda gurau flashback akan kisah kuliah dulu. Tiba di pantai, kondisi sepi dan angin pun sepoi-sepoi membuat Aldo semakin yakin jika ini momen yang pas untuk mengutarakan isi hati yang sudah ia pendam selama ini.


Dalam keheningan dan Dinda sedang menikmati angin juga ombak membuat Aldo duduk mendekati Dinda.


"Din.. Ada yang mau aku omongin," ucap Aldo serius.


"Apa? Kenapa serius banget sih?" tanya Dinda heran.


"Memang ini serius Din, ini menyangkut masa depan," jawab Aldo menatap Dinda.


"Masa depan siapa? Masa depanmu? Udah dapat cewek?" tebak Dinda.


"Wah siapa orangnya? Langsung aja ungkapin kalau memang kamu sudah suka dari lama siapa tau orang yang kamu maksud juga sama menyukaimu," ucap Dinda seperti memberi angin segar bagi Aldo, ia jadi berpikir jika Dinda memang ikut mengutarakan isi hatinya.


"Mau tau?" tanya Aldo membuat Dinda penasaran dan secepat kilat Dinda menganggukkan kepalanya.


"Its you," jawab Aldo menatap Dinda lekat dan menggenggam tangan Dinda.


"Apa?? Jangan bercanda deh, Do," tanya Dinda.


"I'm seriuous, wanita yang dari masa kuliah sampai sekarang aku taksir ialah kamu, Dinda, rasa yang ada di hati ini sampai sekarang masih tetap sama apalagi waktu kita kembali bertemu di kafe ku, sungguh kamu kembali membuat hatiku berbunga dan menjadi orang gila setiap harinya Din, setiap hari aku selalu memikirkan cara bagaimana bisa bertemu dan menikmati senyummu," jawab Aldo.


"Ini gak lucu, Do, jangan suka denganku," protes Dinda lalu melepas genggaman tangan Aldo.


"Why?" tanya Aldo penasaran.

__ADS_1


"Aku ini sudah berkeluarga bahkan pernikahan kali ini adalah pernikahan keduaku, Do, apa kamu gak tau itu?" ucap Dinda membuat Aldo diam terpaku dan mendadak lidahnya kelu.


"Maaf aku gak bisa terima rasa cintamu ini, jujur saja aku berterima kasih karena kamu menjaga rasa cintamu sejak kuliah bahkan aku pun tidak menyadari jika kamu memiliki rasa padaku dan diawal pertemuan kita yang tidak sengaja di kafe mu itu aku memang tidak menyebutkan jika aku sudah menikah karena aku pikir kamu pun sepertinya tau ini, nyatanya ketika aku tanya tentang statusmu malah kamu tidak menanyakan balik kan?" ucap Dinda lagi.


Hanya diam yang bisa Aldo lakukan, entah kenapa mendadak hatinya sangat sakit bahkan mulutnya pun terasa kelu, perasaan yang ia rawat dan jaga dengan sepenuh hati kini berbuah kesia-siaan. Memang Aldo terlalu percaya diri dan menyimpulkan sendiri dengan mengartikan tak ada lawan jenis di sekitar Dinda berarti Dinda masih sendiri. Kini pemikirannya terpatahkan oleh jawaban langsung dari Dinda.


Melihat Aldo hanya diam saja membuat Dinda merasa tak enak hati bahkan berulang kali Dinda memikirkan kembali kata-kata yang sudah ia ucapkan barusan apakah menyinggung perasaan Aldo atau tidak, sekarang ia tau ketakutan yang dirasakan Fio waktu itu kini menjadi nyata. Andai waktu itu Dinda mendengarkan teguran halus dari Fio, sudah pasti Aldo tidak akan se kecewa sekarang. Memang ada salah dari dirinya juga yang tidak membatasi jarak dengan Aldo sehingga temannya itu bebas berpikir jika dirinya masih lajang sama sepertinya.


"Do.. Aldo?" panggil Dinda menepuk bahu Aldo pelan.


"Kenapa Din? Kenapa kamu tega denganku?" tanya Aldo lirih.


"Tega seperti apa?" tanya Dinda tak mengerti.


"Kamu tega membiarkan aku berimajinasi dan berpikir jika sampai sekarang kamu masih sendiri, setiap aku ajak ketemu kamu selalu oke, apa aku salah jika menilai kamu bukan istri orang?" tanya Aldo.


"Tidak... Pemikiran mu tidaklah salah, memang harusnya aku yang tau diri dan menjaga jarak agar semua ini tidak terlalu jauh, maafkan aku, setidaknya kali ini kita miss komunikasi, ketika bertemu kamu tidak menanyakan terlebih dahulu statusku dan di satu sisi juga salahku karena terlalu mudah diajak olehmu jadinya semakin mempermudah pemikiran mu bahwa aku masih sendiri, padahal aku ini sudah pernah gagal menikah," ucap Dinda.


"Kenapa disini rasanya sakit sekali Din, sangat sakit dan perih," ucap Aldo menunjuk dadanya.


"Maafkan aku, sekali lagi maafkan aku, namun ini memang kenyataan yang sebenarnya," ucap Dinda merasa bersalah.


"Ini juga salahku karena terlalu membiarkan hatiku semakin mencintai dirimu," jawab Aldo sedih.


"Maafkan aku," ucap Dinda lagi.


"Aku gak tau lagi harus bersikap bagaimana sekarang ini, jujur saja hatiku belum siap menerima kenyataan sepahit ini," ucap Aldo menundukkan kepala.


"Tenangkan lah pikiranmu disini, mumpung suasana sepi, biarkan aku balik ke kantor," pamit Dinda namun tak ada jawaban dari Aldo. Dinda tetap nekat memesan ojek online dan bergegas kembali ke kantor. Ia tak mau semakin lama disini akan semakin menambah luka di hati Aldo.

__ADS_1


__ADS_2