
Ryan yang melihat istrinya terkulai lemas dan tak henti-hentinya menangis merasa hatinya sangat sakit, lalu Ryan kembali teringat apa penyebab istri dan anaknya menjadi seperti ini, semua ini adalah Rio.. Dia biang kerok dari segala masalah yang ada di keluarga kecilnya.
"Sudah dua kali Rio mencelakai istri dan anak gue maka jangan harap dia bisa hidup tenang, tanpa bantuan dari boy gue bisa melakukannya sendiri.. Ini semua demi Dinda dan anak gue, kurang ajar sekali Rio, sudah jadi mantan suami masih saja mengusik kebahagiaan keluarga kecil gue," gumam Ryan mengepalkan tangan dan menghubungi Rio.
"Halo?" sapa Rio via telepon.
"Gue minta kita bertemu sekarang juga di Stanford cafe.. Gue tunggu," ucap Ryan tanpa basa basi dan langsung mematikan panggilan.
"Loh ada apa emangnya? Gue salah apalagi?" batin Rio bertanya-tanya lalu ia memilih menemui Ryan agar jelas permasalahan apa yang akan dibahas.
Di Stanford Kafe...
"Mana Ryan? Apa dia belum datang?" gumam Rio sembari mencari keberadaan Ryan.
"Gue ada di privat room, segera masuk karena waktu gue terbatas," isi chat dari Ryan dan Rio bergegas masuk ke ruangan itu.
"Hei ada apa mendadak ajak ketemu?" tanya Rio penasaran.
"Mau sampai kapan lo selalu mengusik rumah tangga gue?" cecar Ryan menahan amarah.
"Maksudnya?" tanya Rio tak mengerti.
"Brak... JANGAN BERPURA-PURA WAHAI PAK RIO SUGANDA YANG TERHORMAT!!! APA ANDA INGAT DENGAN KATA-KATA ANDA KEPADA ISTRI SAYA MENGENAI ANAK-ANAK YANG DIAWASI OLEH PREMAN? APAKAH ANDA MEMILIKI BUKTI YANG KUAT? APA ANDA WAKTU ITU TAU SETELAHNYA APA YANG TERJADI PADA ISTRI SAYA?" cecar Ryan murka.
"Stop.. Gue beneran gak paham, jelaskan dengan detail," ucap Rio semakin bingung.
"Tempo hari anda mengatakan pada Dinda jika anak-anak sedang diawasi oleh seseorang mirip preman? Masih ingat kan? Anda dapat info darimana jika keberadaan anak-anak sedang terancam? Apa anda itu cenayang atau malah ingin membuat Dinda gelisah?" tanya Ryan.
"Oh soal itu memang aku diberitahu oleh seseorang makanya itu gue antisipasi dengan mengatakan yang sebenarnya pada Dinda agar lebih memberi perhatian ekstra, memang salah gue dimana?" tanya Rio kebingungan.
"Salah anda dimana? Sungguh fatal akibatnya!!! Karena perkataan tadi membuat Dinda mengalami kontraksi hebat dan akhirnya harus melahirkan di usia kandungan 7 bulan, setelah ini apalagi ulah mu?" sindir Rio.
"Apa?? Dinda melahirkan prematur? Tapi itu kan bukan sepenuhnya salah gue.. Mungkin Dinda sedang ada pikiran dan akhirnya kontraksi, toh kabar mengenai anak-anak di teror benar adanya kok.. Andai gue yang diberi hak asuh maka gak perlu susah payah gue meminta bantuan Dinda agar lebih waspada," protes Rio.
__ADS_1
"Tapi setidaknya jika mau mengatakan sesuatu lihatlah situasi kondisi orang itu apakah sedang baik-baik saja atau tidak, intinya karena perkataan anda yang tidak bisa di pertanggung jawabkan itu membuat Dinda dan anak gue jadi korbannya, stop merusak kebahagiaan kami!!! Kami pun tak pernah mengusik kebahagiaan hidupmu dan istri tersayang mu itu," tegur keras Ryan.
"Gue gak terima jika disebut merusak kebahagiaan keluarga anda ya.. Mohon diralat itu!!" protes Rio.
"Kenyataan yang ada seperti itu wahai tuan Rio Suganda!!! Sekali lagi berani mengusik keluarga kecilku maka tak ada ampun bagimu," tegur Ryan.
"Selama ini tidak pernah aku mengusik kebahagiaan kalian ya meskipun dalam hati ada rasa tidak rela jika Dinda bersanding dengan anda," sindir Rio.
"Hei.. Memang apa yang salah dengan saya?" tanya Ryan geram.
"Karena profesi anda.. Memangnya anda bisa mencukupi kebutuhan anak-anak apalagi gue dengar anak-anak sekolah di IIS, cukup keren sekali anda," sindir Rio.
"Oh ya jelas bahkan saya pun sangat mampu menyekolahkan mereka hingga ke luar negeri, jangan hanya memandang saya sebagai pengacara tetapi lihatlah background saya siapa sebenarnya," ucap Ryan membuat Rio merasa aneh.
"Memang siapa anda sebenarnya?" tanya Rio penasaran.
"Yang jelas tanpa anda ketahui saya lebih daripada anda," ucap Ryan tersenyum smirk.
"Cih.. Sombong sekali.. Kalau pengacara mah pengacara saja jangan berhalusinasi menjadi tuan muda yang kaya raya," ejek Rio.
"Bullshit.. untuk urusan Dinda dan anakmu, saya tetap tidak terima jika semua dituduhkan padaku, ingat pak meskipun anda pengacara sekali pun tidak pernah sekali pun saya gentar," ejek Rio tersenyum mengejek.
"Jika nantinya kondisi Dinda dan anak saya tak kunjung membaik jangan harap hidupmu bakalan tenang," gertak Ryan.
"Silahkan saja.. Memang semua bukan murni kesalahan saya," ucap Rio dengan entengnya.
"Baiklah.." jawab Ryan tersenyum licik dan Rio kebingungan dibuatnya.
"Ini orang misterius sekali sih, Dinda Dinda kenapa harus cari suami model dia," batin Rio.
"Saya rasa cukup untuk hari ini jadi saya permisi," pamit Rio namun dicekal oleh Ryan.
"Tunggu," ucap Ryan mencengkram tangan Rio sangat kuat hingga kesakitan.
__ADS_1
"Ada apalagi pak?" tanya Rio sambil menahan sakit.
"Saya belum memberikan anda pelajaran," jawab Ryan dengan senyum smirk lalu secara mendadak Ryan memukul Rio secara brutal.
Hampir seluruh tubuh Rio terkena salam olahraga Ryan, untung saja ada pegawai yang kebetulan melihat setelah itu merelai mereka.
"Pak jangan membuat keributan disini," ucap waiters berusaha merelai namun malah kena pukulan Rio.
"Berisik.. Jangan ikut campur," jawab Rio tanpa sengaja memukul waiters.
"Aw... Pak anda sudah kelewatan," ucap waiters meringis kesakitan, melihat itu Ryan langsung menghentikan serangan dan memilih menolong waiters tadi.
Suasana kafe yang tadinya kondusif menjadi kacau balau akibat ulah mereka berdua apalagi banyak yang mendokumentasikan momen itu. Rio dan Ryan merasa terpojok dengan situasi ini hingga akhirnya pihak manager turun tangan dan menyuruh mereka ke ruangannya.
Di sana Ryan meminta maaf atas kejadian yang terjadi diluar kendalinya namun dari pihak Rio masih saja enggan mengakui kesalahan dan malah menyalahkan Ryan. Hampir saja perkelahian terjadi lagi tapi untung saja pihak manager mengambil tindakan tegas.
"Jika anda bertindak seperti preman lagi maka saya tidak segan memanggil polisi, ini wilayah kekuasaan saya dan sayalah yang bertanggung jawab atas kafe ini, jika ada yang membuat keributan maka akan langsung saya bawa ke kantor polisi," gertak manager.
"Baik maafkan saya," jawab Ryan namun Rio hanya diam saja.
"Kalian sudah membuat kafe mengalami kerugian yang cukup besar apalagi salah satu pegawai saya terluka, ini sudah tindakan yang patut diselesaikan secara hukum," ucap manager marah.
"Tak perlu sampai ke ranah hukum.. Biarkan dia yang bertanggung jawab atas pegawai anda dan saya yang bertanggung jawab atas kerugian kafe ini," ucap Ryan dengan entengnya dan Rio melotot tak setuju.
"Enak saja.. Anda duluan yang memukul saya kenapa jadi saya ikut bertanggung jawab," protes Rio.
"Jangan merusak nama baik keluarga anda dan marga yang tertanam di nama anda.. Jika anda tidak mau bertanggung jawab silahkan saja pak manager biarkan dia di proses hukum," ucap Ryan mengancam.
"Sialan beraninya dia menggunakan keluarga gue sebagai alibi," batin Rio murka dan Ryan tersenyum penuh kemenangan.
"Baik.. Saya akan membiayai pengobatan pegawai anda sampai sembuh," ucap Rio setuju.
"Baik kalau begitu kalian berdua wajib tanda tangan dalam surat perjanjian ini, jika nantinya terbukti kalian lalai maka saya dengan mudahnya melaporkan kasus ini," ucap manager dengan tegas dan mau gak mau mereka berdua tanda tangan. Setelah itu mereka di perbolehkan pulang.
__ADS_1
Sebelum itu Ryan mentransfer sejumlah uang ke rekening kafe dan nominal itu dirasa cukup untuk ganti rugi, entah ke depannya pihak kafe meminta lagi biarlah menjadi urusan nanti setidaknya hari ini Ryan puas karena bisa menghajar Rio secara membabi buta. Urusan Rio setelah ini harus menjalani perawatan intensif sudah bukan urusan dia.
"Misi menghajar Rio Suganda sukses.. Kenapa gak dari kemarin aja gue lakuin tanpa perlu bantuan boy dan anak buahnya, kalau gini kan beres urusannya.. Ah boy sudah membuat gue kecewa berat," batin Ryan kecewa dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit.