
"Mas Ryan.. Mas Ryan se..selingkuh bu huhuhu," ucap Dinda terbata dan air mata sudah lolos jatuh ke pipinya.
"APA?? YANG BENAR SAJA KAMU DINDA," pekik Sri kaget.
"Buat apa Dinda berbohong bu, Dinda melihatnya langsung di depan mata kepala Dinda sendiri.. Tadi pagi Dinda mendadak datang ke kantor mas Ryan dan di sana.." ucap Dinda terpotong karena tak kuasa meneruskan kalimatnya.
"Di sana apa? Katakan pada ibu," desak Sri.
"Di sana Dinda melihat ada wanita lain berada di pangkuan mas Ryan bu huhuhu.. Bagaimana Dinda gak sakit hati," ucap Dinda menangis.
"Astaga.. Ibu gak menyangka suamimu seperti itu, ketika memintamu saja sungguh manis sekali kata-katanya.. Ternyata dia tidak ada bedanya dengan mantan suamimu itu," ucap Sri geram.
"Apalagi Dinda bu, seolah dunia runtuh seketika melihat hal menjijikan itu.. Bisa-bisanya mas Ryan kekeh kalau diantara mereka tidak ada hubungan sedangkan pihak perempuan saja dengan bangganya mengakui itu semua, Dinda sempat ragu harus percaya dengan siapa bu.." keluh Dinda.
"Tapi kalau semisal perkataan suamimu itu benar?" tanya Sri bimbang.
"Maling mana mau yang mengaku bu, kalau pun ada penjara penuh.. Awalnya memang Dinda gak percaya tapi malam harinya si cewek itu chat mas Ryan mengajak makan siang, kalau memang tidak ada hubungan buat apa dia datang ke kantor pagi-pagi sekali," ucap Dinda berpikir logis.
"Saran ibu sebaiknya kamu selidiki dengan baik, meskipun ibu kecewa dengan perbuatannya tapi hati kecil ibu mengatakan kalau suamimu itu tidak bersalah, coba saja diam-diam selidiki," nasehat Sri.
"Diam-diam selidiki? Kalau nanti mereka beneran ada hubungan malah Dinda tambah sakit hati bu, sakittt..." ucap Dinda memegang dadanya.
"Ibu tau.. Nanti biar ibu minta tolong mas mu menyelidiki ini semua, sementara itu kamu fokus saja sama anak-anak dan pekerjaan," nasehat Sri.
"Nanti malah tambah runyam gimana bu?" tanya Dinda khawatir.
"Percayalah mas mu pikirannya dewasa, ibu yakin mas mu tidak akan gegabah apalagi ibu akan menceritakannya secara detail," ucap Sri.
"Baiklah.. Dinda percaya sama ibu, makasih ya bu selalu ada untuk Dinda, maafkan Dinda sudah membuat ibu kerepotan dan kecewa berulang kali," ucap Dinda tak enak hati.
"Sst.. Kamu anak ibu jadi ini sudah tugas ibu membantumu ketika sedang ada masalah, untuk hari ini kamu mau menginap apa pulang?" tanya Sri memastikan.
"Dinda rencana mau menginap disini bu sama anak-anak juga, apakah boleh?" tanya Dinda.
"Tentu saja boleh.. Kayak sama siapa saja," jawab Sri heran.
Ketika perasaan Dinda sudah mulai lega kini ponselnya berbunyi dan Dinda sangat kaget siapa yang menghubungi..
"Hai kamu Dinda kan? Ini gue.. Vika," isi chat Vika membuat Dinda kaget sekaligus geram.
"Darimana dia tau nomer gue?" batin Dinda geram dan meremas hp mahalnya.
__ADS_1
"Hai kenapa hanya di read saja?" tanya Vika kembali chat Dinda.
"Oh hai.. Iya gue Dinda, ada apa?" balas Dinda.
"Nothing.. Save nomer gue ya siapa tau nanti ada info mengejutkan," jawab Vika membuat Dinda geram.
"Ni anak maunya apa sih? Ngeselin bener," gumam Dinda kesal dan mengabaikan chat Vika.
"Ah gue tau lo pasti sedang bertanya-tanya kan informasi apa yang mau gue katakan, kalau lo penasaran mari kita bertemu," ajak Vika.
"Jika memang informasi itu untuk saya dan valid seharusnya tanpa perlu bertemu pun anda akan mengatakannya langsung.. Jadi kalau anda mengirim pesan pada saya yang isinya hanya sebuah sampah lebih baik tidak usah, waktu saya terlalu berharga jika harus menghadapi manusia seperti anda," sindir Dinda dengan tegas dan membuat Vika kesal.
"Nih cewek sok kecakepan banget sih, masih untung suaminya belum gue ambil, coba kalau udah duh pasti bakalan gila kalik.. Secara wanita macam dia mana pantas bersanding dengan Ryan yang merupakan keluarga terpandang, halu boleh tapi jangan terlalu," gumam Vika sangat geram.
Ketika Dinda menanti balasan Vika, yang ada malah suaminya yang menelpon.
"Sayang.. Kamu dimana? Kenapa gak pulang? Tadi aku ke sekolah katanya anak-anak sudah kamu jemput," tanya Ryan khawatir.
"Penting untukmu mengetahui dimana keberadaan ku?" sindir Dinda.
"Sangat penting, aku khawatir sayang.. Katakan kalian dimana?" desak Ryan.
"Astaga ayo sayang.. Harus berapa kali aku katakan kalau aku dan Vika tidak ada apa-apa, jangan percaya apa yang di ucapkan Vika," pinta Ryan memohon.
"Tolonglah mas aku ingin menenangkan diri, beri aku waktu," pinta Dinda lirih.
"Katakan dimana posisimu sekarang?" desak Ryan.
"Tidak ada dimana-mana," jawab Dinda dingin.
"Sayang tolonglah katakan," pinta Ryan.
"Jangan memaksa mas, tidak semuanya harus kamu ketahui," sindir Dinda.
"Sampai kapan kamu akan begini?" tanya Ryan sudah kehabisan cara.
"I don't know..." jawab Dinda ketus.
"Please jangan bikin aku khawatir," pinta Ryan.
"Tak perlu kamu khawatir, aku sudah dewasa dan sanggup merawat anak-anak dengan baik," ucap Dinda dengan ketus lalu mematikan panggilan.
__ADS_1
"Dinda... Dimana kamu sekarang, kenapa masalahnya semakin membesar? Tolong jangan pergi dari rumah.. Aku gak mau kehilangan kalian," gumam Ryan sambil mengusap wajahnya kasar.
***
"Karena Dinda udah bikin gue kesal jangan harap gue akan diam, tunggu saja permainan gue dan akan gue lihat sampai sejauh mana nanti kamu mempertahankan rumah tanggamu," gumam Vika penuh dendam lalu menelpon tukang foto handal.
"Halo selamat siang?" sapa tukang foto.
"Selamat siang.. Saya membutuhkan jasa anda untuk edit poto saya, apakah bisa?" tanya Vika to the point.
"Tentu saja dengan senang hati akan saya bantu, kalau boleh tau dengan siapa saya berbincang?" tanya tukang foto ramah.
"Oke.. Saya Ika, saya mau kalau anda edit nya di depan saya langsung, apakah bisa?" tanya Vika.
"Bisa kak.. Sangat bisa, tapi anda harus sabar dan menunggu cukup lama," ucap tukang foto.
"Tidak masalah asalkan nanti hasilnya memuaskan," jawab Vika tak masalah.
"Baik kalau begitu, kebetulan besok jadwal saya kosong kalau anda ingin bertemu bisa di, lakukan besok hari dan di jam makan siang," ucap tukang foto antusias.
"Oke.. Gak masalah, untuk lokasinya akan saya kabari via chat, terima kasih," ucap Vika lalu mematikan panggilan.
Esok harinya Dinda dan tukang foto sudah bertemu di sebuah kafe hitz yang instagram-able,
"Selamat siang kak Ika," sapa tukang foto ramah.
"Siang.. Silahkan duduk, akan saya katakan apa tugas anda," perintah Vika lalu mereka duduk bersebrangan.
"Terima kasih," jawab tukang foto.
"Ini tugas anda, gabungkan dia foto ini seolah-olah sedang tidur bersama, apakah anda bisa?" tanya Vika sembari memberi foto.
"Ini gak bisa terjadi, sama saja pembohongan publik," tolak tukang foto.
"Kalau dengan ini apakah bisa? Saya butuh foto editan itu segera," ucap Vika sembari meletakkan amplop tebal di meja.
"Akan saya pikirkan, mengubah keseluruhan juga susah," ucap tukang foto memberitahu.
"Tidak apa," jawab Vika enteng.
"Yang terpenting fotonya jadi aja dulu setelah itu akan gue kirimkan ke rumah Ryan" gerutu Vika tersenyum smirk.
__ADS_1