
"Pagi.. Apa jadwal saya hari ini? Kayaknya senggang ya?" tanya Ryan menebak.
"Iya Pak hanya ada 2 klien untuk janji temu," jawab sekretaris membenarkan.
"Akhirnya bisa pulang awal lagi, ok makasih infonya.. Saya mau ke ruangan dulu," jawab Ryan semangat.
"Ada tamu yang menunggu di ruangan pak," ucap sekretaris bimbang.
"Siapa?" tanya Ryan kaget dan penasaran.
"Teman wanita anda waktu itu pak, oh iya pak kemarin teman anda juga menanyakan perihal info pribadi bapak," ucap sekretaris ragu.
"Vika maksudmu? Ngapain dia sepagi ini udah di sini? Info apa yang ingin dia tahu?" tanya Ryan penasaran sekaligus heran.
"Iya pak dia orangnya, waktu itu teman anda menanyakan dimana rumah anda sekarang, katanya tempo hari beliau datang ke rumah anda namun salah satu pegawai yang bekerja di rumah anda mengatakan bahwa anda sudah tinggal di rumah istri anda, dia menanyakan dimana rumah istri anda," ucap sekretaris membuat Ryan semakin kaget.
"Untuk apa dia menanyakan itu? Lalu kamu memberi alamatnya?" tanya Ryan kaget.
"Saya kurang tau apa motifnya pak tapi saya tidak memberikan informasi apapun," jawab sekretaris sungkan.
"Baguslah.. Jangan beri informasi apapun padanya apalagi menyangkut kehidupan pribadi," tegur Ryan serius dan sekretarisnya paham.
"Baik pak saya mengerti," jawab sekretaris mengangguk paham. Lalu Ryan masuk ke ruangannya dan disambut oleh Vika yang hari ini berpenampilan seksi.
"Hai Ryan.. Selamat pagi," sapa Vika tersenyum menawan.
"Pagi.. Ada apa ya pagi-pagi sekali sudah datang kesini?" tanya Ryan risih.
"Kok pakai tanya sih, ya karena chat gue gak dibalas.. Jahat ih," protes Vika manyun.
"Chat? Gak ada chat tuh," bantah Ryan.
"Coba cek lagi hpmu, gue udah kirim chat dari semalam," protes Vika menyilang kan tangan.
"Wait..." jawab Ryan lalu cek hpnya dan benar saja ada pesan masuk dari Vika namun sudah terbaca.
"Siapa yang buka hp gue? Apakah Dinda? Tapi kenapa dia gak bilang kalau ada pesan masuk dari Vika? Jangan bilang kalau Dinda menaruh curiga, aduh jangan sampai..." batin Ryan gusar.
"Gimana? Ada gak?" tanya Vika sambil mendekatkan dirinya ke Ryan.
"Eh iya hmm itu.. Ada kok tapi maaf gue lupa bales," ucap Ryan kikuk.
"Ish nyebelin deh," protes Vika mencubit lengan Ryan.
"Apa-apaan sih, ini di kantor ya," tegur Ryan kesal.
"Ah sorry.. Habisnya gemes sih," ucap Vika.
"Sudah selesai urusannya kan?" sindir Ryan.
"Belum.." rengek Vika.
"Apalagi?" tanya Ryan risih.
__ADS_1
"Jawab pertanyaan gue dulu dong, nanti lunch gak?" tanya Vika memasang wajah melas.
"I don't know.. Jadwal gue padat," alibi Ryan.
"Jangan bohong.. Gue tau schedule nya," sindir Vika menyentil perut Ryan.
"Astaga.. Ni cewek main colek aja," batin Ryan kesal.
"Gue mau makan siang sama istri gue," ucap Ryan malas berkilah.
"Ok kalau gitu gue ikut.. Istrimu kan udah kenal sama gue, kalau bukan gue darimana dia tau siapa yang membuat ulah di perusahaannya dulu," ucap Vika mengingatkan.
"Gak.. Gue gak mau kalau istri gue salah paham, please jangan gila deh Vik," tegur Ryan.
"Ya gak bakal dong, dia kan taunya kita friend," jawab Vika dengan entengnya.
"Emang lo pikir kita apa?" tanya Ryan.
"Hmm ya gak tau, jodoh kan hanya Tuhan yang tahu," jawab Vika malu-malu.
"Udah daripada lo makin ngaco mendingan pulang aja sana, kerja," usir Ryan.
"Gak akan sebelum lo izinin gue lunch bareng sama kalian," tantang Vika.
"Jangan gila.." gertak Ryan marah.
"Lo yang udah buat gue gila, lo Ryan..." tunjuk Vika ke muka Ryan.
"What?? Gue? Kok bisa?" tanya Ryan heran.
"Aneh.." jawab Ryan lalu duduk di kursi kerjanya dan fokus menyelesaikan file-file.
"Ryan... Look at me, tolong notice gue meskipun itu sebentar," pinta Vika mendongakkan muka Ryan.
"Jangan lancang Vika," gertak Ryan menepis kasar tangan Vika.
"Lo yang membuat gue nekat seperti ini, gue gak peduli dengan statusmu yang beristri," jawab Vika serius sembari duduk di meja dan menghadap Ryan.
"Minggir.." usir Ryan.
"Jawab dulu permintaan gue," ucap Vika enteng.
"Astaga.. Susah ngomong sama orang kayak lo, minggir atau gue panggil sekuriti," ancam Ryan serius.
"Atau gue akan teriak minta tolong dengan alasan lo melecehkan gue," ancam balik Vika.
"Vika.. Loe.." ucap Ryan terpotong karena tak tega mengatakan hal yang menyakitkan pada wanita.
"Apa? Gue kenapa,?" tantang Vika semakin mendekatkan tubuhnya ke Ryan.
"Hei.. Singkirin tubuhmu," ucap Ryan risih.
"Gue jamin lo bakal ketagihan denganku ketimbang istrimu," goda Vika langsung duduk di pangkuan Ryan dan saling berhadapan.
__ADS_1
Ketika mereka sedang di situasi seperti itu, Dinda masuk ke ruangan suaminya dan sudah pasti Dinda terkejut sekaligus jijik.
"MAS... APA-APAAN INI!!!" teriak Dinda lantang.
"Sayang.." ucap Ryan kaget dan mendorong tubuh Vika dengan kasar.
"Aw sakit baby.. Slow dong," rengek Vika akting kesakitan.
"Baby? You call baby?" tanya Dinda syok.
"Yes.. Why?" tanya balik Vika.
"Stop Vika.. Keluar dari sini dan jangan ganggu gue lagi," gertak Ryan emosi.
"Gak.. Enak aja dia disuruh pulang, kenapa kamu melindunginya mas? Takut perselingkuhan kalian terbongkar?" tanya Dinda tersenyum kaku sembari menahan perih di dadanya.
"Apanya yang selingkuh? Gak pernah sekalipun aku selingkuh darimu," ucap Ryan jujur dan mendekati Dinda.
"Bulshit!! Apa yang aku lihat sepertinya cukup menggambarkan semuanya mas," ucap Dinda tak mau mendengar bantahan.
"Apa yang kamu lihat tidak seperti yang kamu pikirkan, percayalah.. Aku tidak pernah sekalipun mengkhianatimu," ucap Ryan memohon.
"Tapi aku tidak mempercayai itu mas," jawab Dinda berlinang air mata.
"Udahlah baby kita katakan saja semuanya," desak Vika semakin membuat suasana panas.
"APA YANG LO KATAKAN!! GAK ADA APAPUN DIANTARA KITA!! JANGAN MEMBUAT SUASANA JADI PANAS YA," gertak Ryan emosi.
"Gak ada apapun kok tadi menikmatinya baby? Udahlah ngaku aja di depan istrimu itu," desak Vika semakin membuat Ryan murka dan Dinda langsung mempercayai.
"Bagus.. Sangat bagus, kalian sungguh luar biasa MENJIJIKAN," sindir Dinda.
"Sayang tolong percayalah padaku, ini semua gak benar..." pinta Ryan memohon.
"Lalu yang benar apa mas?" tanya Dinda.
"Dia hanya temanku dan aku tidak pernah memiliki hubungan apapun setelah menikah dengan mu," ucap Ryan jujur.
"Oh berarti sebelum menikah denganku kalian ada hubungan?" tanya Dinda semakin kecewa.
"Iya.. Kami ada hubungan dan sampai sekarang," jawab Vika dengan entengnya.
"VIKAAAAA," gertak Ryan sambil menggebrak meja.
"Apa baby? Aku sudah muak kalau harus menjadi kedua," ucap Vika membuat Ryan murka.
"Sekali lagi bicaramu ngawur akan gue seret lo keluar dan gue bakal perkara kan ini," ancam Ryan serius.
"Astaga gue lupa kalau Ryan kan pengacara handal, mana gue udah bicara terlalu jauh lagi.. Duh harusnya kan jangan banyak-banyak dulu, bertahap.. Istrinya sih ngapain pakai acara datang segala, semuanya kan jadi rusak," batin Vika diam seribu bahasa.
"Aku kecewa sama kamu mas, sungguh kecewa.. Kamu dan mas Rio sama saja," ucap Dinda berlinang air mata dan berlari ke luar gedung.
"Sayang.. Tunggu dulu ini semua salah paham," teriak Ryan mengejar istrinya.
__ADS_1
"Ah setidaknya sekarang hubungan mereka renggang, waktunya gue pepet Ryan terus," gumam Vika berlenggang pergi dari kantor Ryan dengan bahagia.