
Hari demi hari sudah dilalui Vika ditempat bekerja dengan baik, semua pekerjaan yang ada selalu ia selesaikan dengan cepat bahkan belum waktunya pulang kerja pun Vika sudah menyelesaikan semua pekerjaannya, sontak saja kecekatan Vika tak luput dari sorotan para atasan termasuk kepala staf, bahkan hari demi hari kepala staf merasa cemas karena takut posisinya di lengserkan Vika.
Beberapa minggu ini banyak atasan yang memuji kinerja Vika dan juga menjanjikan akan segera mempromosikan Vika jika masa training nya telah usai, padahal masa training Vika tak terasa kurang satu bulan lagi, tentu saja hal itu sangat dekat. Kini Sari harus memutar otak dengan cepat agar posisinya tetap aman.
"Vika.. Masuk ke ruangan saya," perintah Sari via telepon kantor, tak menunggu lama, Vika bergegas menuju ruangan atasannya. Sebetulnya ia merasa heran, apa yang ingin dibahas sampai-sampai dirinya harus datang sendiri ke ruangannya.
Setelah masuk ke ruangan Sari, suasana canggung juga perasaan tak enak melanda Vika namun segera ia tepis itu, Vika harus tetap berpikir optimis agar hari-harinya dalam bekerja menjadi ringan.
"Permisi bu, apa benar anda memanggil saya?" tanya Vika memastikan.
"Apa telepon saya tadi kurang cukup jelas?" sindir Sari sinis, jawaban Sari jujur saja membuat Vika kaget bukan main, baru kali ini atasannya itu bersikap tak bersahabat.
"I..iya bu, maaf.. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Vika gugup, ia takut salah ucap lagi.
"Duduk dan baca ini," jawab Sari melempar map.
Vika membacanya dengan seksama lalu poin demi poin yang ia baca semuanya membuat ia kaget dan tentu saja akan menolak karena setiap permintaan atasannya itu terasa tidak masuk akal.
Poin-poin yang di ketik oleh Sari ialah :
Vika tidak diperkenankan untuk bersikap cekatan seperti biasanya.
__ADS_1
Apapun tugas yang diberikan oleh Vika nantinya maka Vika wajib mengerjakan dengan lambat dan tidak terkesan terburu-buru.
Semua revisi yang dilakukan Vika dianggap kesalahan fatal.
Tidak diperkenankan sering ke pantry ketika jam bekerja karena bisa mengurangi jam kerja karyawan, untuk urusan perut sudah ada jamnya sendiri, jam istirahat.
Jika di kantor dilarang menyapa atasan apapun itu alasannya.
Penampilan harus diubah lebih sopan dengan detail rok panjang dan baju lengan panjang pula, tak diperkenankan make up dan memakai wewangian, penampilan Vika selama ini dianggap terlalu berlebihan.
"Maaf Bu Sari, bolehkah saya mengajukan protes?" tanya Vika dengan hati-hati padahal hatinya sedang bergemuruh hebat.
"Setelah saya membaca poin demi poin yang ibu tentukan, semuanya tidak ada hubungannya dengan job desk saya, perihal kecekatan dan sikap ramah terhadap atasan itu adalah hal yang lumrah bahkan wajib dalam dunia perusahaan, bagaimana bisa saya mengubah hal yang baik menjadi buruk hanya untuk menuruti keinginan anda? Ini bukan saya dan terang-terangan saya menolaknya, ini tidak masuk akal, alasan semua ini pun tidak tertulis dengan jelas," tolak Vika dengan tegas.
"Haha mulai membantah? Baru juga beberapa bulan kerja disini udah sok begitu, apa kamu lupa jika saya ini atasan kamu? Bisa saja loh saya membuat alibi sesuka saya dan mengajukan pada atasan agar kamu terkena SP atau bisa juga dipecat," gertak Sari.
"Silahkan saja bu saya tidak takut, semua aturan yang ibu buat tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan saya, mulai hari ini dan seterusnya saya akan tetap seperti biasanya, silahkan saja ibu laporkan ini pada atasan, saya juga ada hak untuk membela diri," jawab Vika tak gentar.
"Kurang ajar!!! Menyesal saya sudah mengajarkan kamu banyak hal!!! Jangan sampai karena sikap sok kuatmu itu membuat posisi saya lengser!" umpat Sari.
"Oh.. Jadi itu alasannya? Ibu takut saya ini menggantikan posisi ibu karena beberapa waktu lalu atasan memuji saya dan menjanjikan akan mempromosikan saya? Kenapa ibu segitu takutnya sih kan disini yang lebih lama jam kerjanya itu anda, jadi anda itu senior saya dong, kenapa senior malah takut sama junior? Jika kinerja ibu baik kenapa takut bu??" tanya Vika merasa heran.
__ADS_1
"Kamu tau apa dengan dunia perusahaan? Baru juga nyemplung disini udah sok atur saya! Harusnya kamu curiga, baru juga sebentar disini udah dijanjiin promosi," umpat Sari.
"Tapi saya tidak terlalu memikirkan itu bu dan saya sadar diri karena memang saya masih sebentar disini, tapi jika waktu itu tiba ya kenapa saya menolaknya?? Rezeki tidak akan tertukar kan bu?" ucap Vika meminta pembenaran.
"Halah anak bau kencur sok berkata bijak!! Jika dibalik promosi itu ada hal yang harus kamu berikan, apa kamu siap?" tanya Sari membuat Vika bingung.
"Maksudnya bu?" tanya Vika penasaran.
"Halah pakai acara sok polos lagi, sok paling suci dan gak tau apa-apa, semua karyawan disini jika dikatakan begitu juga pasti akan langsung paham, jangan sok polos kenapa!" pekik Sari mulai kesal.
"Kok ibu malah ngegas? Apa susahnya tinggal menjelaskan," tanya Vika semakin membuat atasannya kesal.
"Kamu lulusan sarjana tapi otaknya dangkal!!! Di dunia ini tidak ada yang gratis, kencing di pom bensin saja ada kotak untuk isi uangnya kok alias membayar, lah kamu? Mau di promosikan dalam waktu singkat tapi gak memikirkan ke belakangnya? Apa ada atasan yang memberikan jabatan secara cuma-cuma?? Jangan munafik deh!! Semua atasan suka padamu itu karena penampilanmu yang selalu menunjukkan lekuk tubuhmu itu, apa selama ini kamu gak menyadarinya?? Apa kamu ini gak bisa membaca dari sorot mata mereka?? Jika tidak merasa ya berarti kamu ini memang bo-doh!!! Di dunia ini tidak ada yang gratis jadi ketika kamu selesai di promosikan ada harga mahal yang harus dibayar, harga itu tidak dibayar dengan uang dalam jumlah banyak maupun potong gaji melainkan harga mahal yang harus dibayar adalah melalui tubuhmu itu, tubuh yang selalu kau pamerkan secara cuma-cuma pada mereka," ucap Sari membuat Vika terkejut, ia tak menyangka jika janji promosi yang diucapkan atasan harus dibayar dengan itu.
"Gak mungkin.." jawab Vika berusaha menyangkal meskipun hatinya gelisah.
"Terserah mau percaya atau tidak tapi yang penting saya sudah memberitahu," jawab Sari dengan senyum sinis, provokasi yang ia lakukan ternyata ampuh juga.
"Jika memang itu benar adanya berarti anda salah satu karyawan yang tubuhnya juga ikut dinikmati atasan demi kenaikan jabatan?" sindir Vika.
"JAGA MULUTMU!!! PUNYA BUKTI APA KAMU BERANI MENGATAKAN ITU, HA!!!" bentak Sari sembari menggebrak meja, ia tak terima dituduh seperti itu. Kenaikan jabatan yang ia raih adalah murni dari kerja kerasnya ya meskipun ada tambahan menggoda atasan sedikit tapi Sari tidak serendah itu, ia tidak sampai tidur dengan atasan.
Gimana guys punya atasan macam Sari? Kzl gak?
__ADS_1