
Mendengar jika suami istri itu akan memadu kasih malam ini membuat Frida merasa tak terima, harusnya yang boleh memiliki Ryan hanyalah dia saja, kenapa harus ada istrinya disini? Lagian kenapa sih Ryan tak pernah mengatakan jika sudah menikah, setelah jatuh cinta pada pandangan pertama dan terlanjur cinta begini malah mendapat kenyataan pahit. Kenapa semua pria yang ia suka berakhir dengan status istri orang???
Masalah yang ia hadapi belum juga kelar kini ditambah permasalahan dengan istri lawyer nya. Jika dibiarkan terus menerus harga dirinya bisa terinjak-injak oleh Dinda, ini gak boleh dibiarkan. "Pokoknya aku harus memikirkan sebuah cara agar membuat Dinda jera! Kalau bisa mereka cerai!!" gumam Frida sangat benci.
"Halo.. Tolong bantuin gue!" pinta Frida via telepon.
"Bantuin apa? Gue gak mau kalau urusan gak penting apalagi gak ada duitnya," tanya seseorang.
"Ini sangat penting dan sudah pasti duitnya pun gede," jawab Frida.
"Katakan apa yang harus gue bantu," tanya seseorang antusias.
"Ck!! Giliran duit aja gerak cepat! Dasar matre!" umpat Frida.
"Gak ada yang gratis di dunia ini, ayo katakan!" desak seseorang.
"Gue sedang ada masalah dengan seseorang, kebetulan dia istri dari lawyer gue, kesel banget gue kalau liat dia! Sok cantik dan sok paling bijak! Gue mau dia dan laki nya bertengkar ya syukur-syukur sih sampai cerai!" pinta Frida.
"Astaga.. Kenapa harus laki orang sih, Frid! Selera lu nih emang ya, meresahkan!" umpat seseorang.
"Diam lu! Mau duit gak? Awalnya gue mana tau kalau dia suami orang, tiba-tiba aja istrinya nyamperin kesini, jangan salahin gue dong lagian dari awal tuh lawyer gak ngomong kalau dah nikah!" bela Frida.
"Ya gak penting juga ngomong sama lo tentang status dia! Itu kan privasi," protes seseorang.
"Bodo amat! Mau nolongin gak?" tanya Frida kesal.
"Oke siap! Apa rencana lo?" tanya seseorang lalu Frida memberikan informasi mengenai rencana apa yang ia sudah susun, awalnya orang yang disuruh Frida menolak namun demi pundi-pundi rupiah yang dijanjikan Frida membuat orang itu tergiyur juga. Setelah pembahasan dirasa cukup, Frida mematikan sambungan telepon dan gak sabar untuk menjalankan rencananya.
__ADS_1
***
Pagi hari ini adalah jadwal sidang kasus Frida di kantor pengadilan, karena ini urusan pekerjaan mau gak mau Dinda harus tetap berada di hotel. Ya meskipun dalam hati ia tak suka jika suaminya bersama klien genitnya itu.
Didalam persidangan terjadi debat yang cukup menguras emosi juga pikiran, berkali-kali Ryan hampir kalah telak karena bukti yang ia miliki cukup lemah apalagi selama ini ia hanya mendengar dari satu sisi, yaitu bu Frida saja, nyatanya ketika dipersidangan, semua bukti memutar balik fakta yang diberikan oleh kliennya. Ryan awalnya kaget dan hampir gak bisa fokus untuk meneruskan persidangan ini, ia merasa tertipu dengan kliennya. Awal-awal Ryan merasa gagal membela klien sampai ada titik dimana Ryan bisa mencari celah kesalahan lawannya. Minggu depan baru hakim akan membacakan hasil persidangan nya, aslinya bisa hari ini namun bukti-bukti baru mencuat dan menjatuhkan kliennya, jadi Ryan harus bisa bersabar selama seminggu kedepannya. Itu tandanya kepulangan dia juga tertunda.
Karena malas dengan urusan hari ini, Ryan memutuskan untuk kembali ke hotel, ketika memasuki mobil yang ia sewa, tiba-tiba Frida datang dan meminta tumpangan.
"Pak Ryan.. Tunggu!" panggil Frida.
"Apalagi bu? Saya hari ini sangat lelah," tanya Ryan.
"Bapak mau pulang kan? Saya nebeng dong, boleh ya?" pinta Frida.
"Mobil ibu kemana?" tanya Ryan sungkan.
"Baiklah.." jawab Ryan tanpa bertanya lebih jauh, padahal mobil Frida ada dirumahnya, memang hari ini Frida sengaja tak menggunakan mobil karena ingin melihat pertunjukan yang sangat menghibur.
"Gue udah mau otw ke hotel, segera lakukan rencananya," isi chat Frida pada seseorang.
"Siap.. 5 menit gue sampai," jawabnya tanpa dibalas lagi oleh Frida.
Dipertengahan jalan, mendadak Frida memiliki ide untuk menunda kepulangan mereka, Frida meminta mampir dulu ke sebuah toko bunga di sebrang jalan sana. Tujuan ia nantinya membeli sebuket bunga dan akan diakui jika Ryan lah yang membelikannya.
Setelah memilih dan membayar, mereka kembali melajukan perjalanan menuju hotel. "Udah sampai belom? Tau kan nomor kamarnya?" isi chat Frida.
"Gue udah sampai tapi daritadi gak ada yang bukain pintu, salah kamar mungkin, yang bener dong jangan ngerjain gue!" protes seseorang.
__ADS_1
"Dia ada di kamar sana! Tadi pagi gue cek kok, coba ke kamar sebelahnya, kalau ada disana ya berarti dia pindah kamar," jawab Frida.
"Udah.. Nih ada jawaban, nyesel gue daritadi ngetuk pintu terus tapi gak ada orangnya dan gak taunya target ada disebelah!" umpat seseorang.
"Siap-siap! Bentar lagi gue sampai," balasan Frida.
"Mari kita lihat bagaimana ekspresi pak Ryan ketika tau hal yang sebentar lagi terjadi," batin Frida tersenyum licik.
Didalam mobil tak ada perbincangan yang terjadi karena Ryan sangat malas dengan kliennya yang sudah berbohong besar padanya, dibela ternyata fakta yang terungkap berbanding terbalik, jika nanti dia kalah dalam kasus ini, pamornya akan menurun. Nama besarnya akan dipertaruhkan dalam kasus ini, salah Ryan juga sih yang gegabah menerima kasus tanpa mempelajari terlebih dahulu, padahal di kotanya jika ada yang memakai jasanya maka Ryan akan mempelajari masalah kliennya dengan detail dan tak semua kasus ia akan terima.
Tiba di hotel, mereka tetap berjalan dalam diam sampai akhirnya tiba di kamar masing-masing, ketika Ryan ingin membuka pintu, ia mendengar suara seseorang didalam kamarnya, padahal setau Ryan hanya ada dia dan istrinya, itu artinya ada pria lain yang masuk.
"Gue dan lawyer gue ada didepan kamar, segera lakuin!" perintah Frida yang hanya dibaca saja.
Senyum seringai menghiasi wajah pria tampan itu, ia tak menduga jika target kali ini sungguh cantik bahkan bodynya pun menggoda, kebetulan Dinda hanya memakai lingerie saja, sebuah kebetulan yang berakibat fatal.
"Hai baby.. Kenapa kamu menggoda sekali," ucap pria itu dengan wajah siap menerkam.
"Siapa kamu? Pergi dari sini!" pekik Dinda.
"Gue akan pergi jika kita sudah berpesta baby, ayolah jangan jaim gitu, gak ada siapa-siapa disini," goda pria itu.
"Pergi.. Saya gak kenal kamu! Pergi atau saya panggil sekuriti!" ancam Dinda panik.
"Ssstt... Jangan galak gitu malah makin menggemaskan, ayolah sebentar saja," ajak pria itu yang langsung menggendong Dinda dengan paksa, Dinda berteriak meronta-ronta dan memukul bagi pria itu namun sayang sekali pukulan Dinda terlalu lemah bagi pria yang membopongnya.
Ceklek... Suara kamar terbuka dan Ryan disuguhi pemandangan yang sangat luar biasa, ia melihat istrinya berada dalam satu kamar dengan pria lain.
__ADS_1
"APA YANG SUDAH KALIAN LAKUKAN!!!!" bentak Ryan emosi.