
Belum puas Dinda membuntuti suaminya, kini dengan sisa hati yang sudah rapuh, ia tetap melanjutkan perjalanannya mengikuti suaminya secara diam-diam, entah kali ini mereka akan pergi kemana, apapun yang nanti Dinda lihat, dirinya harus bisa lebih kuat. Jika suaminya sudah tak lagi menomorsatukan dirinya dan anak-anak, maka untuk apa bertahan?
Mobil Ryan melaju dengan kecepatan pelan, menandakan bahwa didalam mobil sana dua orang yang berlawan jenis sedang menikmati perjalanan, tibalah mereka di sebuah butik yang cukup terkenal, di butik itu juga menyediakan busana untuk pernikahan, pikiran Dinda semakin tak karuan dan otaknya semakin berpikir sangat jauh, apa mereka berdua datang kesini untuk memesan kebaya pernikahan? Mereka ada rencana menikah diam-diam?? Ingin sekali Dinda memergoki mereka berdua dan melihat apa yang dilakukan didalam namun kakinya serasa lemas untuk berjalan, pemandangan yang ia lihat sendiri sungguh membuat hati juga tubuhnya tak berdaya. Dengan mengumpulkan tekad, Dinda memberanikan diri untuk turun dari mobil meskipun lutut terasa tak ada tenaga namun ia paksa.
Baru berjalan beberapa langkah, Dinda melihat suaminya kembali ke mobil namun tak bersama wanita tadi, entah kemana lagi perginya suaminya itu, Dinda sudah tak berselera untuk membuntuti, baginya ini kesempatan emas untuk mengorek informasi pada wanita yang bersama suaminya tadi, apa tujuannya datang kesini.
Kebetulan Dinda adalah member disini jadi beberapa karyawan sudah mengenalinya, tak susah bagi Dinda untuk bertanya tentang apa yang sudah mengganjal di hati dan pikirannya.
"Mbak.. Sini," panggil Dinda sambil tengok kanan kiri.
"Iya bu Dinda ada yang bisa saya bantu? Kebetulan ibu Dinda disini, toko kami sedang ada produk baru yang limited edition, khusus member ada diskon up to 25%, apa bu Dinda berminat?" tanya pegawai.
"Nanti aja mbak saya nanti lihat dulu barangnya, tapi kali ini tolong bantu saya, bisa?" tanya Dinda penuh harap.
"Baik bu akan saya minta teman saya untuk menyiapkan koleksinya, apa yang bisa saya bantu bu?" tanya pegawai penasaran.
"Apa mbak lihat wanita setengah baya datang kesini bersama pria yang terlihat lebih muda, tepatnya pria itu pengacara terkenal, Ryan," ucap Dinda memastikan.
"Hmm.. Saya kurang tau bu kebetulan saya baru saja ganti shift, apa ibu ada perlu dengan beliau?" tanya pegawai yang membuat Dinda sedikit kecewa.
"Gak.. Gak ada makasih mbak, mana koleksinya?" tanya Dinda kecewa lalu pegawai toko mengarahkan Dinda ke sebuah ruangan yang menjadi satu dengan ruang ganti. Di sana terpampang berbagai model pakaian limited edition dan semuanya sesuai selera Dinda. Ketika Dinda memilih pakaian yang ingin dicoba, perhatiannya sempat teralihkan dengan suara heels wanita yang berjalan mendekatinya. Ia menoleh dan seketika kaget, wanita yang ada disebelahnya itu adalah wanita yang bersama suaminya tadi. Tak mau ketinggalan momen, Dinda lantas memanggil lagi pegawai toko untuk menanyakan hal penting.
__ADS_1
"Mbak.. Sini," panggil Dinda.
"Iya bu? Jadi ibu mau beli yang mana? Biar nanti saya kasih diskon," tanya pegawai.
"Bentar saya belum sempat memilih, eh mbak lihat pengunjung disebelah saya deh," bisik Dinda yang membuat pegawai mengarahkan pandangannya ke wanita setengah baya itu.
"Oh.. Itu ibu Indah, ada apa bu?" tanya pegawai yang ternyata kenal dengan wanita itu.
"Dia member disini juga?" tanya Dinda kaget.
"Bukan.. Kebetulan beliau baru beberapa kali datang kemari, biasanya sama keponakannya tumben sekarang sendirian," jawab pegawai yang tau betul tentang Indah.
"Oh.. Kalau bu Indah saya tau bu karena kebetulan saya yang handel orderan beliau," jawab pegawai.
"Orderan? Pesan apa dia?" tanya Dinda penasaran.
"Pesan kebaya pernikahan bu, tadi beliau datang kesini untuk melihat hasilnya dan katanya ada rencana fitting kebaya hari ini, jadi tim kami sedang mempersiapkannya," jawab pegawai membuat Dinda syok bukan main.
"Fitting kebaya? Sudah pesan? Apa maksud semua ini Tuhan? Apa memang benar dugaan ku jika mas Ryan diam-diam ingin menggelar pernikahan dengan wanita yang bernama Indah ini? Tapi kenapa harus dia?? Kenapa harus wanita bernama Indah yang usianya terpaut lebih tua dari suaminya? Kenapa pula harus melakukan pernikahan secara diam-diam? Kenapa suaminya tak jujur saja? Ada apa dengan semua ini?? Kalau pun nanti suaminya jujur, Dinda akan merestui pernikahan ini dengan syarat Ryan harus melepaskan Dinda terlebih dahulu, tak ada dalam kamus hidupnya untuk diduakan ataupun menjadi kedua, jika suaminya sudah tak lagi mencintainya maka kembalikan lagi pada kedua orang tuanya dan berpisah dengan baik-baik," batin Dinda ber kecambuk dan tak terasa air mata lolos dari pipinya.
Melihat customer setianya sedih membuat pegawai tadi berpikir keras, apakah ada ucapannya yang salah? Ia takut jika kejadian ini diketahui atasannya dan nanti otomatis dia akan terkena SP.
__ADS_1
"Bu.. Bu Dinda, kenapa bu?" tanya pegawai panik.
"Bu.. Apa ada ucapan saya yang salah? Jika ada saya mohon maaf yang sebesar-besarnya bu," tanya pegawai itu lagi dengan wajah panik.
"Gak.. Ini bukan salah kamu kok, kan tadi saya yang bertanya," jawab Dinda mengusap air matanya.
"Ibu beneran gak papa? Saya minta maaf bu," tanya pegawai memastikan.
"Enggak kok gak papa, makasih ya udah kasih info ke saya," jawab Dinda berusaha tegar.
"Sama-sama bu, sekali lagi saya minta maaf jika informasi yang saya berikan membuat anda sedih," ucap pegawai merasa bersalah.
"Enggak kok, informasi darimu sangat berguna sekali, saya minta tolong ya jangan beritahu Indah tentang hal ini, saya gak mau dia tau kalau saya menanyakan dia," pinta Dinda.
"Ba..baik bu," jawab pegawai gugup, setidaknya kali ini ia bebas dari teguran atasannya. Setidaknya customer kali ini sedih bukan karena dirinya, ingin sekali ia menanyakan tentang masalah yang ada namun ia cukup sadar diri, posisinya disini sebagai pegawai toko, tak etis rasanya jika terlalu ikut campur. Melihat customer nya tiba-tiba berlinang air mata saja sudah membuatnya kelimpungan apalagi jika nanti ikut campur terlalu jauh.
Dinda berjalan menuju arah keluar toko namun pandangannya kembali tertuju pada wanita bernama Indah itu. Wanita yang tadi bersama suaminya tengah memperhatikan kebaya yang ia pesan dengan rona wajah yang bahagia, "Kebaya yang sangat cantik sekali," gumam Dinda.
Rona bahagia yang terpancar dari Indah tak bisa menutup hati Dinda yang sedang terluka, setidaknya bagi Dinda kini wanita setengah baya itu tengah berbahagia di atas penderitaannya.
"Memang ya namanya pihak kedua selalu lebih beruntung meskipun harus didapat dari hasil merebut, contohnya dulu si Sisil, rasanya aku gak sanggup lagi jika harus mengulang luka yang sama untuk kedua kalinya," batin Dinda yang asal mengambil stok pakaian limited edition lalu membayarnya di kasir dan setelah itu pergi dengan luka yang sebelumnya sudah tertutup rapi kini kembali terbuka.
__ADS_1