RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Nama Untuk Si Kecil


__ADS_3

Setelah Dinda dan Ryan masuk ke kamar, mereka langsung bergantian untuk membersihkan badan.. Awalnya Dinda dulu yang ke kamar mandi lalu Ryan menjaga bayinya, setelah itu gantian. Setelah keduanya selesai bebersih kini keduanya duduk di kursi teras kamarnya sembari melihat bulan bintang.


"Mas gak kerasa ya sekarang anakku udah 3" ucap Dinda mengawali obrolan.


"Iya sayang.. Sebentar lagi tambah juga boleh kan?" goda Ryan.


"Mas jangan aneh-aneh deh nanti kerepotan," tolak Dinda.


"Hehe iya sayang bercanda kok," jawab Ryan terkekeh.


"Oh iya mas anak kita belum sempat tasyakuran," ucap Dinda.


"Oh iya sayang aduh kenapa aku bisa sampai lupa, terus gimana? Minggu depan kita adain ya sembari kondisimu beneran pulih," tanya Ryan.


"Ha? Cepat sekali mas? Mana kita belum siapin nama juga," jawab Dinda kaget.


"Lalu gimana dong? Sebenarnya aku udah siapin nama untuk anak kita ya tapi belum tentu kamu nantinya setuju atau tidak," ucap Ryan bimbang.


"Memang siapa mas?" tanya Dinda penasaran.


"Hmm namanya tuh Gibran Wibowo Hadiningrat, gimana menurutmu?" tanya Ryan.


"Nama yang bagus mas," jawab Dinda mengangguk.


"Kamu setuju? Atau kamu ada usul mau pakai nama siapa?" tanya Ryan memastikan.


"Aku mana bisa mikir mas, akhir-akhir ini pikiranku kacau melihat kondisi kita yang semrawut gini.. Untung semuanya bisa teratasi," ucap Dinda mengeluh.


"Iya sayang aku tau.. Lagian nama itu udah aku siapin jauh-jauh hari kok," ucap Ryan mencoba memahami.


"Pakai nama itu juga gak papa mas.. Bagus kok, memang artinya apa?" tanya Dinda.


"Gibran artinya anak laki-laki yang pandai/cerdas, Wibowo artinya berwibawa dan Hadiningrat itu marga keluargaku, jadi kalau di gabungkan artinya anak laki-laki yang pandai/cerdas yang memiliki wibawa dari keluarga Hadiningrat," ucap Ryan menjelaskan.


"Bagus mas aku suka namanya," jawab Dinda setuju.


"Baiklah kita deal nama anak kita adalah gibran Wibowo Hadiningrat," ucap Ryan memastikan.


"Ok deal.. Untuk nasi berkatnya gimana mas?" tanya Dinda.


"Kita pesan saja, kamu ada langganan gak? Apa mau pakai catering langganan keluargaku saja?" usul Ryan.


"Hmm gimana baiknya aja lah mas," jawab Dinda pasrah.


"Atau gak besok kita diskusi sama keluarga sembari sarapan," ucap Ryan dan Dinda setuju.

__ADS_1


"Itu juga bagus tapi nanti aku gak bisa membayangkan mas," ucap Dinda menghayal.


"Membayangkan apa?" tanya Ryan penasaran.


"Membayangkan perdebatan antara mamah dan ibu, lihat deh besok pasti kisruh," jawab Dinda geli.


"Ya itu lumrah dong sayang kan mereka ingin yang terbaik untuk cucunya," jawab Ryan netral.


"Iya mas setidaknya aku, Farel juga Vanessa bahagia bisa memiliki suami dan papah sepertimu mas, aku bersyukur di pertemukan dengan laki-laki sepertimu yang tidak peduli akan statusku serta menerima kehadiran kedua anakku dengan baik dan tulus," ucap Dinda terharu.


"Semua ini memang kamu pantas mendapatkannya sayang.. Kamu wanita baik-baik, tegas, cerdas, mandiri, bodohnya mantan suamimu lebih memilih Sisil," ucap Ryan membuat Dinda semakin tersentuh.


"I..iya mas waktu itu mas Rio juga bilang menyesal telah mencampakkan aku dan anak-anak," ucap Dinda membenarkan.


"Loh kapan? Kok kamu gak bilang di belakangku diam-diam bertemu dia?" tanya Ryan kaget dan cemburu.


"Sudah lama mas dan itu pertemuan yang tidak sengaja kok, ada di sebuah kafe," jawab Dinda jujur.


"Kalian membahas apa saja?" cecar Ryan.


"Hanya masalah masa lalu yang membuat mas Rio menyesal dan kini dia sudah memulai mengikhlaskan semuanya," jawab Dinda.


"Baguslah akhirnya dia sadar," jawab Ryan senang dan Dinda mengangguk.


"Yasudah tidur yuk mas aku ngantuk banget nih mumpung Gibran bobo," ajak Dinda dan mereka tidur bertiga.


Keesokan harinya Dinda sudah turun dulu menuju meja makan sambil menggendong Gibran, hal yang membuat mamahnya Ryan dan ibunya heran.


"Selamat pagi semua.." sapa Dinda lalu ikut duduk.


"Pagi sayang.. Duh cucu nenek udah wangi," ucap ibunya Ryan sembari mengelus pipi Gibran.


"Udah dong nek kan bangun ku pagi," ucap Dinda menirukan suara anak kecil.


"Papah kamu dimana sayang?" tanya ibunya Ryan pada Gibran.


"Mas Ryan sedang mandi mah," jawab Dinda.


"Kok kalian gak turun bareng?" tanya Sri.


"Iya bu.. Mas Ryan barusan bangun soalnya tadi malam gantian jaga si kecil," ucap Dinda.


"Loh kok mamah gak dengar kalau anakmu nangis?" tanya ibunya Ryan kaget.


"Iya Din ibu pun juga gak dengar," ucap Sri menimpali.

__ADS_1


"Alhamdulillah si kecil gak nangis atau pun rewel tapi dia bangun malam hari sampai jam 4 pagi, aku dan mas Ryan gak tega meninggalkan si kecil sendirian sedangkan kami enak-enakan tidur makanya kami memutuskan untuk gantian jaga," ucap Dinda dan kedua nenek hanya ber oh ria.


Yang ditunggu sudah tiba dan sudah duduk diantara mereka, dia adalah Ryan.


"Selamat pagi semuanya.. Maaf ya datangnya telat, udah pada sarapan?" sapa Ryan.


"Belum mas semuanya nungguin kamu," jawab Dinda lembut.


"Yasudah ayok semuanya sarapan, selamat makan semuanya.." ucap Ryan dan mereka semua sarapan dalam diam.


Setelah sarapan kini Ryan mengantarkan si kembar ke sekolahan, untuk hari ini ibunya Dinda ingin ikut mengantarkan cucunya sekolah dan Ryan pun tak keberatan. Si kembar bersorak gembira karena hari ini neneknya ikut mengantarkan sekolah.


Setelah selesai mengantarkan sekolah kini Ryan dan Sri sudah ada di ruang keluarga sembari bercengkrama ringan.


"Ehem.. Maaf semuanya.. Sebelumnya saya mau menyampaikan sesuatu pada kalian," ucap Ryan serius dan semua mata tertuju pada Ryan.


"Apa itu? Kenapa serius sekali?" tanya ibunya Ryan penasaran.


"Gak mah.. Ini masalah tasyakuran anak kami, sepulang dari rumah sakit sampai hari ini kan Ryan dan Dinda belum mengadakan pengajian apapun, makanya tadi malam kami sudah berunding minggu depan mengadakan tasyakuran, menurut kalian bagaimana?" tanya Ryan.


"Wah iya ya kami sampai lupa.. Iya bagus tuh, lebih cepat lebih baik," ucap Sri menepuk jidat.


"Kami juga kelupaan kok bu untung Dinda mengingatkan," ucap Ryan menimpali.


"Mamah sih mengikut saja baiknya bagaimana, untuk acaranya apakah kalian sudah memesan makanannya? Acara mau di adakan dimana?" tanya ibunya Ryan.


"Nah itu dia mah yang mau dibahas, sebenarnya Ryan juga Dinda ingin sekali acaranya di rumah kami namun kami masih waspada takutnya ada sesuatu yang tidak diinginkan, lagian rumah kami yang sekarang kan sengaja Ryan jaga betul privasinya," ucap Ryan bingung.


"Yasudah adain aja disini, gimana bu Sri?" tanya ibunya Ryan meminta pendapat.


"Saya setuju-setuju saja bu besan, yang penting acaranya berjalan dengan lancar.. Mau diadakan dimana pun yang terpenting kan doanya, benar kan bu?" timpal Sri.


"Benar sekali.. Catering nya pesan di langganan kita aja daripada repot cari-cari, waktunya mepet kan," ucap ibunya Ryan yang dijawab anggukan kepala oleh Ryan dan Dinda.


"Dinda ikut saja bagaimana baiknya untuk semua," jawab Dinda pasrah.


"Untuk nama? Kalian sudah mempersiapkan?" tanya Sri.


"Oh iya siapa nama anak kalian ini?" tanya ibunya Ryan penasaran.


"Sudah kami siapkan namanya kok mah, bu.. Namanya Gibran Wibowo Hadiningrat," jawab Dinda malu-malu.


"Aaaa cucu nenek namanya bagus sekali, sebagus orangnya," ucap ibunya Ryan gemas dan menciumi Gibran berulang kali.


"Iya Din namanya bagus banget," ucap Sri setuju.

__ADS_1


"Iya bu.. Nama ini mas Ryan yang memberikannya," jawab Dinda bahagia karena semuanya bersatu dengan baik dan bahagia. Antara ibu dan mertua semuanya akur, Dinda sungguh bahagia.


__ADS_2