RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Cemburunya Ronald


__ADS_3

Setelah hampir 3 bulan keduanya terhalang untuk bertemu, akhirnya hari ini sepulang kerja Sisil dan Ronald bisa jalan bersama lagi. Sebuah kabar yang membuat Ronald bahagia mengingat dirinya harus menahan rindu akibat sang pujaan hati harus merawat mertuanya yang sedang kritis di rumah sakit.


"Akhirnya ya kita bisa jalan berdua lagi," ucap Ronald mengawali pembicaraan didalam mobil.


"Iya nih rasanya kayak setahun ya kita gak ketemu," ucap Sisil mencairkan suasana.


"Bagiku seperti satu abad Sil," jawab Ronald sambil melihat Sisil sekilas lalu kembali menyetir.


"Ah mulai alay deh.. Kalau bukan papah mertua sakit mana mau gue ngerawat sampai sembuh," keluh Sisil.


"Segitu perhatiannya sama mertua," goda Ronald.


"Mau gimana lagi dong gue ini udah anggap papahnya mas Rio seperti papah kandung gue sendiri, beliau orangnya luar biasa baik juga bijaksana.. Apapun kesalahan gue dimata suami dan mamah mertua selalu saja dibela olehnya, itulah penyebab gue masih mempertahankan pernikahan gue yang udah gak sehat ini," ucap Sisil membuat Ronald terdiam beberapa saat.


"Jadi sampai sekarang pernikahan seperti itu masih kamu pertahankan?" tanya Ronald.


"Yaa demi papah mertua juga keinginannya, lagian mas Rio berjanji ingin memperbaiki semuanya," jawab Sisil membuat Ronald down.


Bak tertusuk ribuan duri, hati Ronald kini sungguh sakit bahkan sesak mengetahui secara langsung bahwa sang pujaan hati masih menginginkan mempertahankan rumah tangganya, ia pikir setelah mertuanya sembuh keduanya bakalan berpisah eh ternyata dugaannya salah besar.. Kini baik Sisil juga suaminya memutuskan untuk memulai kembali dari awal, ingin sekali Ronald marah dan meluapkan semua rasa sesak di dadanya namun urung dilakukan mengingat siapa Ronald dimata Sisil, selama ini Sisil hanya menganggapnya sebagai teman, ya hanya teman saja.. Tidak lebih. Perhatian yang selama ini Ronald berikan seolah menguap sudah seperti angin, tak ada jejaknya bagi Sisil.


Jujur saja moodnya hari ini seketika hancur akibat kejujuran Sisil namun dirinya harus tetap menghargai pertemuan kali ini, ya semoga saja nantinya dia bisa bersikap dewasa.


Melihat Ronald hanya diam saja membuat Sisil jadi bertanya-tanya, apakah ada yang salah dari perkataannya barusan? Mengapa setelah Sisil mengatakan jika dirinya memulai hubungan baru dengan suaminya seketika itu juga Ronald terdiam dan menatap lurus ke depan.. Apa jangan-jangan??? Ah gak.. gak mungkin, jangan sampai Ronald memiliki perasaan padanya.


"Hei," panggil Sisil menepuk bahu Ronald.


"Eh iya sorry tadi gue melamun," ucap Ronald.


"Iya nih gue lihatin daritadi melamun terus, lagi mikirin apa?" tanya Sisil penasaran.


"Ah gak penting," jawab Ronald menyanggah.


"Ish.. Jujur dong sama gue," desak Sisil.


"Masalah gak penting," jawab Ronald.


"Siapa tau gue bisa beri solusinya," desak Sisil dan Ronald hanya diam saja.


"Masalahnya ada di kamu.. Kamu Sisil.. Gimana bisa kamu nantinya memberikan solusi jika semua ini karena mu," batin Ronald.


"Tumben dia garing banget," batin Sisil.

__ADS_1


"Ehem.. Lo lagi badmood ya?" tanya Sisil.


"Gak juga," jawab Ronald dingin.


"Mending pulang aja deh ketimbang dilanjutin nanti malah garing," ajak Sisil.


"Eh kok pulang? Nanggung ah," tolak Sisil.


"Habisnya lo hari ini garing banget," protes Sisil.


"Sorry.." jawab Ronald tak juga memuaskan Sisil. Ia ingin temannya berkata jujur apa yang sebenarnya menganggu pikirannya.


"Udahlah pulang aja," desak Sisil.


"Gak.. Kita udah lama gak ketemu loh belum juga sampai tujuan udah ngajak pulang," tolak Ronald.


"Ya deh terserah.. Nanti kalau situasinya garing ya jangan salahkan gue langsung pulang," gertak Sisil.


"Asiap nyonya.." jawab Ronald bersikap hormat dan Sisil tertawa.


"Gitu dong senyum.. Apa jangan-jangan 3 bulan belakangan ini lo tegang ya?" tebak Ronald.


"Ya begitulah" jawab Sisil tak membenarkan namun juga tak membantah.


"Ha? Masak sih?" tanya Sisil yang percaya akan perkataan temannya itu lalu bergegas mengambil kaca di tasnya.


"Hahaha.." ucap Ronald tertawa terbahak.


"Lo ngerjain gue ya? Hih.." tanya Sisil sebal dan memalingkan muka, Ronald yang merasa gemas langsung refleks membalikkan badan Sisil dan mencubit pelan kedua pipinya Sisil.


"Aww sakit," rengek Sisil mengelus kedua pipinya.


"Makanya jadi orang jangan gemesin," jawab Ronald refleks dan seketika diam.


Sisil yang mendengar penuturan temannya itu juga merasa kaget karena tak biasanya Ronald berbicara begitu namun ia mencoba menepis dugaannya dan menganggap memang Ronald gemas dengannya karena sebatas teman.


Ronald pun salah tingkah setelah mengucapkan kata tadi dan ketakutan jika nantinya Sisil marah padanya.


Sisil yang merasa situasi kembali canggung berusaha mencairkan suasana. "Ehem.. Kenapa jadi saling diam sih?"


Mendapat pertanyaan seperti itu sejatinya Ronald bingung mau menjawab apa karena ia takut salah ucap.

__ADS_1


"Hei.. Malah diem, gue balik nih," gertak Sisil.


"Jangan dong.." protes Ronald.


"Makanya ngomong kek," protes Sisil.


"Sorry.." jawab Ronald sungkan.


"Hmm for what?" tanya Sisil penasaran.


"Karena tadi cubit pipimu," jawab Ronald.


"Oh itu.. Its okay," jawab Sisil santai.


"Lo gak marah?" tanya Ronald memastikan.


"Marah? Buat apa?" tanya balik Sisil dan akhirnya Ronald bernafas lega karena temannya itu ternyata tidak marah.


Ketika Ronald ingin mengutarakan isi hatinya tiba-tiba saja ada yang menelpon Sisil.


"Sil sebenarnya ada yang mau gue omongin," ucap Ronald serius.


"Apa itu?" tanya Sisil penasaran.


"Sebenarnya ini sesuatu yang penting dan udah gue pendam sejak lama, gue.." ucap Ronald terpotong oleh dering ponsel Sisil.


"Eh bentar ya," izin Sisil lalu mengangkat telepon dari Rio.


"Halo? Ya mas?" ucap Sisil.


"Kamu dimana? Bukannya ini udah jam pulang kantor?" tanya Rio khawatir.


"Oh aku lagi main sama temenku mas mungkin pulang agak telat," jawab Sisil.


"Main? Temanmu siapa?" tanya Rio ingin tau lebih detail kemana perginya Sisil.


"Ke kafe mas sama temen kantor, apa perlu aku share lok sekalian biar puas?" sindir Sisil.


"Begitu lebih baik," jawab Rio membuat Sisil tambah kesal. Ia tidak menyangka jika semakin hari suaminya makin protektif padanya, jujur saja hal itu membuat Sisil tidak nyaman, toh dia pergi dengan temannya bukan selingkuh.


Tak mau membuat moodnya buruk akhirnya Sisil mematikan panggilan. Setelah itu Sisil men silent ponselnya agar suaminya tak menganggu waktunya.

__ADS_1


"Malas banget tau gak, mau main aja harus detail banget lapornya," keluh Sisil sambil memasukkan ponselnya di dalam tas.


"Ya namanya aja sayang" jawab Ronald berusaha netral padahal jauh didalam hatinya ia merasa cemburu luar biasa. Harusnya posisi itu ada padanya, harusnya dia yang dianggap suami bukan malah teman, harusnya dia yang dipanggil mas bukan malah nama.


__ADS_2