RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Tak Sesuai Rencana


__ADS_3

"Diam!! Anda gak berhak ikut campur masalah ini, pergi," usir Dinda.


"Yang harusnya pergi itu kalian berdua! Lanjutkan aksi tertunda kalian dan bersenang-senanglah," ucap Ryan membuat Dinda kaget.


"Mas.. Tega banget ngomong begitu," rengek Dinda.


"Kamu yang lebih tega! Kamu mengkhianati ku secara terang-terangan," jawab Ryan ketus.


"Aku gak pernah selingkuh mas," ucap Dinda.


"Maling mengaku penjara penuh," sindir Ryan.


"Kalian berdua silahkan pergi, saya keberatan jika kamar yang sudah saya sewa digunakan untuk hal tidak terpuji," usir Ryan yang sebenarnya tak tega dengan Dinda namun kelakuan Dinda sulit dimaafkan.


"Aku gak mau pergi! Biarkan dia aja!" tolak Dinda.


"Aku juga gak akan pergi," jawab pria tampan itu.


"Jangan keras kepala! Udah salah tapi gak ngaku salah! Disini aku pemilik kamar ini, aku yang membayar, hak saya mengusir siapapun tamu yang membuatku gak nyaman apa lagi seperti kalian!" ucap Ryan gak mau tahu.


"Heh jangan kurang ajar ya! Pergi gak!!" usir Dinda.


"Bukan hanya dia tapi kamu juga, semuanya pergi dari kamarku!" usir Ryan berusaha meredam amarah.


"Gak mas aku gak mau pergi dari sini, kalau kamu mengusirku lalu aku tinggal dimana dong," rengek Dinda.


"Bukan urusanku!" pekik Ryan.


"Saya hitung sampai tiga, segera tinggalkan tempat ini," pinta Ryan penuh penekanan.


"Dia aja mas! Aku gak mau pergi, lagian kita perlu membahas ini, jangan sampai berlarut-larut mas," bantah Dinda.


"Gak ada yang perlu dibahas, semua sudah jelas!" tolak Ryan.

__ADS_1


Hingga hitungan ketiga, Dinda juga pria tampan itu tak juga meninggalkan kamar, "kalian nekat maka saya akan lebih nekat, saya telponan satpam sekarang juga!"


"Mas.. Aku ini istrimu, kamu tega mengusirku?" pekik Dinda.


"Tega.. Karena kalian juga tega terhadapku," jawab Ryan tegas, hatinya sudah diliputi rasa amarah.


"Gak perlu pakai satpam segala, kami bisa pergi sendiri, yuk sayang," ajak pria tampan itu tak tahu malu dan rasa bersalah sama sekali.


"Lepas!!! Gue gak kenal sama lo!!! Jangan main tarik tangan orang!" bentak Dinda.


"Halah tadi aja hampir having fun loh, keburu suamimu dateng sih jadi kamu panik duluan," jawab pria itu santai.


"Udah deh kalian berdua pergi sana, merusak pemandangan saja! Lagian kalian ini apa gak mikirin pak Ryan? Dia udah bekerja keras loh tadi dalam persidangan eh sampai hotel malah tau istrinya main gi-la," ucap Frida.


"Anda juga keluar.. Saya ingin sendirian, tolong," jawab Ryan dengan suara lesu, Frida hanya berdecak kesal. Ingin menghibur sang pujaan hati malah berujung pengusiran.


"Biar saya temani pak, saya takut nanti bapak bertindak aneh-aneh," pinta Frida memohon.


"Mau apa? Mau tampar saya? Silahkan tampar saja, ingat negara ini negara hukum, jangan salahkan saya jika nanti melakukan visum!" gertak Frida lalu Dinda menurunkan tangannya.


"Tak akan saya mengotori tangan bersih saya ini untuk melukai anda, santai saja, tadi saya refleks ingin memukul itu mulut yang tak ada filter!" sindir Dinda.


"JANGAN BERDEBAT DI DEPANKU! KALIAN SEMUA PERGI!!! INGAT.. JANGAN ADA YANG MENGGANGGU!" bentak Ryan.


"Baik mas.. Aku akan pergi tapi bukan bersama pria asing ini, namun aku akan kembali ke rumah, anak-anak membutuhkanku, jika kamu tidak lagi mempercayaiku tak apa mas, biarlah waktu yang menjawab kebenarannya, asal kamu tahu, diantara aku dengan pria itu tak ada hubungan apapun bahkan aku gak kenal dia siapa, ini kejujuran ku mas, dia main masuk ke kamar ini dan menggodaku, tiba-tiba saja dia menggendong tubuhku dan kebetulan juga mas Ryan masuk, apa tadi mas Ryan gak melihat bagaimana aku memberontak? Jika melihat sudah pasti mas Ryan tau jika aku tidak berbohong, aku tidak bo-doh mas, mana mungkin aku berselingkuh ditambah ketemuan di kamar yang ada kamu disini, itu namanya bunuh diri mas, silahkan dicerna, aku pamit," ucap Dinda dengan hati sungguh sakit, ia bergegas mengemasi pakaiannya dan berlalu pergi.


"Cih.. Sok paling bener! Salah ya salah aja dong, cari pembelaan!" cibir Frida.


"Anda juga sama saja, dari awal antusias sekali jika semua kesalahan pejabat itu tapi kenyataannya? Semua dibalik dengan mudahnya, pantas saja saya merasa janggal dengan kasus anda apalagi dengan mudahnya kasus ini berjalan diawal, ternyata ini tujuannya, membiarkan saya di atas awan dulu baru akhirnya dijatuhkan ke jurang!" cibir Ryan.


"Eh.. Itu.. Itu.. Maafkan saya pak, saya.." ucap Frida tertahan.


"Sudah.. Penjelasan apapun yang anda katakan tidak akan mengurangi rasa kecewa saya, tunggu minggu depan saja bagaimana hasilnya, jika kalah ya terima saja namun jika menang berarti masih ada hoki, silahkan anda pergi juga, saya sungguh penat," ucap Ryan.

__ADS_1


Melihat istrinya menggiring koper berukuran kecil yang berjalan keluar dari kamarnya membuat hari Ryan tak tega, ia sungguh sedih karena harusnya mereka pulang bersama, namun kali ini malah dia mengusir istrinya sendiri. Entah yang dikatakan Dinda benar atau tidak yang jelas saat ini dirinya belum bisa berpikir jernih, masalah demi masalah serasa menumpuk di bahu dan otaknya, ingin meledak rasanya.. Tak ada tempat berkeluh kesah.


"Mungkin sebelum aku pulang dari sini, akan aku selidiki kebenarannya, sekarang biarkan otak dan tenagaku istirahat dulu," batin Ryan memejamkan mata.


****


Frida dan pria tampan itu masuk ke dalam kamar hotel Firda untuk merayakan kemenangan, ya meskipun ia merasa belum puas, harusnya ia ada dikamar Ryan sekarang dan menghiburnya, ia yakin jika kondisi seperti ini pastinya sangat mudah merayu dan nantinya Ryan jatuh ke dalam pelukanku,


"Gimana akting gue? Munpuni kan," tanya pria itu.


"Bagus sih cuma kurang memuaskan aja, mereka hanya berakhir bertengkar bukan di kursi hijau pengadilan," jawab Frida kecewa.


"Lakinya kan pengacara, wajar aja mereka hanya bertengkar, berbeda jika lakinya tuh orang awam, bisa langsung keluar talak tuh mulutnya apalagi ditambah lo panas-panasi," ucap pria itu mengelak.


"Halah alasan aja lo! Bilang aja kurang menguasai keadaan," cibir Frida.


"Tapi untuk menguasai mu dan membuat puas, gue jago kok," goda pria itu mendekati Frida.


"Eh.. Mau ngapain lo!" pekik Frida kaget.


"Gue udah gak kuat nih.. Sama cewek tadi aslinya gue langsung pengen eh lakinya keburu dateng, gue sial bener!! Kurang cepet!! Makanya bantuin biar puas dong, sesak nih," rengek pria itu.


"Ish.. Lo aja yang me-sum! Liat bening dikit langsung pengen!" pekik Frida.


"Lo juga bening dan mulus kok, ayolah.. Masak gue ditolak sih," rengek pria itu.


"Lo aslinya juga pengen kan tapi bedanya lo pengen sama pengacara itu sedangkan gue juga pengen sama bininya, tapi mau gimana lagi? Mereka imannya terlalu kuat jadi susah dibuat berantakan, ayolah kita saling memuaskan sambil berandai dengan pasangan idaman kita, gimana?" goda pria itu berbisik ditelinga Frida hingga menimbulkan geli.


"Iihh.. Geli tau, gak usah gitu juga dong," rengek Frida.


"Mau kan?" tanya pria itu dan dengan gampangnya Frida mengangguk mengiyakan.


Disaat Dinda dan Ryan sedang bertengkar hebat dengan ulah mereka ehh malah mereka enak-enakan. Jahat banget ya...

__ADS_1


__ADS_2