RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Tulus Merawat Mertuanya


__ADS_3

Pagi hari sekali Sisil sudah bangun dan bersiap untuk berangkat ke kantor, mengingat jarak antara rumah Rio dengan kantornya cukup jauh jadinya Sisil bersiap lebih awal.


"Hari pertama di rumah suami pasca bebas dari penjara.. Hari pertama pula di rumah suami dengan status gue yang kini bekerja," gumam Sisil sambil bercermin. Setelah itu Sisil menuju ke meja makan untuk sarapan.


"Pagi bi.. Masak apa hari ini?" sapa Sisil membuat ART kaget.


"Eh non Sisil.. Pagi non, ini bibi masak omelet dan ada susu juga," jawab ART kikuk.


"Oh baiklah makasih ya bi," jawab Sisil lalu fokus sarapan dan ART kembali melanjutkan pekerjaannya sembari heran, tumben sekali Sisil menyapa dan bersikap ramah padanya. Biasanya Sisil tidak pernah menganggap kehadiran sang pembantu atau pun para pekerja di rumah suaminya.


"Mungkin non Sisil sekarang menjadi pribadi yang lebih baik setelah keluar dari penjara, syukur deh bibi senang melihatnya," gumam ART berpikir positif lalu melanjutkan pekerjaan.


Rio yang bangun agak kesiangan dan terheran melihat Sisil tak ada di sisi ranjangnya.


"Sisil udah bangun tapi kenapa gak bangunin aku juga? Berubah sih boleh tapi ya jangan total dong," gerutu Rio lalu mandi dan bersiap. Ketika Rio turun untuk sarapan kebetulan Sisil sudah selesai dan ingin berangkat kerja, Sisil sudah mengambil tas di meja makan dan bersiap pergi.


"Sil tunggu," pekik Rio.


"Kenapa mas?" tanya Sisil santai.


"Mau kemana?" tanya Rio.


"Kerja mas," jawab Sisil santai.


"Jam segini?" tanya Rio tak percaya.


"Iya.. Jarak dari sini ke kantor tuh lumayan jauh mas dan pasti memakan waktu apalagi kalau pagi kan macet jadi ya lebih baik berangkat lebih awal daripada telat," jawab Sisil.


"Biar aku antar.. Aku sarapan dulu," ucap Rio.


"Gak usah.. Kamu sarapan aja ini taksi onlinenya udah ada di depan," tolak Sisil.


"Sil.. Kenapa kamu berubah banget sih? Bangun tidur pun kamu juga gak ada niatan bangunin aku," protes Rio kesal.


"Berubah gimana sih mas? Biasa aja kok, lagian tidurmu pulas jadi mana tega aku bangunin yang penting semuanya sudah siap kan? Udah aku berangkat dulu," sanggah Sisil lalu mencium tangan Rio dan bergegas berangkat.

__ADS_1


Rio hanya diam mematung melihat istrinya pergi dan membiarkan dirinya sarapan sendiri, apalagi sekarang ini Sisil sudah bekerja semakin membuat Rio khawatir dan takut jika sewaktu-waktu Sisil berpaling darinya.


Setibanya di kantor Sisil disambut manis oleh teman kuliahnya dulu.


"Hai cantik.. Datangnya pagi sekali," puji Ronald tersenyum bahagia.


"Iya mau gimana lagi jarak dari sini ke rumah mas Rio lumayan jauh, kalau berangkat mepet takut macet ntar telat," jawab Sisil seadanya.


"Benar juga sih, udah sarapan belum?" tanya Ronald perhatian.


"Sudah.. Kalau kamu?" tanya Sisil dan di jawab gelengan kepala.


"Kok belum? Yasudah sarapan dulu sana mumpung masih ada waktu," suruh Sisil.


"Biasanya kita sarapan berdua masak sekarang aku sendirian," rengek Ronald.


"Haha apaan sih kayak anak kecil aja, sarapan sendiri ataupun berdua kan sama saja intinya sarapan.. Udah sana sarapan dulu nanti malah telat loh, aku masuk duluan ya," pamit Sisil.


Ronald yang melihat kepergian Sisil dan menolak ajakan untuk sarapan menjadi sedih, apa iya nantinya cintanya akan terbalaskan? Mengingat sang pujaan hati kini sudah pulang ke rumah suaminya atau Sisil sekarang sudah mulai menjaga jarak darinya karena menjaga perasaan suaminya? Atau bahkan Ronald hanya sebatas penawar bagi Sisil ketika sedih tanpa perhatian dari suaminya? Ahh membingungkan sekali rasanya...


***


Ruangan pertama yang dituju Sisil adalah kamar inap papah mertuanya, Suganda.. Sisil sangat mengkhawatirkan kondisi papah mertuanya yang tak kunjung stabil. Rio pun berharap kehadiran Sisil bisa membawa dampak baik bagi papahnya.


"Halo pah.. Hari ini Rio membawa seseorang yang sangat spesial dan papah nantikan kehadirannya, dia adalah Sisil.. Sekarang Sisil sudah tinggal lagi sama kita loh pah dan tak lupa Sisil membawakan buah untuk papah," ucap Rio sambil memegang tangan papahnya.


"Halo papah.. Ini Sisil pah, setelah ini Sisil janji akan merawat dan menjaga papah sampai sembuh, yuk segera siuman pah nanti Sisil kupasin buah untuk papah," ucap Sisil berusaha menahan air mata. Mau bagaimanapun Sisil tak tega melihat keadaan papah mertuanya yang terbaring lemah dengan bantuan berbagai macam alat di tubuhnya.


Tanpa mereka sadari kini Suganda menunjukkan perubahan dengan menggerakkan tangan beberapa detik, sayangnya momen ini terlewati oleh Sisil juga Rio karena keduanya sibuk saling berbicara.


Setelah dirasa cukup kini Sisil menjenguk mamah mertuanya. Ya sebenarnya Sisil malas namun bagaimana kondisi mamah mertuanya dia adalah orang tua dari suaminya yang harus tetap Sisil hormati.


"Mamah.." sapa Sisil tersenyum.


"Si.. Sisil?" jawab Mayang kaget.

__ADS_1


"Iya mah ini Sisil, gimana kabar mamah? Maaf ya mah Sisil baru bisa jenguk soalnya baru tau," ucap Sisil mengusap pelan punggung tangan Mayang.


"Kabar mamah ya begini.. Kamu habis di ruangan papah? Gimana keadaannya?" tanya Mayang khawatir.


"Iya tadi Sisil ke ruangan papah dulu mah, kondisinya ya masih begitu saja," jawab Sisil seadanya.


"Ah mamah jadi tambah khawatir, bisa tolong antar mamah ketemu papah?" pinta Mayang.


"Maaf mah mending besok aja ya, hari ini mamah bed rest," tolak halus Sisil.


"Mamah mau melihat langsung keadaan papah," protes Mayang.


"Makanya itu mamah harus sembuh dulu, kalau nanti mamah sembuh kan bisa leluasa tuh ketemu bahkan jagain papah," ucap Sisil.


"Mamah itu gak papa tapi Rio saja yang berlebihan," protes Mayang.


"Mas Rio gak mungkin seperti itu kalau bukan melihat kondisi mamah yang kritis waktu itu.. Sudah mah nurut ya sama mas Rio juga suster dan dokter biar mamah cepat sembuh, obatnya jangan lupa diminum loh mah," perintah Sisil.


"Obatnya rutin mamah minum nyatanya belum juga dinyatakan sembuh," protes Mayang.


"Besok sembuh mah, mamah harus sugesti begitu biar apa yang mamah harapkan jadi nyata.. Mamah udah makan belum?" tanya Sisil penuh perhatian.


"Sudah.." jawab Mayang.


"Mau buah? Mau yang mana biar Sisil kupasin," tanya Sisil dan Mayang hanya menggeleng.


"Mamah maunya bertemu papah," jawab Mayang lirih.


"Besok ya mah.." jawab Sisil.


"Lama.." protes Mayang berlinang air mata.


"Tidak akan lama nanti Sisil temani sampai malam, setelah itu Sisil bakal gantian ke ruangan papah, biar nanti setelahnya mas Rio yang temani mamah ya," bujuk Sisil merangkul mamahnya.


"Mamah itu takut kalau papah meninggalkan mamah sendirian di dunia ini," rengek Mayang menangis histeris. Sisil yang mendengar penuturan mertuanya merasa sedih dan teriris hatinya..

__ADS_1


Semua orang di dunia ini juga tidak akan mau bahkan tidak sanggup jika kehilangan belahan jiwanya, sama halnya dengan dia kehilangan separuh dari hidupnya. Penuturan mamah mertuanya membuat Sisil kembali memikirkan keberlangsungan rumah tangganya dengan Rio. Mau Sisil kecewa seperti apapun nyatanya suaminya sudah menyesali itu semua, namun Sisil juga tidak mau gegabah mengambil keputusan.. Dirinya tidak mau lagi di buang seperti sampah untuk yang kesekian kalinya.


"Penuturan mamah mengingatkan Sisil pada rasa yang Sisil miliki untuk anakmu mah.. Berulang kali Sisil disakiti namun dulu Sisil bisa menerima karena Sisil takut kehilangan mas Rio sampai Sisil dikatakan bodoh oleh mamah Sisil namun Sisil tidak menggubris itu, baru sekarang Sisil tersadar bahwa kebodohan yang Sisil miliki karena mencintai mas Rio dengan begitu dalam membuat Sisil menyakiti diri Sisil sendiri dengan selalu meyakinkan diri bahwa mas Rio masih cinta dan sayang sama Sisil... Kebodohan yang membawa kesakitan," batin Sisil.


__ADS_2