
Setelah pertemuan selesai dan lamaran telah berlangsung, kini waktunya Vika balik ke dunia pekerjaan namun statusnya kali ini berbeda, ia yang semula menjadi staf biasa kini meningkat drastis menjadi sekretaris pribadi sang bos yang tak lain adalah Dito, tunangannya sendiri. Tentu saja dengan hadirnya Vika di setiap sisi Dito semakin membuatnya semangat dalam bekerja, tak pernah sehari pun ia lewatkan dengan absen.
"Sayang.. Jangan kerja terus, ini sudah jam istirahat," tegur Dito menghampiri Vika.
"Gimana gak kerja terus, lihat nih schedule mu padat merayap melebihi macetnya jalan tol," gerutu Vika.
"Iya ya.. Aku baru nyadar ternyata jadwal ku padat juga malah melebihi artis ibukota yang udah papan atas haha," ucap Dito geli.
"Idih.. Bisa-bisanya narsis gitu," protes Vika.
"Narsis sama calon istri boleh dong ya," goda Dito mencolek hidung mancung Vika.
"Stop.. Jangan mulai deh, bikin kesel aja," protes Vika.
"Kesel-kesel gini tapi bikin kangen kan?" goda Dito.
"Hah.. Udah deh pak Dito Maulana Bramantyo, kalau anda lapar lebih baik segera ke kantin ketimbang penyakit narsis mu kumat lagi malah yang ada aku semakin pusing" usir halus Vika.
"Gak mau.. Ayo ke kantin bersama," pinta Dito.
"Belum kelar ini kemlrjaan, duluan aja," tolak Vika.
"Yaudah aku nunggu disini," ucap Dito.
"Boleh.. Tapi jangan ganggu, diem," suruh Vika.
Bukannya bantuin, Dito malah terus menerus menganggu Vika sehingga dia merasa kesal. Akhirnya Vika menyerah juga dan menerima tawaran pergi ke kantin. Di Sana tentu saja banyak pasang mata yang memperhatikan dan tak sedikit dari mereka saling berbisik, entah merasa iri dengan posisi Vika sekarang atau mungkin merasa kurang adil karena Vika notabene masih karyawan baru tapi sudah diangkat menjadi sekretaris pribadi bosnya. Karena status Vika dan Dito yang menjadi sepasang kekasih sudah diketahui oleh karyawan disini membuat Dito tak segan menunjukkan sisi romantisnya pada Vika, seperti sebelum memasuki kantin tak lupa Dito menggandeng tangan Vika dengan erat sambil saling pandang, ketika duduk pun terlebih dahulu Dito memberikan kursi untuk Vika dan ketika makanan datang, tak lupa Dito sesekali menyuapi Vika. Mendapat perlakuan romantis dan manis seperti itu mustahil jika tidak luluh hatinya namun sebisa mungkin Vika tidak terpengaruh karena ia masih sadar akan posisi, disini tempat kerja dan memang tak sebaiknya adegan ini ia perlihatkan didepan banyak orang.
"Bisa gak sih jangan lebay kayak gini? Malu dilihat banyak orang," bisik Vika risih.
"Gakpapa, biar semua orang tau kalau kita memang ada hubungan," jawab Dito santai.
"Ya tapi kan gak gini juga lagian waktu acara lamaran kemarin banyak karyawan yang tau kan?" jawab Vika.
__ADS_1
"Iya tapi tidak semuanya, udah lanjutin makannya nanti keburu dingin," ucap Dito lalu mereka melanjutkan makan dalam diam.
Tiba di ruangan, Vika kembali mengerjakan tugas yang masih juga menggunung, jika dipikirkan kembali memang Vika sekarang ini gajinya lebih besar berkali lipat dari posisi sebelumnya namun semua itu sebanding dengan jobdesk yang ia kerjakan, sungguh sangat menguras tenaga juga pikiran.
"Gue pikir jadi sekretaris pribadi tuh enak, hanya siapain dokumen buat meeting, buat janji temu dengan klien dan nemenin bos kemanapun pergi, eh gak taunya.. Hmm.. Kerjaan tiada henti," batin Vika.
Merasa sang sekretaris kesayangan auranya sedang tidak baik-baik saja membuat Dito berinisiatif untuk membujuk dengan sebuah cara yang menurutnya agak absurd, ditengah deadline yang sedang menunggu bisa-bisanya Dito memiliki keinginan untuk liburan bersama Vika.
"Sekretaris kesayangan bos Dito Maulana Bramantyo, sini dulu," ucap Dito membuat Vika geli sendiri.
"Kenapa sih nih anak, daritadi kok sedikit aneh, ya kali manggil sekretaris kayak gini, kalau ada yang denger gimana juga," gerutu Vika yang sebenarnya geli dengan sebutan baru untuk dirinya.
"Sekretaris kesayangan? Hmm terkesan geli tapi lucu juga, ada aja tingkah Dito ini," gumam Vika lalu menemui bosnya yang merangkap menjadi tunangannya.
"Selamat siang Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Vika dengan profesional.
"Jangan formal gitu dong disini kan gak ada siapa-siapa selain kita," protes Dito.
"Ini masih jam kerja pak mau gimana pun saya ini tetap karyawan anda, ada perlu apa?" tanya Vika sekali lagi.
"Astaga.. Bantah dikit aja ancamannya potong gaji, emang bener-bener ya!!! Bulan besok mau minta turun jabatan aja ah, mending jadi staf biasa tapi damai dan nyaman ketimbang jadi sekretaris pribadi dia, ngeselinnya minta ampun," batin Vika kesal.
"Jangan membatin gitu saya tau loh," ucap Dito.
"Tau apa pak?" tanya Vika memastikan.
"Tau kalau kamu habis menyumpah serapah saya karena akan dipotong gaji," jawab Dito menebak.
"Sok tau!" cibir Vika.
"Bener kan? Kalau dosa nanti malah kena hukuman loh," gertak Dito.
"Bapak Dito Maulana Bramantyo yang terhormat, saya dipanggil kesini untuk keperluan apa? Waktu saya gak banyak pak, pekerjaan saya masih menumpuk jadi saya mohon pengertiannya," ucap Vika penuh penekanan.
__ADS_1
"Serahin aja ke sekretaris ku, beres kan, ngapain kamu susah-susah mengerjakan semuanya sendiri," ucap Dito dengan enteng.
"Sekretaris depan dengan saya yang menjadi sekretaris pribadi anda itu berbeda pak, tugasnya lebih banyak saya, mana mungkin saya memberikan tugas yang sebenarnya bukan urusan dia," ucap Vika.
"Namanya sama-sama sekretaris jadi harus saling tolong menolong," jawab Dito asal.
"Kenapa bukan dia saja yang bapak jadikan sekretaris pribadi?" tanya Vika.
"Gak mau.. Saya maunya kamu, sekretaris kesayanganku," tolak Dito.
"Kalau begitu mohon jangan menghambat pekerjaan saya pak, kalau gak ada keperluan penting mending saya kembali bekerja saja," ucap Vika kesal.
"Kalau gak penting ngapain tak suruh kesini," jawab Dito tersenyum mengejek.
"Tolong segera katakan apa yang harus saya kerjakan," ucap Vika penuh penekanan.
"Siapkan tiket pesawat juga penginapan untuk 2 orang di Bali, besok," ucap Dito membuat Vika terkejut.
"Untuk acara apa ya pak? Tidak ada schedule anda terbang ke Bali, malahan besok ada meeting dengan klien dari PT Sinar Sentosa," tanya Vika penasaran.
"Saya suntuk jadinya mau berlibur, bisa kan kamu pesan tiket untuk saya?" tanya Dito.
"Lalu meeting anda?" tanya Vika.
"Cancel.. Bilang saja saya ada urusan mendadak, reschedule minggu depan," jawab Dito enteng.
"Ba..baik akan saya usahakan, kalau boleh saya tau lagi, pesan 2 tiket yang satunya untuk siapa pak? Biar nanti segera saya urus kan," tanya Vika.
"Gitu aja masak gak tau sih," jawab Dito menggoda.
"Saya memang tidak tahu pak makanya tanya, kalau nanti saya salah memesankan tiket bagaimana?" tanya Vika sedikit kesal dengan bosnya karena bertele-tele.
"Pesan 2 tiket beserta hotelnya dan seluruh keperluan disana selama sepekan, saya ingin berlibur dengan sekretaris kesayanganku, Vika Isyana Cantika," ucap Dito dengan senyum manisnya.
__ADS_1
"A..apa? Liburan ke Bali? Berdua saja?" pekik Vika kaget bukan main.