RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Kemarahan Dindaa


__ADS_3

Lalu mereka berdua berjalan menuju kamar Ryan, tepat didepan kamar, jantung Dinda semakin berdegup kencang bahkan tubuhnya gemetar.


"Genggam tanganku jika kamu lemah," pinta Rio.


"Jangan.. Aku gak mau suamiku salah paham," tolak Dinda.


"Baiklah, aku hargai itu, bisa-bisanya kamu memikirkan perasaan Ryan di saat dia saja sedang bersenang-senang," ucap Rio tak habis pikir.


Karena tak sabar, Rio bergegas mengetuk pintu namun tak juga dibuka, jelas sekali dari luar kamar mereka mendengar ******* Ryan juga Vika yang sangat menyayat hati Dinda.


"Bo-dohnya kenapa gak dikunci nih kamar! Saking pengennya kali ya," gumam Rio yang bersiap memegang ponsel dan menekan tombol video. Tepat Rio merekam, saat itulah Rio membuka pintu dan terpampang dengan jelas bagaimana penampakan menjijikan didepan matanya.


"MASSSSS..." bentak Dinda tak bisa lagi membendung air matanya.


"Din..Dinda, ngapain kamu kesini?" pekik Ryan kaget, rasa yang belum tuntas harus segera diakhiri karena kehadiran sang istri.


"HARUSNYA AKU YANG NANYA, KAMU NGAPAIN MAS! UDAH GI-LA KAMU!!! AKU MASIH ISTRIMU TAPI DENGAN TEGANYA KAMU MELAKUKAN HAL MENJIJIKAN INI!!!" bentak Dinda murka.


"Apa? Hanya aku yang melakukan hal menjijikan? Cih.. Gak usah sok suci, kemarin kamu juga melakukan yang sama tapi bedanya belum sampai sepertiku," bantah Ryan membela diri.


"JANGAN SAMAKAN AKU DENGANMU MAS! JELAS BERBEDA!!! SAMPAI SEKARANG AKU TAK PERNAH SELINGKUH DENGAN SIAPAPUN BAHKAN PRIA YANG TIBA-TIBA MASUK KE KAMAR AKU TAK MENGENALINYA, SUMPAH!!! JANGAN MEMBALIKKAN KEADAAN! DISINI KAMI YANG TERTANGKAP BASAH JADI JANGAN MENYUDUTKAN AKU!!!" bentak Dinda.


"Setidaknya ini impas, kita sama-sama berkhianat!" cibir Ryan.


"AKU GAK SUDI DISAMAKAN DENGANMU YANG JELAS-JELAS BERKHIANAT!!!! JIKA KAMU SUDAH BOSAN DENGANKU ITU BILANG MAS! BILANG!! JANGAN MALAH MELAKUKAN HAL RENDAHAN BEGINI, INGAT NAMA BAIKMU SEBAGAI PENGACARA, KAMU MAU NAMAMU NANTINYA TERCORENG HANYA DEMI NAFSU SESAAT MU!" ucap Dinda sambil menunjuk wajah Ryan.


"INI BUKAN NAFSU SESAAT, CAMKAN ITU!" bentak Ryan tak terima dengan tuduhan istrinya, ia memang tak merasa jika ini hanya cinta sesaat.


Melihat ada keributan di sebelah kamarnya membuat Dito terganggu, ingin ikut campur tapi ini bukan kewajibannya, alhasil dia meminta tolong sekuriti agar bisa mengkondisikan suasana. "Drama rumah tangga ya jangan diperdebatkan disini dong! Dia rasa hotel ini milik mereka apa!" umpat Dito.


Ketika menunggu datangnya sekuriti, Dito berulang kali mengetuk pintu Vika namun tak juga dibuka, "Kemana sih dia? Tumben banget gak bukain pintu, mana telponnya gak aktif lagi," gumam Dito resah.

__ADS_1


Melihat ada sekuriti yang sudah di kamar Ryan membuat Dito ingin melihat sekilas apa yang sebenarnya terjadi disana, entah kenapa ada rasa penasaran yang besar untuk menengok masalah orang, biasanya ia sangat cuek.


"Permisi.. Mohon jangan membuat keributan disini, ada laporan dari salah satu pengunjung hotel, dia melaporkan ada kegaduhan disini, jika terjadi masalah, harap diselesaikan diluar," tegur sekuriti.


"Maaf Pak sudah membuat kegaduhan, ini masalah rumah tangga mantan istri saya, suaminya ketahuan berzina dengan orang lain dan kebetulan dia adalah mantan kekasihnya dulu, harap maklumi pak," jawab Rio meminta pengertian.


"Baik.. Saya bisa mengerti masalah ini dan mari selesaikan di kantor, kenyamanan pengunjung hotel itu yang utama" ajak sekuriti.


"Biarkan kami memakai pakaian dulu pak," pinta Ryan.


"Gak perlu!!! Biarkan mereka seperti itu pak," tolak Dinda.


"Mana bisa begitu, kami malu dong!" protes Ryan.


"Bukan urusanku! Andai tidak ketahuan, sudah pasti kalian akan lanjut beronde-ronde kan! Ngapain sekarang malu! Berani berbuat berani bertanggung jawab mas! Biar seisi pengunjung hotel sini tau bagaimana kelakuan busuk kalian! Udah mantan kok mau-maunya di jamah suami orang!" sindir Dinda.


"Hei!! Apa bedanya denganmu? Kamu kembali kesini bersama mantan suamimu, lebih hina mana?" pekik Ryan tak terima Vika dijelek-jelekkan.


"Halah!! Kalian malah sudah mantan suami istri, bisa saja sebelum sampai kesini mampir dulu kemana untuk melepas rindu!" sindir Ryan sebetulnya cemburu karena Dinda bisa-bisanya mengajak Rio.


"Ya dong kami mampir tapi mampir ke rest area untuk mengisi tenaga semisal hal buruk terjadi, ternyata benar bukan? Untuk menghadapi kenyataan pahit perlu tenaga makanya kita makan dulu," jawab Rio santai, ia bisa melihat kebencian dimata Ryan.


"Stop.. Kalian kalau saling sahut menyahut begini kapan selesainya, ayo segera ke kantor!" tegur sekuriti.


"Gelandang mereka pak, jika tak mampu seorang diri, suruh teman bapak juga kesini, saya gak ikhlas jika mereka ke kantor menggunakan pakaian lengkap," ucap Dinda.


"Mbak.. Kami sama-sama perempuan, aku mohon pikirkan perasaanku juga bagaimana jika keluar tanpa menggunakan pakaian, aku malu mbak," pinta Vika akhirnya bersuara.


"Halah! Cewek gak tau diri sepertimu apa ada rasa malu! Mantan narapidana bukannya insyaf malah makin brutal! Puas kamu sekarang udah bisa memiliki mas Ryan, puas?!!" umpat Dinda.


"Plak..." suara tamparan cukup keras dilayangkan Ryan ke pipi mulus Dinda. "Cukup!! Semua ini bukan salah Vika! Jangan menghina dia seperti itu!" pekik Ryan merasa tak terima.

__ADS_1


"Vika?? Kok namanya persis nama calon istriku? Apa jangan-jangan Vika yang sama? Eh tunggu dulu, ini kan kamarnya mantan Vika, astaga kenapa gue baru nyadar sih!! Fixs.. Vika ada didalam sana dan terlibat masalah ini," gumam Dito yang tiba-tiba masuk membuat semuanya tertuju pada Dito.


"Vik.. Vika? Jadi Vika yang tadi disebut-sebut itu kamu? Calon istriku?" tanya Dito tak percaya dan ia semakin syok melihat Vika hanya berbalut selimut.


"Dit..Dito," ucap Vika dengan suara serak, sedari tadi Vika hanya bisa menangis dan menangis, kini penderitaannya makin lengkap karena calon suaminya tau semua ini. "Lengkap sudah," batin Vika sedih.


"Kamu tega, Vik! Sebentar lagi kita mau menikah, kenapa kamu menyerahkan yang bukan seharusnya kepada mantan pacarmu? Apa ini yang disebut jatah mantan?" pekik Dito emosi, ia tak sanggup melihat pemandangan yang membuat hatinya sakit.


"Maaf.. Maafkan aku, sungguh aku pun juga tak mau semua ini terjadi," pinta Vika berlinang air mata.


"Gak mau karena sudah ketahuan! Coba kalau belum ketahuan, pasti bakal lanjut terus! Kamu jahat, Vik!" pekik Dito.


"Tolong maafkan aku," rengek Vika memegang tangan Dito namun langsung ditepis.


"Don't touch me! Aku gak tau bisa memaafkan mu atau tidak!" pekik Dito berlalu meninggalkan mereka semua,


Akhirnya Vika juga Ryan dibawa ke kantor untuk menyelesaikan masalah, mau gak mau Dito harus ikut menyaksikan semua ini karena ia kekasih dari Vika.


"Setelah semua terjadi dan semuanya terungkap, apa yang ingin anda lakukan pak Ryan?" tanya sekuriti.


"Saya sebelumnya sudah mengatakan ini pada Vika namun dia selalu saja menolak," jawab Ryan.


"Apa yang anda inginkan?" tanya sekuriti.


"Tolong jangan katakan itu, kondisi akan semakin rumit," rengek Vika mengiba.


"Katakan saja semuanya disini, jangan lagi ada yang disembunyikan! Kalian ini sudah tertangkap basah harusnya malu!" umpat Dinda.


"Saya akan menikahinya pak!" ucap Ryan tegas.


"A..APA??" pekik Dinda syok, begitu juga dengan Dito, mereka berdua orang yang tersakiti kini semakin sakit dengan ucapan Ryan.

__ADS_1


"Jika memang begitu adanya, maka segera lakukan, memang seharusnya begitu pak, kalian sudah melakukan hubungan suami istri, jadi memang alangkah baiknya menikah untuk menghindari hal yang tak diinginkan," jawab satpam setuju lalu dibuatkan surat pernyataan yang bertanda tangan materai.


__ADS_2