
Usia kandungan Dinda semakin hari semakin bertambah dan mereka tak lupa untuk rutin periksa di dokter kandungan yang paling terbaik di kotanya, mengingat ini adalah pengalaman pertama bagi Ryan yang akan menjadi seorang ayah, jadi dia mau semua yang berkaitan dengan anak yang di kandung Dinda harus mendapatkan yang terbaik.
Pagi hari biasanya Dinda menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya kini sudah tidak lagi, Ryan mengambil alih tugas sangat istri karena dia tidak mau Dinda kecapekan.. Tak hanya itu saja, Ryan berencana akan menggunakan jasa assisten rumah tangga dan juga baby sitter untuk Farel dan Vanessa.. Semua itu Ryan lakukan demi kesehatan, keselamatan sang jabang bayi.
"Sayang.. Sarapan udah siap," panggil Ryan.
"Makasih mas, kenapa sih aku selalu saja gak boleh bantu padahal dulunya aku kan yang siapin semua ini," protes Dinda sembari duduk.
"Kamu lagi hamil sayang jadinya aku gak mau kamu kelelahan," ucap Ryan dengan lembut.
"Tapi aku kan bisa melakukannya secara hati-hati mas," protes Dinda.
"Sudahlah jangan membantah suamimu ini, urusan pekerjaan rumah biar nanti aku yang handel sambil menunggu ada assisten rumah tangga datang kesini," ucap Ryan membuat Dinda terkejut.
"Apa harus pakai jasa ART mas?" tanya Dinda.
"Harus dong karena kamu lagi hamil dan nanti melahirkan, otomatis nantinya ada tiga anak yang kamu urus, aku gak mau mereka terlantar karena kamu sibuk mengurus urusan rumah apalagi kamu juga terkadang harus ke kantor," ucap Ryan dengan yakin.
"Masih bisa handel mas kalau hanya urusan rumah dan anak-anak," ucap Dinda protes.
"Suami kamu tidak ingin mendengar bantahan, udahlah sayang jangan kamu siksa dirimu sendiri.. Kalau bisa membayar jasa ART ya pakai, lagian nantinya semua ini demi kewarasan seorang ibu," ucap Ryan membuat Dinda geli.
"Kenapa sekarang kamu jadi sok tau sih mas," jawab Dinda geli.
"Bukan sok tau tapi wajib tau.. Ingat itu," tegur Ryan.
"Sama aja mas," jawab Dinda.
"Beda sayang.. Di sela-sela pekerjaan aku ini belajar tentang parenting loh jadi ya sekarang aku jadi ada sedikit ilmu," jawab Ryan dengan bangganya.
__ADS_1
"Ha? Kamu sampai belajar mas? Serius?" tanya Dinda tak percaya.
"Serius sayang.. Tanya aja sama sekretaris ku," ucap Ryan kesal.
"Gak ah.. Yaya aku percaya sama suamiku," rayu Dinda.
"Ah kenapa gak daritadi," gerutu Ryan sebal.
"Maafin istrimu ini ya.. Btw anak-anak kemana? Kok tumben belum turun?" tanya Dinda.
"Anak-anak ada di rumah ibu, katanya mau sarapan di sana aja," jawab Ryan fokus makan.
"Kok tumben?" tanya Dinda heran.
"I don't know sayang.. Yasudah sarapan dulu gih biar bayinya gak kelaparan," suruh Ryan dan Dinda pun patuh.. Mereka sarapan dalam diam.
Dinda merasa sangat aneh, di kehamilannya kali ini ia tidak merasakan morning sickness malah justru sang suami lah yang mengalaminya bahkan parah, Ryan kalau makan tidak ada Dinda pasti akan mual dan muntah, namun jika ada Dinda nafsu makan Ryan akan berlipat-lipat.. Dinda sampai dibuat heran dengan suaminya itu.
"Mas nanti siang aku gak bisa temani makan loh soalnya ada barang datang di kantor," ucap Dinda setelah selesai makan.
"Yasudah nanti aku gak makan siang," jawab Ryan ngambek.
"Beneran mas aku gak bisa soalnya ada barang datang," jawab Dinda kesal.
"Makanya itu aku juga beneran gak makan siang," jawab Ryan bertingkah seperti anak kecil. Dinda hanya bisa menghela nafas dan terus menerus banyak sabar.
"Yasudah aku usahain datang," jawab Dinda mengalah dan seketika raut wajah Ryan menjadi bahagia.
"Ok istriku," jawab Ryan sumringah.
__ADS_1
Dinda yang mendapati sikap suaminya berubah-ubah seperti itu hanya bisa menggelengkan kepala, ia menyadari apa ini yang di rasakan mas Rio dulu ketika menghadapi mood swing dirinya..
"Ah kenapa jadi mikirin mas Rio sih, buang jauh-jauh Dinda.. Suamimu itu Ryan Hadiningrat bukan Rio Suganda," gumam Dinda.
Ketika tiba di kantor Dinda tak hentinya terus bekerja dan berkutat di laptop.. Hari ini adalah akhir tahun jadi wajar saja banyak laporan yang harus segera di selesaikan sebelum menikmati libur panjang. Dinda menerapkan aturan setiap akhir tahun akan ada libur selama 7 hari sebagai bentuk apresiasi untuk para karyawannya yang sudah membantu dia dalam bekerja dan memajukan perusahaan, tak hanya itu juga Dinda juga memberikan bonus akhir tahun sesuai lamanya para karyawan bekerja. Tak heran banyak karyawan yang betah bekerja dengan Dinda dan tak sedikit pula yang ingin masuk disini, sudah bosnya baik hati, ramah, supel, royal sama karyawan.. Siapa yang gak mau memiliki bos seperti Dinda? Setiap melebihi omset selalu saja ada bonus yang diterima semua karyawannya.
"Permisi bu," sapa Fio.
"Iya Fio silahkan duduk," jawab Dinda.
"Ini bu laporannya, sesuai data yang tertera tahun ini penjualan naik tajam bu dan sangat melebihi omset," jawab Fio sambil menyertakan map.
"Oh iya? Syukur alhamdulillah.. Saya senang mendengarnya," jawab Dinda bahagia lalu mengecek map yang diberikan Fio.
"Iya bu.. Sekarang banyak customer yang langsung order disini dan banyak yang cocok dengan produk kita," jawab Fio semangat.
"Syukurlah saya juga bahagia mendengarnya.. Sudah tau dong bagaimana aturan ketika akhir tahun tiba? Dan pasti tau dong bonus yang diberikan?" goda Dinda dan Fio hanya tersipu malu.
"Hehe tau bu.. Libur seminggu dan dapat bonus akhir tahun," jawab Fio malu-malu.
"Betul sekali.. Kali ini bakalan saya tambah bonus penjualan, tunggu nanti setelah pulang kerja ya," ucap Dinda membuat Fio tambah semangat.
"Serius bu? Kenapa anda baik sekali?" tanya Fio tak percaya.
"Serius dong.. Karena hasil penjualan yang meroket ini ada hak kalian di dalamnya, kan kalian juga yang mensukseskan produk kita agar makin banyak pembeli, jadi ya itung-itung sebagai bentuk terima kasih saya pada kalian," jawab Dinda merendah.
"Semoga rezeki ibu dan keluarga selalu dilancarkan ya bu dan dipermudah segala urusannya," doa Fio dengan tulus.
"Aamiin.. Makasih Fio, semoga kebaikan dan keberkahan selalu menyertai harimu," doa balik Dinda dan Fio mengaminkan lalu bergegas turun untuk memberitahu pengumuman menggembirakan ini pada seluruh karyawan.
__ADS_1
"Doa baik akan selalu berbalik pada setiap manusia yang mendoakannya, begitu pun dengan para karyawan, tak hentinya mereka selalu mendoakan aku dan keluarga yang baik-baik tanpa aku minta, maka dari itu sebisa mungkin aku membuat mereka nyaman berada disini dan sebisa mungkin aku membuat mereka sejahtera.. Rezeki yang akan aku berikan pada mereka semoga bermanfaat," gumam Dinda merasa bahagia.