RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
SP 1


__ADS_3

"Hei apa maksudmu?" tanya Maya tak suka.


"Katamu kalau gue ini gak becus dan sok bisa jadi yasudah kerjakan semua ini dan gue bakalan lihat hasilnya, kan situ senior masak gak mampu mengerjakan semua ini dengan cepat sih, malu dong," sindir Sisil sambil tersenyum mengejek.


"Hei enak aja tugasmu diberikan semua ke gue, ogah.. Bawa balik lagi sana," protes Maya.


"Senior kok gitu, seharusnya senior itu membantu juniornya yang sedang kesusahan," sindir Sisil.


"Khusus untukmu no way, tunjukkin dong kalau lo itu pantas berada disini dan tunjukkin pada bapak Ronald jika temannya ini gak mengecewakannya, staf hasil rekomendasi yang kompeten," sindir Maya.


"Wah sayangnya lebih kompeten yang ada dihadapan gue ini nyatanya dia bisanya hanya mencela dan mencela padahal revisinan ini juga ada kesalahan yang dibuatnya," sindir Sisil dan Maya tak terima.


"Maksudmu apa ngomong kayak gitu, mana ada pekerjaan gue yang gak beres malah dilimpahkan ke yang lain, jangan halu deh," ucap Maya tak terima dan mendorong pelan bahu Sisil. Merasa rivalnya itu sudah main fisik akhirnya Sisil tak lagi menahan emosinya.


"HARUSNYA GUE YANG TANYA MAKSUDMU APA NGOMONG KAYAK GITU, MEMANG KENYATAANNYA BANYAK REVISI DARIMU YANG DIBERIKAN KE GUE.. TANYAKAN PADA MEREKA KENAPA LEBIH MEMPERCAYAKAN GUE UNTUK MENGUBAHNYA KETIMBANG MEMBERIKAN LAGI PADAMU, DAN SATU HAL LAGI.. JANGAN SOK MAIN FISIK JIKA NANTINYA LO YANG BAKAL NANGIS," pekik Sisil menarik kerah baju Maya hingga tercekik.


"Le..lepasin.. Gue.. Gue gak bisa nafas," pinta Maya lalu Sisil mencabut kerah baju Maya secara kasar yang membuat Maya refleks tertarik ke depan dan terkena meja cukup keras.


Kebetulan Ronald sedang mengecek CCTV sembari melihat apa yang sedang dilakukan Sisil, alangkah terkejutnya Ronald ketika melihat bagaimana murkanya Sisil hingga membuat Maya hampir kehilangan nafas, takut kejadian semakin runyam akhirnya Ronald memanggil mereka berdua ke ruangan.


"Mampus lo makanya jangan arogan di kantor," sindir Maya yang segera merapikan pakaiannya sebelum ke ruangan Ronald.


"Apaan sih norak banget," jawab Sisil mengejek dan berjalan dahulu ke ruangan di susul Maya.


Tok.. Tok.. Tok..


"Masuk," jawab Ronald dari dalam ruangan.

__ADS_1


"Permisi pak, selamat siang," sapa Sisil berjalan masuk.


"Maaf Pak saya terlambat," ucap Maya yang mensejajarkan langkahnya pada Sisil.


"Kalian berdua duduk," perintah Ronald serius.


"Baik pak," jawab Maya lalu duduk, berbeda dengan Sisil yang tidak menjawab sama sekali dan langsung memilih duduk.


"Kebetulan saya tadi melihat CCTV dan kebetulan juga saya melihat ada adegan tidak sepatutnya di sana, bisa dijelaskan kenapa hal itu sampai terjadi?" tanya Ronald mengintrogasi.


"Saya yang akan menjawabnya pak," ucap Maya bersiap menjelaskan.


"Jangan di tambah bumbu," sindir Sisil dan Maya hanya melengos saja begitu pun dengan Ronald yang bereaksi dengan menaruh telunjuk di bibir agar Sisil diam.


"Jadi begini pak, awal mulanya saya heran kenapa banyak sekali staf yang bolak balik ke meja kerja Sisil eh taunya mereka meminta revisi hasil kerjanya, tidak hanya sekali dua kali pak makanya itu saya tegur eh dianya emosi dan main fisik ke saya, untung saja saya masih bisa bernafas pak," ucap Maya membuat Sisil melotot tajam.


"Menegur apa mengejek, itu dua hal yang berbeda makna, mohon dicerna, senior kok gak bisa mengolah kata," ejek Sisil dan Maya melengos saja. Bagi Maya posisinya kali ini aman karena Sisil tertangkap basah sedang menganiaya dia.


"Apa benar yang dikatakan oleh Maya?" tanya Ronald pada Sisil.


"Untuk perihal saya mencekiknya itu memang benar adanya karena perkataan dia sangat membuat hati ini emosi, dia terus saja menggunakan kata staf rekomendasi bapak Ronald setiap kali mengejek, belum lagi dia mengatakan saya tidak becus dan sok bisa, sedangkan pekerjaan yang banyak diberikan ke saya itu pekerjaan dia pak Ronald, entah kenapa mereka sama saja dengan Maya yang memilih memberikan tugas gak enak ke saya," jawab Sisil kesal dan Ronald bisa melihat dari sorot mata Sisil jika dirinya butuh ketenangan.


"Hei.. Kalau memang itu tugas saya sudah pasti mereka bakal memberikan lagi ke saya," jawab Maya.


"Halah gak situ gak semuanya sama saja, bisanya mempersulit, kalau bisa mah diselesaikan secara mandiri dong katanya senior," sindir Sisil.


"Tapi tetap saja perbuatan mu tadi tidak mencerminkan karyawan yang baik, itu perbuatan buruk dan saya kecewa akan hal itu," ucap Ronald membuat Sisil terbelalak namun Maya tersenyum senang.

__ADS_1


"Yes.. Tuh kan kali ini Sisil gak bakalan bisa mengelak lagi, gak papa deh hampir mati karena tercekik yang penting hasilnya setimpal, pengorbanan gue kan jadinya gak sia-sia," batin Maya kegirangan.


"Ya memang saya mengakui salah dengan bertindak diluar batas," jawab Sisil pasrah.


"Haha rasain lu hari ini gak bisa berkutik," batin Maya senang.


"Dan untuk saudara Maya apakah memang benar pekerjaan yang dilimpahkan ke Sisil itu ada sebagian milik anda?" tanya Ronald.


"Ya saya kurang tau pak mereka tidak memberikan pada saya ya jadinya saya pikir Sisil yang kurang fokus," jawab Maya seadanya.


"Tapi saya yang merevisi jadinya saya tau kalau itu pekerjaan siapa," protes Sisil.


"Kalau itu buat gue ngapain gak diberikan lagi? Nyatanya situ mau kan merevisinya?" tanya Maya.


"Ya makanya itu gue bingung.. Sana tanya dong sama pasukan mu," suruh Sisil dan Maya hanya melengos saja.


"Sudah kalian lebih baik diam, kalau gini kan saya jadi pusing mau ambil keputusan apa lagian kalian ini tidak bisa menghargai saya sebagai atasan kalian," tegur Ronald dan keduanya pun seketika diam.


"Baiklah saya sudah punya keputusan dan nantinya apapun itu terima lah dengan baik dan bijak karena ini demi kebaikan bersama agar tidak terulang lagi kejadian seperti ini di dalam kantor dan agar menjadi pembelajaran kalian kedepannya," ucap Ronald membuat Sisil dan Maya deg-degan.


"Dengan berat hati saya mengambil keputusan bahwa saudara Sisil per hari ini sampai satu minggu ke depan dirumahkan dan untuk saudara Maya akan ada sanksi disiplin dengan membersihkan ruangan tempat kerja anda dan teman-teman selama seminggu, semoga keputusan ini bisa diterima dengan lapang dada" ucap Ronald lagi dan Sisil terbelalak tak percaya, kenapa Ronald hari ini kejam padanya. Begitu pun dengan Maya yang tak ikhlas harus membersihkan ruangan kerja.


"Ini serius? Jangan bercanda deh," tanya Sisil tak percaya.


"Iya nih pak masak iya saya harus membersihkan ruangan sebesar ini seorang diri, seminggu pula," protes Maya.


"Jika saudara Maya keberatan silahkan bertukar posisi dengan saudara Sisil," tegur Ronald dan Maya dengan cepat menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Gak pak.. Saya masih mau bekerja, baik saya terima ini," ucap Maya dan kini keduanya sudah keluar dari ruangan Ronald.


Sisil pun langsung bergegas mengambil tas juga ponselnya dan berlalu pergi, banyak karyawan yang melihat kepulangan Sisil dan mengira jika dirinya di pecat. "Aduh gimana nih kalau Sisil dipecat siapa yang bakal bantuin gue kerjain ini semua? Mana pekerjaan Maya selalu amburadul kalau gak ada Sisil bisa kerepotan nih, mana mau Maya merevisi pekerjaannya malah yang ada dia bakal membuat drama dengan menyalahkan kami,"


__ADS_2