RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Perdebatan Sengit (2)


__ADS_3

"Tapi janji ya mas ini demi kelangsungan hidup kita, aku gak mau hidup susah mas," pinta Sisil.


"Akan aku usahakan asalkan kami segera memberitahu dimana atmnya, setelah memberi separuh dana pada mereka nantinya aku bakal putar otak cari sisanya supaya perusahaan tetap ada di tanganku, rugi dong aku kalau nantinya perusahaan jadi milik mereka, nilai jualnya aja tinggi masak mereka enak-enakan memiliki perusahaan hanya dengan modal 3 triliun saja," ucap Rio.


"Baiklah mas aku juga gak mau kalau perusahaan ada di tangan mereka tapi aku mohon jangan pakai uang itu untuk si kembar, kalau nanti aku dengar kamu memberikan nafkah si kembar pakai uang itu nantinya kamu bakal aku laporin mas," gertak Sisil.


"Lah kamu laporin aku atas dasar apa? Jangan aneh-aneh.. Kamu itu buron mana bisa memenjarakan orang," tanya Rio heran.


"Ya intinya jangan kasih ke kembar," perintah Sisil.


"Ok.. Ok.. Cepat katakan dimana? Waktu aku gak banyak, mereka memberiku waktu sampai jam makan siang," desak Rio.


"Ada di rumah mamah tepatnya di kamarku, aku taruh di bawah tempat tidur," ucap Sisil terpaksa jujur.


"Bagus.. Untuk pin-nya?" tanya Rio tak sabar.


"Tanggal pernikahan kita mas," jawab Sisil pasrah.


"Good.. Makasih udah menolong suamimu ini, setidaknya aku bisa lega karena memenuhi janji untuk memberikan separuhnya," jawab Rio lega dan bergegas ke rumah Sisil. Di sana mamahnya bersikukuh menolak Rio masuk ke kamar Sisil.. Mamahnya gak mau kalau Rio meletakkan macam-macam di kamar anaknya


"Mau ngapain kamu datang kesini? Nyamperin anakku ya di penjara bukan disini," sindir Ira.


"Rio datang kesini mau masuk ke kamar Sisil, ada sesuatu yang harus Rio ambil mah," ucap Rio malas debat.


"Apa yang akan kamu ambil? Tidak ada apapun di kamar anak saya jadi lebih baik pulang," usir Ira.


"Ada mah.. Sisil sudah mengatakannya," bantah Rio dan akan menyelonong masuk namun dicegah Ira.


"Jangan bersikap seenaknya di rumah orang ya memang ini rumah istri kamu namun jagalah sikapmu karena ini bukan ranah mu," sindir Ira.


"Mah ini urgent dan sudah menjadi kesepakatan antara Rio dan Sisil, jangan memperlambat langkah Rio mah waktu Rio gak banyak," desak Rio dengan wajah cemas.


"Apa yang terjadi dengan dia dan apa hubungannya dengan kamar Sisil? Apa yang disembunyikan Sisil di kamarnya?" batin Ira.


"Mah.. Izinkan Rio masuk kalau mamah gak percaya silahkan telepon kantor polisi dan minta sambungkan ke Sisil, tanyakan semuanya padanya, Rio gak ada waktu menjelaskannya," pinta Rio dan langsung menerobos masuk ke kamar Sisil. Di sana Rio segera mengangkat tempat tidur dan benar saja apa yang dicari Rio ada di sana,

__ADS_1


"Untung Sisil gak bohong jadi bisa mempercepat waktuku," gumam Rio lega.


"Eh eh eh apa yang kamu ambil? Itu milik Sisil," sindir Ira dan akan mengambil paksa ATM serta buku tabungan Sisil namun gagal.


"Didalam sini ada uang Rio yang dicuri oleh Sisil jadi hak Rio untuk mengambilnya," ucap Rio penuh penekanan.


"Gak.. Mamah gak setuju, kembalikan barang milik Sisil," tolak Ira.


"Gak akan mah sebelum isinya Rio ambil, permisi," ucap Rio lalu bergegas ke mobil dan menuju kantor. Waktu dia gak banyak, tinggal 1 jam lagi.


"Ahh sialan kenapa gue sampai gak tau kalau Sisil menyimpan itu di rumah, andai kalau gue tau udah pasti gue gunain untuk foya-foya, kapan lagi dapat 2 triliun cuma-cuma," gumam Ira kesal.


Diperjalanan tak hentinya Rio berdoa agar masalah ini bisa segera kelar, Rio kapok berurusan dengan gangster Internasional macam boy.


Sesampainya di kantor, lagi-lagi anak buah boy sudah standby di setiap penjuru ruang hingga membuat Rio tidak nyaman dan risih.


"Astaga kenapa boy sampai segini nya? tadi aja hadapi 4 orang preman gue udah ciut apalagi ini, hadeh.." batin Rio kesal.


Tak mau membuang waktu kini Rio mendownload apk mobile banking milik Sisil, tujuannya ketika nanti anak buah boy kesini Rio sudah siap untuk mentransfer nya.


"Selamat siang.." sapa Rio ramah.


"Katakan sekarang, ada atau tidak uangnya?" tanya preman tanpa basa basi.


"Sesuai perjanjian hanya setengahnya dulu kan dan ini saya ada 3 triliun jadi otomatis sisa hutang saya tinggal 1 triliun saja," ucap Rio mencoba tenang.


"Jangan banyak omong segera tunjukkan buktinya," tantang preman.


"Baik.. Lihat sendiri," tunjuk Rio pada hp mahalnya.


"Kalian hafal nomor rekening bos besar?" tanya Rio mengejutkan semua anak buahnya.


"Untuk apa ya?" tanya preman penasaran.


"Ya saya mau transfer lah," ucap Rio kesal, lalu salah satu preman menghubungi boy.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya boy tanpa basa basi.


"Target ingin meminta alamat rekening anda katanya ingin melunasi separuhnya," ucap preman.


"Berikan saja nanti kalau dia berani menipu maka habisi," suruh boy dan anak buahnya pun paham.


"Baik bos," jawab anak buahnya lalu mematikan panggilan dan mencatatkan nomor rekening.


"Ini nomer rekening bos besar," ucap preman menyerahkan selembar kertas.


"Thanks.. " jawab Ryan lalu segera mentransfer sejumlah uang yang sudah di sepakati.


Tingg.. Notifikasi ponsel boy menandakan transferan dari Rio sudah masuk, senyum merekah terpancar di wajah boy kala melihat berapa jumlah nominal yang di transfer kan.


"Good.. Harus dengan cara gertakan baru dia mau bayar dasar pebisnis parasit," gerutu boy sambil merokok.


Tak mau melihat penampakan preman di kantornya kini Rio memberitahu jika transferan sudah masuk, anak buah boy tidak mau percaya begitu saja lalu ia menghubungi bos besarnya dan memang benar, transferan sudah masuk.


"Gimana? Masih gak percaya sama gue?" tanya Rio.


"Bos besar sudah konfirmasi jika transferan anda sudah masuk jadi sekarang anda tinggal memikirkan sisanya, jangan lupakan itu," sindir preman dengan wajah garangnya.


"Tenang saja saya gak akan luput akan hal itu," jawab Rio dengan sombongnya.


"Kami pegang janji anda," ucap preman serius.


"Baik.. Masalah hari ini sudah clear dan saya harap kalian semua keluar dari kantor saya, jujur saja keberadaan kalian mengusik ketenangan kantor ini," usir Rio.


"Tanpa anda suruh kami akan pergi tapi ingat satu hal pak Rio Suganda, anda masih dalam pantauan kami sampai nanti hutang anda lunas," ucap preman memperingati.


"APA?? KENAPA KALIAN KETERLALUAN SEKALI, SISA HUTANG SAYA KE BOS ANDA TINGGAL SEDIKIT TAPI KENAPA KALIAN SAMPAI MENGUNTIT AKTIFITAS SAYA?" pekik Rio tak terima privasinya terusik.


"Ini sudah tugas kami jadi anda mau gak mau wajib menerimanya," jawab anak buah dengan entengnya lalu keluar dari kantor Rio.


Hari-hari yang dilalui Rio setelah kejadian itu sungguh menyiksa dirinya.. Setiap hari ada saja anak buahnya boy yang menguntit kemana perginya Rio jika dia kepergok meninggalkan kantor, semakin hari Rio semakin merasa tidak nyaman. Anak buah boy tidak segan menampakkan batang hidungnya ketika sedang mengikuti setiap gerak gerik Rio.

__ADS_1


"Lama-lama gue bisa gila kalau diperlakukan seperti ini," gumam Rio frustasi.


__ADS_2