RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Kabur (3)


__ADS_3

Rio melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang mengingat hari ini masih terlalu pagi dan jalanan belum terlalu macet. Rio sudah tidak sabar untuk bertemu Sisil dan menanyakan langsung apa maksudnya kabur dari rumah.


Tiba di kantor Sisil, Rio pun bergegas mendatangi sekuriti dan menanyakan apakah Sisil sudah berangkat sembari memperlihatkan foto, sayangnya hingga jam 9 pagi tak ada tanda-tanda kehadiran Sisil di tempat kerjanya, merasa sia-sia akhirnya Rio memilih pergi ke kantor karena ada meeting penting dengan keuntungan yang besar.


Tanpa disadari oleh Rio, sebenarnya Sisil sudah berangkat awal namun sengaja meminta tolong satpam untuk merahasiakan kedatangannya, untung alasan Sisil masuk akal sehingga satpam pun setuju.


"Maaf mas lebih baik aku menghindari mu dulu sampai nanti kamu menyadari semuanya, aku harap masalah ini bisa mendewasakan mu, kamu pernah gagal dan melepaskan orang sebaik Dinda hanya demi aku, namun sekarang aku gak mau kamu mengorbankan kebahagiaan dan kebebasan mu dengan tetap bersamaku," batin Sisil melihat Rio dari kaca ruangannya sambil berlinang air mata.


"Ehem.. Liatin suaminya mulu, kangen ya?" ejek Ronald membuat Sisil kaget.


"Apaan sih, enggak kok," bantah Sisil sambil mengusap air matanya.


Melihat Sisil menangis seketika Ronald iba dan memeluk Sisil dengan lembut, "menangis lah sampai perasaanmu tenang dan keluarkan semua uneg-unegmu, ada aku disini yang siap menjadi pendengar setia mu,"


Mendapat perlakuan seperti ini seketika Sisil langsung menangis sejadi-jadinya dan menumpahkan semua air mata di baju kerja Ronald.


Hati Ronald juga ikut sakit melihat Sisil sedih seperti ini, ia tidak bisa membayangkan bagaimana dalamnya luka yang Sisil rasakan. Andai ini bukan di kantor sudah pasti Ronald akan melakukan hal lebih agar situasi hati Sisil cepat tenang.


"Makasih," ucap Sisil sembari melepas pelukan.


"Sama-sama, gimana udah mendingan?" tanya Ronald memastikan.


"Sudah lumayan, maaf bajumu jadi basah kan," ucap Sisil tak enak hati.


"Gak papa nanti bisa kering sendiri kalau kena ac," jawab Ronald sembari tersenyum.


"Tapi penampilanmu jadinya kurang bagus dong," ucap Sisil sungkan.


"Sudah tidak apa, lagian di ruangan ada cadangan jas 1 lagi kok jadi semua aman," jawab Ronald tersenyum dan Sisil hanya mengangguk saja.

__ADS_1


"Ke kantin sebentar yuk beli minum biar hati dan pikiranmu jauh lebih tenang, masih ada setengah jam sebelum masuk," ajak Ronald.


"Gak usah nanti biar aku ke pantry saja buat teh apa kopi," tolak Sisil.


"Yasudah sekarang aja kita ke sana, yuk," ajak Ronald menggandeng tangan Sisil.


"Nal.. Nal.." panggil Sisil setengah berteriak sembari berusaha melepaskan tangannya namun gagal.


"Kenapa?" tanya Ronald menghadap Sisil.


"Lepasin tanganku, ini di kantor gimana kalau ada yang liat habis itu jadi bahan gosip," bisik Sisil tak nyaman dan Ronald langsung melepas genggamannya.


"Gak papa kalau aku mah, mungkin mereka hanya berani bicara di belakang kita saja," jawab Ronald santai.


"Ish.. Jangan gila deh Nal, jangan nambah masalah gue dong," protes Sisil menghempaskan tangannya.


"Masalahmu ya hanya sama suami dan keluarganya saja," sindir Ronald dan Sisil memilih diam. Ia tidak mau mood pagi harinya hancur karena terus membahas masalah rumah tangganya.


Baginya ini saat yang bagus untuk menjatuhkan Maya di hadapan Ronald agar dia tau gimana buruknya pegawai yang di rekomendasikan nya.


"Ehem.. Kerja gitu doang banyak revisi, niat kerja gak?" sindir Maya.


"Revisi sekali dua kali dan hanya satu orang mah oke lah bisa dianggap wajar, lah ini hampir semua staf loh yang merevisi, apa ini kualitas staf hasil rekomendasi bapak Ronald?" sindir Maya lagi dan kali ini Sisil tidak bisa tinggal diam. Ia berdiri sambil menggebrak meja hingga semua staf yang ada di ruangan kaget.


Merasa tak gentar, Maya menanggapi sikap arogan Sisil dengan senyum mengejek, setidaknya rencana agar dia terlihat buruk di mata atasannya hampir tercapai. "Sini maju dan gue akan lihat apa yang bakal lo lakuin," batin Maya.


"Hei senior gue mau tanya deh sama lu," ucap Sisil.


"Apa itu junior?" tanya Maya mengejek.

__ADS_1


"Ada masalah apa sih lo ke gue? Dari pertama gue masuk bisanya lo hanya cari masalah dan masalah," ucap Sisil ketus.


"Dimana buktinya jika saya membuat masalah dengan situ?" tanya Maya sinis.


"Barusan sudah cukup jadi bukti, lagian apa urusannya kalau pekerjaan gue banyak revisi?" tanya Sisil menantang.


"Jelas ada lah, nanti pekerjaan yang lainnya juga terbengkalai, kalau gak bisa mah jangan sok bisa deh," ejek Maya.


"oh gitu ya, Oke deh," jawab Sisil kembali ke meja kerjanya dan membuat Maya keheranan. Sepersekian detik kemudian Sisil datang dengan membawa beberapa map pekerjaannya dan langsung menaruhnya secara kasar ke meja Maya.


"Hei apa maksudmu?" tanya Maya tak suka.


"Katamu kalau gue ini gak becus dan sok bisa jadi yasudah kerjakan semua ini dan gue bakalan lihat hasilnya, kan situ senior masak gak mampu mengerjakan semua ini dengan cepat sih, malu dong," sindir Sisil sambil tersenyum mengejek.


"Hei enak aja tugasmu diberikan semua ke gue, ogah.. Bawa balik lagi sana," protes Maya.


"Senior kok gitu, seharusnya senior itu membantu juniornya yang sedang kesusahan," sindir Sisil.


"Khusus untukmu no way, tunjukkin dong kalau lo itu pantas berada disini dan tunjukkin pada bapak Ronald jika temannya ini gak mengecewakannya, staf hasil rekomendasi yang kompeten," sindir Maya.


"Wah sayangnya lebih kompeten yang ada dihadapan gue ini nyatanya dia bisanya hanya mencela dan mencela padahal revisinan ini juga ada kesalahan yang dibuatnya," sindir Sisil dan Maya tak terima.


"Maksudmu apa ngomong kayak gitu, mana ada pekerjaan gue yang gak beres malah dilimpahkan ke yang lain, jangan halu deh," ucap Maya tak terima dan mendorong pelan bahu Sisil. Merasa rivalnya itu sudah main fisik akhirnya Sisil tak lagi menahan emosinya.


"HARUSNYA GUE YANG TANYA MAKSUDMU APA NGOMONG KAYAK GITU, MEMANG KENYATAANNYA BANYAK REVISI DARIMU YANG DIBERIKAN KE GUE.. TANYAKAN PADA MEREKA KENAPA LEBIH MEMPERCAYAKAN GUE UNTUK MENGUBAHNYA KETIMBANG MEMBERIKAN LAGI PADAMU, DAN SATU HAL LAGI.. JANGAN SOK MAIN FISIK JIKA NANTINYA LO YANG BAKAL NANGIS," pekik Sisil menarik kerah baju Maya hingga tercekik.


"Le..lepasin.. Gue.. Gue gak bisa nafas," pinta Maya lalu Sisil mencabut kerah baju Maya secara kasar yang membuat Maya refleks tertarik ke depan dan terkena meja cukup keras.


Kebetulan Ronald sedang mengecek CCTV sembari melihat apa yang sedang dilakukan Sisil, alangkah terkejutnya Ronald ketika melihat bagaimana murkanya Sisil hingga membuat Maya hampir kehilangan nafas, takut kejadian semakin runyam akhirnya Ronald memanggil mereka berdua ke ruangan.

__ADS_1


"Mampus lo makanya jangan arogan di kantor," sindir Maya yang segera merapikan pakaiannya sebelum ke ruangan Ronald.


__ADS_2