RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Lampu Hijau


__ADS_3

Di perjalanan pulang baik Dinda maupun Ryan hanya saling diam karena keduanya merasa canggung.


"Mommy kenapa diam aja sih? Suasananya gak asik," tanya Vanessa penasaran.


"Mommy kurang enak badan?" tanya Farel.


"Mommy sehat sayang, mommy diam ya karena mommy sedikit lelah aja," alibi Dinda.


"Hmm bagaimana kalau kalian bernyanyi? Ayo siapa dulu," ucap Ryan yang di balas antusias kedua anak Dinda.


"Yeye Farel setuju, Farel dulu yang nyanyi," ucap Farel senang.


"No.. Vanessa dulu yang nyanyi," rengek Vanessa.


"Farel dulu." protes Farel.


"Vanessa dulu dong," protes Vanessa.


"Farel itu kakak jadi ya harus kakak dulu yang memulai," protes Farel.


"Kakak lupa ya kalau Vanessa itu adik, jadi kakak harus mengalah dong sama adik," protes Vanessa tak mau kalah.


Hingga akhirnya Ryan dan Dinda hanya menggelengkan kepala karena heran, bisa-bisanya mereka berdebat hanya untuk menjadi pertama.


"Haduh jangan berantem dong sayang, kalian ini saudara jadi jangan gitu ya," ucap Dinda menengahi.


"Habisnya kak Farel gak mau ngalah sama Vanessa kan kakak harusnya ngalah sama adik mom," protes Vanessa cemberut.


"Iya mommy mengerti kok, gimana kalau kalian nyanyi bareng-bareng aja biar tambah rame," usul Dinda dan keduanya setuju.


"Nah begitu dong itu namanya baru anak baik," ucap Dinda tersenyum lega.


"Anak kembar memang menggemaskan ya bu, chemistry mereka sangat kuat," ucap Ryan.


"Ya begitulah pak tapi setidaknya karena mereka sampai detik ini aku masih bertahan," ucap Dinda menatap kaca mobil.


"Ya saya tau itu bu dan saya salut akan kegigihan ibu" puji Ryan.


"Mereka yang membuat saya menjadi kuat seperti ini pak," ucap Dinda sendu.


"Tidak hanya mereka namun sekarang ada saya juga yang akan menguatkan ibu," ucap Ryan serius.

__ADS_1


"Pak Ryan ngomong apa sih," ucap Dinda salah tingkah.


"Ini serius bu, sekarang ini saya juga akan menguatkan dan membahagiakan ibu, jangan lagi bersedih mengenang masa lalu, hapus lah bu dan fokuslah dengan yang ada di depan mata," pinta Ryan.


"Pak.. " ucap Dinda.


"Percayalah bu saya ini serius, Kata-kata yang saya ucapkan di depan mantan suami ibu pun juga serius, saya tidak main-main bu, mau sampai kapan kita seperti ini terus?" tanya Ryan meminta kejelasan.


"Saya belum bisa memberikan jawabannya pak," ucap Dinda lirih.


"Mau sampai kapan bu? Lihatlah mantan suami anda, apa dia sedih ketika bercerai dengan anda? Tidak kan? Yang ada malah mantan suami dan istrinya menjebak kita dengan begitu keji demi sebuah hak asuh anak," ucap Ryan mempengaruhi.


"Memang dari awal pernikahan mas Rio tidak pernah mencintai saya pak, memang perlakuan dia sangat baik kepada saya namun ketika saya mengetahui semua itu rasanya saya sakit hati sekali pak.. Jebakan itu semakin membuat saya membenci dia," ucap Dinda menggebu.


"Bukan benci yang ibu rasakan melainkan kecewa, sangat kecewa.. Jauh dari lubuk hati ibu yang terdalam, ibu masih mencintai mantan suami ibu," ucap Ryan menatap Dinda.


"Eng.. Enggak kok kata siapa?" elak Dinda.


"Sorot mata tidak bisa di tipu bu, semua terlihat ketika kalian saling berbincang," ucap Ryan serius.


"Tidak.. Mungkin hanya asumsi anda saja," elak Dinda salah tingkah.


"Tidak pak, yang lalu biarlah berlalu, saya tidak mau membahas atau pun mengingatnya, semua itu terlalu menyedihkan pak," tolak Dinda memasang wajah sedih.


"Baiklah saya hargai privasi anda," ucap Ryan mengalah. Ia sadar jika dirinya bukan siapa-siapa Dinda jadi bukan kapasitas Ryan untuk memaksa Dinda mencintainya.


"Terima kasih pak," jawab Dinda tersenyum kaku.


"Jadi bagaimana bu?" tanya Ryan memastikan.


"Yang mana pak?" tanya Dinda penasaran.


"Tentang perasaan saya yang sudah saya ungkapkan beberapa kali, apakah akan di terima?" tanya Ryan memastikan.


"Pak saya ini janda beranak dua, sebuah status yang sangat berpengaruh di hadapan keluarga anda, apa iya keluarga anda nantinya akan setuju?" ucap Dinda.


"Tetapi saya tidak memperdulikan itu bu," ucap Ryan mantap.


"Itu bagimu.. Belum bagi mereka, pikirkanlah matang-matang ketika ingin menikahi janda,." ucap Dinda sendu.


"Apa yang salah dengan janda? Asalkan anda itu perempuan baik-baik maka tidak masalah bagi saya, " ucap Ryan mantap.

__ADS_1


"Jangan gila pak, mengurus dua anak tidaklah mudah apalagi ini anak sambung mu," ucap Dinda menceritakan fakta.


"Selama ini saya selalu bisa mengurus kedua anak anda dan mereka nyaman berada di dekat saya," ucap Ryan percaya diri.


"Ya tapi tetap saja nanti penilaian keluarga anda berbeda pak," protes Dinda


"Jangan lagi terus menerus menghindar bu, kita sudah sama-sama saling nyaman apalagi kita sudah pernah berbuat hal yang jauh ya meskipun itu sebuah jebakan, apa itu tidak cukup untuk ibu membuka hati kepada saya? Saya harus melakukan apalagi?" tanya Ryan memohon.


"Anda ini pria baik pak sangatlah baik, saya harap anda suatu saat bertemu dengan wanita yang baik pula," harap Dinda.


"Saya sudah menemukannya dan dia ada di depan mata saya," ucap Ryan sangat yakin.


"Pak... " rengek Dinda.


" Percayalah bu saya akan berusaha menjadi kepala rumah tangga yang baik dan bertanggung jawab, saya serius ingin menikah dengan anda karena hati, bukan rahim pengganti seperti mantan suami anda," ucap Ryan memegang kedua bahu Dinda dan menatapnya.


"Sa..saya tau itu pak," jawab Dinda gugup.


"Lantas apalagi yang membuat anda ragu menerima saya?" tanya Ryan penasaran.


"Sa..saya masih trauma apalagi saya masih menyimpan rasa sakit hati pada mantan suami saya pak, yang kedua saya takut akan penolakan dari keluarga anda," ucap Dinda ragu.


"Saya pastikan bahwa saya yang akan menyembuhkan trauma dan sakit hati anda, untuk masalah restu keluarga.. Percayalah bu keluarga saya pasti menerima anda dengan baik," bujuk Ryan dan Dinda mulai goyah.


"Saya masih ingin fokus dengan anak-anak," ucap Dinda lirih.


"Mari kita urus mereka bersama," ajak Ryan.


"Kenapa anda sangat yakin memilih saya pak? Saya takutnya nanti anda menyesal, carilah perempuan yang belum pernah membina rumah tangga agar kalian seimbang," ucap Dinda tersentuh.


"Saya tidak akan menyesal dan saya tidak ingin mencari yang lainnya, anda sudah sangat sempurna bagi saya jadi tidak perlu lagi memantapkan hati untuk yang lain," ucap Ryan mantap.


"Pak Ryan..." ucap Dinda terpotong karena terharu, ia merasa sangat di hargai dan dicintai.


"Iya bu?" jawab Ryan kebingungan.


"Terima kasih sudah menanti saya dan menghadapi saya dengan sangat sabar, terima kasih sudah menjadi solusi di setiap masalah yang menimpa saya, anda pria yang sempurna," puji Dinda tulus.


"Karena saya memang mencintai dan ingin membahagiakan anda, jadi bagaimana bu? Apakah perasaan saya terbalaskan?" tanya Ryan penuh harap.


"Tentu pak, sudah tidak ada lagi keraguan di hati saya.. Jadi saya menerima perasaan anda," jawab Dinda tersipu malu dan Ryan sangat merasa bahagia, tanpa sadar ia memeluk Dinda sangat erat.

__ADS_1


__ADS_2