
Sudah satu tahun Dinda tidak berjumpa dengan sang buah hati yang harus ia relakan untuk berpisah darinya. Rasa rindu yang semakin menggebu membuat Dinda nekat mendatangi rumah Rio.
"Ngapain lo kesini lagi? Butuh duit?" sindir Sisil menyapa.
"Saya ingin bertemu anak saya, apakah ada di dalam nyonya Sisil?" tanya Dinda penuh penekan.
"Dia sekarang anak saya dan mas Rio jadi jangan mengaku-aku," ucap Sisil angkuh.
"Iya memang dia anakmu lebih tepatnya anak sambung kamu, mana ada kamu mengakui anak tetapi tidak melahirkannya, eh.." sindir Dinda sambil menutup mulutnya.
"Sialan lo ya!! Berani bahas ini lagi awas lo, jangan harap hidupmu bakal tenang," ancam Sisil murka dan ingin menampar Dinda namun berhasil di cekal oleh Dinda.
"Berani lo sentuh kulit mulus gue ini jangan harap tanganmu akan mulus lagi, ingat gue juga berhak membela diri," Ancam Dinda sambil mencengkeram tangan Sisil kuat.
"Aww sakit Dinda.." rintih Sisil menahan sakit.
"Gitu doang kok kesakitan, lebih sakit gue ketika tau hanya di jadikan alat untuk kalian berdua supaya tetap memiliki keturunan," sindir Dinda.
__ADS_1
"Cewek kok kasar, bentar gue panggilin mas Rio sama Farel," ucap Sisil dan berlalu pergi.
"Mamah..." Sapa Farel yanng langsung berlari memeluk Dinda.
"Farel.. I miss you so much," Ucap Dinda menciumi Farel dengan gemas dan menggendongnya.
"I miss you so much mom, long time no see.. Where Vanesa?" tanya Farel dengan muka kebingungan.
"Vanesa ada di rumah sayang, yuk Farel main ke rumah mommy, mau?" ajak Dinda dan Farel bersorak girang.
"Mas bolehkan aku membawa Farel ke rumah, Vanesa demam dan ingin bertemu kakaknya," pinta Dinda penuh harap.
"Dalam asuhan baby sitter, jangan sok jagoan deh gue gak suka dengarnya, mau Farel yang mengatakan sendiri?" sindir Dinda kesal dan Sisil memilih diam seribu bahasa.
"Boleh.. Tapi ada yang mau aku sampaikan padamu, bisa kita bicara sebentar?" pinta Rio serius.
"Tentu.. Katakan saja disini di depan istrimu tersayang," ucap Dinda penuh penekanan.
__ADS_1
"Gak.. Kita harus bicara empat mata, Sil panggilkan suster biar Farel di siapkan baju ketika di rumah Dinda nanti," perintah Rio dan terpaksa Sisil setuju.
"Ada apa mas?" tanya Dinda tak sabar.
"Ini masalah hak yang harus aku berikan pada Vanessa, akhir--akhir ini kondisi perusahaan sedang tidak stabil dan aku harus menekan semua pengeluaran baik itu perusahaan maupun rumah tangga, jadi maksud dan tujuan pembahasan ini adalah aku meminta keringanan hak yang di dapat Vanesa," ucap Rio sedih.
"Aku cukup prihatin mendengarnya mas semoga segera terselesaikan, memang berapa nominal yang kamu sanggupi?" tanya Dinda penasaran.
"Antara 50-70 juta, itu aja aku, sudah sangat amat berhemat," ucap Rio jujur.
"Baiklah gak masalah, toh sekarang aku sudah memiliki usaha sendiri," ucap Dinda tak mau memperdebatkan nominal, yang penting baginya mas Rio masih ingat menafkahi.
"Terima kasih din, aku senang mendengarnya, memang kamu membuka usaha apa?" tanya Rio penasaran.
"Skincare mas dan alhamdulillah dari pertama memulai sampai di titik ini kemajuannya sangat pesat," ucap Dinda sedikit pamer.
"Syukurlah, kamu memang wanita mandiri dan cerdas," puji Rio.
__ADS_1
"Ah gak juga itu karena himpitan ekonomi jadinya aku harus banting tulang seorang diri, yasudah kalau gitu aku permisi dulu mas.. Yuk Farel," ucap Dinda tak mau memperpanjang obrolan dengan Rio dan kini mengajak Farel ke rumahnya.