
Seminggu sudah Dinda merelakan anaknya di bawa paksa oleh suaminya itu, ia memang sengaja membiarkan anaknya di sana supaya mereka merasa menang.
"Sudah cukup mas kini waktunya aku mengambil anakku, tidak akan aku pisahkan mereka," gumam Dinda sambil mengepalkan tangan. Lalu ia menelfon pengacara untuk menemaninya di rumah Rio.
Pengacara yang ia mintai bantuan bukanlah pengacara biasa, ia sengaja menggunakan jasa pengacara ternama dan namanya sudah melalang buana supaya keluarga suaminya itu tidak memandangnya remeh lagi.
"Halo selamat pagi, dengan siapa? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Ryan-pengacara terkenal.
"Selamat pagi.. Perkenalkan nama saya Dinda, saya ingin meminta tolong jasa anda untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang saya hadapi," ucap Dinda to the point.
"Baik.. Kalau begitu silahkan datang langsung ke kantor saya untuk membahasnya lebih lanjut," ucap Ryan dengan ramah dan Dinda menyanggupinya.
Lalu Dinda menemui Ryan guna membahas permasalahan rumah tangganya, awalnya Ryan terkejut mengetahui rival kliennya adalah keluarga yang memiliki pengaruh besar. Namun melihat kesungguhan kliennya untuk mengambil kembali anaknya yang di culik membuat Ryan mantap menolong Dinda. Kini mereka sudah tiba di rumah Rio, sesuai kesepakatan.. Hanya Dinda dulu yang masuk ke dalam setelah itu jika kondisi mendesak makan Dinda akan memanggil Ryan untuk masuk. Setidaknya Dinda merasa aman karena Ryan memberinya kamera berbentuk pulpen yang bisa merekam kejadian beserta suara.
"Anda yakin ingin masuk sendiri?" tanya Ryan memastikan dan Dinda menjawab dengan anggukan kepala. Sebelum masuk, Dinda terlebih dahulu mengatur pernafasannya supaya lebih rileks.
Dengan langkah mantap Dinda menemui keluarga Rio seorang diri, kebetulan Sisil juga berada di sana. Kesempatan emas bagi Dinda karena bisa dijadikan alibinya di proses persidangan kelak.
"Punya nyali juga lo datang kesini," sapa Sisil dengan sinis.
"Gue kesini karena ada keperluan dengan suami gue, dimana dia?" tanya Dinda ketus.
"Cih.. Sok banget lagaknya.." sindir Sisil.
Lalu Rio datang menemui Dinda dengan perasaan was-was, ia takut jika anaknya akan diambil oleh Dinda.
"Ada apa datang kemari?" tanya Rio ketus.
__ADS_1
"Tak perlu di jelaskan sudah pasti kalian tau jawabannya, bisa-bisanya mas Rio menculik anakmu sendiri, apalagi di rumah sakit.. apa kamu gak mikir mas bagaimana dampaknya untuk semua orang?? Reputasi rumah sakit tercoreng dan juga nama baik keluarga besar mu, mikir dong kalau mau culik anak, punya otak kok gak di pakai.. Makanya jangan terlalu terpengaruh sama ****** satu ini, dia hanya ingin hartamu saja mas," ucap Dinda murka.
"Sialan.. Beraninya lo bilang gue ******, emang lo siapa ha? Harusnya lo yang disini jadi pelakor.. Lo yang udah rebut mas Rio dari gue," ucap Sisil tak terima.
"Apa? Gue? Pelakor? Bukannya kebalik ya, gue menikah dengan mas Rio karena dia yang meminta dan statusnya masih SINGLE.. ingat itu, dia yang dengan manisnya mengumbar kata-kata manis yang meyakinkan aku, eh ternyata semua itu hanya skenario untuk memuluskan rencana kalian," ucap Dinda penuh penekanan.
"Mas... Istrimu kurang ajar, minta di tampar tuh mulut," ucap Sisil geram.
"Sudah sudah.. Stop jangan berantem terus dong, aku jadi pusing!!! Sil biarkan aku dan Dinda menyelesaikan ini secara empat mata, kamu silahkan ke dalam dulu," ucap Rio geram.
"Gak.. Aku harus tau apa yang kalian bahas, aku gak mau ya mas nantinya kamu terpengaruh sama dia, ingat tujuanmu menikahinya dong," ucap Sisil gak terima.
"Sil.." ucap Rio menatap tajam dan Sisil memilih mengalah dengan kesal.
"Silahkan Din apa yang ingin kamu bahas," ucap Rio dengan lembut.
"Aku melakukan semua ini juga terpaksa, kalau aku meminta anakku secara baik-baik apa nantinya kamu akan memberikan? Gak mungkin kan? Makanya jangan membuatku di situasi yang sulit.. Kalau bukan Sisil yang bermasalah tidak mungkin aku melibatkan mu," ucap Rio mengusap wajahnya kasar.
"Kembalikan anakku sekarang juga mas, aku datang kesini secara kekeluargaan, jadi jangan menguji kesabaran ku," ucap Dinda penuh penekanan.
"Gak.. Mamah sangat sayang padanya din, please pikirkan juga mamahku," Pinta Rio.
"APA KALIAN MEMIKIRKAN PERASAANKU MAS, KELUARGAMU DAN JUGA PACARMU APA MEMIKIRKANNYA? HA? GAK KAN.. JANGAN MENYURUHKU KALAU KALIAN SAJA TIDAK BISA MELAKUKANNYA, IBU MANA YANG RELA JIKA ANAKNYA DI CULIK, UNTUNG AKU TIDAK MELANJUTKAN KASUS INI KE POLISI, COBA KALAU AKU MENYETUJUI APA USUL RUMAH SAKIT, BISA HANCUR REPUTASI MU MAS.. HANCUR!!!" teriak Dinda tak terima.
"Anak kita kan ada dua jadi adil kalau kita sama-sama mengurusnya, biarkan aku yang mengurus anak laki-laki biar esok dia bisa melanjutkan perusahaan ini," pinta Rio.
"Gak.. Mana anakku? Katakan sekarang?" gertak Dinda lalu nyelonong masuk dan Sisil berhasil menahannya.
__ADS_1
"Hei mau kemana lo? jangan jadi maling ya," cibir Sisil.
"Hei.. Mana ada gue jadi maling di rumah suami gue sendiri, ingat mas Rio masih SAH suami gue di mata negara dan agama karena sampai detik ini tidak ada kata talak darinya, dan tujuan gue asal masuk kesini ya karena gue mau mengambil anak gue yang di curi mas Rio lah.. Gue ibunya jadi gue berhak atas anakku," ucap Dinda mampu membuat Sisil mati kutu.
"Apa lo lupa kalau mas Rio juga ayah dari anakmu? Jangan egois jadi orang, biarkan dia disini kami mampu mengurusnya sangat baik, anakmu kan kembar jadi ini adil dong," ucap Sisil tak mau terlihat kalah.
"Tau apa lo soal hak asuh? Anak aja gak punya jangan sok ceramahin gue, minggir gak.." Sindir Dinda mampu membuat Sisil emosi.
"Sialan beraninya lo bilang itu.." ucap Sisil lalu ingin menampar Dinda namun berhasil di cekal Ryan.
"Jika anda berani menyentuh klien saya jangan harap saya akan tinggal diam, dia ibunya dan anaknya di culik jadi sudah sepantasnya klien saya menjemput anaknya, berterima kasihlah pada klien saya karena dia belum melaporkan kasus penculikan ini pada pihak polisi," Gertak Ryan penuh penekanan sambil mencengkram tangan Sisil dengan kuat.
"Din.. Mengapa kamu sampai membawa pengacara segala? Dia kan pengacara yang sedang naik daun karena sukses memenangkan berbagai perkara," bisik Rio tak suka.
"Kenapa mas? Takut? Aku hanya berjaga saja kalau terjadi hal yang tidak di inginkan, benar kan.. ****** mu itu ingin mencelakai aku, setidaknya aku sudah siap payung sebelum hujan. Pak Ryan tolong foto mereka berdua dan buat berita acaranya jika mereka selingkuh.. Mana ada perempuan belum muhrim satu atap dengan suami yang sudah beristri," ucap Dinda dengan mantap dan membuat Rio beserta Sisil geram.
"Dinda.. Jangan gila.. Kami tidak seperti yang kamu tuduhkan," protes Rio.
"Biarkan saja mas toh nantinya kasus perceraian mu semakin mudah kan," ucap Sisil dengan entengnya.
"Jangan gila Sil!! Aku tetap gak mau," ucap Rio tak terima dan akhirnya terjadi perdebatan sengit diantara keduanya, ada celah bagi Dinda untuk mengambil anaknya. Tak butuh waktu lama kini Dinda berhasil membawa sang anak keluar dengan selamat.
Rio yang menyadari istrinya berhasil membawa anaknya semakin tersulut emosinya.
"DINDA...KEMBALIKAN ANAKKU, SUSAH PAYAH AKU MENGAMBILNYA DARIMU DAN SUSAH PAYAH JUGA AKU MENGGELONTORKAN UANG YANG TIDAK SEDIKIT, DINDAAAA..." teriak Rio sambil mengejar Dinda namun sayangnya Dinda sudah berhasil kabur dengan mengendarai mobil.
Ucapan Rio tadi tak luput di rekam oleh Dinda untuk di jadikan bukti, ia tidak mau jika nantinya kalau pun dia kalah hanya dengan pasrah. Setidaknya ia sudah berjuang sekuat tenaga dan tidak menyerah, setidaknya ketika kalah ia akan kalah dengan terhormat.
__ADS_1
Mau bagaimana pun keluarga Rio kekuasaannya sangat besar, kasus yang nantinya Dinda ajukan pun ia yakin akan berjalan alot meskipun sudah menggandeng pengacara hebat sekalipun.