RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Kacau (2)


__ADS_3

Di ruang rawat inap Dinda masih tertidur mengingat dokter memberikan obat bius total pada Dinda lantaran pendarahan yang dialami Dinda cukup banyak apalagi posisi bayinya sudah hampir kritis karena kekurangan pasukan oksigen, jika dokter memberikan obat bius setengah badan takutnya Dinda mengalami darah tinggi dan akan membahayakan keduanya, maka jalan terbaik dan aman adalah dengan membius total.


Rasa panik, cemas dan takut akan hal buruk yang nantinya menimpa Dinda kini tergantikan oleh wajah sang bayi yang sungguh tampan nan menggemaskan. Ryan langsung berlinang air mata ketika melihat bayinya untuk pertama kali, meskipun ada rasa sesal di dada karena tidak bisa menemani mereka disaat Dinda kesakitan.


"Halo boy.. Welcome to the world, kamu sudah ditunggu sama kak Farel di rumah loh, besok kalau udah gede main bareng-bareng sama kak Farel dan Vanessa ya, kalian nanti jadi saudara yang akur dan saling menyayangi," ucap Ryan sembari menimang anaknya.


Sri tak hentinya menangis melihat nasib anaknya yang berulang kali menyakitkan, ketika Dinda melahirkan untuk pertama kalinya, Dinda harus melahirkan seorang diri karena Rio terbukti hanya menginginkan Dinda sebagai rahim pengganti saja, kini di lahiran yang kedua pun Dinda merasa sendirian, sang suami susah di hubungi namun bedanya di lahiran kali ini Ryan memang tulus mencintai Dinda dan sangat menerima Dinda apa adanya.


"Nasibmu kenapa malang sekali Din.. Kedua kali melahirkan, kedua kali pula kamu berjuang sendirian, tak ada suami yang menemani, ibu sungguh sedih melihatmu seperti ini, kenapa banyak kemalangan di hidupmu, apa salah ibu dan bapak sampai kamu yang harus menanggungnya," batin Sri terisak.


Ketika Ryan sedang asyik menimang anaknya, ponsel Dinda berdering menandakan ada chat masuk, ketika dibuka alangkah terkejutnya bagi Ryan melihat siapa yang mengirim pesan pada istrinya. Dia adalah Rio...


"Din bagaimana keadaan anak-anak? Baik-baik saja kan? Kamu sudah cek belum apa benar anak-anak di ikuti oleh orang bertubuh tinggi tegap layaknya bodyguard tapi lebih tepatnya preman," isi chat dari Rio langsung membuat Ryan terkejut.


"Apa ini penyebab Dinda harus melahirkan sedini mungkin? Siapa yang berani mengawasi anak-anak? Preman siapa yang dimaksud Rio?" batin Ryan penuh tanda tanya dan akhirnya meletakkan bayinya di dalam box bayi, lalu Ryan izin keluar sebentar pada kedua orang tua Dinda untuk mengklarifikasi ini semua.


"Bu.. Pak.. Saya titip Dinda dan anaknya, saya keluar sebentar mau menelpon seseorang," ucap Ryan dengan hati-hati dan kedua orang tuanya hanya mengangguk saja.


Setelah Ryan memilih taman rumah sakit untuk tempatnya berbincang dengan Rio, tak butuh waktu lama kini mereka saling ngobrol.


"Halo Din gimana anak-anak?" tanya Rio panik.


"Gimana apanya? Apa yang terjadi dengan anak-anak? Katakan pak Rio Suganda," tanya Ryan dengan penuh penekan.


Seketika Rio kaget mengapa Ryan yang menelpon dirinya tapi menggunakan ponsel Dinda.


"Halo.." panggil Ryan lalu Rio berusaha fokus kembali.

__ADS_1


"Apa anda tidak diberitahu oleh Dinda?" tanya Rio memastikan.


"Jika sudah diberitahu untuk apa saya menanyakan ini yang kedua kalinya" sindir Ryan.


"Jika Dinda tidak memberitahu mengapa ponselnya bersama dengan anda?" tanya Rio heran.


"Dinda adalah istri saya dan selamanya akan begitu jadi sah-sah saja jika ponsel Dinda mau saya bawa atau tidak dan begitupun sebaliknya," sindir Ryan yang membuat Rio kesal.


"Gue tau lo sekarang suami Dinda, gak perlu di perjelas juga lah," batin Rio kesal.


"Iya saya tau kan saya hanya bertanya, kalau begitu saya akan mengatakan pada anda apa yang terjadi, tadi saya sudah memberitahu Dinda bahwa ada beberapa orang yang mengawasi gerak gerik anak-anak ketika di sekolah, saya meminta Dinda untuk lebih waspada," ucap Rio membuat Ryan kaget.


"Anda tau darimana kalau ada yang mengawasi Farel juga Vanessa?" tanya Ryan.


"Dari seseorang," jawab Rio terkesan menyembunyikan sesuatu.


"Siapa dia? Katakan dengan jelas, tidak mungkin ada yang mengawasi anak-anak jika tidak ada masalah dengan orang tuanya, setahu saya baik saya maupun Dinda tidak memiliki musuh dan selama ini baik-baik saja menjalani hidup pasca pindah rumah dan sekolah," ucap Ryan membuat Rio mati kutu.


"Jangan bilang jika anda penyebabnya?" tebak Ryan.


"Kenapa bisa saya?" sanggah Rio.


"Karena anda yang tau betul jika anak-anak sedang diawasi, pasti ada yang mengancam anda, siapa dia? Rekan bisnis kah?" tebak Ryan.


"Itu bukan urusan anda yang terpenting saya minta lebih awasi anak-anak dan saya percayakan jika anak-anak akan aman berada dibawah perlindungan anda juga ibu kandungnya," jawab Rio semakin membuat Ryan curiga.


"Jelaskan saja sejujurnya ada apa biar saya nantinya tidak salah paham dengan anda," desak Ryan.

__ADS_1


"Ini bukan masalah anda jadi saya hanya meminta awasi saja anak-anak," tolak Rio.


"Jika anda tidak mengatakan dengan jujur maka jika nantinya ada sesuatu dengan anak-anak, orang pertama yang akan saya cari dan minta pertanggungjawaban adalah anda," gertak Ryan.


"Oke saya akan cerita dan meskipun nantinya ada sesuatu dengan anak-anak saya memang pantas di minta pertanggungjawaban, jadi dulunya saya bekerja sama dengan salah satu perusahaan besar dan berpengaruh di Singapura, niat hati ingin melebarkan sayap agar bisa go internasional dengan usaha sendiri malah berujung musibah, uang yang seharusnya untuk investasi malah diambil oleh Sisil yang kini ada di penjara, kini sang pemilik dana datang ke kantor untuk menagih kembali seluruh harta yang sudah ia tanamkan di perusahaan, ya memang ini salahku juga di tengah jalan aku memutuskan sepihak kerja samanya, jadi mungkin saja sekarang ini mereka murka makanya itu meminta uangnya balik secara utuh sedangkan dana yang ada baru berapa saja, padahal sudah saya bayarkan separuh dananya tapi masih saja anak buahnya mengusik kenyamanan ku dengan mengikuti kemana pun aku pergi sampai aku ada di titik paling kesal, lalu saya utarakan maksud hati agar mereka tidak terlalu mencolok mengikuti namun mereka malah mengancam akan mencelakai anak-anak, awalnya aku kira hanya gertakan karena tidak mungkin mereka tau dimana sekolahnya, namun aku salah.. Mereka tau dimana sekolah anak-anak dan mengancam akan mencelakai mereka jika aku sampai mempermainkan mereka," keluh Rio yang membuat Ryan murka.


"OH JADI KARENA ULAH MU KINI DINDA YANG HARUS MENANGGUNG AKIBATNYA, APA ANDA TAU KARENA INFORMASI YANG TADI ANDA SAMPAIKAN MEMBUAT ISTRI DAN ANAK SAYA HAMPIR SAJA KEHILANGAN NYAWANYA, DINDA HARUS DILARIKAN KE RUMAH SAKIT KARENA MENGALAMI PENDARAHAN HEBAT JUGA AIR KETUBANNYA KERUH, KINI MAU GAK MAU ANAK KAMI YANG SEHARUSNYA BELUM LAHIR KE DUNIA DIHARUSKAN LAHIR AGAR IBU DAN BAYINYA SELAMAT, SUDAH DUA KALI ANDA SELALU MENCELAKAI ISTRI SAYA DAN ITU SEMUA BERUJUNG PENDARAHAN, APA MAU ANDA SEBENARNYA, HA? ANDA MAU ISTRI SAYA MENGALAMI KESUSAHAN? BEGITU?" pekik Ryan sungguh emosi.


"Apa? Dinda harus melahirkan? Sungguh gak ada niatku untuk memperburuk kondisi kehamilan Dinda, jika bukan mereka sendiri yang mengatakannya mana saya tau kalau anak-anak diawasi oleh mereka," ucap Rio.


"Apapun itu andalah penyebab istri saya celaka," ucap Ryan geram.


"Maafkan saya sungguh saya menyesalinya," pinta Rio namun tak di gubris oleh Ryan dan memilih mematikan panggilan.


Ryan seketika geram dengan boy, ia merasa apa boy mempermainkan dirinya hingga berani mengusik anak-anak.


"Halo boy," sapa Ryan.


"Hei yo bro, whats wrong?" tanya boy yang sedang menikmati minuman memabukkan sambil menghisap rokok.


"Apakah lo lupa jika ingin menolong gue menghancurkan Rio Suganda?" tanya Ryan.


"Tidak.. Malahan ini gue lagi suruh anak buah untuk terus teror Rio," sanggah boy.


"Tapi barusan saja Rio Suganda telpon istri gue dan mengatakan jika anak-anak diawasi oleh sekelompok orang yang berperawakan mirip preman," ucap Ryan.


"Loh yang benar saja? Saya tidak memerintahkan itu pada mereka, saya hanya meminta mereka menghancurkan Rio Suganda," ucap boy juga terkejut.

__ADS_1


"Jika terbukti anak buah anda yang melakukan ini sungguh saya kecewa sekali," ucap Ryan kecewa.


"Biarkan saya konfirmasi dulu ke anak buah, jika benar maka langsung saya berikan hukuman," pamit boy lalu mematikan panggilan. Setelah menelpon Ryan kini boy menelpon anak buahnya yang ada di Indonesia.


__ADS_2