
Masa dirumahkan nya kini sudah berakhir, Sisil hari ini kembali bekerja dengan penampilan dan wajah yang lebih fresh, ia tidak mau lagi diganggu oleh Maya. Apapun yang terjadi Sisil akan fokus bekerja.
"Akhirnya lo kerja juga Sil," ucap Wina-salah satu teman kantornya.
"Iya nih, memangnya kenapa ya?" tanya Sisil.
"Itu sih Maya sok jadi bos disini, mana semua pekerjaan ia bagi-bagi ke temennya lagi, alhasil kita semua sering lembur karena ulah Maya," keluh Wina.
"Kenapa kamu mau-mau aja di suruh Maya," ucap Sisil heran.
"Dia mengancam kita Sil kalau gak bantuin kerjaan dia nanti nasibnya bakal sama kayak lo," keluh Wina.
"Emang wanita sialan dia tuh, benalu, lapor aja sama pak Ronald," ucap Sisil memprovokasi.
"Maunya sih gitu, tapi ketika salah satu dari kita mau lapor selalu dihadang Maya," keluh Wina.
"Kalian itu jumlahnya banyak, kenapa bisa kalah sama satu orang? Lawan dong kalau gak gitu bakalan tuman tuh si Maya!" tegur Sisil.
"Nanti bantuin kita ya Sil, jujur kita capek kalau harus lembur," pinta Wina.
"Gue usahain deh, tau sendiri kan gue baru kembali kerja hari ini, kalau buat masalah bisa-bisa kena SP 2" ucap Sisil gak janji.
"Iya Sil gak papa," jawab Wina sedikit kecewa.
Sebelum Sisil masuk ke ruang kerjanya, terlebih dahulu Sisil menemui Ronald untuk membahas Maya.
"Nal, ada yang mau gue bahas," ucap Sisil asal masuk ruang kerja Ronald.
"Astaga Sisil, ketuk pintu dulu napa? Ngagetin aja," protes Ronald.
"Kelamaan, maaf!" jawab Sisil.
"Ada apa?" tanya Ronald.
"Itu si Maya, kata teman kantor dia selalu membuat temannya terpaksa lembur dengan memberikan job desk dia ke temannya, kasihan mereka dong lagian kenapa sih kamu kalah sama Maya? Dia itu bawahan mu loh," protes Sisil.
"Susah mendepak Maya dari sini, dia keponakan kepala marketing sini," ucap Ronald.
"Halah baru keponakan kan? Harusnya jangan sungkan, kalau salah ya ditegur atau perlu dipecat, kasihan rekan kerjanya dong diperas sama dia, sedangkan dia enak-enakan ongkang kaki, kalau dia tau gue udah kerja bisa semakin seenaknya, aku gak mau ya meladeni wanita seperti Maya lagi! Aku gak mau ribut dengannya jadi tolong tindak tegas Maya segera, aku butuh duit buat bertahan hidup jadi aku gak mau selalu terlibat masalah," gertak Sisil.
"I know.. Aku usahakan memberikan dia teguran dulu, kalau langsung ke SP bisa menimbulkan tanda tanya omnya nanti," ucap Ronald.
__ADS_1
"Whatever! Intinya aku gak mau punya kasus lagi sama dia, titik!" gertak Sisil lalu keluar dari ruangan.
Baru juga Sisil membicarakan ini pada Ronald, langkah nyata sudah menghantuinya. Maya kaget melihat Sisil kembali bekerja dan para pekerja yang lain pun sama, ada yang merasa senang dengan kembalinya Sisil disini namun ada juga yang merasa tak suka, Sisil bersikap bodoh amat dengan tetap berjalan ke ruang kerjanya.
"Baru berangkat kok udah langsung kerja aja, emang tau apa job deskmu?" sindir Maya.
"Taulah, tuh," tunjuk Sisil dengan setumpuk map dimeja kerjanya.
"Sedikit amat, nih gue tambahin," ucap Maya menambahkan beberapa map ke meja Sisil namun respon yang ditunjukkan Sisil ialah membuang map milik Maya.
"Heh!! Itu map penting, asal main buang aja!" protes Maya.
"Kalau penting ya kerjakan sendiri jangan bisanya menyuruh orang," sindir Sisil fokus kerja.
"Kan gue menambahkan pekerjaanmu," jawab Maya.
"Gak perlu, pekerjaan ini aja belum selesai, jangan jadi benalu pada rezeki orang! Minggir sana kembali ke mejamu, kerjakan apa yang sudah jadi pekerjaanmu, jangan membuat darahku naik!" gertak Sisil.
"Baru kembali kerja sehari udah belagu amat," cibir Maya namun Sisil tak menggubrisnya sama sekali. Akhirnya Maya kembali ke tempat kerjanya dengan perasaan dongkol.
Seluruh pekerjaan membuat Maya merasa pusing, hingga jam pulang tiba namun pekerjaan Maya belum juga selesai, akhirnya Maya seperti biasa, membagi-bagikan pekerjaan untuk teman sekantor nya. Tak lupa Sisil juga mendapat bagian malah 2x lipat lebih banyak.
"Apaan nih? Enak sekali ya asal bagiin kerjaan, bagiin tuh makanan apa uang!" protes Sisil.
"Gak mau! Kerjakan sendiri dong, gue mau pulang!" tolak Sisil yang membuat Maya kesal.
"Hanya kerjakan segitu saja kok gak mampu," sindir Maya.
"Ya gak mampu dong itu kan pekerjaanmu;" jawab Sisil mengambil tas dan berlalu pergi.
"Heh tunggu dulu! Gimana ini!?" teriak Maya namun tak ditanggapi oleh Sisil.
"Mau selesai bekerja ya jangan banyak omong! Emang perusahaan nenek moyangmu apa!" teriak Sisil sambil berjalan menjauh.
"Makin lama makin berani dia," gumam Maya kesal.
Hingga didepan kantornya, Sisil sedang memesan taksi online namun tangannya dicekal oleh seorang pria yang membuat Sisil terkejut, dia adalah Rio.
Rio memang sengaja datang lebih awal untuk bertemu Sisil, ia ingin membawa Sisil pulang dan menyelesaikan masalah di rumah.
"Mas Rio?" tanya Sisil kaget.
__ADS_1
"Ayo ikut pulang," ajak Rio.
"Gak mas, aku dirumah mamah aja," tolak Sisil.
"Please, kali ini ikutlah pulang, papah mencari mu," pinta Rio penuh harap.
"Oke.. Kita pulang demi papah," jawab Sisil setuju.
"Baiklah makasih," jawab Rio senang lalu melajukan mobil menuju rumah mewahnya.
Didalam rumah suasana sedang sepi, papahnya kebetulan tak ada di rumahnya, sedang terapi kata pembantunya. "Ayo Sil kita ke kamar dulu," ajak Rio dan Sisil pun setuju.
Didalam kamar Sisil segera membersihkan diri dan berganti pakaian, sedangkan Rio hanya selonjoran di sofa panjang sambil bermain ponsel.
"Apa papah akan lama?" tanya Sisil.
"Gak tau juga," jawab Aldo.
"Mending aku ke rumah mamah dulu deh baru besok kesini," pinta Sisil.
"Gak.. Tetaplah disini," ucap Rio tegas.
"Tolong jangan kemana-mana, aku capek mencarimu dan aku sampai gila karena hal itu," keluh Rio.
"Nyatanya gak gila kan mas?" sindir Sisil.
"Kamu banyak berubah Sil," protes Rio.
"Manusia mas, wajar kalau mengalami perubahan," jawab Sisil seadanya.
Tak berselang lama panggilan masuk datang dari ponsel Sisil, tertera nama Ronald di sana.
"Ngapain dia telepon kamu?" tanya Rio.
"Mungkin bahas pekerjaan, bentar aku angkat dulu," jawab Sisil lalu menerima panggilan Ronald.
"Loud speaker," pinta Rio.
"Gak.. Hargai privasi orang mas," tolak Sisil.
Lalu Sisil memilih keluar kamar dan melanjutkan teleponan dihalaman depan, terdengar tawa riang Sisil ketika mengobrol dengan pria itu, berbeda ketika Sisil sedang dengannya. Apakah sekarang Sisil sudah tak bahagia lagi bersama dengannya? Bukankah dulu Sisil sangat cinta padanya? Apa rasa itu terkikis dengan kehadiran Ronald di hidupnya??
__ADS_1
Bagaimanakah nanti kelanjutan kisah cinta Sisil, Rio dan Ronald?