
Setelah selesai makan siang bersama kini Dinda juga Fio bergegas kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan yang menantinya.
"Do gue balik duluan ya, thanks atas traktirannya," ucap Dinda senang.
"Its okay.." jawab Aldo santai.
"Makasih mas Aldo atas gratisannya," ucap Fio sungkan.
"Oh iya sama-sama.." jawab Aldo ramah.
"Serius nih lo gak ada niat buat minta nomernya Fio? Dia cakep loh masih jomblo lagi," bisik Dinda.
"Apaan sih Din jangan aneh-aneh deh," tolak Aldo dengan suara kencang hingga membuat Fio kaget.
"Jangan ngegas juga kali," sindir Dinda sambil tertawa.
"Udah sana balik kerja," usir Aldo.
"Ah serius nih usir gue? Besok gue gak mau lagi loh datang kesini," sindir Dinda.
"Eh jangan dong.. Katanya tadi mau balik yasudah silahkan," jawab Aldo kelabakan.
"Makanya jangan main usir, gue dan Fio termasuk customer loh.. Ingat kan kalau pembeli adalah raja," goda Dinda.
"Mana ada pembeli maunya gratisan," sindir Aldo.
"Ya namanya rezeki nomplok, ya gak Fio?" tanya Dinda menyenggol bahu Fio dan dijawab hanya dengan senyuman.
"Bikin buntung.." ejek Aldo.
"Haha.. Udah ah gue balik dulu, bye Aldo," pamit Dinda lalu berjalan ke kantornya.
Sesampainya di kantor, Fio terus mengikuti Dinda sampai di ruangannya.
"Loh kamu ngapain ikut kesini?" tanya Dinda kaget.
"Hmm ada yang mau saya bicarakan bu," jawab Fio ragu-ragu.
"Bicara apa? Sini duduk," tanya Dinda penasaran.
"Mengenai teman sekolah anda dulu bu," jawab Dinda sungkan.
"Oh si Aldo? Kenapa emangnya? Naksir?" tebak Dinda sambil tertawa.
__ADS_1
"Ah ibu ini mana ada saya langsung suka sama beliau, ini beda bu.." ucap Fio serius.
"Bedanya gimana?" tanya Dinda penasaran.
"Apa ibu gak merasa lain dengan sikap teman ibu itu?" tanya Fio hati-hati.
"Emm enggak tuh memang yang kamu maksud itu lain yang bagaimana?" tanya Dinda bingung.
"Ya kayak memiliki perasaan terhadap ibu," jawab Fio to the poin.
"Haha mana mungkin sih? Gak bakalan lah Fio.. Kita itu udah temenan dari lama bahkan pernah satu bangku," sanggah Dinda.
"Tapi perasaan saya berkata demikian bu," ucap Fio serius.
"Memang perasaanmu berkata bagaimana?" tanya Dinda penasaran.
"Perasaan saya mengatakan kalau teman ibu memiliki rasa terhadap ibu dan bisa jadi itu sudah berlangsung dari lama, mungkin sejak sekolah, apa ibu gak bisa merasakannya?" cecar Fio.
"Gak ah, gak mungkin Aldo kayak gitu," sanggah Dinda.
"Percayalah bu suatu saat perkataan saya ini benar adanya," ucap Fio serius.
"Jangan overthinking Fio.. Dia memang orangnya begitu kok," jawab Dinda santai.
"Boleh dong silahkan," jawab Dinda.
"Apa teman ibu sudah tau kalau sekarang ini anda statusnya sudah menikah dan memiliki anak?" tanya Fio hati-hati.
"Belum tuh, kenapa?" tanya Dinda kepo.
"Itu dia masalahnya.. Lebih baik ibu jujur dari sekarang daripada nanti perasaan teman ibu semakin dalam, saya yang baru pertama melihat saja langsung tau kalau dia menyukai ibu, terlihat dari sorot matanya bu," tegur Fio.
"Iya sih aku memang belum ada omongan kalau udah menikah la habisnya dia gak nanya," ucap Dinda sembari berpikir.
"Mungkin dia taunya ibu masih single apalagi gak pernah kan ibu menolak ajakannya untuk makan bersama," ucap Fio ada benarnya juga.
"Benar juga sih.. Tapi masak iya Aldo gak tau kalau saya udah menikah," gumam Dinda.
"Coba saja bu lain waktu kalau bertemu lagi, coba ibu jujur pada teman ibu tentang status ibu yang sebenarnya, maaf ya bu bukannya saya bermaksud ikut campur tentang hal pribadi ibu namun ini demi kebaikan dan keutuhan rumah tangga ibu sekarang bahkan seterusnya," ucap Fio memperingati.
"Iya deh nanti saya coba, btw makasih ya udah sangat peduli terhadap saya," jawab Dinda senang.
"Iya bu sama-sama.. Saya merasa sayang saja kalau nanti kesalahpahaman ini berlanjut panjang dan akhirnya teman ibu terluka, tak hanya itu saja takutnya nanti bapak juga tau kan urusannya bisa beda lagi bu," tegur Fio.
__ADS_1
"Iya kamu benar Fio makasih ya udah mengingatkan saya.. Harusnya saya jaga jarak sama Aldo bukan malah meresponnya setiap dia chat saya, makasih sekali lagi," ucap Dinda sangat terang jalan pikirnya.
Selama ini dia terlalu menganggap Aldo hanyalah teman biasa dan tidak mungkin diantara mereka ada perasaan, mengingat dulu keduanya sangatlah dekat. Namun perkataan Fio memang ada benarnya, lebih baik aku jujur dari sekarang dengan statusku yang sebenarnya sebelum nantinya Aldo salah paham. Memang sih dulu Aldo pernah menembak tapi langsung ditolak karena Dinda mau fokus sekolah dulu, apa iya perasaan Aldo masa itu terbawa sampai sekarang? Ah rasanya mustahil mengingat itu sudah berpuluh tahun yang lalu.
"Mana ada pria yang mempertahankan cinta yang ditolak selama bertahun-tahun? Apakah yang dikatakan Fio itu benar adanya atau hanya overthinking darinya saja? Sebenarnya mau gue tanyakan langsung sama Aldo tapi nanti terkesan nya seperti terlalu percaya diri gak sih atau bahkan sok kecantikan? Ah kenapa membingungkan sekali sih.. Semoga saja insting Fio salah," batin Dinda bimbang.
Setelah kepergian Fio dari ruangannya, Dinda selalu saja kepikiran tentang warning dari karyawannya itu. Entah kenapa perkataan Fio rasanya memang masuk akal dan logis namun kenyatannya sepertinya tidak, Aldo dari dulu memang orangnya kan begitu sama semua orang yang dia kenal bahkan sangat baik, apa karena itu ya yang membuat Fio menyimpulkan jika Aldo memiliki rasa terhadapku?
Lalu Dinda kembali memanggil Fio.
"Iya bu ada apa?" tanya Fio.
"Maaf ya ini membahas diluar pekerjaan," jawab Dinda memberitahu.
"Iya bu," jawab Fio setuju.
"Masalah tadi siang ketika kita makan bersama kan kamu menyimpulkan kalau Aldo memiliki rasa padaku dari sorot matanya? Benar kan?" tanya Dinda memastikan.
"Ya bu benar," jawab Fio.
"Apa karena kamu juga melihat Aldo begitu baik dan perhatian padaku?" tanya Dinda lagi dan Fio mengangguk.
"Oh jadi karena itu to, sudah saya duga.. Gini ya Fio bukannya saya menyanggah insting mu namun Aldo memang orangnya seperti itu sama yang dia kenal apalagi kenal sekali, bahkan kebaikannya pun sangatlah baik, dia tidak akan cuma-cuma untuk orang yang bener dia kenal baik makanya kamu mungkin heran dan menganggap bahwa Aldo ada rasa terhadapku, semua yang dikenalnya akan diperlakukan demikian kok jadi bukan hanya saya saja," ucap Dinda meluruskan.
"Ya kalau sifat memang mungkin seperti yang anda katakan tadi, tapi apa ibu beneran gak bisa merasakannya? Banyak loh bu kode yang dia berikan agar ibu itu tau dia menyukai ibu," ucap Fio heran.
"Dari dulu sampai sekarang perasaan saya pada Aldo ya begini saja, gak ada perubahan," jawab Dinda seadanya.
"Ya gimana ya bu saya juga gak enak kalau ikut campur lebih.. Saya sudah memberi saran kan kalau next time kalian bertemu lagi coba deh ibu awali dengan pembahasan kehidupan pribadi sampai status, nanti ketika teman ibu tau status ibu yang sebenarnya ibu kan bisa menangkap perubahan yang signifikan," ucap Fio.
"Iya deh saya akan coba," jawab Dinda mengalah.
"Iya bu.. Kalau sudah tidak ada yang dibahas lagi saya permisi," pamit Fio. Ketika dia berjalan membuka pintu, terpintas di benak Dinda untuk menjodohkan mereka.
"Aha gue jodohin aja Aldo sama Fio kan mereka sama-sama sendiri tuh lagian kalau nantinya Aldo tau gue udah nikah habis itu kecewa setidaknya kan dia ada pengganti," batin Dinda.
"Fio.." panggil Dinda.
"Iya bu?" tanya Fio.
"Nanti saya berikan nomormu ke Aldo ya biar kalian bisa saling kenal, siapa tau jodoh," ucap Dinda membuat Fio terkejut.
"Apa bu? Gak usah..." tolak Fio namun Dinda tak mau mendengar bantahan. Fio akhirnya hanya bisa pasrah dan bisa saja ini jalan baginya untuk mengetahui apakah instingnya benar atau tidak.
__ADS_1