
Sudah seminggu Dinda tidak bertemu dengan kedua buah hatinya.. Rasa rindu menyelimuti dirinya, ingin sekali Dinda pulang ke rumah dan kembali menjalankan aktifitas bersama namun sayang keadaan tidak memungkinkan untuknya pulang cepat apalagi anaknya belum dinyatakan sembuh.
Semua ibu pasti akan merasakan sedih ketika melihat sang buah hati yang masih merah harus mengalami cobaan seberat ini, hampir seluruh tubuhnya terpasang selang infus. Setiap Dinda berkunjung ke ruang bayi selalu saja air mata lolos ke pipinya. Dinda tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya dan sesaknya.. Ingin sekali Dinda menggantikan posisi sang buah hati, Dinda sungguh tak tega.
Ketika Dinda sedang memompa asi untuk sang bayi, Farel dan Vanessa melakukan video call.
"Hai mommy.. How are you?" sapa Farel dan Vanessa kompak.
"Hai anak mommy.. I'm fine thank you, how about you?" tanya Dinda sangat rindu.
"I'm very well mom.. Mommy lagi ngapain?" tanya Vanessa penasaran.
"Mommy lagi pompa asi untuk adik bayi," jawab Dinda lembut.
"Belum selesai ya mom?" tanya Farel.
"Sebentar lagi selesai kok nih udah penuh," jawab Dinda menunjukkan hasil pompanya.
"Kenapa gak langsung aja sih mom? Kenapa harus di pompa dulu?" tanya Vanessa kepo.
"Karena adik kalian belum bisa menyusui secara langsung, kalian sebagai kakak doakan yang terbaik dan kesembuhan untuk adik kalian ya agar adik kalian segera pulang," pinta Dinda penuh harap.
"Pasti mom.. Kami selalu mendoakan supaya adik dan mommy segera sembuh dan cepat pulang, we miss you so much mom," jawab Vanessa sedih.
"I miss you too baby girl," jawab Dinda sedih.
"Boleh kami liat adik kecilnya mom?" pinta Vanessa dan dijawab anggukan oleh Dinda.
Ketika Vanessa dan juga Farel sedang melihat adik barunya, ibunda Ryan tak sengaja melihat dan mengambil alih panggilan.
"Boleh gak kalau oma bicara sebentar sama mommy?" tanya ibunya Ryan.
"Boleh oma.. Nih," jawab Farel lalu menyerahkan tablet nya.
__ADS_1
"Halo Dinda.. Bagaimana kabarmu sayang?" tanya ibunya Ryan penuh perhatian.
"Mamah? Kabar Dinda alhamdulillah semakin membaik mah, kabar mamah bagaimana?" tanya balik Dinda terkejut.
"Syukurlah mamah senang mendengarnya, kabar mamah juga baik.. Maafin mamah ya belum bisa ke sana soalnya art di rumah mamah ada yang pulang kampung, kalau nanti mamah ninggalin Farel dan Vanessa sendirian disini kasihan dong nanti gak ada yang awasi, mamah usahakan beberapa hari ini akan menjenguk mu dan juga cucu mamah sembari menunggu art pocokan datang," ucap ibunda Ryan sangat perhatian.
"Iya mah gak papa.. Farel dan Vanessa udah di perbolehkan tinggal di sana saja Dinda sudah bersyukur kok mah," jawab Dinda merendah.
"Kamu ini ngomong apa? Mereka juga cucu mamah jadi mau kapan pun mereka disini dan sampai kapan pun tinggal disini mamah akan sangat senang," ucap ibunya Ryan.
"Makasih mah udah baik sama Dinda dan anak-anak," jawab Dinda terharu.
"Untuk apa? Karena kamu memang pantas dan berhak mendapatkan ini, mana cucu mamah? Mamah mau lihat dong," pinta ibunya Ryan dan Dinda mengalihkan kamera ke sang bayi.
"Astaga cucu mamah.. Yang kuat ya sayang, anak laki-laki harus kuat dan hebat, segera sembuh yuk anak tampan.. Disini sudah banyak yang menanti kedatangan mu," ucap ibunya Ryan sambil menyeka air mata, mau di tutupi seperti apapun seorang nenek pasti tidak akan tega melihat cucunya dengan kondisi seperti itu.
"Maafin Dinda ya mah karena Dinda kurang hati-hati menjaga kandungan Dinda jadinya begini, cucu mamah yang jadi korbannya," ucap Dinda penuh penyesalan.
"Tetap saja mah akibat kecerobohan Dinda jadinya cucu mamah lahir sebelum waktunya," ucap Dinda sedih.
"Sudah sudah jangan bersedih gitu nanti anak-anak jadi ikutan sedih, yang terpenting kamu fokus untuk sembuh dan juga cucuku semoga segera pulih," harap ibunya Ryan.
"Aamiin.. Makasih doanya mah," jawab Dinda.
"Sama-sama.. Yasudah ya sayang teleponnya sampai sini dulu kebetulan mamah ada tamu," pamit ibunya Ryan dan Dinda hanya mengangguk sambil tersenyum.
Di rumah orang tua Ryan, kedua anak Dinda di perlakukan sangat baik dan bahkan sudah dianggap sebagai cucu kandung mereka. Maka tak ayal jika Vanessa juga Farel sangat betah tinggal disini, apapun yang mereka inginkan semuanya terwujud.. Tak pernah sekalipun kedua orang tua Ryan marah pada si kembar.
Kedua orang tua Ryan memang sangat menginginkan sosok cucu di keluarga ini makanya ketika mengetahui Dinda seorang janda anak dua, kedua orang tua Ryan tak merasa keberatan karena memang sosok penerus lah yang di harapkan di keluarga Ryan dan akhirnya atas izin Tuhan kini Ryan dan Dinda di titipkan seorang putra yang sangat tampan bahkan wajahnya pun mirip sang papah.
"Vanessa.. Farel.." panggil ibunya Ryan.
"Iya oma," jawab keduanya kompak dan bergegas menghampiri.
__ADS_1
"Cucu oma.. Lihat nih oma belikan apa?" tunjuk ibunya Ryan pada dua buah mainan yang sangat besar.
"Wahh.. Ini kan harganya mahal sekali oma, dulu waktu belanja di mall sama mommy ingin sekali bilang mau beli ini tapi gak berani, takutnya nanti uang mommy habis.. Kan mommy udah capek kerja," ucap Farel dengan polosnya dan ibunya Ryan merasa simpati.
"Sekarang kalau kalian ingin sesuatu dan sungkan bilang ke mommy atau pun papah Ryan kalian boleh loh langsung bilang ke oma dan opa," ucap ibunya Ryan membuat kedua anak Dinda bersorak gembira.
"Serius oma? Hore.." seru keduanya senang.
"Serius dong mana pernah oma bohong sama kalian," jawab ibunya Ryan antusias.
"Makasih ya oma.. Sayang oma," jawab keduanya kompak dan memeluk ibunya Ryan berbarengan.
"Aduh pelan-pelan dong oma hampir jatuh nih kalian ini makin hari makin gemuk, oma sampai kewalahan menopangnya," ucap ibunya Ryan sembari tersenyum bahagia.
"Hehe maaf ya oma," jawab Farel sambil menggaruk kepala yang tak gatal.
"Maaf oma.." jawab Vanessa sembari memainkan jari.
"Tidak apa-apa.. Oma senang kalau kalian tinggal disini," ucap ibunya Ryan bahagia.
"Kami juga senang kok tinggal sama oma," jawab Vanessa menimpali.
"Farel gak senang ya tinggal sama oma?" tanya ibunya Ryan penasaran.
"Senang oma tapi lebih menyenangkan lagi kalau ada mommy, papah dan adik kecil disini jadinya kan rumah sebesar ini nantinya ramai," ucap Farel berharap.
"Nanti kita suruh saja mommy dan papah tinggal disini, kan rumah ini banyak kamar yang kosong," ucap ibunya Ryan yang disambut binar bahagia Farel.
"Boleh oma?" tanya Farel memastikan dan ibunya Ryan menjawab dengan anggukan kepala sembari tersenyum manis.
"Asyik.. Makasih ya oma.. Oma baik sekali," ucap Farel sangat senang.
"Semua ini oma lakukan demi kebahagiaan kalian.. Setelah diberitahu segalanya tentang kalian rasanya oma sangat sedih, bahkan sebagai sesama perempuan oma pun merasa tidak terima ketika mommy kalian diperlakukan seperti itu... Hati oma sangat sakit dan sedih padahal oma bukan yang menjalani, oma hanya sebagai pendengar kisah mommy kalian bagaimana dengan Dinda? Dia sungguh wanita yang kuat dan cerdas, pantas saja anakku sampai mengejarnya.. Memang Dinda dan anak-anak nya patut di bahagiakan.. Dinda, Farel dan juga Vanessa sekarang kalian sudah menemukan rumah yang tepat," batin ibunya Ryan.
__ADS_1