
Setelah ungkapan perasaan yang terdalam Dito di hadapan banyak orang, kini giliran Vika yang menentukan jawabannya. Dito berharap jika Vika memang memiliki rasa yang sama terhadapnya.
"Gimana Vika? Apakah pernyataan rasaku ini diterima?" tanya Dito memastikan.
"Haruskah dijawab sekarang?" tanya Vika.
"Ya.. Lebih cepat lebih baik, katakanlah apa yang ada di hatimu, aku tidak memaksa," jawab Dito bijak.
"Nanti malu loh di hadapan karyawan mu," celetuk Vika.
"Terpenting rasa ini telah tersampaikan," jawab Dito berusaha tenang meskipun hatinya khawatir akan penolakan yang dilakukan Vika, benar katanya jika nanti Vika menolak sudah pasti ia akan malu bukan main. Mana reputasinya sebagai bos akan dipertaruhkan.
"Yah.. Memang sih selama ini kamu baik dan perhatian padaku, tapi apa iya hanya itu saja?" tanya Vika memastikan.
"Ma.. Maksudmu?" tanya Dito tak paham.
"Wanita butuh kepastian pak Dito, jika hanya untaian kata saja semua pria bisa melakukannya," sindir Vika.
"Jadi.. Jadi kamu sama sekali tidak terpana dengan pengakuan ku didepan karyawan ku sendiri??" tanya Dito tak percaya.
"Bukan begitu.. Aku percaya kok, hanya saja kepastian lebih meyakinkan," jawab Vika.
"Katakan saja apa mau kamu," ucap Dito mulai kesal.
"Mudah saja kok, datanglah bersama kedua orang tuamu jika memang aku ini wanita yang kau seriusi," jawab Vika dengan santai dan tak lupa senyum manisnya.
"Itu sudah ada dalam pikiranku, tinggal bagaimana jawaban darimu, jika setuju maka malam ini juga aku minta orang tuaku menemui keluargamu," ucap Dito dengan mantap, hati Vika semakin yakin untuk memilih Dito dan anggukan kepala dari Vika dengan senyuman terindah darinya seolah memberi jawaban jika Vika menerima pernyataan hatinya.
__ADS_1
"Gimana? Jangan angguk-angguk aja ini bukan konser," protes Dito penasaran.
"Aku terima perasaanmu dan tak lupa aku tunggu kehadiranmu beserta kedua orang tuaku," jawab Vika
"Baiklah.. Sampai ketemu nanti malam, hari ini kamu boleh izin pulang lebih awal dan persiapkan semuanya dengan baik," ucap Dito bahagia.
Suara tepukan tangan dan siulan beberapa karyawan membuat suasana menjadi lebih meriah, Dito tak menyangka jika ia memiliki ide gila seperti ini untuk menembak cewek. Semua ia lakukan secara spontanitas, memang Dito ingin kali ini ia menyatakan perasaannya dengan hal yang berbeda dan semua sekarang sudah terlaksana dengan lancar. Hati Dito saat ini berbunga-bunga, tak lupa ia mengucapkan terima kasih kepada karyawannya yang sudah menyaksikan momen ini dan meminta semua karyawannya untuk bekerja hanya setengah hari saja sebagai wujud rasa bahagia darinya. Sontak saja kejutan kecil ini disambut baik dan suka cita oleh seluruh karyawan mana hari ini tepat mereka gajian pula, memang keberuntungan tidak akan datang dua kali, pernyataan cinta yang diterima oleh Vika berdampak besar untuk semuanya.
***
Malam hari telah tiba, Vika sudah bersiap menyambut kedatangan tetangga sebelah rumahnya itu dengan balutan kebaya modern berwarna merah maroon dan polesan make up natural dari MUA terkenal di kota ini semakin menambah kesan cantik dan mempesona Vika dimalam ini.
Keluarga Dito sudah tiba dan membawa beberapa seserahan sebagai bentuk ikatan kedua anaknya. Sebuah seserahan yang terdiri dari kue berbentuk love yang dibeli dari toko roti ternama, tas dan juga jam branded yang harganya bukan main-main belum lagi beberapa aneka snack yang dibawa dari keluarga Dito semakin menambah keintiman acara ini.
"Selamat malam.. Terima kasih sudah menyambut kedatangan kami dengan cukup baik, meskipun kita bersebelahan rumah namun kedatangan kami kali ini memiliki makna yang berbeda, maksud dan tujuan kedatangan kami kemari untuk menanyakan ananda Vika agar kelak menjadi pendamping hidup anak laki-laki saya, Dito," ucap Bramantyo dengan tenang namun penuh makna.
"Jawablah dengan kehendak hatimu dan pikirkan dengan matang, kehidupan pernikahan tidaklah mudah dan masalah akan terus berdatangan dari berbagai arah," ucap Indah memberi wejangan.
"Iya tante.. Vika sudah memikirkan semuanya dengan baik dan tenang," ucap Vika sangat yakin.
"Semua keputusan tante serahkan padamu, semoga ini jalan kamu dalam menggapai kebahagiaan," doa tante dengan tulus dan Vika mengangguk.
"Maaf sudah menunggu jawabannya cukup lama, saya sudah mengatakannya kepada pak Dito waktu di kantor tadi dan kali ini saya akan mengulang jawaban di hadapan keluarga, saya Vika Isyana Cantika bersedia dan siap menerima lamaran dari saudara Dito Maulana Bramantyo," ucap Vika dengan tegas dan mantap. Dito yang mendengarnya tersenyum merekah, tak menyangka jika wanita pujaannya akan memiliki keberanian sebesar itu. Memang ia tak salah lagi menjadikan Vika calon istri.
"Alhamdulillah jika dari pihak wanita sudah menyetujui dan menerima lamaran dari kami, maka tinggal membahas kapan acara pernikahan akan berlangsung dan bagaimana nanti konsepnya," ucap Bramantyo dengan lega.
"Untuk konsep pernikahan kami serahkan semuanya kepada Dito juga Vika, mereka yang nantinya akan menjadi raja dan ratu sehari, jadi kami tidak mau merusak momen itu," ucap Yudhi.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu biar nanti dibahas oleh kedua anak kita, sekarang kita sebagai orang tua membahas waktunya saja," ucap Bramantyo.
"Vika.. Kamu mau tanggal berapa?" tanya Yudhi.
"Aku belum ada kepikiran om," jawab Vika.
"Loh.. Kan kalian sepakat mau menikah," ucap Yudhi.
"Iya.. Tapi tanggalnya belum pasti om," jawab Vika.
"Begini saja.. Bagaimana kalau acara diadakan lamaran secara resmi dulu? Bisa diadakan bulan depan, untuk tanggal pernikahan nantinya menyusul, selagi kedua calon mempelai bisa berpikir," usul Indah.
"Boleh tante.. Dito setuju, lebih baik lamaran resmi dulu aja pah, setelah itu bahas tanggal pernikahan," usul Dito akhirnya bersuara.
"Baiklah bulan depan kita adakan lamaran untuk Dito juga Vika, tempatnya dimana?" tanya Bramantyo.
"Disini.. Iya saya usul disini saja, di rumah ini," usul Indah.
"Gimana Vika dan Dito?" tanya Bramantyo.
"Jangan.. Kami ingin yang berbeda dari biasanya, aku ada ide untuk acara lamaran dilakukan di kantor saja pah, di ballroom, tempat dimana kami menyatukan hati," usul Dito.
"Papah masih mampu menyewakan tempat yang lebih bagus Dito, jangan membuat malu papah," tegur Bramantyo tak setuju.
"Hanya acara lamaran saja pah setelah itu tidak di sana lagi, memang di ballroom tempat kami menyatukan hati kok pah, tanya aja Vika," pinta Dito.
"Baiklah.. Baik.. Acara lamaran diadakan di ballroom kantor, namun ingat ya Dito hanya acara lamaran saja, setelah itu jangan di sana lagi, jangan bikin malu papah, jangan sampai tamu undangan mengira jika papah kamu irit biaya," tegur Bramantyo dan Dito hanya mengacungkan jempol saja menandakan jika ia siap.
__ADS_1
Wah.. Gercep aja nih main lamaran aja, padahal baru pagi tadi saling mengungkapkan rasa.