
"Urusin saja masalah perusahaan mu yang hampir gulung tikar mas, itu jauuuhhh lebih penting daripada kamu mengurusi usahaku," tegur Dinda kesal.
"Kamu.. kamu tau darimana Din?" tanya Rio kaget.
"Meta yang memberitahu bagaimana kondisi perusahaan mu sekarang," ucap Dinda membuat Rio terkejut.
"Me..Meta? Jangan bilang Meta yang dulunya sekretaris ku," tanya Rio terkejut.
"Benar sekali," jawab Dinda dingin.
"Bagaimana bisa kamu kenal dengan Meta? Dia sudah resign dari perusahaan," tanya Rio penasaran.
"Dia teman SMA ku mas dan beberapa bulan yang lalu kami mengadakan reuni, di sana dia mengeluh bagaimana perusahaan tempatnya dia bekerja, aku sempat terkejut karena dia bekerja di perusahaan mu apalagi tau posisi perusahaan hampir gulung tikar, tapi aku sadar kalau sekarang posisiku hanyalah mantan istri, jadinya ya aku cukup tau saja sambil mendoakan yang terbaik untuk perusahaan mu," ucap Dinda dengan tenang.
"Bisa-bisanya ya Meta membuka aib perusahaan, semua ini karena dia dan juga Sisil.. Mereka sepupu Din," ucap Rio membuat Dinda lebih terkejut.
"Se..sepupu?" tanya Dinda syok.
"Iya.. Mereka sepupu jauh, awalnya aku juga gak tau karena aku pun bingung dengan silsilah keluarga Sisil, dia merekomendasikan Meta sebagai sekretaris dengan dalih kalau sekretaris ku yang dulu tidak becus bekerja apalagi dia membuat kesalahan fatal, jadi ya aku langsung memecatnya dan menerima Meta jadi sekretaris.. Awalnya semua berjalan baik-baik saja sampai di suatu hari perusahaan makin lama makin merugi dalam jumlah yang besar padahal profit perusahaan menanjak naik, itu kan aneh.. Lalu aku meminta bagian audit untuk membawa laporan bulanan, bagaimana aku tidak terkejut kalau selama ini Meta memanfaatkan stempel tanda tanganku untuk mencairkan dana dan kamu tau Din, semua dana itu langsung beralih ke Sisil.. Jadi mereka berdua dari awal sudah merencanakan untuk menguras semua hartaku, sekarang aku sedang mengurus sisanya dengan uang yang ada," ucap Rio dengan raut penuh penyesalan dan Dinda yang mendengarnya menjadi tambah terkejut.
"Mas kalau boleh jujur, aku turut sedih atas masalah yang sedang kamu hadapi, tapi mengapa Sisil begitu teganya padamu? Bukannya dia cinta mati sama kamu?" tanya Dinda heran.
"Mungkin itu dulu.. Sekarang Sisil sudah berubah, aku seperti pria tidak beristri," ucap Rio sendu.
"Mengapa kamu bisa berkata begitu mas?" tanya Dinda penasaran.
"Sisil jarang sekali di rumah, sekalinya pulang hanya makan, mandi dan tidur.. Mana pernah dia mengurusi ku, apapun yang aku lakukan sudah tidak di pedulikan lagi" ucap Rio sedih.
__ADS_1
"Semoga suatu hari Sisil berubah ya mas, aku tidak bisa ikut campur terlalu jauh tentang rumah tangga kamu.. Oh iya untuk Meta, dia pernah bilang kalau 2 bulan perusahaan tidak menggaji dia, apa itu benar mas?" tanya Dinda.
"Tidak pernah aku lalai menggaji karyawan, itu alibi Meta saja biar dia tidak terlihat buruk dimata kamu dan teman-temanmu," ucap Rio.
"Berarti dia bohong mas? Apa kamu tau kalau Meta sudah 3 bulan bekerja disini dan baru beberapa hari yang lalu ia mengajukan resign," ucap Dinda sedikit kesal.
"Apa?? Pantas saja Sisil sangat tahu apa yang terjadi pada usahamu, aku jadi curiga kalau ini adalah ulah mereka berdua," tebak Rio.
"Jangan menuduh tanpa bukti mas, beberapa hari ini aku sudah merevisi semua data yang di tinggal Meta namun tidak ada celah mas soalnya memang tidak ada yang dicurigai dari Meta," ucap Dinda membantah.
"Meta memang pandai memanipulasi data, dulu saja aku bisa terkecoh dan hampir setengah uang perusahaan beralih ke Sisil, bayangin seberapa banyaknya Din, tolong cek lagi kalau perlu pakai bantuan ahli audit agar semua terang," ucap Rio memberi solusi.
"Aku masih pusing kalau harus memikirkan semua ini mas, aku ingin menyelesaikannya satu persatu, untuk urusan Meta biar nanti aku juga cek CCTV dan menelpon beberapa orang yang biasanya aku order, makasih sarannya mas," ucap Dinda sedikit ada harapan.
"Lalu untuk urusan Meta, mengapa kamu tidak memenjarakan dia mas?" tanya Dinda penasaran.
"Meta terlalu pandai, bagaimana bisa aku melaporkannya ke polisi kalau tanda tangan itu asli punyaku, bedanya dia selalu menggunakan stempel untuk mencairkan dana, jadi susah Din," ucap Rio pasrah.
"Silahkan.. Aku akan mendukung apapun itu asalkan itu benar dan hidupmu bahagia, yasudah kalau begitu aku pergi dulu.. Semangat Dinda semoga kamu bisa memenangkan ini," support Rio menepuk pelan baju Dinda.
"Makasih mas, kamu juga.. Semoga perusahaan bisa kembali seperti sedia kala," ucap Dinda dengan tulus.
"Terima kasih banyak Din akan aku ingat selalu support mu itu," ucap Rio bahagia lalu Rio pulang.
Tak mau terlalu terbawa perasaan kini Dinda segera fokus menghadapi masalah yang menimpa usahanya, ia tidak mau usahanya hancur secara sia-sia.. Ia tidak mau jika musuhnya yang akan menang.
Dinda kemudian ingat dengan perkataan Dini tempo lalu, apa ini rencana yang Meta buat? Kalau benar berarti perkataan mas Rio ada benarnya bahwa Meta memang rapi dalam merencanakan sesuatu.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan?? Semua masalah datang tiba-tiba.. Pusingnyaaa," gumam Dinda menangis di ruang kerjanya.
Lalu tiba-tiba Ryan menelpon Dinda.
"Halo pak Ryan?" sapa Dinda terisak.
"Bu.. Ibu kenapa? Kenapa ibu menangis?" tanya Ryan cemas.
"Masalah yang datang kapan usainya pak, hiks.. Hiks.." ucap Dinda mengadu.
"Ibu tenang ya sebentar lagi saya akan kesana," ucap Ryan lalu mematikan panggilan dan langsung on the way ke kantor Dinda.
Setibanya di kantor Dinda tanpa basa-basi Ryan langsung naik ke ruang kerja Dinda dan masuk tanpa permisi.
"Bu.." sapa Ryan dan Dinda langsung memeluk Ryan erat.
"Pak.. Mengapa masalah terus menimpa saya hiks.. Hiks.. Apa saya memang tidak pa.. pantas ba.. bahagia," ucap Dinda tersenggal.
"Ibu berhak bahagia dan pantas bahagia, jangan biarkan musuh menang bu, mari kita lawan.. Apa yang bisa saya bantu," ucap Ryan menenangkan.
"Saya gak tau harus mulai darimana pak, semuanya datang bersamaan.. Tadi mas Rio datang ke sini dan memberi support, bukan itu yang mau aku pikirkan, namun darimana mas Rio tau usahaku sedang bermasalah," ucap Dinda melepas pelukan dan menatap Ryan.
"Memang darimana dia tau?" tanya Ryan.
"Dari istrinya.. Mas Rio bilang kalau Sisil tau sekali usahaku sedang bermasalah, aku jadi curiga dong pak padahal selama ini aku tidak pernah berkomunikasi bahkan berjumpa dengan Sisil.. Ternyata oh ternyata, Sisil dan Meta adalah sepupu jauh, jadi aku mencurigai Meta pak.. Tapi aku belum ada bukti," ucap Dinda dengan terisak.
"Meta yang bagian admin itu kan bu? Mengapa ibu bisa berpikir jika dia yang menjadi dalang semua ini?" tanya Ryan penuh selidik.
__ADS_1
"Sebelum ada dia usahaku baik-baik saja pak, dia banyak sekali bohongnya.. Tadi mas Rio, sudah mengklarifikasi semua, awalnya Meta itu sekretaris di perusahaan mas Rio namun karena dia membuat skandal akhirnya ia resign, mas Rio ingin memenjarakannya namun tidak bisa.. Kata mas Rio kalau Meta melakukan sesuatu sangat rapi, nyatanya setengah uang perusahaan sekarang ada di istrinya dengan bantuan Meta, perusahaan sebesar itu saja bisa dengan mudahnya Meta hancurkan apalagi usahaku ini mas," ucap Dinda sangat sedih.
"Licik sekali Meta.. Tenang saja bu saya akan menugaskan seorang audit untuk menangani permasalahan ibu, semoga semuanya segera terungkap.. Untuk urusan Meta, jika memang terbukti dia dalangnya maka akan saya perkarakan ini ke jalur hukum, ini sudah tindakan kriminal bu.. Pak Rio terlalu naif dan lemah sehingga lebih memilih diam, jangan seperti dia bu.. Ada saya disini yang siap badan membantu anda," ucap Ryan serius.