
"APA MAU ANDA DAN APA TUJUAN ANDA DATANG KEMARI? APA SALAH SAYA PADA ANDA PADAHAL SAYA TIDAK MENGENAL ANDA," ucap Dinda dengan lantang.
"Memang permasalahan saya bukan dengan anda melainkan dengan suami anda yang sok sibuk itu dan sok jam terbangnya tinggi, karena dia saya jadi kalah dalam perkara yang seharusnya itu bisa menjadi milik saya, karena suami anda itulah saya rugi besar, rugi..." ucap orang misterius penuh penekanan.
"Yang namanya perdebatan pasti akan ada yang menang dan kalah, itu sudah resikonya jadi kalau anda ada di pihak yang kalah harusnya menerima itu dong bukan malah menyalahkan orang lain," sindir Dinda.
"Anda tau apa soal bisnis? Anda ini hanya seorang ibu rumah tangga jadi lebih baik diam dan terima hukuman atas suamimu itu, anda taunya hanya meminta uang uang dan uang saja haha," ucap orang misterius.
"Jangan mendekat atau saya akan berteriak," gertak Dinda berjalan mundur. Ketika orang misterius itu hampir mendekati Dinda dan posisi Dinda sudah di pojok, Rio datang di waktu yang tepat dan langsung memukul orang misterius itu secara membabi buta tanpa kenal ampun, setelah orang misterius meminta ampun datanglah polisi beserta para warga.
"Kamu gak papa Din?" tanya Rio memastikan.
"Gak papa mas, makasih sudah datang," jawab Dinda gemetaran karena menahan rasa takut.
"Tenanglah kamu sudah aman, dimana anak-anak?" tanya Ryan memeluk Dinda supaya lebih tenang.
"Anak-anak sudah aku suruh turun ke bawah mas dan aku suruh ke rumah ibu, aku tadi membuatkan mereka tali dari selimut dan sprei Farel.. Mereka awalnya gak mau meninggalkan aku sendirian namun aku berusaha meyakinkan mereka mas, yang penting mereka selamat," ucap Dinda menangis histeris di pelukan mantan suaminya.
Ryan yang sudah membaca pesan dari istrinya langsung seketika pulang dan berapa hancur hatinya melihat sang istri di peluk mantan suaminya, Ryan merasa gagal melindungi istri dan kedua anaknya..
"Kenapa dari sekian banyak nomor di ponselmu kamu memilih menghubungi dia?" batin Ryan sakit lalu berdehem agar Dinda dan Rio sadar bahwa ada Ryan yang melihat itu.
__ADS_1
"Ehem..." sindir Ryan berdehem dan keduanya langsung kaget dan Rio melepas pelukannya.
"Mas.. Kamu datang sejak kapan?" tanya Dinda kaget.
"Sejak istriku di peluk mantan suaminya, jangan mencari kesempatan di dalam kesempitan," sindir Ryan membuat Dinda malu.
"Saya mencuri kesempatan? Buat apa? Ini situasi yang genting dan mengancam keselamatan mereka," bantah Rio.
"Kalau tidak mencuri kesempatan kenapa anda berinisiatif memeluk istri saya?" tanya Ryan.
"Karena saya ingin menenangkannya, anda mana tau bagaimana takutnya istri anda ketika melawan orang itu," sindir Rio.
"Cara menenangkan tidak harus dengan memeluk istri orang," jawab Ryan cemburu.
"Ya tapi cara dia memelukmu itu yang menjadi permasalahan," sanggah Ryan cemburu.
"Oke aku mengerti kalau kamu cemburu tapi coba saja tadi kamu menjadi aku dengan posisi di rumah dengan dua anak, kalau pikiran ini tidak jalan mana bisa aku selamat mas, kamu tau sendiri kan orang misterius tadi membawa pistol dan pisau," ucap Dinda ingin menyadarkan suaminya.
"Anda berlebihan.." sindir Rio geram.
"Saya? Berlebihan? Yang benar saja kalau berbicara," ucap Ryan ingin menghajar Rio.
__ADS_1
"Memang berlebihan kan, saya datang menolong istri anda dan anak-anak saya mengapa respon anda justru kampungan sekali" sindir Rio terkekeh.
"Mas cukup dong.. Mas Rio memang mau menolong aku, tadi aku yang menelponnya," ucap Dinda berusaha memisah mereka.
"Stop.. Jangan terus kamu membela dia," ucap Ryan emosi.
"Kamu ini kenapa sih mas? Fokus dong dengan permasalahannya jangan fokus ke hal yang lain," tanya Dinda mulai emosi.
"Kamu itu yang kenapa? Kenapa bisa dengan mudahnya mau di peluk mantan suamimu itu, masih sayang kamu dengannya? Masih ada sisa rasa?" cecar Ryan murka.
"Kamu..bisa-bisa nya kamu ngomong seperti itu," ucap Dinda tak percaya.
"Bisa karena ada fakta yang saya lihat langsung, dari sekian banyaknya nomor di ponsel kamu mengapa hanya dia yang kamu telpon?" sindir Ryan tersenyum kaku.
"Aku hanya menelpon mas Rio saja? Hei.. Kalau belum melihat buktinya jangan asal tuduh mas," bantah Dinda.
"Nyatanya hanya dia kan yang datang," jawab Ryan dengan entengnya.
"LIHATLAH DAFTAR PANGGILAN DI HPKU DENGAN MATA KEPALA KAMU SENDIRI, SUDAH BERAPA BANYAK AKU MENELPON BAHKAN MENGIRIMKAN PESAN KEPADAMU NAMUN TAK SATUPUN YANG KAMU RESPON, SELURUH KONTAK SUDAH AKU HUBUNGI MAS DAN BANYAK DARI MEREKA YANG TIDAK MENGANGKATNYA.. LIHATLAH DARI SEKIAN BANYAKNYA NOMOR YANG AKU HUBUNGI HANYA MAS RIO, PAK RT, TETANGGA SEBELAH SAJA YANG RESPON NAMUN APA? HARUSNYA PAK RT DAN TETANGGA SEBELAH DATANG LEBIH AWAL MENOLONG AKU DAN ANAK-ANAK TAPI NYATANYA MEREKA DATANG KETIKA POLISI SUDAH ADA DISINI DENGAN BERDALIH MENGUMPULKAN MASSA TERLEBIH DAHULU, MEMANGNYA AKU INI SEDANG DEMO YANG HARUS MEMBUTUHKAN BANYAK ORANG, NYATANYA MEMANG HANYA MAS RIO YANG DATANG MENYELEMATKAN AKU.. MEMANG AKU TIDAK MENAMPIK ITU TAPI AKU TIDAK TERIMA KETIKA KAMU MENGATAKAN BAHWA AKU HANYA MENGHUBUNGI MAS RIO SAJA, SETELAH INI TERSERAH KAMU MAU PERCAYA ATAU MASIH KEKEH DENGAN GENGSI MU ITU YANG TERPENTING ANAK-ANAK SELAMAT DAN ORANG TADI SUDAH DI RINGKUS POLISI," teriak Dinda meluapkan emosinya sambil berlinang air mata dan menyerahkan ponselnya pada Ryan.
Ryan lalu mengecek semua panggilan terakhir Dinda dan benar saja, istrinya tidak hanya menghubungi Rio melainkan hampir semua kontak.. Lalu Ryan mengembalikan hp Dinda dengan perasaan bersalah.. Meskipun di hatinya masih ada rasa cemburu melihat istrinya di peluk pria lain.
__ADS_1
"Gimana? Sudah jelas atau anda ingin mengatakan bahwa ini rekayasa kami? begitu? Anda ini seorang pengacara yang sedang naik daun jadi sudah pasti kalau cara berpikir anda seharusnya lebih rasional.. Seharusnya anda mengesampingkan rasa cemburu buta anda dan menanyakan bagaimana kondisi istri serta kedua anaknya, apa anda tau bagaimana perjuangan Dinda menghadapi orang tadi seorang diri? Kalau boleh jujur saya memang kagum dan salut dengan Dinda karena di tengah ketakutannya dia masih bisa berpikir jernih untuk menyelamatkan anaknya.. Ketika Dinda berhasil membuat orang tadi kesakitan seketika itu juga Dinda lari ke kamar Vanessa lalu menggendongnya ke kamar Farel, di sana Dinda menginstruksi kedua anaknya agar turun ke bawah dan pergi ke rumah ibunya.. Dinda juga tak lupa membuatkan tali dari sprei dan selimut Farel agar kedua anaknya bisa turun ke bawah secara selamat, sampai segitunya Dinda bisa berpikir loh... Saya saja yang menjadi cowok merasa kagum akan hal itu, ketika saya datang Dinda sudah tidak bisa membendung lagi rasa takut di dirinya..maka dari itu saya memeluknya agar dia lebih tenang" ucap Rio dengan tenang namun mampu membuat Ryan terdiam seribu bahasa.. Ia baru tau kalau Dinda baru saja melewati masa sulit seorang diri dan lebih menyelamatkan kedua anaknya.. Ya meskipun Ryan sendiri juga dalam kondisi yang tidak baik-baik saja karena kantornya di teror lalu orang itu malah menemui Dinda.
"Yasudah kalau begitu aku mau ke rumah ibu dulu untuk memastikan kondisi anak-anak ku, kamu disini gak papa kan? Sudah ada suamimu yang akan menjagamu," ucap Rio, pamit lalu pergi ke rumah ibunya Dinda.