RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Ternyata


__ADS_3

"Oh mbak ini.. Memang dia beberapa menit yang lalu ada disini tapi saya tak bisa memastikan ada dikamar berapa karena kebetulan ketika mbaknya datang ada tamu lain juga yang reservasi," ucap resepsionis membuat Vika kecewa.


"Apa anda tau kira-kira di lantai berapa mbak?" tanya Dito penuh harap.


"Semua tamu yang check in hari ini ada dilantai 7," jawab resepsionis membuat Dito bisa sedikit bernafas lega, setidaknya ada petunjuk sedikit dimana Vika berada.


Menaiki lift, hati Dito semakin berdebar melihat setiap lantai yang sudah ia lalui. Ting.. Suara lift terbuka, menandakan jika sudah berada di lantai yang dituju, dengan hati yang semakin cemas, Dito berusaha menelpon Vika dengan nomor pribadi terlebih dahulu, namun sampai sekarang tak juga aktif akhirnya dengan terpaksa Dito memanggil menggunakan nomor kantor dan ya terhubung, berulang kali ditelpon tapi tak juga diangkat.


Suasana di lantai ini yang sepi membuat langkah kaki Dito sangat jelas terdengar, ketika Dito tengah berjalan ada seorang pria yang baru keluar dari kamar sambil menelpon seseorang.


"Ya.. Gue sekarang sedang sama cewek itu, buruan kesini, cakep bro.." ucap pria asing itu terkekeh.


"Siapa ya namanya? Vi.. Vi.. Hmm oh iya namanya Vika, iya Vika, buruan," ucap pria itu lagi yang membuat Dito menghentikan langkahnya.


"Vika.. Laki-laki itu, apakah yang dimaksud adalah Vika calon istriku? Siapa lagi pria itu? Kenapa mengajak orang lain lagi untuk segera datang?" batin Dito merasa sangat penasaran. Berjuta pertanyaan dan juga pikiran buruk melayang bebas di otaknya. Setelah pria itu mematikan ponselnya, Dito segera mengikuti langkah pria itu hingga langkahnya terhenti di sebuah kamar paling pojok dengan nomor 378. Batin Dito bergejolak apalagi di dalam sana terdengar suara tawa renyah mereka berdua, pikiran Dito menjadi traveling kemana-mana.


"Apa yang sedang kamu lakukan didalam sana, Vik? Jangan membuatku menjadi salah paham denganmu," batin Dito berkecambuk. Lagi dan lagi Dito menelpon ponsel kantor khusus untuk Vika, terdengar ada nada dering didalam sana namun Vika memang sengaja mengabaikan.


"Apa lebih menyenangkan bersama pria itu ketimbang denganku? Telpon pun tak juga kau angkat, apa sekarang pria itu yang lebih menarik bagimu?" batin Dito lagi. Ketika ingin membuka paksa pintu kamar, dari dalam terdengar suara langkah kaki mendekat, Dito refleks menjauh dan memastikan apakah pria yang tadi yang akan keluar.


Ya.. Ternyata benar pria tadi menyebut nama Vika yang keluar dari kamar 378, itu berarti pria ini memiliki hubungan khusus dengan calon istrinya. Tak mau dianggap menuduh, akhirnya Dito nekat menyambangi pria itu. "Mas.. Tunggu sebentar," ucap Dito setengah berteriak.


"Ada apa?" tanya pria itu dingin.


"Apa anda yang berada dikamar pojok sana, tepatnya nomor 378?" tanya Dito memastikan.


"Ya.. Memang ada apa?" tanya pria itu.

__ADS_1


"Kalau boleh tau, dengan siapa anda didalam sana?" tanya Dito hati-hati.


"Apa urusan anda menanyakan hal privasi saya?" tanya pria itu tersinggung.


"Maaf mas bukan bermaksud menyinggung, saya hanya mau memastikan apakah wanita yang sedang bersama anda didalam kamar itu calon istriku atau bukan, soalnya berulang kali saya telepon tapi ponselnya tidak aktif," jawab Dito.


"Oh maksudmu Vika? Dia calon istrimu?" tanya pria itu seolah menganggap remeh.


"Iya.. Apakah dia Vika yang saya maksud?" tanya Dito merasa heran.


"Masuk aja dan cek sendiri, saya mau keluar sebentar," jawab pria itu yang langsung nyelonong pergi. Mata Dito terbelalak kaget, mengapa dengan mudahnya menyuruh dia untuk masuk ke kamar yang ia sewa, iya kalau itu Vika calon istrinya, kalau lain? Bisa jadi berabe kan urusannya.


Untuk memastikan lagi, Dito menelpon nomor kantor Vika dan ternyata memang ponsel berdering dikamar itu. Sontak saja Dito memiliki keberanian untuk masuk, dengan perlahan ia membuka knop pintu dan..


Ia melihat Vika tengah berbaring di ranjang hotel dengan berbalut selimut, pikiran kotor Dito langsung meyakini jika pria tadi dan Vika ada hubungan spesial.


"Vika.. Vika," pekik Dito dengan raut wajah murka.


"Ngapain? Lepasin gak!" protes Vika dan terjadilah tarik menarik selimut diantara keduanya, akhirnya Vika kalah dan terekspos jelas tubuh Vika yang memakai tanktop hitam dan celana pendek.


"Apa yang sudah kamu lakukan? Ngapain kesini!" pekik Dito marah.


"Kamu itu yang ngapain asal masuk kamar orang! Gak sopan!" pekik Vika tak mau kalah.


"Kamu itu yang main api duluan!!! Ngapain berduaan dikamar sama pria asing! Siapa lagi dia! Ada hubungan apa dan apa yang sudah kalian lakukan didalam ini! Jawab!!!" pekik Dito.


"Kamu ngomong apa sih? Pria mana yang kamu maksud?" tanya Vika tak paham.

__ADS_1


"Halah gak usah drama! Katakan saja siapa dia!" desak Dito.


"Drama apanya! Pria yang mana!! Bicara yang jelas!" pekik Vika emosi.


"Pria yang baru saja keluar dari kamar ini, siapa dia?" tanya Dito mengintimidasi.


"Tau darimana kalau aku ada disini," ucap Vika.


"Gak penting!! Jawab dulu siapa pria yang bersamamu didalam kamar!" pekik Dito.


Merasa ada kegaduhan didalam kamar, perempuan yang baru saja mandi pun merasa terganggu dan akhirnya keluar. Ceklek... Suara pintu terbuka.


"Aaaaa..." teriak wanita itu yang keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk.


"Pergi.. Sana pergi atau saya panggil sekuriti!" usir wanita itu.


"Siapa dia? Kenapa ada dia di kamar? Berarti kalian tadi bertiga? Threesome?" tuduh Dito.


"JAGA MULUTMU!! AKU TIDAK SEMURAHAN ITU!!! PERGI!!!" bentak Vika tak terima dituduh dengan hina.


"Kalau bukan itu lalu apa? Dua wanita dan satu pria dalam satu kamar, mana dia baru keramas lagi," tuduh Dito sinis.


"Gue keramas karena kepanasan!!! Siapa dia Vik? Usir dia dari sini, kalau mas Burhan tau bisa berabe, gue gak mau terjadi salah paham," ucap wanita itu.


"Ya kak.. Aku juga kaget tiba-tiba dia ada disini, dia bosku dikantor sekaligus tunanganku," jawab Vika kesal lalu menarik paksa Dito keluar.


"Gak.. Aku gak mau keluar sebelum kamu jelasin semua ini!!! Jelaskan sejelas mungkin!" tolak Dito.

__ADS_1


"Kamu mau tau? Baiklah tapi setelah itu minta maaf sama mereka," ucap Vika mengatur nafas.


"Pria yang baru saja keluar dari kamar ini namanya kak Burhan, dia saudara ku dan wanita yang kamu bilang habis keramas ini namanya Bila, dia saudaraku, Bila dan Burhan suami istri, kenapa aku bisa ada disini? Ya karena kak Bila baru pulang dari honeymoon nya, aku ditelepon kak Bila untuk kesini sambil membuat kejutan untuk suaminya yang kebetulan nanti malam ulang tahun, kedatanganmu merusak moodku!!! Punya mulut kok gak pernah dijaga! Main ucap aja!!! Cepat minta maaf sama kak Bila!!" pekik Vika yang membuat Dito salah paham besar, ia tak menyangka pikiran buruknya membuat hubungannya dengan Vika semakin gak baik.


__ADS_2