
"Jika semua itu benar?" tanya Vika.
"Aku rasa tidak.. Jika mereka tak ada hubungan, mana mungkin istriku mau disentuh olehnya," jawab Ryan sudah malas membahas kejadian pahit itu.
"Di.. Disentuh? Astaga.." tanya Vika tak percaya hingga kedua tangannya membekap mulutnya sendiri.
"Buat apa aku berbohong, ada saksinya juga kok waktu kejadian tadi," jawab Ryan.
"Siapa?" tanya Vika.
"Klien ku, kebetulan dia berada di kamar sebelah mu, mendengar ada sedikit kegaduhan di tambah pintu tidak aku tutup, jadinya dia keluar untuk memastikan, jujur saja.. Aku sempat malu ketika ada orang luar yang tau, reputasi ku bisa saja hancur meskipun aku bukan pelakunya," jawab Ryan.
"Kok aku merasa janggal ya? Kamu tak ada niat menyelidiki? Bisa saja semua ini jebakan," tanya Vika.
"Gak.. Aku lagi malas membahas dan menyelidiki kasus ini, sampai dia memutuskan pulang pun jawabannya kekeh bahwa dia tidak berselingkuh dan tidak kenal pria itu, entahlah yang benar yang mana tapi saat ini aku pusing memikirkan semua masalah secara bersamaan," keluh Ryan.
"Maaf.. Maaf karena aku sudah terlalu ikut campur masalah pribadimu, aku minta, tolong selidiki kasus ini, aku yakin apa yang dikatakan istrimu itu benar," pinta Vika.
"Kenapa kamu malah membela dia sih?" tanya Ryan jengkel.
"Karena aku sedikit tahu tentang istrimu, aku yakin kok kalau dia tidak bersalah," jawab Vika.
"Dia sudah bukan Dinda yang dulu lagi, sifatnya sudah jauh berbeda, dia bukan Dinda yang aku kenal dulu," ucap Ryan.
"Terserah kamu saja, intinya aku meminta itu, jangan sampai kamu menyesal nantinya," tegur Vika.
"Aku akan lebih, menyesal jika melepaskan mu begitu saja," jawab Ryan mengalihkan topik.
"Sampai kapanpun kita tidak akan bisa bersatu, biarkan kejadian ini menjadi pengalaman terindah bagiku, pengalaman tentang janjiku waktu dulu yang merelakan kesucian ku dimiliki olehmu, meskipun waktu itu kita tidak sampai melakukan itu nyatanya sekarang tersampaikan bukan?" ucap Vika berusaha tegar.
"Aku tetap ingin menikahi mu," ucap Ryan kekeh.
"Maaf aku harus balik ke kamar, besok aku ada meeting di pagi hari, terima kasih untuk malam ini, kamu sudah memberikan aku pengalaman yang luar biasa, pengalaman terindah dibalik sebuah pengkhianatan," ucap Vika yang beranjak dari tempat tidur dan berjalan dengan tertatih.
Mana mungkin aku mau menikah denganmu secara siri disaat hati ini sudah terbagi dengan pria lain, apalagi dalam hitungan bulan aku akan resmi menjadi istri orang. Biarlah aku simpan kenangan ini sampai akhir hayat dan urusan dengan Dito, akan aku ucapkan aib ini tanpa menyebut namamu, Ryan. Aku gak mau ketika nanti sudah menjadi istri Dito, ia merasa dibohongi olehku dengan sebuah keperawanan.
***
Akibat semalam Vika tak bisa tidur membuat hari ini ia terbangun kesiangan, apalagi ponsel miliknya di silent, jadi ia tak mendengar ada puluhan panggilan dari bos sekaligus calon suaminya.
__ADS_1
"Kemana sih Vika? Jam segini belum bangun? Tumben amat?" gerutu Dito yang sudah tak sabar dan selalu melihat jam di tangannya.
Tok.. Tok.. Tok.. Tok.. Tok.. Tok.. Suara ketukan pintu berulang dan juga cukup keras membuat Vika terganggu. "Siapa?" tanya Vika dari dalam kamar hotel dengan suara sedikit serak.
"Dito Maulana Bramantyo," jawab Dito cukup kencang. Mendengar nama Dito langsung membuat mata Vika melek sempurna. Ia bergegas membukakan pintu untuk calon suaminya.
"Hai sayang," sapa Vika dengan wajah bantalnya.
"Astaga.. Kamu baru bangun?" tanya Dito geram.
"Maaf.. Emang ini sudah jam berapa?" tanya Vika yang langsung diperlihatkan jam tangan Dito kearah matanya Vika.
"Se..setengah 7? Yang benar saja, pasti jam kamu kecepetan nih,," pekik Vika tak percaya.
"Lihat aja ponselmu, berapa kali panggilan dariku," sindir Dito dan Vika bergegas mengecek ponselnya.
"25 kali? Kok aku gak denger?" gumam Vika.
"Kenapa malah bengong? Ayo segera bersiap, mau berangkat jam berapa?" sindir Dito.
"Ah.. Iya iya maaf, bentar aku mandi dulu, kamu tunggu di kamarmu, kalau udah siap aku samperin," jawab Vika gelagapan.
Melihat ada pria lain masuk ke kamar Vika sepagi ini membuat jiwa Ryan penasaran.
"Maaf.. Anda siapa ya?" tanya Ryan hati-hati.
"Ada apa mantannya calon istriku, Vika?" tanya Dito sedikit mengejek.
"Calon istri? Jadi kamu.." jawab Ryan tertahan.
"Ya.. Aku adalah pria yang bersama Vika beberapa waktu lalu, kita sudah sempat bertemu sebelumnya bukan? Kenapa sekarang malah sok gak kenal?" sindir Dito.
"Maaf... Maaf saya lupa," jawab Ryan.
"Kalau boleh tau kenapa anda masuk ke kamarnya Vika?" tanya Ryan kepo.
"Apa urusannya dengan anda? Vika calon istri saya jadi terserah saya mau berbuat bagaimana dengan dia asalkan kami sama-sama mau," ejek Dito.
"Ah bukan itu maksudku, ini terlalu pagi untuk jam bertamu," ucap Ryan kesal.
__ADS_1
"Mau pagi atau kemalaman kek, suka-suka saya dong lagian kenapa sih anda ikut campur? Urus aja keluarga anda sendiri, Vika sudah ada saya yang mengurus," jawab Dito ketus.
"Vika sudah gak ada siapa-siapa di dunia ini, yang ia punya hanya tantenya saja, jadi jangan sakiti atau permainkan dia," tegur Ryan.
"Hahaha.. Saya sudah tau siapa Vika dan bagaimana keluarganya, situ lupa jika rumah kami bersebelahan, tadi situ bilang apa? Vika hanya ada tantenya saja di dunia ini? Hei mantan kekasih Vika, dengerin baik-baik, Vika sebentar lagi akan menikah denganku, jadi mulai hari ini sampai seterusnya akulah yang menjadi tempatnya untuk pulang, gak usah sok peduli apalagi memberi wejangan begitu, gak mempan!" cibir Dito.
"Pak Ryan.. Anda sudah siap rupanya? Yuk berangkat sekarang," ajak Frida baru keluar dari kamarnya.
"Kok ngajak saya? Ibu berangkat sendiri, kita ketemu langsung dipersidangan," tolak Ryan.
"Maaf Pak Ryan jika saya ngerepotin lagi, mobil saya belum jadi," ucap Frida.
"Bisa naik taksi online atau gak mobil online," ucap Ryan ketus.
"Kita searah, kenapa tidak berboncengan saja?" tanya Frida kekeh.
"Udahlah kalian segera berangkat sana, muak lihatnya, hebat bener ya anda, disini ada di rumah pun ada," sindir Dito bertepuk tangan.
"Oh ya jelas disini ada malahan kami habis melakukan ONS dengan begitu menggairahkan," jawab Ryan dengan bangganya.
"Dengan siapa pak? Bukannya istri bapak udah pulang?" tanya Frida penasaran, ia merasa kesal dengan jawaban Ryan.
"Tuh denger.. Istrimu pulang kok malah cari hiburan, kasihan istrimu di rumah lagi ngurus anak, kerepotan," sindir Dito terkekeh.
Vika yang sudah bersiap untuk bekerja akhirnya keluar juga, penampilan Vika hari ini terlihat sangat cantik apalagi pakaian yang ia gunakan sangat menggoda.
"Kok rame banget sih? Ada apa?" tanya Vika penasaran.
"Tuh mantanmu, bisa-bisanya halu kalau dia habis ONS sama wanita lain sedangkan istrinya saja di rumah," jawab Dito terkekeh.
Mendengar jawaban dari Dito membuat Vika diam seribu bahasa, apa yang dikatakan Ryan memang benar adanya, antara Ryan dengan dirinya tadi malam sudah melakukan sebuah dosa yang besar yaitu ONS, yang membuat Vika sangat kesal, kenapa harus diberitahukan?
"Gak ada yang halu, semua itu real, kami sama-sama menikmati bahkan tanpa saya duga, dia masih virgin, setelah berhasil saya bobol, wanita itu saya ajak nikah meskipun secara siri malah gak mau," ucap Ryan dengan bangganya.
Merasa risih dengan pembahasan ini akhirnya Vika menggandeng tangan Dito dan mengajak untuk segera berangkat. "Ayo berangkat sekarang, keburu telat," ajak Vika yang terlihat tak nyaman apalagi cara berjalannya cukup aneh.
"Kamu kenapa? Kok jalannya gitu?" tanya Dito penasaran.
"Iya nih.. Jalannya seperti kesakitan gitu, kayak habis main di ranjang aja" sindir Frida yang membuat Vika meneguk ludah secara kasar, keringat dingin bercucuran di wajahnya, ia gugup setengah mati. Kenapa wanita itu bisa tau jika dirinya habis melakukan itu?
__ADS_1