RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Di rumah Vika


__ADS_3

Kejadian Ryan ketika di kantor.


Pekerjaan hari ini sedang longgar dan tak ada janji temu dengan klien, setidaknya hari ini Ryan bisa sedikit santai. Memang sih gak ada kerjaan seperti biasanya membuat Ryan suntuk, tiba-tiba saja ia kepikiran untuk datang ke rumah Vika, siapa tau dia ada di rumah.


"Saya mau keluar sebentar, ada urusan, jika nanti ada yang mencari saya meskipun itu keluarga saya, bilang saja saya lagi keluar ada keperluan penting, kalau mau nunggu biarkan nunggu di ruangan kerjaku," pesan Ryan pada sekretarisnya.


"Bapak mau kemana? Apakah lama?" tanya sekretaris memastikan.


"Gak kok.. Kalau ada yang cari bilang aja begitu, saya pergi dulu," pamit Ryan yang langsung pergi.


Diperjalanan rasanya sudah tak sabar untuk tiba di rumah tantenya Vika, entah kenapa ia sekarang merasa bujang kembali, tiba-tiba hatinya merasakan kasmaran, Ryan sampai tak bisa mengendalikan hati dan pikirannya yang akhir-akhir ini dipenuhi oleh Vika.


Tiba di rumah Vika, langsung saja Ryan menekan bel berulang kali hingga membuat Indah terganggu.


"Ya sebentar," jawab Indah dari dalam rumah dan tak berselang lama membuka pintu.


"Selamat siang tante," sapa Ryan dengan ramah.


"Si..siang, kamu.. kamu Ryan bukan?" tanya Indah kaget.


"Benar sekali, ternyata tante masih ingat dengan saya," jawab Ryan senang.


"Ya jelas kenal, Vika kan gak pernah gonta-ganti cowok," sindir Indah yang membuat Ryan merasa malu.


"I..iya tante, makasih masih mengenali Ryan," jawab Ryan kikuk.


"Ya sama-sama, masuk dulu gih," ajak Indah lalu keduanya masuk bersamaan.


"Tumben kesini, ada apa?" tanya Indah penasaran.

__ADS_1


"Kebetulan lewat kok tan, saya habis ada ketemuan dengan klien di kafe dekat sini," alibi Ryan.


"Oh.. Sekarang kerja apa kamu?" tanya Indah.


"Tante gak tau apa pekerjaan saya? Memang Vika gak cerita?" tanya Ryan kaget.


"Gak.. Keponakan tante hanya cerita jika dia bisa masuk penjara karena kamu dan istrimu, jujur saja tante ini kecewa dengan sikapmu yang main hakim sendiri, meskipun Vika bersalah apa harus diberi hukuman seberat itu? Apa kamu gak mikir gimana terpuruk nya Vika selama 5 tahun? Tante bahkan gak tau kalau selama itu keponakan tante menderita di jeruji besi, andai tante tau, sudah tante usahakan segala cara agar Vika bebas, tante menyesal tak ada disampingnya ketika dia sedih dan susah, 5 tahun bukan waktu yang sebentar," sindir Indah.


"Ma..maaf tante, dulu saya terlalu emosi," jawab Ryan merasa bersalah.


"Terlalu emosi mau gimanapun pikirkan Vika, apa kamu lupa jika dia sudah yatim piatu sejak kecil? Tante yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang, ketika Vika menemukan orang yang ia cintai eh malah orang itu yang membuat keponakan tante hancur tak berujung," sindir Indah.


"Apa yang harus saya lakukan agar bisa dimaafkan oleh tante juga Vika?" tanya Ryan dengan raut wajah yang sedih, mengingat kejadian Vika waktu dulu, memang semua terasa serba salah. Jika Ryan diam saja takutnya Vika tambah nekat, tapi kalau diberi hukuman seperti kemarin jujur saja hatinya tak tega. Pilihan yang sulit bagi Ryan, apalagi ia tau betul Vika hanya memiliki tantenya saja di dunia ini.


Ketika tante Indah ingin menjawab pertanyaan Ryan, tiba-tiba ponsel Ryan berdering, melihat nama Dinda di ponselnya membuat Ryan enggan mengangkat namun bukan Dinda namanya jika ia menyerah, Ryan bisa saja mengabaikan panggilan Dinda sekali dua kali namun Ryan juga tau jika istrinya akan menelpon berkali-kali sampai diangkat. "Saya terima telepon dulu tante, permisi," pamit Ryan yang dijawab anggukan kepala oleh Indah.


Setelah mematikan secara sepihak telpon dari istrinya, Ryan kembali ke ruang tamu untuk berbincang dengan tantenya Vika.


"Oh iya gak masalah, kalau memang penting jangan ditunda, lakukanlah," jawab Indah fair.


"Gak kok, bisa dikerjakan nanti saja, sayang dong jauh-jauh kesini tapi mampir cuma sebentar," tolak Ryan dan Indah hanya senyum. Sebenarnya ia tau jika Ryan tengah berbohong, jika telepon yang ia terima bukan dari orang yang dianggapnya prioritas, sudah pasti didepannya Ryan akan menjawab telepon itu. Padahal jika Ryan jujur juga tak masalah, toh Vika sudah menemukan pendamping hidup.


"Kebetulan sekali hari ini tante ada janji dengan seorang perancang busana, jadi maaf ya kalau kamu gak bisa mampir lama-lama, bukannya tante mengusir, soalnya tante pun juga gak tau kalau kamu mau kesini," ucap Indah tak enak hati namun di satu sisi Indah masih kesal dengan Ryan yang dengan teganya menjebloskan Vika ke penjara ya meskipun memang hari ini ia ada janjian dengan desainer untuk membahas kebaya yang akan digunakan Vika di acara pernikahannya nanti.


"Mau berangkat kapan tante? Biar saya antar," tanya Ryan menawarkan diri.


"Kalau bisa sih sekarang, lebih cepat lebih baik, gak usah kamu, antar, tante bisa kesana sendiri," tolak Indah.


"Gak papa tante biar sekalian Ryan keluar juga," ucap Ryan memaksa.

__ADS_1


"Bisa saja arahnya berbeda malah nanti kamu bolak-balik," tolak Indah lagi.


"Memang di butik mana?" tanya Ryan memastikan.


"Modiste Butik and Bridal, tepatnya dijalan Fatmawati Raya nomor 16" jawab Indah.


"Kebetulan sekali kita searah tan, kantorku juga ada di sekitar situ kok," ucap Ryan semangat.


"Kamu kerja apa sih? Bukannya ruko deket situ adanya kantor pengacara ya?" tebak Indah.


"Memang benar tan, kantor pengacara itu milikku, pekerjaan saya sebagai pengacara," jawab Ryan.


"Loh... Jadi pengacara Ryan yang naik daun itu kamu? Kirain siapa, habisnya tante gak update sih," ucap Indah kaget bukan main, geng arisan nya sedang membahas pengacara muda yang mapan dan tampan, pengacara yang digandrungi banyak wanita, meskipun merek pada tau jika Ryan sudah memiliki, istri namun semangat untuk mendekati tak pernah surut. Ternyata oh ternyata, Ryan yang dimaksud dia toh, gumam Indah dalam hati.


"Iya tante.. Saya pengacara Ryan yang sedang ramai diperbincangkan," jawab Ryan membenarkan.


"Congrats ya udah jadi pengacara hebat, impian kamu dari dulu akhirnya terwujud," puji Indah.


"Terima kasih tante, jadi gimana? Mau berangkat bareng kan?" tanya Ryan memastikan.


"Gak ngrepotin nih? Ntar istrimu tau malah jadi prahara rumah tangga," tanya Indah.


"Gak kok kebetulan istriku ada di kantor, dia juga bekerja malah memiliki brand kosmetik sendiri," jawab Ryan yang membuat Indah semakin mengangga.


"Berarti kalian dua sejoli yang hebat dong," jawab Indah.


"Tak ada hal hebat yang didapat secara instan, semua perlu proses dan pengorbanan" jawab Ryan merendah.


Melihat jam di dinding sudah menunjukkan siang hari, akhirnya Indah berganti busana dan segera menyambangi butik yang dimaksud. Dengan terpaksa pula Indah menyetujui untuk ikut mobil Ryan, semua ia lakukan demi menghemat waktu. Jika Indah harus memesan taksi online dulu sudah pasti sampai sana akan terlambat.

__ADS_1


Melihat suaminya keluar bersama wanita paruh baya membuat hati Dinda sakit, mana si wanita pakai acara ganti pakaian lagi. "Apa yang sudah kamu lakukan didalam sana mas? Kalian habis ngapain? Tolong jangan membenarkan pikiran buruk ku ini mas," pinta Dinda meneteskan air mata.


__ADS_2