
"Tolong tatap aku, kita sedang berbicara," pinta Ryan.
"A.. Aku malu," ucap Vika masih tak berani menatap.
"Malu kenapa sih?? Aku bukan penjahat," ucap Ryan.
"I know.. Aku malu kalau harus bertatapan denganmu karena mata indah mu bukan lagi milikku, aku gak berhak menikmatinya," ucap Vika membuat Ryan tercengang.
"Sekarang kamu boleh menikmatinya bahkan sampai puas, silahkan pandang aku sesukamu, ayo," desak Ryan yang membuat Vika tetap tak berani menatap.
"Vika Isyana Cantika.. Ayo tatap aku," desak Ryan.
"Kamu.. Kamu masih ingat nama lengkap ku?" tanya Vika terharu.
"Jelas.. Nama indah yang seindah orangnya," puji Ryan.
"Tolong jangan buat aku terbang," pinta Vika.
"Aku akan membuatmu terbang yang sesungguhnya," ucap Ryan yang membuat Vika tak paham.
"Maksudnya?" tanya Vika tak mengerti.
"Makanya sini tatap aku," pinta Ryan yang mengangkat wajah mulus Vika secara perlahan hingga mereka kini saling bertatapan. Mata indah milik Ryan yang selalu membuat Vika rindu kini bisa ia nikmati secara VIP.
Entah kerasukan setan darimana ditambah cuaca diluar yang mendukung, dengan tanpa permisi Ryan mencium pipi dan bibir Vika, mendapat serangan mendadak seperti itu membuat Vika mati kutu. Ingin menolak namun hatinya menginginkan lebih. Sungguh tak singkron antara hati dan otaknya.
Otak dia berkata untuk mengakhiri ini sebelum terlalu jauh namun hatinya berkata teruskan, selagi ada kesempatan emas yang tak mungkin datang dua kali, sentuhan demi sentuhan yang diberikan Ryan membuat Vika tak berdaya dan terbuai dengan permainan mantan kekasihnya itu. Rasa yang sudah lama tak dirasakan kini muncul kembali, keduanya saling merespon sehingga terjadilah perbuatan yang seharusnya tak terjadi. Kehormatan yang Vika janjikan akan diberikan kepada suaminya kelak, kini sudah terenggut oleh Ryan.
"Kamu masih perawan?" tanya Ryan setelah berhasil menerobos segel Vika. Anggukan kepala Vika dan jeritan kesakitan yang ia keluarkan semakin menguatkan jika kekasihnya ini memang masih perawan.
"Astaga.. Sorry aku gak tau, kenapa gak bilang? Gini sama saja aku merusak kehormatan wanita" tanya Ryan dengan raut wajah penyesalan.
"Lanjutkan saja, sudah kepalang tanggung, kalau berhenti pun gak bisa mengembalikan keperawanan yang sudah kamu ambil kan? Aku memang berjanji akan memberikan kehormatan ku pada orang yang aku sayangi," ucap Vika yang membuat Ryan kembali bersemangat. Dengan hati-hati Ryan kembali menerobos surga milik Vika, setelah dirasa bisa menyesuaikan dan tak merasa kesakitan lagi barulah Ryan menambah tempo permainannya. Suara ******* demi ******* keduanya tak bisa dipisahkan dengan apapun, gemericik hujan membuat suasana semakin syahdu.
__ADS_1
Hampir satu jam bertempur akhirnya mereka sama-sama berada di puncak kenikmatan. Vika mengejang dan merasa sangat melayang akibat sentuhan Ryan.
"Thanks.." ucap Vika mencium pipi kanan dan kiri Vika.
"For what?" tanya Vika dengan wajah kelelahan.
"Untuk keperawanan yang kau berikan padaku, apa kamu tak menyesalinya?" tanya Ryan memastikan.
"Bisa iya bisa tidak," jawab Vika membuat Ryan bingung.
"Kok begitu?" tanya Ryan penasaran.
"Menyesal pasti iya karena aku memberikan bukan kepada suamiku kelak namun di satu sisi tidak merasa menyesal karena sudah memberikan kehormatan ku pada pria yang sampai saat ini bersemayam di hatiku," jawab Vika.
"Gimana kalau kita menikah siri? Aku akan bertanggung jawab penuh untuk ke depannya," tanya Ryan.
"Itu bukan pilihan yang baik," tolak Vika.
"Tapi ini jalan yang terbaik untuk saat ini, mana mungkin aku dengan mudah melepaskan mu setelah kamu menyerahkan harta berharga mu," desak Ryan.
"Itu bisa dipikir nanti, setidaknya sekarang aku ingin mempertanggung jawabkan kesalahanku," jawab Ryan.
"Maaf.. Hal serius seperti itu dan kemungkinan hal buruk yang terjadi harus segera di pikirkan mulai sekarang, tidak semua masalah bisa diselesaikan hanya dengan kata maaf saja," tolak Vika.
"Dia.. Istriku juga main belakang dengan pria lain dan tepatnya di kamar ini, kejadian tadi siang ketika aku bekerja, jadi antara aku dengannya sama-sama berkhianat," ucap Ryan sedikit emosi.
"Apa kamu bisa memastikan itu?" tanya Vika tak percaya, ia tahu jika Dinda bukan wanita seperti itu.
"Bisa.. Aku sendiri yang menyaksikan, kebetulan selesai urusan di pengadilan dengan klien ku, aku memang memutuskan untuk pulang dan ya.. Pemandangan diluar wajar terpampang nyata," jawab Ryan sedih.
"Lalu sekarang istrimu dimana?" tanya Vika.
"Pulang.. Dia mau bertemu anak-anak, entahlah aku pun tak tau harus bersikap bagaimana," jawab Ryan.
__ADS_1
"Kamu membiarkannya? Apa dia sudah memberi penjelasan?" tanya Vika memastikan.
"Dia sudah memberi alibi jika semua ini tidak benar dan dia tak tau siapa pria itu, gak masuk akal bukan? Aku bukanlah anak TK yang dengan mudah dibohongi," jawab Ryan terkekeh.
"Jika semua itu benar?" tanya Vika.
"Aku rasa tidak.. Jika mereka tak ada hubungan, mana mungkin istriku mau disentuh olehnya," jawab Ryan sudah malas membahas kejadian pahit itu.
"Di.. Disentuh? Astaga.." tanya Vika tak percaya hingga kedua tangannya membekap mulutnya sendiri.
"Buat apa aku berbohong, ada saksinya juga kok waktu kejadian tadi," jawab Ryan.
"Siapa?" tanya Vika.
"Klien ku, kebetulan dia berada di kamar sebelah mu, mendengar ada sedikit kegaduhan di tambah pintu tidak aku tutup, jadinya dia keluar untuk memastikan, jujur saja.. Aku sempat malu ketika ada orang luar yang tau, reputasi ku bisa saja hancur meskipun aku bukan pelakunya," jawab Ryan.
"Kok aku merasa janggal ya? Kamu tak ada niat menyelidiki? Bisa saja semua ini jebakan," tanya Vika.
"Gak.. Aku lagi malas membahas dan menyelidiki kasus ini, sampai dia memutuskan pulang pun jawabannya kekeh bahwa dia tidak berselingkuh dan tidak kenal pria itu, entahlah yang benar yang mana tapi saat ini aku pusing memikirkan semua masalah secara bersamaan," keluh Ryan.
"Maaf.. Maaf karena aku sudah terlalu ikut campur masalah pribadimu, aku minta, tolong selidiki kasus ini, aku yakin apa yang dikatakan istrimu itu benar," pinta Vika.
"Kenapa kamu malah membela dia sih?" tanya Ryan jengkel.
"Karena aku sedikit tahu tentang istrimu, aku yakin kok kalau dia tidak bersalah," jawab Vika.
"Dia sudah bukan Dinda yang dulu lagi, sifatnya sudah jauh berbeda, dia bukan Dinda yang aku kenal dulu," ucap Ryan.
"Terserah kamu saja, intinya aku meminta itu, jangan sampai kamu menyesal nantinya," tegur Vika.
"Aku akan lebih, menyesal jika melepaskan mu begitu saja," jawab Ryan mengalihkan topik.
"Sampai kapanpun kita tidak akan bisa bersatu, biarkan kejadian ini menjadi pengalaman terindah bagiku, pengalaman tentang janjiku waktu dulu yang merelakan kesucian ku dimiliki olehmu, meskipun waktu itu kita tidak sampai melakukan itu nyatanya sekarang tersampaikan bukan?" ucap Vika berusaha tegar.
__ADS_1
"Aku tetap ingin menikahi mu," ucap Ryan kekeh.
"Maaf aku harus balik ke kamar, besok aku ada meeting di pagi hari, terima kasih untuk malam ini, kamu sudah memberikan aku pengalaman yang luar biasa, pengalaman terindah dibalik sebuah pengkhianatan," ucap Vika yang beranjak dari tempat tidur dan berjalan dengan tertatih.