
Setelah mengirimkan CV nya ke kantor tempat Ronald bekerja, 2 hari kemudian Sisil diundang untuk interview. Sebuah hal yang membuat Sisil gembira dan berharap bisa diterima bekerja di sana.
Kring... Dering ponsel Sisil.
"Nomor siapa nih?" gumam Sisil lalu mengangkat panggilan.
"Selamat pagi apa benar ini dengan Sisil Saputri?" sapa penelpon yang kebetulan adalah HRD tempat Ronald bekerja.
"Iya betul, maaf ini dengan siapa?" tanya Sisil.
"Saya selaku HRD dari PT Prakarsa Grup ingin menyampaikan hasil CV anda yang beberapa hari yang lalu dikirimkan pada kami, bisakah besok jam 9 pagi anda datang ke kantor untuk interview? kebetulan anda salah satu dari sekian pelamar yang lolos seleksi kami," ucap HRD yang membuat Sisil senang.
"Serius saya salah satu yang lolos pak? Baik saya pasti akan datang tepat waktu, terima kasih banyak pak," jawab Sisil antusias.
"Benar.. Kami tunggu kedatangannya, selamat pagi," ucap HRD lalu mematikan panggilan.
"Yes akhirnya mulai besok bisa kerja, dengan gini kan gue bisa dapet duit sendiri ya meskipun sedikit gak papa lah daripada gak sama sekali.. Punya laki tajir tapi pelit, udah tau istrinya berbulan-bulan gak pulang gitu gak ditanyain atau di jemput, kasih nafkah pun enggak.. Dasar keluarga aneh, nyesel rasanya udah pernah menyelamatkan tuh nenek lampir," gumam Sisil sebal lalu mengirim chat pada Ronald jika dirinya besok akan interview.
***
Keesokan harinya Sisil sudah berdandan rapi, wangi juga cantik.. Mamahnya yang mengetahui jika anaknya mau interview merasa senang karena akhirnya anaknya sudah mulai bisa move on dari suaminya.
"Nah gini dong.. Ini baru namanya anak mamah Ira," puji Ira tersenyum senang.
"Ya jelas dong mah.. Hari ini masih interview loh," tegur Sisil.
"Gak papa penting ada progres.. Mungkin kamu bakalan diterima secara yang merekomendasikan dirimu kan salah satu, karyawan di sana," ucap Ira sangat yakin.
"Hmm iya sih semoga ya mah, Sisil berangkat dulu," pamit Sisil mencium tangan mamahnya dan bergegas pergi.
Sesampainya di kantor Sisil disuruh oleh sekuriti untuk duduk di ruang tunggu sembari menunggu kedatangan HRD. Hampir 20 menit Sisil menunggu namun HRD nya tak kunjung datang.
__ADS_1
"Lama banget sih datangnya, mentang-mentang jadi HRD datang sesukanya.. Kalau dia bekerja di kantor mas Rio langsung auto gue pecat," batin Sisil mulai jenuh.
Akhirnya yang ditunggu pun datang juga dan setelah sesi interview selesai kini Sisil dinyatakan lolos sehingga bisa bekerja mulai hari ini.
Ya meskipun hanya sebagai staf kantor biasa namun setidaknya Sisil bangga karena nantinya ia akan mendapatkan uang dari hasil kerja kerasnya, ia optimis makin lama jabatannya akan semakin naik. Mengingat dulunya Sisil pernah menjabat sebagai assisten CEO makanya HRD men training Sisil selama sebulan berada di bagian staf.
Sisil bisa beradaptasi dengan baik dan langsung menguasai bidang pekerjaannya hingga teman kerjanya merasa senang karena tak perlu mengajari banyak hal. Tugas yang diberikan Sisil sangatlah banyak sehingga dihari pertama dia bekerja rasa lelah sudah menghampirinya, tak terasa jam istirahat tiba dan Sisil memanfaatkan ini untuk melemaskan otot-otot.
"Hei.. Rajin amat kerjanya, baru juga sehari disini," sapa Ronald menghampiri meja Sisil.
"Ya gimana gak rajin, lihat tuh seberapa banyaknya tugas yang dikasih ke gue," protes Sisil.
"Itu tandanya kamu kompeten," puji Ronald.
"Tapi gak gini juga dong.. Ini mah namanya ngerjain," protes Sisil.
"Udahlah nikmati saja nanti juga terbiasa kok, yang penting bisa dapat pekerjaan dulu, oh iya btw selamat ya udah berhasil keterima kerja disini, HRD senang dengan sesi interview tadi loh," ucap Ronald bangga.
"Ya tadi HRD bilangnya gitu.. Awas nanti dia naksir denganmu loh," goda Ronald.
"Nanti kamu cemburu haha," goda Sisil.
"Ah itu mah pasti," jawab Ronald keceplosan dan Sisil terkejut mendengarnya.
"Apa?" tanya Sisil ingin Ronald mengulangi lagi.
"Udah yuk selesain nanti lagi sekarang kita makan siang, aku traktir deh," ajak Ronald mengalihkan obrolan.
"Beneran ya.." jawab Sisil memastikan dan Ronald mengangguk. Lalu mereka berdua berjalan menuju kantin dan memesan makanan.
Keduanya saling nyambung satu sama lain hingga tak terasa jam istirahat telah usai, baik Sisil maupun Ronald harus berpisah untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.
__ADS_1
"Nanti pulangnya aku antar ya," pinta Ronald.
"Gak usah deh nanti ngerepotin," tolak Sisil.
"Gak bakalan, see you," pamit Ronald yang langsung meninggalkan Sisil karena keduanya berlainan arah. Ronald di bagian manager sedangkan Sisil bagian staf kantor.
Sisil kembali melanjutkan tugas yang belum selesai hingga kepalanya terasa mau pecah, bukannya semakin sedikit malah rekannya selalu menambah pekerjaan untuk Sisil. Awalnya Sisil diam saja namun lama-lama ia muak dan menghampiri meja rekannya.
"Hei.. Maksudnya apa ya semua tugasmu dilimpahkan ke gue," ucap Sisil menggebrak meja rekannya yang bernama Maya.
"Itu memang tugasmu dan seharusnya segera diselesaikan bukan malah datang kemari marah-marah," ucap Maya penuh penekanan.
"Mana ada baru sehari bekerja disini udah dikasih tugas segini banyaknya, ngerjain boleh tapi pakai takaran dong.. Emang gue gak capek apa," sindir Sisil.
"Anak baru gak usah belagu, tinggal kerjakan dan selesaikan sebelum jam pulang kerja.. Jangan sok jadi preman disini," cibir Maya.
"Emang gue anak baru tapi gue gak suka jika dijadikan babu mu.. Nih kerjakan tugasmu sendiri, kalau lo gak kuat silahkan bilang ke HRD dan ajukan resign," tantang Sisil melempar beberapa map yang barusan diberikan oleh Maya.
"HEI.. BERANI SEKALI YA.. MASIH ANAK BARU UDAH SOK JAGOAN GIMANA KALAU NANTINYA JADI ATASAN?" pekik Maya tak terima dihina di depan banyak karyawan.
"Masih mending gue ya ketimbang lo.. Setidaknya gue kan mengerjakan apa yang memang seharusnya menjadi pekerjaan gue, bukan kayak lo yang gak bisa di pekerjaan ini tapi memaksa.. Awas otakmu nanti konslet," sindir Sisil dan Maya semakin geram.
"BERANI SAMA GUE? AWAS SAJA BAKAL GUE ADUIN KE ATASAN," ancam Maya geram.
"Silahkan nyonya Maya yang bermuka dua, gue mau lihat bagaimana nanti kata-katamu ketika mengadu ke atasan.." gertak Sisil.
"Awas lo ya liat aja nanti, gue pastiin lo bakal di pecat," ancam Maya geram dan emosi.
"Lihat saja nanti lo atau gue.. Atasan tidak mungkin asal percaya jika tidak ada bukti, kalau mau cari musuh lihat dulu siapa musuh mu, gue memang anak baru tapi gue gak suka dijadikan babu," ucap Sisil dengan angkuh lalu kembali ke meja kerjanya.
"Sialan anak baru sok kecantikan, lihat saja apa yang bakal gue buat," batin Maya tersenyum licik dan karyawan lainnya yang sedari tadi menonton langsung bubar dan kembali bekerja.
__ADS_1