
Semakin hari hidupnya semakin dilanda kegelisahan akibat ulahnya yang sok-sokan berbisnis dengan mafia. Niat hati ingin memajukan perusahaan keluarganya agar bisa go internasional kini malah dirinya yang dilanda kegelisahan, uang yang awalnya sebagai investasi malah diambil sang istri, mau gak mau Rio harus menanggungnya, untung saja Sisil hanya menggunakan sedikit coba kalau uangnya hampir habis, bisa-bisa Rio jadi gila.
Kedua orang tua Rio tidak mengetahui jika dirinya berbisnis dengan gengster terbesar di Singapura, andai mereka mengetahui sudah pasti akan dilarang.
Hari ini Rio ada meeting dengan salah satu kolega di sebuah restoran mewah, ketika sampai di sana koleganya dibuat tidak nyaman dengan keberadaan preman yang selalu saja mengikuti kemana pun Rio pergi. Setiap kali koleganya melirik preman tersebut seketika itu juga mereka memasang wajah garang, nyali kolega langsung ciut di buatnya.
"Maaf Pak Rio jika pertanyaan saya ini diluar jalur pekerjaan," ucap kolega dengan hati-hati.
"Iya Pak memangnya ada apa?" tanya Rio.
"Daritadi saya perhatikan beberapa orang dengan tubuh besar itu selalu mengikuti kemana perginya anda dan duduk pun berada di sekitar anda, memang mereka siapa pak? Apa sekarang anda menyewa bodyguard?" tanya kolega penasaran.
"Mampus.. Gimana gue jawabnya nih? Mau bilang iya ntar dikira gue terlalu sombong kalau bilang bukan pasti rekan bisnis gue gak nyaman, kenapa sih ngikutin sampai segitunya.. Kesel gue," batin Rio kesal dan melirik tak suka pada preman tersebut namun balasan yang diberikan mereka sungguh membuat Rio semakin kesal, mereka menunjukkan ekspresi garang dengan tangan mengepal ke atas, hal itu di lihat oleh koleganya dan semakin membuatnya tak nyaman.
"Pak?" panggil kolega.
"Eh iya Pak maaf saya tadi melamun," alibi Rio.
"Saya rasa pertemuan kali ini ditunda dulu ya pak, kelihatannya situasi dan kondisi tidak memungkinkan, lebih baik selesaikan dulu masalah anda setelah semua selesai baru kabari saya untuk keberlangsungan kerja sama kita, jujur saja pak saya merasa tidak nyaman atas sikap mereka itu, anda pun saya tanya hanya diam saja jadinya saya semakin tidak nyaman, takut terjadi apa-apa setelah ini dan nantinya membahayakan perusahaan lebih baik saya tunda meeting hari ini," ucap kolega dengan wajah kecewa.
"Loh pak jangan begitu lah kita sudah agendakan ini dari lama, abaikan saja mereka dan fokus dengan urusan bisnis kita," pinta Rio.
__ADS_1
"Maaf Pak tapi saya tidak bisa, permisi," tolak koleganya lalu bergegas pergi meninggalkan Rio dengan buru-buru.
"Semenjak perusahaan pak Suganda diambil alih anaknya rasa-rasanya perusahaan beliau semakin kacau dan menurun, ada apa antara anak pak Suganda dengan preman itu? Hii ngeri," batin koleganya bergidik ngeri.
Merasa kehadiran mereka menganggu kerja Rio, tanpa menunggu lama Rio menghampiri mereka dan memberi peringatan keras.
"Maaf sebelumnya, saya tau memang saya masih ada hutang piutang dengan bos besar anda itu namun saya minta tolong jangan mengurusi urusan pekerjaan saya, ketika saya sedang bertemu rekan bisnis diluar kantor tolong jangan terlalu mencolok, kehadiran kalian menganggu ketenangan dan kenyamanan mereka, alhasil meeting saya pun gagal, jika ini terus menerus terjadi maka saya akan melakukan tindakan tegas," gertak Rio.
"Silahkan saja jika anda berani, ingat keluarga dan anak anda," jawab preman dengan entengnya.
"Kalian mana tau rumah mantan istri saya sekarang? Saya saja tidak tahu apalagi kalian," ejek Rio.
"Itu hal mudah bagi kami apalagi sekarang suaminya seorang pengacara terkenal," jawab preman enteng.
"Kenapa anda diam? Bingung mau jawab apa? Informasi apapun tentang anda juga mantan istri anda sudah kami ketahui secara detail, sampai sekolah anak-anak anda yang baru pun kami tahu dan tanpa anda sadari, setiap hari ada kawan kami yang mengawasi anak anda, sekali saja anda membangkang dari kami maka dengan ponsel ini nyawa anak anda bisa saja dalam bahaya," ancam preman sambil menyeringai.
"SUDAH SAYA KATAKAN JANGAN USIK ANAK DAN MANTAN ISTRI SAYA, URUSAN ANDA DENGAN SAYA YA SELESAIKANLAH DENGAN SAYA, JANGAN JADI PENGECUT DENGAN MELIBATKAN ORANG LAIN YANG TIDAK BERSALAH," pekik Rio tidak terima.
"Maka dari itu diam lah dan jangan coba-coba dengan kami atau nanti tau akibatnya, ingat anak anda," ancam preman. Lalu Rio memilih mengalah dan pergi ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Di kantor Rio langsung menelpon Dinda untuk memberitahu informasi mengenai anak-anak.
__ADS_1
"Halo mas?" sapa Dinda.
"Halo Din.. Maaf kalau menganggu waktunya tapi ini penting, ini mengenai anak-anak," jawab Rio to the poin yang membuat Dinda kebingungan.
"Memang anak-anak kenapa mas?" tanya Dinda khawatir.
"Tadi aku dapat info katanya anak-anak sedang di pantau oleh preman, tolong awasi anak-anak dengan baik ya Din aku takut mereka kenapa-napa apalagi nantinya mereka tambah trauma," ucap Rio panik.
"APA?? KAMU DAPAT INFO DARI MANA MAS? MEMANG APA YANG DI INGINKAN MEREKA?" pekik Dinda panik.
"Intinya jaga anak-anak dan pantau mereka selalu, aku tidak bisa berbuat banyak karena disini pun juga tidak aman, tolong jaga anak-anak ya Din.. Aku percaya padamu juga Ryan kalau kalian bakal melindungi anak-anak dengan baik, hanya itu yang mau aku sampaikan," ucap Rio lalu mematikan panggilan.
Dinda langsung panik dan menelpon suaminya berulang kali, sayang sekali Ryan saat ini sedang berada di ruang meeting dan ponselnya tertinggal di ruang kerjanya. Rasa panik yang melanda Dinda membuat kandungannya menjadi terganggu, ia merasa perutnya sangat sakit dan kencang sekali, semakin lama ditahan rasa sakit yang dirasa semakin bertambah.. Dinda sudah tidak kuat lagi lalu turun menemui Fio.
"Fio.. Fi.. Fio.." panggil Dinda sambil menahan sakit.
"Iya bu, astaga ibu kenapa?" tanya Fio panik.
"Tolong bawa saya ke rumah sakit, kamu bisa bawa mobil kan?" tanya Dinda sambil merintih.
"Saya gak bisa bu tapi ada Bimo yang bisa menyetir mobil, bentar saya panggilkan," ucap Fio lalu berlari memanggil Bimo dan memberitahu untuk segera membawa bosnya ke rumah sakit.
__ADS_1
"Mari bu saya antar dimana kunci mobilnya?" tanya Bimo panik lalu Dinda segera memberikan kunci mobil sembari keringat bercucuran sangat deras. Fio membantu Dinda dengan memapahnya sampai ke mobil dan ikut menemani Dinda ke rumah sakit.
Di perjalanan tak hentinya Fio menelpon keluarga Dinda beserta suaminya, namun sayang Ryan sampai sekarang tak juga mengangkat telepon, di satu sisi Ryan memang sedang menangani kasus besar dan jika nantinya Ryan bisa memenangkan ini maka nama dia akan setara dengan pengacara-pengacara terkenal yang sering berseliweran di televisi.