RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Balasan Untuk Boy


__ADS_3

Tiba di rumah sakit, Rio langsung memeluk mamahnya yang terus menerus menangis dan menyuruh art serta supirnya kembali pulang.


Rio tidak kuasa melihat mamahnya sedih seperti ini ditambah lagi kondisi papahnya kritis, banyak selang yang menancap di tubuh papahnya semakin membuat Rio hancur.


"Pah.. Mah.. Maafin Rio, semua ini salah Rio karena sudah bermain bisnis dengan mafia, maafin Rio.. Sungguh Rio menyesal," batin Rio memeluk mamahnya erat.


"Mamah takut Rio.. Mamah takut papah meninggalkan kita," ucap mamahnya.


"Mamah gak boleh bicara seperti itu, papah orang yang kuat dan papah pria hebat, papah pasti bisa melewati semua ini," ucap Rio menenangkan mamahnya.


"Tapi papah kamu gak pernah serapuh ini," ucap Mayang terisak.


"Mamah.. Berdoa dan berpikirlah yang baik tentang papah, mungkin papah sedang ingin istirahat," ucap Rio.


"Tapi..." ucap Mayang terpotong oleh isyarat Rio untuk diam.


"Semua ini karena Boy.. Mau pelakunya Boy atau anak buahnya tetap saja gue harus meminta pertanggung jawaban padanya," batin Rio sembari mengepalkan tangan lalu menghubungi polisi.


"Selamat sore dengan polsek Karang Kayu, ada yang bisa dibantu?" sapa petugas polisi.


"Selamat sore.. Ada pak, saya ingin membuat laporan tentang perbuatan tidak menyenangkan yang dilakukan oleh seseorang," ucap Rio.


"Baik akan kami catat laporan anda, tetapi lebih baik anda datang kemari untuk dimintai keterangan beserta buktinya," ucap polisi.


"Bukti ada pak dan akurat, besok saya akan ke sana, papah saya sedang berada di rumah sakit akibat perbuatan ini," ucap Rio.


"Kalau begitu biar kami yang akan ke sana, dimana rumah sakit tempat ayah anda dirawat?" tanya polisi.


"Di rumah sakit Sehat Selalu," jawab Rio lalu polisi bergegas menuju TKP.


***


"Selamat siang.." sapa polisi yang membuat Mayang semakin kaget.

__ADS_1


"Si.. Siang pak," jawab Mayang gugup.


"Selamat siang Pak, saya yang tadi menelpon anda," jawab Rio mengulurkan tangan.


"Baik.. Bisakah kita mulai sesi wawancaranya?" tanya polisi memastikan.


"Bisa pak.. Lebih cepat lebih baik," jawab Rio mantap.


"Ini ada apa Rio? Kenapa kamu undang polisi?" bisik Mayang.


"Sudahlah mamah jangan ikut campur, masuk saja di dalam temani papah.. Ini biar menjadi urusan Rio," usir Rio lalu mamahnya masuk.


"Baik mari kita mulai, siapa nama anda dan apa yang ingin anda laporkan kepada kami?" tanya polisi sembari menyalakan rekaman di hp.


"Rio Suganda.. Saya ingin melaporkan tindakan seseorang yang membuat saya tidak senang, entah ini betul ulah anak buahnya atau memang dia yang menyuruh, yang jelas saudara Boy Yudhistira mengirimkan pesan kepada saya bahwa anak buahnya penyebab kebakaran di kantor saya, dan benar saja pak hari ini kantor saya kebakaran namun untungnya hanya di bagian belakang sampai tengah saja ya meskipun bagian belakang sangat parah, atas kejadian itu pula papah saya kaget dan sampai masuk rumah sakit kini papah saya dinyatakan kritis," ucap Rio.


"Apakah anda memiliki buktinya?" tanya polisi. "Tentu ada pak, ini.." tunjuk Rio pada sebuah pesan yang dikirimkan Boy padanya dan juga bukti transfer.


Rio berharap nantinya Boy akan menerima hukuman yang setimpal dan tidak lagi menganggu hidup Rio.


"Andai kalau papah gak sampai masuk rumah sakit mungkin kesalahanmu masih bisa termaafkan Boy mengingat dirimu sudah mengakui kesalahan dan memberi ganti rugi namun sayangnya ulah anak buah mu itu sampai membuat papah kritis, itu yang membuat gue gak terima," batin Rio.


***


Keesokan harinya Rio mendapat kabar dari kepolisian bahwa Boy bersedia datang ke Indonesia untuk memenuhi panggilan, Rio yang mendapat kabar itu merasa tak sabar melihat apa hasil yang diberikan untuknya.


Setelah Boy menjalani sesi wawancara selama kurang lebih 6 jam kini polisi memutuskan jika memang Boy terbukti bersalah dan anak buah yang menyiramkan bensin ke kantor Rio juga ikut dampaknya.


"Belum berhasil gue mengulik informasi pada mereka siapa yang menyuruh untuk membakar kantor Rio eh malah ada panggilan cinta dari polisi, gue dinyatakan bersalah lagi.. Sial!!! Rugi gue udah keluarin uang sebanyak itu malah yang ada gue sekarang di tahanan, awas saja Rio jangan harap gue bakalan diam!!" batin Boy penuh dendam.


Berita Boy masuk penjara telah sampai ke telinga Rio dan kini dirinya merasa puas ya meskipun apa yang dilakukan anak buahnya tidak sebanding dengan apa yang dialami papahnya, sampai sekarang papahnya masih juga kritis apalagi kondisi mamahnya sungguh menyedihkan, beberapa hari gak mau makan juga minum.. Yang di pikirkan mamahnya ketakutan akan ditinggal sang suami.


Akhirnya Rio mendatangi kantor polisi untuk bertemu Boy.

__ADS_1


"Puas sekarang?" sindir Boy tersenyum sinis.


"Sama sekali tidak," jawab Rio dingin.


"Mau anda itu apalagi? Anda hebat loh bisa membuat saya masuk ke bui, di negara sana tidak ada yang bisa menyentuh saya," sindir Boy.


"Beda negara beda aturan.. Anda yang lebih hebat, setelah saya melunasi hutang tina-tiba saja kantor kebakaran, untung hanya bagian tengah sampai belakang coba kalau seluruhnya? Saya bisa menuntut lebih," ucap Rio ketus.


"Sudah saya katakan berulang kali itu bukan ulah atau pun keinginan saya.. Dari dulu saya selalu komitmen dengan apa yang saya katakan, silahkan tanyakan langsung pada anak buah saya kebetulan dia juga masuk sel," ucap Boy malas berdebat.


"Mana ada anak buah yang berani melakukan hal itu tanpa perintah yang lebih berkuasa," sindir Rio.


"Itu dia yang masih menjadi tanda tanya.. Mari kita panggil anak buah saya dan tanyakan langsung padanya, jujur saja saya juga ingin mendengarkan siapa yang menyuruh dia melakukan itu," ucap Boy yang dijawab ejekan oleh Rio.


"Haha saya bukan anak kecil yang dengan mudahnya di tipu, cukup kemarin saja saya berurusan dengan anda dan untuk kali ini tidak lagi.. Rasa kesal dan dendam anda kepada saya setelah nantinya lepas dari sini tidak akan pernah bisa mengembalikan kesehatan papah dan mamah ku seperti dulu" ucap Rio penuh penekanan.


"Urusan kita belum selesai.. Anda berani mengusik saya yang sudah tenang," ancam Boy.


"Saya tidak takut.. Jika memang bukan anda biang keroknya tidak mungkin sampai anda masuk penjara, ingat Boy Yudhistira.. Anda bertanggung jawab penuh atas apa yang nantinya terjadi pada kedua orang tua saya, jika keadaan papah saya semakin memburuk maka saya akan memastikan anda akan lebih lama berada disini," gertak Rio.


"Eits.. Enak saja semua dilimpahkan pada saya, tidak.. tidak bisa lah," tolak Boy.


"Karena anda musuh yang ingin mengakusisi perusahaan saya," jawab Rio ketus.


"Itu jika hutang anda tidak segera lunas, kalau sudah ya semuanya selesai," ucap Boy.


"Bullshit.." ejek Rio.


"What ever.. Tetapi saya bisa memastikan jika bukan saya yang menyuruh mereka untuk melakukan itu, camkan itu baik-baik Tuan Rio Suganda.. Jangan sampai nanti anda menyesalinya," gertak Boy membuat Rio hampir terpengaruh omongannya namun berusaha menepis.


"Jika bukan anda maka buktikan," gertak Rio lalu bergegas pergi meninggalkan Boy.


"Sialan.. Siapa pelaku sebenarnya? Anak buah kurang ajar.. Beraninya dia berkhianat!!!" ucap Boy emosi dan menggebrak meja.

__ADS_1


__ADS_2