
Esok paginya Dinda dan Ryan sudah bersiap untuk mengantar si kembar ke sekolahan terbarunya.. Diperjalanan tak hentinya Farel dan Vanessa sangat bahagia dan tidak sabar tiba di sekolah terbaru mereka.
Setibanya di sekolah yang dimaksud Farel dan Vanessa melongo tak percaya, ia tidak menyangka akan sekolah disini, begitu pun dengan Dinda.. Seumur hidupnya baru kali ini dia menginjakkan kaki di sekolah internasional, sekolahnya anak-anak orang sangat kaya raya. Dinda jadi minder apakah nanti anaknya bisa membiaskan diri di lingkup seperti ini,
"Mas aku gak yakin anak-anak akan mampu beradaptasi," bisik Dinda ragu.
"Memang ini terkenal sekolah mahal bahkan levelnya internasional namun percayalah mereka tidak akan suka menindas sesama siswa," ucap Ryan menenangkan istrinya.
"Serius mas? Nanti anak-anak gak bakal di bully kan?" tanya Dinda memastikan.
"Tenang saja.. Akan aku jamin keamanan kedua anak kita," jawab Ryan sangat yakin.
"Baiklah aku percaya sepenuhnya padamu mas," ucap Dinda pasrah dan Ryan meninggalkan Dinda untuk mengurus berkas pendaftaran.
Setelah selesai Ryan mengurus pendaftaran kini Farel dan Vanessa langsung bisa sekolah hari itu juga dan memakai seragam sekolahan.
"Mommy.." sapa keduanya setelah berganti seragam.
"Astaga kalian cantik dan tampan sekali pakai seragam sekolah," puji Dinda kagum.
"Serius mom?" tanya Vanessa tak percaya.
"Serius lah.. Kalian berdekatan ya mommy mau ambil foto," pinta Dinda berhasil mengambil foto si kembar mengenakan seragam sekolah. Tak lupa Dinda membuat status di whatsapp.
"Hari pertama si kembar sekolah di tempat baru," isi caption Dinda yang kebetulan Rio membacanya.
"Anak-anakku sekarang sudah besar dan makin menggemaskan, btw ini bukannya seragam Indonesia Internasional School ya? Apa benar Farel dan Vanessa sekolah di sana tapi darimana nantinya Dinda membayar spp tiap bulannya? Gaji suaminya apa cukup?" batin Rio meragukan mantan istri dan suaminya. Lalu Rio segera memberitahu berita ini pada mamahnya.
"Mah.. Mamah.." panggil Rio.
"Ada apa?" tanya Mayang dari balik pintu.
"Turun deh mah ada yang mau Rio kasih tau," suruh Rio.
"Tentang apa? Sisil?" sindir Mayang.
"Tentang cucu mamah lah, ayo turun sini," ucap Rio serius lalu Mayang bergegas turun, ia tidak sabar mendengar kabar sang cucu.
"Kenapa? Ada apa dengan cucuku?" tanya Mayang tak sabar.
"Lihat ini mah," tunjuk Rio via status whatsapp Dinda.
"Ini kan Farel dan Vanessa.. Gak kerasa ya mereka sudah sebesar ini dan mulai sekolah," ucap Mayang terharu dan berusaha menahan air mata agar tidak jatuh ke pipi.
"Iya mah.. Tapi apa mamah tau dimana sekolah mereka?" tanya Rio.
"Mana mamah tau," jawab Mayang ketus.
"Ini Rio mau kasih tau mah," jawab Rio geram.
"Mau kasih tau kenapa pakai nanya segala kan bisa tinggal bilang," ucap Mayang masih terus memandang foto cucunya.
"Ya kirain mamah tau dari seragam mereka," jawab Rio menebak.
"Mamah bukan cenayang yang seketika melihat langsung tau dimana sekolah mereka," sindir Mayang.
__ADS_1
"Sudahlah malas debat terus sama mamah, Farel dan Vanessa sekolah di IIS mah.. Tau kan sekolahan itu?" tanya Ryan memastikan.
"Ha? IIS? INDONESIA INTERNASIONAL SCHOOL?" pekik Mayang tak percaya.
"Iya mah mereka sekolah di sana," jawab Rio membenarkan.
"Dapat duit darimana mereka bisa nekat di sekolahkan di sana," cibir Mayang.
"Makanya itu mah Rio merasa aneh, di sana kan spp nya sangat mahal," ucap Ryan geram.
"Iya sih.. Yasudah yang terpenting kamu selalu mengirimkan uang bulanan tanpa telat takutnya nanti Dinda sudah di penuhi kebutuhannya sama suami barunya," ucap Mayang membuat Ryan cemburu.
"Dinda gak pernah meminta uang bulanan anak-anak mas jadi Rio yakin kalau Ryan sudah menyiapkan segala kebutuhan keluarga kecilnya," ucap Rio membela Dinda.
"Yasudah lah yang penting kamu jangan sampai lalai, tidak ada yang namanya mantan anak, mengerti?" tegur Mayang.
"Iya mah Rio sangat paham," jawab Rio.
"Bagus.. Yasudah mamah ke kamar dulu ya dan tolong bawa cucuku kesini," pinta Mayang sambil berlalu pergi.
"Mana bisa mah aku bawa mereka kesini, setelah menikah saja Ryan tambah lengket sama anak-anaknya, ada rasa kecemburuan di dirinya," gumam Ryan.
***
Hari Sabtu tiba dan sesuai permintaan mamahnya kini Ryan mengajak mamahnya ke rumah Dinda untuk menjenguk cucunya.
Sayang seribu sayang.. Dinda tidak ada di rumah, Rio mengira jika Dinda masih tinggal di rumah lama. Tak mau semuanya sia-sia akhirnya Rio menghubungi Dinda.
"Halo Din kamu dimana?" tanya Rio to the poin.
"Ya di rumah mas emang ada apa?" tanya Dinda heran.
"Astaga gue lupa.." ucap Dinda membuat Rio penasaran.
"Lupa apa?" tanya Dinda menepuk jidat.
"Lupa kalau memang hari ini gak ada di rumah, kamu bisa ke rumah ibu atau menunggu di teras rumah," ucap Dinda memberi solusi.
"Aku akan tetap disini," jawab Rio mantap.
"Baiklah tunggu kurang lebih 30 menit mas," jawab Dinda langsung bergegas ke rumah lama bersama kedua anaknya.
"Gimana? Dinda lagi pergi?" tanya Mayang.
"Iya mas tapi kita di suruh nunggu kok," jawab Rio yang membuat mamahnya tenang.
"Syukurlah mamah pikir kita gak bisa ketemu mereka," jawab Mayang lega.
"Gak mah.. Dinda yang bilang sendiri suruh nunggu," jawab Rio.
Sambil menunggu Dinda tiba, Rio dan Mayang sibuk bermain ponsel untuk menghilangkan rasa kejenuhan.
Si kembar yang melihat keberadaan papah Rio dan nenek Mayang merasa gembira.
"Mommy mommy.. Lihat deh itu papah kan?" tanya Farel antusias.
__ADS_1
"Iya mom ada nenek juga loh, tuh lagi duduk," ucap Vanessa.
"Iya sayang papah dan nenek main kesini, kalian nanti bersikap yang baik ya," perintah Dinda dengan lembut.
"Oke mommy.." jawab keduanya kompak.
Melihat mobil Dinda semakin dekat, Rio dan Mayang bergegas menghampiri, rasa rindu yang tidak bisa di bendung lagi membuat mereka saling berpelukan dengan erat.
"Papah..." panggil si kembar sambil berlari menghampiri Rio, begitupun Rio tidak sabar menunggu lari-lari kecil anak kembarnya hingga akhirnya Rio pun juga menghampiri.
"Anak kembar papah," sapa Rio sembari menghampiri si kembar dan berpelukan.
"Papah tumben datang kesini bawa nenek juga," ucap Farel melepas pelukan Rio.
"Iya nih soalnya nenek kangen banget sama kalian, mau gak hari ini kita main?" ajak Rio.
"Mau dong," jawab Farel dan Vanessa serempak lalu Rio minta izin sama Dinda untuk mengajak pergi.
Melihat mamahnya masih akrab dan ramah dengan Dinda membuat Rio merasa sedih, ia sungguh salah besar sudah mencampakkan Dinda dan memilih Sisil, nyatanya sekarang waktu yang membuktikan bahwa Dinda adalah wanita yang terbaik.
"Ehem.. Maaf menganggu waktu kalian, Rio mau bicara empat sama sama Dinda dulu mah," ucap Rio serius.
"Soal apa ya mas? Kenapa gak langsung saja kan beliau mamah mu jadi gak masalah dong kalau tau apa yang dibicarakan," ucap Dinda.
"Gak.. Aku inginnya hanya kita berdua saja, mah tolong bawa anak-anak ke mobil ya.. Rio hanya bicara sebentar kok sekalian minta izin sama Dinda buat ajak jalan-jalan," pinta Rio dan akhirnya Mayang menuruti, ia juga tidak mau terlalu ikut campur privasi anak semata wayangnya.
"Ada apa mas?" tanya Dinda penasaran.
"Ini mengenai anak-anak," ucap Rio ragu.
"Kenapa dengan mereka? Jangan bilang kamu mau mengambil hak asuh salah satu dari mereka mas," tuduh Dinda serius.
"Bukan.. Aku ikhlas kalau anak-anak berada dalam asuhan mu karena kamu itu ibu kandungnya jadi kamu yang lebih tau dan lebih paham kedua anak kita, yang menjadi maksudku adalah tentang pendidikan anak-anak," ucap Rio sungkan.
"Oh.. Ada apa dengan pendidikan mereka?" tanya Dinda penasaran.
"Aku melihat status di WA mu dan sepertinya anak-anak kamu sekolahkan di IIS ya?" tanya Rio.
"Oh iya mas memang anak-anak baru saja aku dan mas Ryan pindahkan di sekolah itu, memangnya kenapa?" tanya Dinda heran.
"Kamu serius menyekolahkan mereka di sana? Biayanya sungguh mahal loh Din, kalian sanggup? Kenapa tidak diskusi dulu denganku?" tanya Rio kesal.
"Saya dan mas Ryan akan mengusahakan yang terbaik untuk anak-anak jadi jangan cemas... tugasmu cukup nafkahi mereka seperti setiap bulannya saja, masalah biaya sekolah biarlah menjadi tanggung jawab aku dan suamiku dan kenapa aku tidak mendiskusikan itu padamu? Memangnya kalau aku berpendapat apakah akan kamu setujui? Yang ada nantinya kamu meremehkan kami mas, lagian ya sekarang anak-anak juga menjadi tanggung jawab mas Ryan kok dan dia sendiri yang menginginkan anak-anak sekolah di sana, jadi janganlah berprasangka buruk ataupun pesimis," ucap Dinda dengan tenang namun menohok.
"Suami kamu hanya seorang pengacara dan kamu hanya menjadi sebuah agen kecantikan, omset kalian berdua sebulan bisa saja hanya untuk biaya spp anak-anak," sindir Rio.
"Kenapa kamu bisa berpikir begitu mas? Memang salahnya seorang pengacara dimana sih? Kok dari dulu kamu selalu menyangkut pautkan apapun dengan profesi mas Ryan," ucap Dinda tersinggung.
"Jelas lah.. Pengacara tuh berapa gajinya dan spp di sana perbulan berapa, mikir sampai sana dong," sindir Rio tersenyum smirk.
"Oh tentu sudah dong mas malah sudah sangat di pikirkan dengan matang-matang, sudahlah jangan terlalu ikut campur masalah rumah tangga ku... Kenapa kamu gak fokus dengan istrimu itu, istri yang dulu sangat kamu bela mati-matian, ingat mas kita bukan lagi suami istri jadi mau kamu setuju atau tidak ya keputusanku tetap sama, menyekolahkan anak-anak di IIS tanpa atau pun dengan uang bulanan darimu," sindir Dinda mulai emosi.
"Aku tetap memberikan uang setiap bulannya dan rencana akan aku tambahkan sebagai pembayaran uang spp," ucap Rio angkuh.
"Silahkan mas dengan senang hati akan aku terima asalkan jangan sekali dua kali ya tapi rutin," tantang Dinda membuat Rio kaget.
__ADS_1
"Ba...Baik," jawab Rio gugup.
"Yasudah mas sana nikmati momen bersama anak-anak, aku izinkan asal jangan menginap dan pukul 6 sore sudah ada di sini, sebelum jam segitu juga lebih bagus.. Oh iya kalau nanti aku tidak ada di rumah langsung saja bawa anak-anak ke rumah ibu ya," usir Dinda dan Rio hanya mengangguk saja.. Niat hati meragukan Dinda dan suaminya karena menyekolahkan di IIS eh malah dia yang malu sendiri.