
Sudah sepekan si kembar tidak masuk sekolah dan kini Dinda berniat mendatangi sekolahan anaknya untuk mengabari jika anaknya akan keluar dari sini. Dinda tidak sendirian, ada suaminya yang siap siaga menemani.
"Area you ready sayang?" tanya Ryan.
"Always ready," jawab Dinda mantap.
"Anak-anak dimana?" tanya Ryan memastikan.
"Ada dibawah lagi main sama keluargaku," ucap Dinda sambil memakai tas.
"Yasudah yuk turun dan segera ke sekolahan anak-anak," ajak Ryan dan mereka berdua turun bersamaan.
"Mommy dan papah Ryan mau kemana?" tanya Farel penasaran.
"Kita mau ke sekolahan kalian sayang, mulai besok kalian pindah sekolah saja ya, mau kan?" tanya Dinda lembut.
"Mau pindah kemana mom? Berarti nanti Vanessa gak ketemu Fera lagi kan?" tanya Vanessa penuh harap.
"Tentu sayang nanti mommy dan papah akan segera mencarikan sekolah untuk kalian, sekolahnya nanti lebih bagus deh," bujuk Dinda dan kedua anaknya setuju.
"Bu, Pak.. Mas, kami titip anak-anak dulu ya sambil mengurus berkas pindahan juga," ucap Dinda menatap mereka bergantian.
"Santai saja mumpung hari ini mas libur," ucap kakak Dinda memahami.
"Makasih mas.. Kami pergi dulu," pamit Dinda.
"Titip Vanessa dan Farel ya bu, pak, kakak ipar.. Kami permisi dulu," pamit Ryan lalu mereka bergegas ke sekolahan.
***
Setibanya di sekolah, Dinda dan Ryan langsung menemui kepala sekolah untuk menyampaikan maksud kedatangannya.
"Selamat pagi bu," sapa Ryan ramah.
__ADS_1
"Selamat pagi.. Mari masuk," sapa kepala sekolah ramah.
"Terima kasih sudah menyempatkan waktunya untuk bertemu dengan kami," ucap Dinda.
"Sama-sama Bu.. Ada apa anda dan suami sampai menemui saya? Masalah tempo hari belum ada titik temunya bu?" tebak kepala sekolah.
"Masalah itu sudah selesai dan mamah Fera mengakui kekalahan, kedatangan kami kesini mau menyampaikan maksud bahwa antara saya dan suami saya sudah sepakat untuk memindahkan sekolah anak saya," ucap Dinda mengejutkan kepala sekolah.
"Apa anda sudah yakin itu?" tanya kepala sekolah.
"Sudah.. Kami sudah memikirkannya secara matang," ucap Ryan mantap.
"Tapi masalah yang di hadapi anak anda tidak termasuk masalah yang besar ya meskipun tindakan itu tidak bisa di benarkan," ucap kepala sekolah.
"Bagi anda ini bukan masalah besar? Anak saya sampai di culik sama ayahnya Fera dan itu terjadi di lingkup sekolahan, dimana letak keamanan dan kenyamanan untuk anak saya? Tujuan kami menyekolahkan anak saya disini untuk menuntut ilmu serta supaya anak-anak saya menjadi lebih pandai bukan malah dibuat psikisnya terguncang, anda sebagai kepala sekolah disini tidak pernah mengambil tindakan tegas apapun.. Anda merasa ini adalah masalah receh," ucap Ryan geram.
"Bukan begitu pak.. Untuk kasus penculikan jujur saja saya baru mendengarnya dari anda, jadi saya mengatakan itu untuk masalah yang tempo hari antara istri anda dengan salah satu orang tua murid," ucap kepala sekolah berusaha bijak.
"Sekolahan ini sebenarnya sistemnya gimana sih? Kabar muridnya di culik bisa-bisanya di rahasiakan.. Yang benar saja, memang sudah tepat alasanku untuk memindahkan kedua anak-anak dari sekolah ini, cukup banyak kami, menahan kekecewaan pada kalian," tegur Dinda.
"Lebih tersinggung dan sakit hati saya ketika tau ajak saya jadi korban bully namun malah dianggap remeh bahkan hal lumrah, anakku di culik pun juga kalian seolah tidak mau tahu, sudahlah capek saya terus menerus meminta keadilan dengan kalian semua," ucap Dinda sudah mulai lelah.
"Tapi serius bu untuk kasus penculikan saya tidak tau, satpam yang biasanya jaga pun mengundurkan diri jadinya setiap anak-anak mau pulang sekolah para guru bergiliran menjaga anak-anak sampai nanti di jemput," ucap kepala sekolah mengejutkan Dinda dan Ryan.
"Apa alasan pak satpam resign?" tanya Dinda.
"Katanya mau pulang kampung saja dan tidak cocok bekerja di kota, sebenarnya saya menahannya agar tidak langsung resign paling tidak sampai bulan besok agar mendapat penggantinya namun nyatanya sampai sekarang pak satpam tak kunjung berangkat," ucap kepala sekolah jujur.
"Karena pak satpam itu ada kesalahan dalam menjaga anak-anak, dia dengan percaya dirinya bilang kalau waktu itu anak-anak di jemput papahnya padahal papahnya lagi kerja dan berada di kantor, ketika saya mendesak untuk melihat CCTV barulah disana terungkap kalau anak saya di bisu dulu baru di gendong dan dimasukkan ke mobil, ada pak satpam yang mengetahui itu namun dia hanya diam saja," ucap Dinda kesal.
"Maaf atas kelalain kami bu karena kami sungguh tidak menginginkan hal itu terjadi, namun saya minta pikirkan ulang untuk memindahkan sekolahan anaknya, tinggal sebentar lagi anak kalian akan lulus," Pinta kepala sekolah.
"Masih ada satu setengah taun lagi dan itu waktu yang cukup lama jadi tidak ada penyesalan sedikitpun, kalau anak saya masih tetap disini bisa saja semakin mendapat perlakuan buruk," sindir Dinda.
__ADS_1
"Begini saja bu.. Anak ibu cukup, membayar uang spp 50℅ selama satu semester asalkan jangan pindah," bujuk kepala sekolah.
"Maaf kami masih mampu untuk membayar spp secara penuh daripada ada subsidi namun mereka tertekan," tolak Dinda.
"Bukan maksud saya menyinggung anda namun saya merasa keberatan kalau harus kehilangan murid sepintar dan seceria si kembar, coba pikirkan lagi bu," ucap kepala sekolah.
"Kenapa anda tidak menanyakan diri anda sendiri? Saya ini ibu dari dua anak kembar loh jadi bisa di pastikan kalau apa yang anak-anak rasakan sudah pasti aku merasakannya lebih berkali-kali lipat.. Andai apa yang di alami anak saya itu terjadi pada anak-anak anda apakah nantinya akan tetap bisa berbicara manis seperti itu? Anda rela kalau anak anda di bully bahkan orang tuanya pun ikut campur dan juga menculik anak saya, anda bisa menerima itu semua? Saya yakin tidak akan menerimanya, jadi jangan lagi berucap seolah-olah kalau kami orang tua yang egois," tegur Dinda.
"Baiklah jika itu keputusan anda maka saya akan menyetujui," jawab kepala sekolah pasrah.
"Baik.. Terima kasih, sekarang juga saya meminta segala urusannya selesai," ucap Dinda ketus.
"Baik bu biarkan semua ini di urus bagian tata usaha dan nanti tanda tangan wali kelas juga orang tua murid" ucap kepala sekolah pasrah.
Lalu kepala sekolah memanggil bagian tata usaha dan meminta membuatkan surat keluar dari sekolah beserta rapot nya.
Tok.. Tok.. Tok..
"Masuk.." ucap kepala sekolah.
"Permisi bu ini berkas yang di butuhkan sudah siap," ucap petugas menyerahkan map di meja.
"Baik.. Makasih banyak pak," jawab kepala sekolah ramah.
"Sama-sama Bu, kalau begitu saya permisi dulu," pamit petugas dan kepala sekolah hanya mengangguk.
"Ini surat-suratnya sudah kami buatkan bu silahkan anda tanda tangan di sini beserta nama terang ya bu," perintah kepala sekolah lalu Dinda langsung tanda tangan.
"Sudah?" tanya Dinda memastikan.
"Sudah bu.. Mulai hari ini ananda Farel dan juga Vanessa sudah resmi bukan lagi bagian dari sekolah ini, ananda Farel dan Vanessa keluar dari sekolah atas keinginan sendiri," ucap kepala sekolah memastikan.
"Iya benar.. Makasih banyak atas kerjasamanya," jawab Dinda menjabat tangan kepala sekolah dan mereka saling bersalaman.
__ADS_1
"Sama-sama Bu semoga anak-anak anda bisa mendapatkan sekolah yang nyaman dan aman ya bu, semoga nantinya betah di sana," harap kepala sekolah.
"Aamiin.. Kalau begitu kami permisi dulu," pamit Dinda di susul Ryan.