
"Halo bos?" sapa preman.
"Halo bagaimana? Deal?" tanya boy tak sabar.
"Belum bos.. Kami mau mengabarkan bahwa target sedang meninggalkan kantor dengan terburu-buru," lapor preman.
"Ikuti dia dan jangan sampai kehilangan jejak, ingat dia itu licik.. Jika kalian kehilangan jejak awas saja," ancam boy emosi.
"Baik bos.. Kami sedang mengawasi target dari kejauhan," jawab preman lalu boy memutus panggilan.
"Jika nantinya lo terbukti menghindari gue awas saja lo Rio.. Hidupmu gak bakal tenang, bakal gue cari sampai ke ujung dunia pun," gumam boy geram. Lalu boy mengabari Ryan perihal kemajuan usahanya membuat Rio hancur.
Drrt.. Drrt.. Dering hp Ryan.
"Halo man.. How are you?" sapa Ryan.
"I'm fine man, and you?" tanya boy.
"I'm very well.. Ada berita apa?" tanya Ryan penasaran.
"Ada berita bagus buat lo.. Gue yakin lo bakal bahagia banget mendengarnya," ucap boy membuat Ryan penasaran.
"Apa itu? Jangan bertele-tele lah," tanya Ryan.
"Haha ok ok.. Jadi gini, anak buah gue udah ada di Indonesia dan mereka lagi mengikuti kemana perginya Rio Suganda, tadi pagi anak buah gue udah ke kantor dia untuk menagih dana yang sempat gue tanam di perusahaannya, mereka menggertak Rio agar segera melunasi nya namun Rio tidak sanggup, habis itu anak buah gue memberitahu gue dan membiarkan gue ngomong langsung ke Rio, dia mohon-mohon meminta keringanan waktu sampai 6 bulan, gue gak mau dong berlama-lama urusan dengannya jadinya ya gue ambil kesimpulan untuk memberikan setengahnya dulu atau setengah saham miliknya mutlak jadi milik gue," ucap boy membuat Ryan bahagia.
"Wow.. Ini berita yang sungguh menggembirakan sekali, mood gue hari ini.. Terus kemana perginya Rio sekarang?" tanya Ryan penasaran.
"Entah.. Masih dalam pantauan anak buah gue," jawab boy.
"Ok.. Gue akan tunggu berita secepatnya bro, mantap kali minta bantuan sama lo, tanpa basa basi langsung bergerak.. Thanks bro, gue sungguh puas dan senang," puji Ryan.
"Bukan masalah yang besar, kebetulan juga gue memang ada masalah dengannya.. Salah dia sendiri berani masuk ke sarang gue," ucap boy dengan angkuhnya.
"Thats right bro.. Gue juga kaget kalau dia ada urusan denganmu," ucap Ryan membenarkan.
"Makanya itu.. Padahal ketika gue selidiki sepak terjangnya sangat berbanding terbalik dengan usaha gue entah apa yang membuatnya kekeh kerja sama dengan gue," ucap boy terheran.
"Mungkin ada sesuatu yang membuatnya yakin bekerja sama denganmu," ucap Ryan.
__ADS_1
"Maybe.. Yasudah hanya itu yang dapat gue sampaikan, ntar kalau ada kabar lagi bakal gue kabari," ucap boy lalu mereka sepakat mengakhiri obrolan.
***
Kini Rio sudah berada di kantor polisi dan langsung menemui Sisil.. Ketika Sisil mengetahui siapa yang mengunjunginya Sisil merasa senang karena ia pikir sang suami rindu padanya.
"Mas Rio.. Benarkah itu kamu mas?" tanya Sisil dengan wajah berbinar.
"Ya.. Jangan percaya diri dulu kedatangan gue kesini ada maksud tertentu," ucap Rio serius.
"I know mas.. Kamu rindu padaku kan? Sama mas aku juga sangat merindukanmu, maafkan aku yang gak merawat mu ketika sakit," ucap Sisil merasa bersalah.
"Bukan.. Itu salah besar, kedatangan gue kesini mau meminta buku rekening juga atm mu," ucap Rio serius.
"APA? TAPI BUAT APA MAS ITU KAN MILIKKU," pekik Sisil tak terima.
"Kamu sadar gak kalau saldo yang ada di rekening mu adalah uang perusahaan yang kau curi, aku yakin pasti lebih banyak nominal uang perusahaan ketimbang saldo mu sendiri," ucap Rio penuh penekanan.
"Ya apapun itu sekarang uangnya jadi milikku mas, gak bisa dong kalau mau di ambil," tolak Sisil.
"Kamu berani mengatakan itu setelah menguras hartaku? Apa ini tujuanmu menikah denganku? Kamu ingin menguasai semua harta yang aku punya? Iya?" cecar Rio kesal.
"Kalau memang kamu cinta denganku seharusnya gak masalah dong kalau uangnya aku ambil lagi, kenapa kamu yang gak terima? Itu uang aku loh Sil.. Uang perusahaan," tanya Rio heran.
"Mau uang perusahaan atau bukan aku gak peduli mas, intinya apapun yang udah ada di tanganku gak bisa di balikin lagi," tolak Sisil.
"Kalau kamu masih gak mau memberikan maka jangan harap kita suami istri lagi, aku sudah muak denganmu ditambah tingkah mu yang keterlaluan sehingga membuatmu masuk penjara, malu aku Sil di hadapan para kolega dan keluarga besar, karena mu juga perusahaan hampir bangkrut dan karena mu juga kini aku di kejar-kejar oleh gengster, kamu mikir sampai sana gak? Kamu yang maling uangnya tapi aku yang pusing menyelesaikannya," ucap Rio geram.
"Ka..Kamu di kejar gengster mas? Kok bisa?" tanya Sisil kaget.
"Itu bukan urusanmu dan ceritanya pun panjang, waktu ku terlalu berharga untuk menceritakan ini padamu.. Sekarang katakan dimana kamu sembunyikan ATM serta buku rekeningnya?" desak Rio.
"Gak.. Gak akan aku jawab," tolak Sisil.
"Baik.. Bersiaplah menjanda dan akan aku laporkan kasus penggelapan uang pada polisi agar hukuman mu bertambah," gertak Rio.
"Jangan dong mas, masa hukuman dari mantan istrimu aja belum kelar kenapa kamu tega menambahkannya?" rengek Sisil.
"KAMU YANG LEBIH TEGA SIL.. MENCURI UANG PERUSAHAAN DEMI OBSESI MU, KAMU GUNAIN UNTUK APA UANG SEBANYAK ITU HA?" cecar Rio.
__ADS_1
"Mau tau kenapa aku sampai tega mencuri uang itu mas?" tanya Sisil.
"Oh ya jelas.. Cepat katakan," desak Rio.
"KARENA AKU GAK MAU MAS KALAU NANTI SEMUA HARTAMU JATUH KE FAREL JUGA VANESSA, AKU SADAR MAS KALAU MEREKA ADALAH ANAK KANDUNG MU NAMUN AKU KAN JUGA MEMILIKI HAK ATAS HARTAMU, AKU INI ISTRI SAH MU SAMPAI SEKARANG JADI AKU ANTISIPASI DARI AWAL KALAU NANTINYA KAMU BAKAL MEMBERIKAN SELURUH HARTAMU PADA SI KEMBAR, APA AKU SALAH?" tanya Sisil penuh emosi.
"JELAS SALAH.. SUDAH SANGAT JELAS JIKA MEREKA ITU ANAK KANDUNGKU JADI MEMANG MEREKA YANG BERHAK ATAS HARTA YANG AKU MILIKI, UNTUKMU? TENANG SAJA TETAP NANTINYA KAMU ADA BAGIAN.. TAPI SAYANGNYA KAMU SUDAH RAKUS DAN MENGAMBILNYA DULUAN, SEKARANG AKU MINTA KATAKAN DENGAN JUJUR DIMANA ATM DAN BUKU REKENING MU, AKU MEMBUTUHKAN ITU SIL DEMI KELANGSUNGAN HIDUP BERSAMA," pekik Rio.
"Kelangsungan hidup bersama atau kelangsungan hidup si kembar?" sindir Sisil.
"Kelangsungan hidup kita juga lah memang kamu mau separuh saham perusahaan ku dikuasai oleh gengster? Kalau dalam waktu 6 bulan aku belum bisa melunasi makan perusahaan akan menjadi miliknya, kamu mau? Makanya itu aku meminta ATM dan buku rekening mu untuk mengambil uang perusahaan yang kamu curi, hanya uang itu.. selebihnya masih tetap milikmu," pinta Rio.
"Tapi uangnya udah terpakai 200 juta mas," ucap Sisil lirih.
"Gak masalah.. Yang terpenting masih ada nominal triliun nya, katakan dimana tempatnya?" tanya Rio tak sabar.
"Tapi janji ya mas ini demi kelangsungan hidup kita, aku gak mau hidup susah mas," pinta Sisil.
"Akan aku usahakan asalkan kami segera memberitahu dimana atmnya, setelah memberi separuh dana pada mereka nantinya aku bakal putar otak cari sisanya supaya perusahaan tetap ada di tanganku, rugi dong aku kalau nantinya perusahaan jadi milik mereka, nilai jualnya aja tinggi masak mereka enak-enakan memiliki perusahaan hanya dengan modal 3 triliun saja," ucap Rio.
"Baiklah mas aku juga gak mau kalau perusahaan ada di tangan mereka tapi aku mohon jangan pakai uang itu untuk si kembar, kalau nanti aku dengar kamu memberikan nafkah si kembar pakai uang itu nantinya kamu bakal aku laporin mas," gertak Sisil.
"Lah kamu laporin aku atas dasar apa? Jangan aneh-aneh.. Kamu itu buron mana bisa memenjarakan orang," tanya Rio heran.
"Ya intinya jangan kasih ke kembar," perintah Sisil.
"Ok.. Ok.. Cepat katakan dimana? Waktu aku gak banyak, mereka memberiku waktu sampai jam makan siang," desak Rio.
"Ada di rumah mamah tepatnya di kamarku, aku taruh di bawah tempat tidur," ucap Sisil terpaksa jujur.
"Bagus.. Untuk pin-nya?" tanya Rio tak sabar.
"Tanggal pernikahan kita mas," jawab Sisil pasrah.
"Good.. Makasih udah menolong suamimu ini, setidaknya aku bisa lega karena memenuhi janji untuk memberikan separuhnya," jawab Rio lega dan bergegas ke rumah Sisil. Di sana mamahnya bersikukuh menolak Rio masuk ke kamar Sisil.. Mamahnya gak mau kalau Rio meletakkan macam-macam di kamar anaknya
"Mau ngapain kamu datang kesini? Nyamperin anakku ya di penjara bukan disini," sindir Ira.
"Rio datang kesini mau masuk ke kamar Sisil, ada sesuatu yang harus Rio ambil mah," ucap Rio malas debat.
__ADS_1
"Apa yang akan kamu ambil? Tidak ada apapun di kamar anak saya jadi lebih baik pulang," usir Ira.