
Di saat Dinda sedang berpikir keras rencana apa yang di susun Sisil tiba-tiba Rio memanggil.
"Halo ada apa mas?" tanya Dinda to the point.
"Bagaimana dengan Farel? Apa dia sudah di rumah?" tanya Rio khawatir.
"Sudah mas dan sekarang istrimu sudah perjalanan pulang," jawab Dinda dingin.
"Ah syukurlah.. Aku kira Sisil membawa Farel kemana," ucap Rio lega.
"Hanya makan siang saja, yasudah mas aku mau lanjutin kerja, orderan lagi banyak," ucap Dinda tak mau lama telponan.
"Oh iya iya, yasudah salam ya buat kedua anak kita," ucap Rio mengalah dan mematikan telpon, disaat Rio ingin meletakkan hpnya, ada chat masuk dari Sisil yang membuatnya sangat terkejut.
"Mas jangan berharap lagi dengan mantan istrimu itu karena dia sudah menemukan pelabuhan hatinya, fokuslah dengan apa yang ada di depan mata kamu sekarang mas.. Ingat mas lawan mu kebal hukum," isi chat Sisil yang langsung membuat Rio kesal dan langsung menelpon Sisil.
"Apa maksudmu mengatakan seperti itu, ha?" tanya Rio kesal.
"Santai aja napa mas, nanti kalau kamu sudah selesai kerja akan Sisil jelaskan secara detail, jangan kaget ya.." jawab Sisil mengejek dan semakin membuat Rio kesal.
Lalu Rio bergegas pulang dan menanyakan semua ini kepada Sisil.
###
"Sil... Sisil.." panggil Rio.
"Iya mas jangan teriak gitu kenapa sih? Tumben pulang awal, ada apa mas? Sakit?" tanya Sisil penasaran.
"Jelaskan apa maksud pesan mu tadi," ucap Rio serius.
"Segitunya kalau menyangkut mantan istrinya, aku iri mas," protes Sisil.
"Cepat katakan, jangan main-main denganku," gertak Rio acuh.
"Huft.. Si Dinda mantan istrimu itu sebentar lagi mau menikah dengan pengacaranya," ucap Sisil jutek.
"Apa?? Jangan fitnah kamu," ucap Rio tak percaya.
"Kalau gak percaya yasudah mas terserah kamu saja, setidaknya info ini valid," ucap Sisil.
__ADS_1
"Dapat info darimana?" tanya Rio serius.
"Ya dari anak kamu lah mas, dia sendiri yang mengatakannya," ucap Sisil ketus.
"Farel?" tanya Rio tak percaya.
"Ya iya.. Siapa lagi coba?" tanya balik Sisil.
"Gak.. Gak mungkin," ucap Rio tak terima.
"Apanya yang gak mungkin? Mantan istrimu juga berhak bahagia mas, masak iya jadi janda terus," tanya Sisil heran.
"Ya gak mungkin Dinda menikah secepat ini, apa mampu Ryan memberikan nafkah yang layak untuk kedua anakku," ejek Rio.
"Ya lebih cepat kamu lah mas, selesai ketuk palu sebulan kemudian menikahi ku, untuk masalah nafkah ya gak perlu kamu ambil pusing lah mas, dia kan pengacara hebat," ucap Sisil memprovokasi.
"DIAM!!" pekik Rio emosi.
"Kenapa jadi emosi sih, aneh," cibir Sisil.
"Dinda gak boleh menikah dengan Ryan, gak ini gak boleh terjadi," gumam Rio yang di dengar Sisil.
"MAS.." pekik Sisil emosi.
"APA KURANGNYA AKU MAS? SELAMA INI AKU TIDAK PERNAH BERPALING DARIMU DAN SETIAP HARI AKU MENCOBA MENJADI ISTRI BAIK, KENAPA MASIH SAJA DINDA YANG ADA DI PIKIRANMU?" pekik Sisil.
"MAU KAMU BAIK SEPERTI MALAIKAT PUN TETAP SAJA HATIKU UNTUK DINDA DAN AKAN SELALU BEGITU," pekik Rio membuat Sisil terkejut.
"Berkali-kali kamu menyakitiku mas kamu jujur sekali mengatakan semua ini, seperti tidak berharga lagi aku di hidupmu," ucap Siail berlinang air mata.
"Jangan memperkeruh suasana dan jangan drama, kamu sendiri yang memulai," gertak Rio.
"Kamu jahat mas, obsesi mu terhadap Dinda telah membutakan akal sehat mu," umpat Sisil menangis sesenggukan.
"Selagi janur kuning belum melengkung akan aku pisahkan mereka," ucap Rio mantap.
Lalu Sisil berlari ke kamar karena tidak kuat dengan perkataan suaminya, sia-sia sudah dia berubah untuk mengambil hati suaminya lagi, kini semua pikiran dan hatinya sudah di penuhi oleh Dinda, Dinda dan Dinda.
"Kamu tega sekali mas, kamu memang jahat, kamu gak punya perasaan," umpat Sisil sambil membanting semua barang yang ada di depan matanya.
__ADS_1
Rio yang mendengar kegaduhan di kamar segera menghampiri.
"Sil jangan gila ya, kamar jadi berantakan gini," ucap Rio kesal.
"Kamu yang membuat aku gila mas, kamu.." tunjuk Sisil penuh amarah.
"Udah deh jangan drama lagi, panggil mbak dan bersihkan semua ini," ucap Rio acuh.
"Kamu sekarang boleh mas mengacuhkan dan menghinaku sesukamu tapi ingat jangan sampai kamu menyesal yang kedua kalinya, kamu sudah kehilangan Dinda dan jangan sampai nanti kamu baru merasakan kehilanganku ketika aku beneran pergi dari hidupmu, wanita mana yang kuat jika suaminya masih saja mengejar mantan istrinya, ingat mas berapa banyak hinaan yang kamu lontarkan padanya," ucap Sisil menyeka air mata.
"Aku memang pernah sangat menyayangimu namun itu dulu ketika kita pacaran, setelah Dinda melahirkan anak-anakku seketika itu juga perasaan ini tumbuh untuknya, aku tidak pernah meminta ini," ucap Rio sendu.
"Apa perlu aku hamil anakku supaya bisa mendapatkan kembali kasih sayangmu?" tanya Sisil tersenyum kecut.
"Jangan menghayal," cibir Rio.
"Sekarang teknologi semakin canggih mas, coba kita konsul ke dokter," pinta Sisil.
"Sil... Terima saja nasibmu yang di vonis tidak bisa memiliki keturunan," ucap Rio kesal lalu keluar kamar dan membanting pintu.
"AKU JADI HANCUR SEPERTI INI KARENA MENOLONG MAMAH MU MAS, INGAT ITU!!" pekik Sisil yang di cuekin oleh Rio.
Lalu Rio mencari info tentang Ryan dan berhasil mendapatkan nomor HPnya. Tak butuh waktu lama Rio langsung menghubungi Ryan.
"Halo selamat siang dengan Ryan Hadiningrat disini, ada yang bisa di bantu?" tanya Ryan ramah.
"Selamat siang.. Saya Rio Putra Suganda, sudah pasti tau dong siapa saya," ucap Rio angkuh.
"Oh bapak Rio, ada yang bisa saya bantu?" tanya Ryan terkejut.
"Bisakah kita bertemu besok ketika jam makan siang?" tanya Rio ketus
"Ada hal apa yang perlu di bahas?" tanya Ryan.
"Ini sangat penting dan saya minta rahasiakan ini dari Dinda, jangan sampai pertemuan kita besok bocor," gertak Rio.
"Memangnya kenapa pak?" tanya Ryan heran.
"Tidak perlu banyak tanya tinggal ikuti saja perintah saya dan sampai ketemu besok sjang, untuk lokasi akan saya share lok," ucap Rio kesal lalu mematikan panggilan.
__ADS_1
"Pertemuan besok siang dan di rahasiakan dari mantan istrinya, hal apa yang akan dia bahas? Sebenarnya malas sekali bertemu dengannya tapi ya mau gimana lagi aku sangat penasaran," batin Ryan.
"Jika memang benar kalian akan menikah, jangan harap gue akan diam.. Dinda hanya boleh untukku dan dia itu milikku, siapapun pria yang mendekatinya aku tidak akan setuju, biarlah dulu gue pernah menyesal melepasnya setidaknya kali ini tidak lagi," gumam Rio sambil meremas handphone mahalnya.