
Setelah pulang dari kediaman mantan suaminya kini Dinda merasakan kesedihan yang mendalam.. Ia tak habis pikir dengan semua ini, mengapa hanya dia saja yang harus mendapat kesedihan?
"Sayang are you okay?" tanya Ryan memastikan.
"I don't know.." jawab Dinda lirih.
"Kamu masih memikirkan mantan suami kamu?" tanya Ryan cemburu.
"Iya.. Tapi bukan memikirkan orangnya melainkan kata-katanya," jawab Dinda lirih.
"Memang apa saja yang di katakan nya?" tanya Ryan penasaran.
"Adalah.. Intinya sangat membuat hatiku sakit," jawab Dinda enggan bercerita.
"Tolonglah katakan padaku, apa saja yang sudah dikatakan Rio padamu?" desak Ryan.
"Waktu di rumah sakit ketika aku menjenguknya, Rio sangat menolak keras hubungan kita apalagi dia sudah mendengar kita akan menikah dalam waktu dekat, dia merasa bahwa aku tidak akan bahagia jika nanti menjadi istrimu, apalagi secara finansial lebih unggul mas Rio di banding kamu.. Sudah berulang kali aku jelaskan bahwa soal finansial aku tidak mempermasalahkannya karena bisa di cari berdua lagian aku kan punya usaha.. Namun mas Rio terus saja menghina kamu, mana bisa aku tahan dengan setiap penghinaan nya? Aku tidak pernah ikut campur tentang rumah tangganya mengapa dia terus saja menganggu hidupku, apa aku ini gak berhak bahagia mas? Apa aku memang di takdir kan hanya menjadi rahim pengganti saja," keluh Dinda sambil menangis terisak.
"Sudah sayang jangan keluarkan air matamu untuk pria yang tidak memiliki hati seperti dia, usap air matamu," ucap Ryan menghibur.
"Kamu tidak tau mas betapa malunya aku ketika mas Rio menghina kita di depan mamahnya, aku malu mas.. Sungguh malu.." pekik Dinda menangis histeris.
__ADS_1
"Aku tau bagaimana perasaanmu namun maafkan aku yang waktu itu tidak bisa menemanimu untuk menjenguk Rio, andai aku ada di sana sudah pasti aku lah orang pertama yang akan melindungi mu," ucap Ryan menyesal karena tidak menemani Dinda ketika menjenguk Rio, ia pikir pertemuan mereka tidak akan berbuntut panjang seperti ini.
"Tidak perlu meminta maaf memang aku yang salah karena merasa tidak tega melihat mas Rio kecelakaan apalagi mamahnya sendiri yang menghubungiku, waktu itu beliau bilang kalau mas Rio terus saja mengigau menyebut namaku, beliau sendiri yang meminta untuk aku datang menjenguk mas Rio dan bodohnya aku mau-mau saja.. Terkadang aku ingin sekali membuang sisi baikku khusus untuk mereka namun mengapa tidak bisa? Harus berapa kali lagi mas Rio menyakiti bahkan menghinaku?" cecar Dinda keluh kesah.
"Rio terus saja menyebut namamu di saat kondisinya tidak sadar? Padahal dia memilki istri dan itu Sisil.. Jangan bilang dia menyesal telah meninggalkanmu dan ingin kembali padamu?" tebak Rio cemburu.
"Benar.. Memang dia mengatakan itu mas, aku gak tau kalau akhirnya akan seperti ini, perceraian yang menginginkan pihak sana kenapa mereka yang menyesal? Lagi-lagi semuanya seperti salahku, capek mas.." ucap Dinda dengan suara parau.
"Memang mereka tidak bisa dikasih hati, mulai sekarang aku tidak suka bahkan tidak mengizinkan kamu bertemu lagi dengan Rio tanpa ada aku.. Aku gak mau Rio bicara seenaknya lagi dan membuatmu seperti ini, aku gak mau dia mempermainkan perasaanmu lagi..sudah cukup sayang, ini sudah kelewatan," tegur Ryan.
"Baik mas... Aku mengerti itu, makasih sudah sangat melindungi aku dan anak-anak," jawab Dinda paham dan memeluk Ryan erat.
"Itu sudah kewajiban ku, mulai sekarang sampai nafas ini berhenti berdetak aku akan selalu menjagamu dan anak-anak.. Tidak akan aku biarkan lagi Rio Rio bermunculan di hidupmu," janji Ryan sambil membalas pelukan Dinda.
"Mari kita buktikan tanpa perlu di perlihatkan pada Rio, biarkan dia yang mengetahuinya sendiri.. Itu jauh lebih elegan, kalau kita membuktikannya di depan Rio bisa saja ia berkesimpulan ini hanya sebuah pencitraan, buatlah mantanmu menyesal.. Kamu wanita mandiri sayang, sebelum denganku kamu sudah gigih mendirikan usaha sampai sebesar sekarang, tunjukkan pada mantan suamimu kalau kamu bisa hidup dan berdiri tegak tanpanya," ucap Ryan membakar semangat Dinda.
"Baik.. Akan aku buktikan mas tapi tolong bantu aku mewujudkannya, tidak mungkin aku bisa melakukan semua ini tanpa bantuan kamu, tanpa support kamu.. Selalu jadilah support system ku mas," pinta Dinda melepas pelukan dan menatap Ryan secara intens.
"Pasti.. Akan aku dukung apapun keinginanmu selagi itu hal yang baik, aku akan selalu ada di dekatmu," jawab Ryan membelai rambut Dinda dengan lembut.
"Aku percaya itu.. Sangat percaya," jawab Dinda tersipu malu lalu mereka kissing dengan penuh rasa.
__ADS_1
"Maaf aku sudah kelewatan, ini tidak seharusnya terjadi," ucap Ryan menyesal.
"Aku juga minta maaf karena tidak bisa menolaknya," jawab Dinda juga menyesal.
"Sebentar lagi kita akan melakukannya dengan baik dan bisa saja setiap hari," goda Ryan.
"Mas.. Itu berlebihan," jawab Dinda malu.
"Ya gak papa, apa salahnya? Nanti kita akan menjadi suami istri jadi sah-sah saja," tanya Ryan heran.
"Mas.. Belum juga jadi suami istri kamu sudah memikirkan sampai jauh," jawab Dinda malu.
"Harus dong.. Apapun harus di pikir sampai jauh agar semuanya matang, seperti halnya nanti ketika kita sudah menikah, aku ingin segera memiliki anak darimu," pinta Rio.
"Tapi mas Ryan gak akan menjadikan aku rahim pengganti kan?" sindir Dinda.
"Astaga.. Ya gak bakalan lah, kamu akan aku jadikan ratu di hidupku, tidak ada rahim pengganti atau pun jebakan lainnya.. Aku ingin segera memiliki anak karena usia kita sudah tidak muda lagi jadi aku tidak mau munafik, aku ingin segera memiliki anak kalau bisa langsung banyak," pinta Ryan membuat Dinda terkejut.
"Ha? Yang benar saja mas.. Aku sudah memiliki anak kembar masih saja kamu ingin menambah nya? Satu aja cukup mas jadi nanti anak kita ada tiga," protes Dinda.
"No.. Punya anak adalah rezeki dan aku menginginkan rezeki kita berumah tangga mengalir seperti air jadi jangan membatasi berapa jumlah anak kita," ucap Ryan tak mau di, bantah.
__ADS_1
"Tapi aku juga butuh waktu juga dong mas, mengurus anak itu menguras waktu, pikiran, tenaga, emosi, finansial juga.. Aku gak mau kalau kita punya banyak anak nantinya baby blues," ucap Dinda berpikir logis.
"I know.. Itu hanya harapan aku saja sayang untuk selebihnya kita pasrahkan sama yang di atas siapa tau doaku nanti di kabulkan," harapan Ryan dengan wajah menyebalkan bagi Dinda.