
Setelah selesai mengantar dokter kini Ryan kembali lagi ke kamar..
"Sayang.. Are you okay?" tanya Ryan khawatir.
"Sudah mendingan mas, tadi sakit sekali.. untuk teriak saja susah," jawab Dinda lirih.
"Syukurlah.. Kamu kenapa bisa keluar darah banyak sekali? Apa yang terjadi?" tanya Ryan.
"Tadi aku tidak sengaja terpleset mas dan lupa ganti sandal," jawab Dinda sedang menyembunyikan sesuatu.
"Lain kali tolong lebih hati-hati ya sayang, aku tau ada yang kamu sembunyikan dariku, kalau kamu belum siap cerita ya tak apa," ucap Ryan mencoba mengerti.
"Anak-anak.. Mommy sudah sehat kok, maafin mommy ya udah buat kalian panik dan takut, jangan nangis lagi dong nanti mommy ikut nangis," bujuk Dinda dan kedua anaknya berhamburan di pelukan Dinda.
"Mommy jangan kayak tadi lagi ya, kami takut mommy.." pinta Vanessa menangis di pelukan Dinda.
"Farel juga takut kalau nanti mommy kenapa-napa, dedek bayi juga," ucap Farel.
"Maafin mommy ya, janji gak akan terulang lagi, stop nangisnya ya sayang," pinta Dinda lalu kedua anaknya patuh.
"Good.. Sekarang kalian balik ke kamar ya ini waktunya bobo siang," ucap Dinda dan kedua anaknya pun segera ke kamar masing-masing.
"Mau cerita sayang?" tanya Ryan dan Dinda mengangguk.
"Ceritakan apa yang menganggu hati dan pikiranmu," ucap Ryan dengan penuh pengertian.
"Aku tadi sedang membaca chat dari mas Rio dan itu membuat aku down mas, ketika ingin di balkon untuk menenangkan diri malah aku kepleset dan ya terjadi pendarahan seperti tadi.. Aku takut mas waktu melihat pendarahan yang cukup banyak tadi, takut tidak bisa menyelamatkan anak kita," ucap Dinda sambil menangis.
"Rio lagi Rio lagi.. Memang gak ada habisnya dia menganggu kita," ucap Ryan emosi.
"Mana hpmu? Aku mau lihat pesan dia," tanya Ryan lalu Dinda menyerukan hpnya.
"Sialan berani sekali dia mengancam istriku seperti ini, awas saja..Lihat pembalasan dariku, akan aku pastikan kamu akan kalah di pengadilan dan akan aku pastikan juga kamu akan sulit mengurus semua berkasnya, kejadian Dinda pendarahan tadi bisa menjadi bukti kuat kalau dia mengancam keselamatan Dinda.. Berani mengusik Dinda berarti siap perang dengan keluarga Hadiningrat" batin Ryan sembari mengepalkan tangannya.
Melihat sang suami sedang marah, Dinda mencoba membujuk suaminya.
"Mas.." panggil Dinda.
"Iya sayang? Kamu mau sesuatu? Biar aku ambilkan," tanya Ryan penuh perhatian.
"Gak ada mas.. Aku mau bicara sama kamu," ucap Dinda membuat Ryan penasaran.
"Mau bicara apa? Coba katakan," jawab Ryan.
"Kamu marah dengan mas Rio?" tanya Dinda.
"Menurutmu?" tanya balik Ryan ketus.
"Ya.. ya menurutku kamu marah mas," jawab Dinda terbata karena suaminya memang sedang marah.
"Itu tau kenapa masih tanya?" tanya Ryan ketus.
"Aku.. aku cuma tanya mas, jangan marah lagi ya kita disini kan liburan mas," bujuk Dinda.
__ADS_1
"Ya memang niatnya kita kesini liburan dan periksa kandungan namun mantan suamimu menghancurkan segalanya, mood ku pun juga di rusak olehnya," jawab Ryan geram.
"Maaf mas tidak seharusnya aku membuatmu seperti ini, seharusnya aku bisa menjaga sikap agar suasana liburan kita baik-baik saja," ucap Dinda penuh penyesalan.
"Kenapa kamu jadi minta maaf atas ulah yang dilakukan mantan suamimu?" tanya Ryan heran.
"Bukan begitu mas.. aku minta maaf atas sikapku yang membahayakan calon anak kita dan membuat kalian semua khawatir," jawab Dinda merasa bersalah.
"Kata-katamu tadi menunjukkan bahwa kamu memintaku untuk memaafkan kesalahan mantan suamimu itu.. tidak akan, apa yang sudah ia toreh maka dia harus mendapatkan balasan yang sangat setimpal," ucap Ryan sangat menggebu.
"Mas kamu mau lakukan apa?" tanya Dinda panik.
"Kamu takut aku macam-macam dengan Rio?" tanya Ryan tersenyum smirk.
"Justru aku yang takut denganmu mas, aku takut kamu kenapa-napa," jawab Dinda khawatir.
"Serius kamu mengkhawatirkan aku?" tanya Ryan memastikan.
"Jelas lah mas kamu ini suamiku, masak aku mengkhawatirkan orang lain," jawab Dinda.
"Kirain kamu khawatir sama Rio," sindir Ryan.
"Gak mas buat apa mengkhawatirkan dia, dulunya aja dia membuat hidupku penuh kekhawatiran," jawab Dinda kesal.
"Good Girl.. Aku suka melihatmu yang sekarang punya pendirian, kamu harus tegas terhadap orang yang pernah menindas hidupmu apalagi sampai merusak kebahagiaanmu," Puji Ryan.
"Makasih mas," jawab Dinda tersipu malu lalu Ryan izin keluar sebentar.. Awalnya Dinda menolaknya namun Ryan beralasan ingin membeli obat yang sudah di resep kan.
"Hai bro.. Lama kali kita tak jumpa," sapa Boy teman Ryan.
"Ah iya.. Kita sama sibuknya jadi jarang ada waktu luang," jawab Ryan.
"Iyalah apalagi lo habis nikah kan, sorry waktu itu gue ada perlu yang tidak bisa ditinggal jadinya ya gue gak sempat hadir di pernikahanmu, but.. Happy wedding man, semoga kalian langgeng dan penuh dengan keberkahan," ucap Boy dengan tulus.
"Thanks man.. Doa darimu sudah sangat berarti bagi kehidupan gue dan keluarga," jawab Ryan menepuk pelan bahu boy.
"Ada hal apa yang membawamu terbang kemari?" tanya boy penasaran.
"Kami sedang berlibur sekaligus periksa kehamilan istri gue," jawab Ryan disambut baik oleh temannya itu.
"Your wife is pregnant? congrats man.." ucap boy turut bahagia.
"Yes.. I will to be papah," jawab Ryan bahagia.
"I'm happy to hear that, akhirnya hidupmu bahagia man," ucap boy.
"Thanks.. Bagaimana denganmu?" tanya Ryan.
"Yah mana mau gue married haha," jawab boy diselingi gelak tawa.
"Menikah itu enak apalagi kalau menemukan orang yang tepat," ucap Ryan memprovokasi.
"Tetap saja ribet," jawab boy.
__ADS_1
"Jika suatu saat menemukan orang yang tepat dan klik lalu ke jenjang pernikahan, gue pastiin bakal ingat kata-kata gue kalau menikah itu enak," ucap Ryan membuat boy tersadar.
"I hope.." jawab boy sekenanya.
"Harus.." jawab Ryan.
"Katakan ada hal apa yang membuatmu bertemu denganku?" tanya boy.
"Ada kerjaan seru dan gue yakin lo bakal suka," ucap Ryan membuat boy penasaran.
"Apa itu?" tanya boy.
"Tolong persulit setiap langkah orang ini dan selalu buat hidupnya dalam kesulitan, entah itu dalam hal bisnis atau pun lainnya tapi gue utamakan soal bisnis dia.. Tolong buat dia menderita," perintah Ryan sambil menunjukkan foto Rio.
"Ini Rio Suganda kan?" tanya boy yang membuat Ryan kaget.
"Lo kenal man?" tanya Ryan kaget.
"Of course.. Dia pernah ada bisnis denganku namun ditengah jalan berhenti karena dulunya usaha dia hampir gulung tikar, sampai sekarang modal yang udah gue tanam belum balik," ucap boy.
"Oh.. Gue pikir kalian teman akrab," jawab Ryan lega.
"No.. Just bussiness, memang apa yang mendasari lo buat hancurin dia?" tanya boy penasaran.
"Tadi dia berani mengancam istri gue sampai mengalami pendarahan hebat, untung saja segera di tolongin dan keduanya selamat, andai terlambat sedikit saja.. Gak bisa bayangin bagaimana gue hidup tanpa mereka," ucap Ryan sedih.
"Ha? Memang istrimu kenal dengan Rio Suganda?" tanya boy kaget.
"Kenal bahkan sangat kenal, Rio Suganda adalah mantan suami dari istriku," jawab Ryan semakin membuat boy terkejut.
"Oh wow.. Ini berita yang sangat fenomenal man, lo dapat singel parent? Udah ada anak berapa?" tanya boy.
"Dia sudah beranak dua dan itu kembar, ditambah nanti anak dariku jadinya tiga," jawab Ryan.
"Amazing.. Oke gue akan bantu, tapi gue minta waktu karena gak mungkin semuanya dikerjakan dalam waktu satu hari," ucap boy menyanggupi.
"Ok.. Gue bakal tunggu kabar baiknya, kalau istri gue gak hamil udah gue kerjain sendiri man, sorry gue repotin lo," ucap Ryan sungkan.
"Its okay.. We are friend, waktu gue susah dulu juga lo siap siaga bantuin gue tanpa pamrih," ucap boy dan Ryan senang mendengarnya.
"Malah ceritanya seperti balas budi dong," jawab Ryan tertawa.
"Bisa dibilang seperti itu, apapun masalahmu dengan Rio Suganda aku gak akan ikut campur terlalu jauh, yang jelas yang gue tangkap adalah lo merasa emosi karena istrimu mengalami pendarahan akibat pesan kaleng Rio Suganda kan?" tanya boy memastikan.
"Benar sekali.. Coba kalau lo ada di posisi gue man? Pasti lo bakal emosi kan bahkan tak segan menghabisinya, untung istri dan calon anak gue segera dapat pertolongan," ucap Ryan emosi.
"I know.. Jika gue ada di posisimu juga akan melakukan hal yang sama, baiklah gue akan bantu semampu gue man.. Semoga ini bisa meringankan rasa dendam mu," ucap boy.
"I hope so, thanks man kalau gitu gue balik dulu, istri gue udah nungguin obat ini," pamit Ryan.
"Ok.. Kalau ada waktu luang gue bakal mampir, see you bro," jawab boy lalu mereka berpisah. Ryan kembali ke vila sedangkan boy kembali ke rumahnya sambil menyusun rencana dengan beberapa anak buahnya.
"Gue bakal balas dendam namun bukan melalui kedua tangan gue ini, gak sudi gue mengotori tangan gue untuk mencelakai mu Rio Suganda.. Biarkan boy dan para gangster yang maju, saatnya lo tau bagaimana menakutkannya berurusan dengan gue, kekayaan yang lo banggakan hanyalah secuil yang gue punya," batin Ryan merasa puas.
__ADS_1