RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Bertemu Aldo


__ADS_3

Baik Dinda maupun Fio sama-sama bingung harus melakukan apa, Dinda tau betul bagaimana watak suaminya jika sudah marah, ia tidak mau nantinya melakukan hal yang bukan-bukan pada Aldo. Sedangkan yang ada di pikiran Fio adalah dirinya takut jika kedua pria itu nantinya akan berduel, padahal jika pun mereka nyata berduel toh pemenangnya kan tetap pak Ryan, karena secara pak Ryan lah suami sah bu Dinda. Yang membuat Fio takut adalah ketika duel mereka menimbulkan luka fisik dan nantinya Aldo melaporkan ke pihak berwajib, sudah pasti nama Fio nantinya akan terseret.


"Bu.. Gimana ini?" bisik Fio.


"Saya juga bingung Fio, gimana ya enaknya?" tanya balik Dinda gelisah.


"Saya takut mereka baku hantam bu," jawab Fio.


"Sama.. Ternyata pikiran kita sama ya, tapi kalau mas Ryan gak kita pertemukan mana bisa? Pastinya dia tetep mendesak terus," ucap Dinda.


"Yasudah bu pertemukan saja mereka dan ibu wanti-wanti saja pak Ryan agar tidak tersulut emosi," pinta Fio dan Dinda pun setuju.


Akhirnya Dinda menyetujui untuk bertemu dengan Aldo dengan syarat tidak ada adu otot diantara mereka apapun itu alasannya. Meskipun Ryan menyanggupi namun dirinya tidak bisa berjanji, semua tergantung bagaimana ucapan Aldo.


Karena Dinda lupa alamat rumah Aldo jadinya mereka memilih menemui di kafe, siapa tau ada Aldo di sana. Tiba di kafe, suasana sedang ramai pengunjung dan para pekerja sedang sibuk dengan job desknya.


"Coba telepon saja teman priamu itu, ada atau tidak?" usul Ryan, Dinda baru terpikirkan sekarang, mengapa ia tak menelpon saja daritadi.


Sudah beberapa kali Dinda memanggil Ryan namun nyatanya tak juga diangkat, bahkan sekarang ponselnya sedang tidak aktif.


"Gak aktif mas, sepertinya dia sedang marah," ucap Dinda lirih.


"Kenapa kamu yang sedih?" tanya Ryan sinis.


"Bukan sedih, hanya..." ucap Dinda terpotong.


"Sudah.. Apapun alasanmu nanti sepertinya tak masuk akal, kita datangi ruangannya, kalau gak ada baru kita pulang," ajak Ryan berjalan duluan. Dinda juga Fio mengikuti dari belakang.


Melihat ada orang asing yang ingin masuk ke ruangan bos, salah satu waiters mendekati. "Maaf sebelumnya, ada apa kalian berada disini? Ini bukan lingkup customer,"


"Saya ingin bertemu pak Aldo, apakah ada?" tanya Dinda.


"Ibu bukannya yang beberapa waktu lalu pernah kesini dan diajak pak Aldo ke ruangan ya? Benar bukan?" tanya waiters membuat Ryan cemburu.

__ADS_1


"Apa lagi ini sayang?" tanya Ryan penuh penekanan dengan tangan mengepal.


"Jangan salah paham dulu mas, ada Fio juga yang diajak masuk," bantah Dinda tak mau suaminya semakin salah paham.


"Benar begitu mas?" tanya Ryan pada waiters.


"Eh iya Pak sepertinya begitu" jawab waiters salah tingkah.


"Mana atasanmu sekarang? Ada atau tidak?" tanya Ryan.


"A..ada Pak, sebentar saya konfirmasi dulu," jawab waiters ingin masuk namun dicekal Ryan.


"Gak perlu konfirmasi, kita sama-sama masuk," ucap Ryan dengan tatapan tajam dan waiters pun setuju.


Tok.. Tok.. Tok.. "Permisi pak,"


"ADA APA LAGI? SUDAH SAYA KATAKAN KALAU SAYA TIDAK MAU DIGANGGU! ADA MANAGER KAN? SURUH HANDEL DIA!" bentak Aldo dari dalam ruangan.


"Din..Dinda? Fio?" ucap Aldo kaget.


"Hai Pak Aldo," sapa Fio berusaha ramah.


"Ehem.. Maaf menganggu waktunya, saya adalah Ryan," ucap Ryan memperkenalkan diri.


"Ya.. Saya Aldo, pemilik kafe ini, ada keperluan apa pak?" tanya Aldo penasaran.


"Ingin berjumpa dengan anda dan sedikit berkenalan, saya adalah suami dari Dinda Safitri, perempuan yang anda cintai dalam diam selama bertahun-tahun, namun sayang takdir berkata lain, Dinda sekarang menjadi milik saya dan diantara kami sudah memiliki anak, jadi saya mohon jangan lagi menaruh rasa juga harapan kepada istri saya," jawab Ryan tenang namun mampu menusuk hati Aldo.


"Su..suami Dinda? Benar begitu Din?" tanya Aldo.


"Ya.. Dia adalah suamiku, maaf karena kalian baru bertemu sekarang dengan kondisi yang seperti ini," jawab Dinda merasa bersalah.


Mendengar kebenaran dari mulut Dinda membuat hati Aldo semakin sakit, dirinya tak menyangka jika Dinda akan menorehkan luka sedalam ini, baru beberapa jam yang lalu pengakuannya yang mengatakan sudah bersuami sukses membuat dirinya sakit hati dan tak terima, kini dirinya harus dihadapkan dengan suaminya langsung. Bagaimana mungkin luka yang masih basah malah ditambah lagi?

__ADS_1


"Mau rasa sakit apalagi yang ingin kamu berikan Din? Apa dirimu itu tidak peka bahkan tidak menyadari bahwa diriku sungguh sakit, hati ini sakit Din," batin Aldo terdiam dengan tatapan kosong.


"Bagaimana pak Aldo? Kenapa anda diam saja?" tanya Ryan mengejek.


"Tidak.. Saya lebih memilih diam saja karena memang saya sudah kalah telak, baru beberapa jam yang lalu Dinda baru memberitahu jika selama ini dirinya sudah bersuami, andai dari awal bertemu Dinda sudah mengatakan sejujurnya, mana mungkin saya akan nekat mendekati," jawab Aldo berusaha tegar.


"Jadi anda menyalahkan istri saya?" tanya Ryan.


"Bukan.. Ini hanya miss komunikasi, baik saya maupun Dinda setiap bertemu memang tidak pernah membahas masalah personal, jadi ya memang murni salah saya karena saya sendiri yang menganggap Dinda masih sendiri, saya termakan pikiran saya sendiri," jawab Aldo tak mau memperpanjang masalah.


"Setiap bertemu? Kalian sudah sering bertemu dibelakang saya?" tanya Ryan kaget.


"Bertemu ditempat khayalak ramai, ditempat umum, tidak seburuk pikiran anda," jawab Aldo ketus dan sok tau dengan isi pikiran Ryan.


"Haha saya mana ada punya pikiran sejauh itu? Saya tau betul bagaimana istri saya, mendapatkannya saja susah," jawab Ryan geli.


"Memang Dinda adalah gadis yang istimewa, pantas saja untuk mendapatkannya butuh perjuangan," ucap Aldo membenarkan.


"Sepertinya nyali anda besar juga untuk mengatakan itu di hadapan suaminya," sindir Ryan.


"Maksudnya?" tanya Aldo bingung.


"Lebih baik kita selesaikan secara pria," tantang Ryan.


"Mas.. Stop! Ingat janjimu tadi," tegur Dinda.


"Darimana saya ini berjanji untuk tidak memakai emosi? Saya hanya menjawab bagaimana nanti respon dari pihak lawan," jawab Ryan tersenyum tipis.


"Lebih baik kita pulang saja mas, jangan membuat malu! Tujuan kita kesini ya karena bertemu dengan Aldo, lagian tadi aku udah mengatakan yang sebenarnya, kenapa masih saja kamu gak terima mas?" tanya Dinda.


"Membuat malu? Dimana letak suamimu ini membuat malu? Justru suamimu ini mempertahankan harga diri, jelas-jelas istrinya disanjung sedemikian rupa didepan suaminya langsung, apakah itu pantas? Apa harus suamimu ini diam dan pulang dengan lapang dada? Apa harus suamimu ini menerima semua sanjungan pria yang mencintaimu ini? Kamu lebih memikirkan perasaan orang lain ketimbang suamimu sendiri, jika memang suamimu ini membuat malu maka terserah, sekarang terserah kamu mau melakukan apa dan dengan siapa, biarkan aku juga melakukan hal yang sama dan nantinya jika ketahuan akan saya katakan hal yang sama persis dengan ini, jangan membuat malu," ucap Ryan sungguh kecewa dengan istrinya dan memilih pergi.


Dinda dalam kondisi bingung antara mengejar suaminya atau sekedar mengucapkan maaf dengan Aldo.

__ADS_1


__ADS_2