
"Baik..tapi tetap dikawal mereka," jawab bos besar sudah sangat ingin memarahi istrinya di rumah maka dari itu ia tidak ambil pusing ketika Ryan dan istrinya ingin menjemput anaknya sendiri.
"Terima kasih.. Semoga ini masalah kita yang pertama dan terakhir, kami tidak mau ada kesalahpahaman lagi sampai anak saya jadi korbannya, untung saja saya tidak memanggil polisi," ucap Ryan lega.
"Kalau anda berani bawa polisi sudah jelas nantinya anak kalian langsung aku kirim ke luar kota karena di sana ada anak buah yang menjaganya dengan ketat," ancam bos besar.
"Itu hanya andai.. Nyatanya tidak, cepat bawa kami ke markas persembunyian kalian," ucap Ryan tidak sabar dan akhirnya mereka berangkat ke lokasi.
Di perjalanan Ryan juga menghubungi orang suruhannya, apakah anaknya sudah berhasil dibawa atau belum. Dan beruntungnya anak mereka belum di bawa namun masih tetap di pantau, andai orang suruhannya gegabah sudah pasti akan menjadi masalah panjang.
"Kalian tetap saja mengamati situasi dan kondisi kalau ada hal yang mencurigakan segera kabari saya, ini sedang perjalanan kesana," ucap Ryan.
Lokasi berpindah, yang dulunya di gudang rahasia kini anak dinda di tempatkan di markas kecil yang masih satu wilayah dengan gudang rahasia.. Bos besar tidak mau kalau tempat rahasianya terendus pengacara itu karena di dalam sana banyak transaksi-transaksi ilegal.
"Pak anak anda dibawa oleh mereka," ucap orang suruhannya yang membuat Ryan kaget.
"Dibawa kemana? Cepat pantau terus jangan sampai lolos," perintah Ryan.
"Baik Pak.." jawab orang suruhannya sigap.
15 menit kemudian orang suruhannya mengabari jika anak-anaknya dibawa ke sebuah markas yang letaknya tak jauh dari tempat pertama penyekapan.
"Mengapa lokasinya berpindah? Pasti ada hal yang mencurigakan disana," batin Ryan namun lebih memilih fokus dulu sama keselamatan anaknya, ia harus segera tiba di lokasi.
Sesampainya di lokasi yang baru, benar saja kedua anak Dinda ada disana dengan posisi terikat tali dan mulut di sumpal lakban, melihat kedatangan orang tuanya, si kembar langsung berteriak histeris dan menangis sejadi-jadinya.
"Tenang anak mamah.. Kalian akan aman," ucap Dinda berusaha tenang dan melepas ikatan di tangan dan kaki anaknya, Ryan pun juga demikian. Setelah berhasil terbuka semuanya kini mereka berpelukan dengan erat dan saling menangis. Akhirnya Dinda dan Ryan bisa menyelamatkan anaknya dengan cepat, tak mau membuang waktu terlalu lama disini, mereka memutuskan untuk segera pulang.
"Alhamdulillah akhirnya aku bisa kembali bersama anak-anaknya lagi.. Hampir saja dunia seakan mau runtuh ketika tau mereka di culik, untung saja anak-anak tidak mengalami kekerasan.. Mulai detik ini aku akan lebih waspada dengan orang lain dan lebih protektif lagi pada kedua anak-anak," batin Dinda tak hentinya mengucap syukur sambil terus mencium kedua anaknya. Ryan yang sedang menyetir menjadi terharu karena ia bisa melihat momen hangat keluarga kecilnya lagi, andai kedua anaknya belum bisa di selamatkan, sudah pasti hampa bagi mereka terutama Dinda.
__ADS_1
"Kehangatan dalam rumah tangga gue kembali terjalin, mulai hari ini akan gue tambah keamanan untuk mereka, gue harus sewa bodyguard meskipun tinggal di perumahan elit," batin Ryan sambil menangis bahagia ketika melihat di spion mobil istrinya kembali ceria dan anak-anak berada dalam dekapannya lagi.
Sesampainya di rumah Dinda dan kedua anaknya langsung membersihkan badan dan Ryan memesankan makanan online karena dia tau kejadian tadi cukup menguras tenaga dan pikiran mereka.
"Mas gak mandi?" tanya Dinda yang sudah mandi dan ganti pakaian.
"Habis ini sayang.. Lagi pesan makanan nih," jawab Ryan fokus order makanan.
"Order apa mas?" tanya Dinda mendekat ke suaminya.
"Kesukaan anak-anak pastinya, ayam, es krim dan beberapa camilan di restoran cepat saji itu tak lupa juga pizza," ucap Ryan sudah selesai klik orderan dan menunggu datang.
"Apa gak kebanyakan mas? Kita hanya berempat," tanya Dinda heran.
"Tidak.. Ini juga sebagai bentuk syukur kita karena bisa kembali bersama anak-anak, nanti aku pesan 21 box pizza dan 20 boxnya nanti, kita bagi-bagi di jalan ya sayang sekalian antar anak kita ke psikiater, kalau kamu capek juga gak papa biar aku bagiin ini sendiri, anak-anak bisa ke psikiater besok," ucap Ryan lembut.
"Kamu sangat baik hati sekali mas.. Disaat kita seperti ini masih bisanya kamu memikirkan orang lain, aku gak capek mas dan aku yakin anak-anak akan setuju," ucap Dinda memberi support.
"Thanks too my husband," jawab Dinda malu.
"Yaudah aku mandi dulu ya sambil nunggu pesanannya datang," ucap Ryan lalu Dinda hanya mengangguk saja.
Disaat suaminya mandi dan Dinda sudah menyiapkan pakaian, kini Dinda berada di kamar anaknya dan mengajak mereka di ruang keluarga.
"Ada apa mom?" tanya Farel lesu.
"Mommy ajak kita kesini ada apa?" tanya Vanessa penasaran.
"Mommy mau ajak kalian untuk berbagi rezeki pada orang-orang yang ada di pinggir jalan, apa kalian mau?" tanya Dinda dengan lembut.
__ADS_1
"Takut mom.." jawab Farel lirih.
"Iya mom kami takut di culik lagi hiks..hiks.." jawab Vanessa juga ketakutan.
"Mommy tau, tapi ini perginya sama mommy dan papah Ryan juga kok," bujuk Dinda.
"Gak mom.. Gak mau," teriak Farel dan Vanessa terus menangis. Ryan yang mendengar kegaduhan dibawah segera menghampiri.
"Ada apa ini? Kenapa kalian menangis nak?" tanya Ryan bingung dan memberi isyarat kode mata pada Dinda.
"Anak-anak gak mau diajak keluar mas, mereka lagi trauma.. Bilangnya takut di culik," ucap Dinda sedih.
"Oh begitu.. Jadi gini anak-anaknya papah Ryan, tujuan mommy dan papah ajak kalian keluar biar kalian tidak terus menerus ketakutan dan setelah acara berbagi ini nantinya papah mau ajak kalian untuk periksa ke dokter," bujuk Ryan.
"Tapi kami takut di culik lagi pah," rengek Farel.
"Papah mengerti hmm begini saja, ketika acara berbagi kalian nantinya duduk manis saja di mobil, kalian turun ketika tiba di rumah sakit, gimana? mau?" tanya Ryan penuh harap.
"Enggak mom.. Kami di rumah saja," tolak Vanessa.
"Baiklah papah dan mommy tidak memaksa kalian, yasudah kalian istirahat saja ya," ucap Ryan mencoba memahami lalu si kembar menuju kamar mereka masing-masing.
"Nanti kalau makananya udah datang mommy panggil ya kita makan dulu, papah Ryan udah pesan masakan kesukaan kalian loh," teriak Dinda dan kedua anaknya hanya mengangguk.
"Gak biasanya mereka begini mas, efek penculikan tadi sungguh membuat psikis mereka terguncang.. Sebenarnya ingin sekali aku bertanya tentang penculikan ini tapi aku takut mas mereka nantinya tambah takut jadinya ya aku hanya diam saja sampai nanti ketika mereka sudah datang akan aku tanyakan," ucap Dinda sedih.
"Nanti kita akan tau ketika anak-anak sudah mau dibawa ke psikiater, disana kan nanti ada tekniknya agar orang-orang berbicara jujur dan rileks," ucap Ryan menenangkan istrinya.
"Iya mas makasih sudah selalu menjadi dewa penolong kami," ucap Dinda terharu dan memeluk suaminya erat.
__ADS_1
Paket makanan yang di pesan Ryan sudah tiba dan kini mereka makan dalam diam karena suasana kali ini sungguh canggung, kedua anaknya yang biasanya ceria kini menjadi pemurung, diajak bercanda pun tidak ada respon. Ryan mencoba memahami itu dan tetap memilih makan setelah itu membagikan sedikit rezeki seorang diri. Ia berharap dengan membagikan rezeki bisa membersihkan dirinya juga keluarga kecilnya dan menghindari dari hal-hal yang buruk.