
"Tadi mas Ryan menelpon Dinda katanya ada kiriman paket dari seseorang padahal Dinda tidak pesan apapun bahkan alamat rumah baru Dinda kan hanya sedikit yang tahu, kenapa kurirnya bisa mengirimkan ke aku sedangkan aku tidak merasa pesan.. Kan aneh bu?" ucap Dinda yang kebetulan baru menyadari kejanggalan itu.
"Nah kalau kamu sendiri meragukan kenapa malah sedih?" tanya Sri.
"Istri mana bu yang gak akan sedih ketika tau suaminya berpose seperti ini," ucap Dinda semakin terisak.
"Katanya foto ini meragukan? Lalu kenapa kamu terkesan membenarkan keaslian foto ini" ucap Sri bingung.
"Memang Dinda meragukan bu tapi setelah dilihat terus menerus fotonya seperti nyata bu, lihatlah.. Ibu saja langsung marah kan ketika tau foto ini," tanya Dinda.
"Ya jelas marah lah karena ibu hanya kamu kasih tau mentahannya saja tanpa perlu dijelaskan bagaimana detailnya," protes Sri.
"Benar juga sih.." gumam Dinda lirih.
"Lah iya sekarang kenapa kamu yang bimbang? Respon suamimu gimana?" tanya Sri penasaran.
"Responnya ya gak terima terus menerus Dinda tuduh.. Mas Ryan sedang mencari bukti," ucap Dinda.
"Baguslah.. Yasudah percayakan saja sama suamimu semoga dia bisa membuktikannya, ingat Din jangan terlalu mempercayai informasi secara mentah dan sepihak, takutnya nanti kamu salah paham dan berdampak besar," tegur Sri.
"Iya bu makasih.." jawab Dinda paham dan kini perasaannya sudah lega.
"Yasudah sekarang fokus saja sama pekerjaanmu dan juga si kembar, biarkan Ryan yang memikirkan cara untuk membuktikan," ucap Sri perhatian.
"Iya bu makasih banyak sudah selalu menjadi malaikat penolong Dinda," ucap Dinda terharu.
Ketika Dinda sudah bisa bernafas lega kini ia membuka ponselnya dan tidak sengaja membaca status Vika.
"Sebentar lagi akan ada yang mengejutkan sekaligus membahagiakan,"
"Biasanya perpisahan adalah hal yang paling menyedihkan bagi semua orang apa lagi dengan orang yang dicintainya, namun tidak untuk bagiku.. Kabar perpisahannya adalah hal yang menggembirakan untukku.. Lets see," kedua status Vika yang membuat Dinda jadi, merasa tersindir. Ia ingin, memancing Vika dengan balasan status yang lebih elegan.
"Aduh suamiku.." status Dinda dengan emoticon sedih yang langsung dibaca oleh Vika.
"Kenapa dengan suaminya? Bermasalah ya?" balas Vika berkomentar.
__ADS_1
"Bermasalah yang bagaimana ya?" tanya Dinda pura-pura gak tahu.
"Ya gak tau kan kalian yang menjalani hubungan lagian istrinya kan lu.. Makanya suami dijaga yang bener jangan sampai tergoda pelakor," sindir Vika sangat bahagia.
"Oh, tentu saja dong akan gue ikat sekencang nya biar tidak melirik wanita yang bukan levelnya.. Lagian gue hanya buat status gitu aja tapi lo udah berasumsi yang aneh-aneh, mencurigakan.. Asal lo tau ya suami gue habis beliin gue cincin berlian dan tiket liburan, nih.. Tolong haters kalau mau menggoreng opini lihat dulu siapa rivalnya," sindir Dinda yang langsung membuat Vika emosi. Ia merasa rencana gagal.
"What?? Jadi rencana gue gagal? Ah gak mungkin" gumam Vika tak percaya.
***
"Oke Vika kamu sudah berani bermain api dengan gue.. Jangan harap gue ini akan diam," gumam Dinda penuh amarah lalu kembali teringat suaminya, ia merasa bersalah karena sudah tidak mempercayai suaminya sendiri padahal suaminya sudah berkata jujur.. Dinda merasa bodoh kenapa dengan mudahnya terpancing permainan murahan seperti ini.
"Maafin aku mas hiks..hiks.. bukan maksudku menghindar darimu karena aku sudah tidak mencintaimu, bukan mas.. Aku hanya ingin menenangkan diriku, coba kalau aku gak ke rumah ibu mana ada aku punya pemikiran kalau semua ini adalah ulah Vika, kalau aku masih saja satu rumah denganmu yang ada hubungan kita beneran renggang.. Maafkan aku mas tapi aku juga akan tetap menunggu bukti darimu untuk memastikan jika kalian hanya tidak ada hubungan spesial dan mas Ryan hanya menganggap Vika teman biasa," batin Dinda sambil meneteskan air mata, ia merasa sungguh menyesal.
Di satu sisi ada seseorang yang sedang berjuang sangat keras untuk membuktikan kepada wanita yang dicintainya bahwa dia tidak memiliki hubungan dengan wanita manapun, dia adalah Ryan.
Tak hentinya Ryan terus mencari bukti untuk mematahkan tuduhan istrinya meskipun itu hanya info sekecil pun, ia berharap bisa segera membuktikan dan kembali bersama istri dan anak-anaknya..
"Tunggulah sayang beri aku waktu sebentar untuk membuktikan ini semua dan aku yakin tuduhan mu waktu itu akan terpatahkan oleh bukti yang nantinya akan aku tunjukkan, jangan terus menghukum aku seperti ini, jujur saja berpisah denganmu adalah hal paling menyakitkan dan berat untukku," gumam Ryan sambil melihat foto keluarga kecilnya yang tersenyum bahagia.
Tok.. Tok.. Tok.. Suara ketukan pintu
"Masuk.." jawab Ryan lalu membenahi sikap agar terlihat seolah baik-baik saja.
"Pak ada tamu yang katanya sudah ada janji dengan anda," ucap sekretaris.
"Ok suruh masuk sekarang juga," ucap Ryan semangat.
"Baik pak," jawab sekretaris lalu memanggil tamu yang sudah sangat di tunggu oleh Ryan.
"Selamat pagi pak Ryan," sapa hacker ramah.
"Pagi.. Akhirnya anda datang juga, silahkan duduk," sapa Ryan juga ramah.
"Makasih.." jawab hacker lalu duduk.
__ADS_1
"Jadi kedatangan anda kesini karena saya ingin meminta tolong pada anda untuk mengulik informasi mengenai seseorang yang selama ini saya curigai dan apakah anda bisa mengidentifikasikan apakah suatu foto itu editan atau real?" tanya Ryan to the poin.
"Bisa.. Sangat bisa pak karena itulah pekerjaan saya.. Untuk orang yang anda curigai nantinya dengan apakah saya mengulik infonya?" tanya hacker memastikan.
"Saya hanya ada nomor ponselnya, apakah bisa?" tanya Ryan berharap.
"Bisa pak.. Tuliskan saja nomornya dan akan saya kerjakan segera," jawab hacker sigap.
"Baik.." jawab Ryan lalu mencatatkan nomor Vika di kertas.
"Beri saya waktu paling lama satu jam untuk menyelesaikan ini," pinta hacker lalu fokus berkutat di laptopnya.
Sembari menunggu info dengan perasaan harap-harap cemas kini Ryan memilih kembali melanjutkan pekerjaannya agar tidak suntuk, ya meskipun dia sangat yakin betul jika pelakunya itu Vika.
"Sudah pak.. Ini sungguh mudah sekali," jawab hacker mengagetkan Ryan.
"Sungguh? Kenapa cepat sekali?" tanya Ryan tak percaya.
"Karena rival anda amatir jadi banyak meninggalkan jejak digital, bapak tau sendiri kan bagaimana mengerikannya jejak digital itu, hasilnya akan saya kirim lewat mana pak?" tanya hacker dengan santainya.
"Kirimkan lewat email segera dan untuk foto ini apakah ini editan? Kalau iya tolong buatlah foto yang sesungguhnya, saya tidak terima nama baik saya tercoreng hanya karena skandal murahan seperti ini," perintah Ryan.
"Ini sudah pasti editan pak tapi rival anda menggunakan jasa edit foto yang cukup pro," jawab hacker dengan enteng.
"Sudah saya duga.. Tolong bersihkan semuanya agar nama baik saya tetap aman, jangan lupa bukti kebusukan dia kirimkan lewat email," ucap Ryan sangat geram.
"Sudah pak.. Ada lagi yang perlu saya kerjakan?" tanya hacker.
"Saat ini hanya itu saja dan next time saya pasti akan menggunakan jasa anda," ucap Ryan cukup lega setelah melihat semua bukti yang di kirimkan hacker.
"Baik kalau begitu saya permisi dulu, senang berbisnis dengan anda," pamit hacker.
"Baik.. Terima kasih banyak sudah membantu saya dan sisa uangnya saya transfer sekarang mumpung anda masih disini," ucap Ryan lalu mentransfer sisa dana yang harus di lunasi.
"Sudah masuk.. Saya pamit dulu," pamit hacker lalu keluar dari ruangan.
__ADS_1
"Lihat saja Vika.. Tunggu pembalasan gue, beraninya lo udah usik ke tanah pribadi gue apalagi sampai ke istri gue," gumam Ryan sambil mengepalkan tangan.