RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Teror


__ADS_3

Hari ini Ryan dan sekretarisnya memutuskan kembali lembur karena besok janji temu dengan klien lebih lama lagi apalagi salah satu kliennya memiliki masalah yang sangat serius hingga berbuntut panjang, tak mau menyiakan momen ini.. Ryan dan timnya bekerja dengan sangat keras agar bisa memenangkan perkara ini setelah itu namanya akan semakin bersinar.


"Ayo semuanya kita lembur lagi, maafkan saya yang memaksa kalian untuk bekerja ekstra, ini semua agar perusahaan kita semakin besar dan banyak lagi orang yang mempercayai perkaranya supaya di selesaikan oleh kita, yok semangat semua.." ucap Ryan menyemangati.


"Baik Pak.." jawab semuanya kompak dan langsung fokus kerja.


"Semoga hari ini tidak terulang lagi kejadian teror itu, entah kenapa feeling gue kali ini gak enak makanya gue menyuruh semua staf untuk lembur, semakin banyak orang disini maka semakin kecil kemungkinan terjadi hal buruk kan?" batin Ryan pada dirinya sendiri.


Ryan lalu fokus mempelajari semua dokumen yang sudah di siapkan oleh sekretarisnya.. Ketika hampir selesai mempelajari tiba-tiba sekretarisnya memberitahu sesuatu hal yang di luar dugaan Ryan.


"Pak ada kabar buruk," ucap sekretarisnya panik.


"Ada apa?" tanya Ryan penasaran.


"Tepat nanti jam dua belas malam klien kita akan mensomasi kita pak, ini bukan hanya gertakan," ucap sekretarisnya panik.


"Kamu sudah menghubungi dia?" tanya Ryan mencoba tenang.


"Sudah pak namun selalu di alihkan," jawab sekretarisnya.


"Baiklah.. Sekarang kamu hubungi lagi dan nantinya akan saya rekam untuk menjadi bukti, ya jaga-jaga suatu saat kita di pertemukan dengannya dan dia berkelit," ucap Ryan mengambil ponsel mahalnya dan menekan tombol rekam video.


"Baik pak.." jawab sekretarisnya kembali ke meja untuk menghubungi klien yang ingin bersitegang dengan Ryan, namun sama saja panggilan hanya di alihkan.


"Telpon sampai 3 kali berturut-turut, coba kita positif thingking siapa tau dia sibuk," ucap Ryan memerintah lalu sekretarisnya kembali menelpon dan lagi-lagi di alihkan.


"Sudah pak.. Lihat sendiri kan pihak sana selalu mengalihkan panggilan kita dan bisanya hanya mengirimkan pesan mengancam saja," ucap sekretarisnya kesal.


"Pesannya jangan di hapus," tegur Ryan.


"Tidak pak.. Setiap dia mengirim pesan sudah langsung saya screenshot untuk di jadikan bukti, untung saja saya sudah mengantisipasi terlebih dahulu pak.. Soalnya setiap mereka mengirim pesan dan dibaca otomatis pesannya dihapus," ucap sekretarisnya geram.


"Bagus.. Tindakanmu sudah benar, nanti kita print kalau mereka beneran somasi kita," ucap Ryan dengan mantap.

__ADS_1


"Baik Pak, siap," jawab sekretaris paham.


"Pak ini dokumen yang di butuhkan sudah siap," ucap salah satu pegawainya menyerahkan file.


"Makasih.. Nanti akan saya cek," jawab Ryan menerima file itu.


"Baik pak," jawab salah satu staf.


Ketika Ryan ingin mengoreksi dokumen tiba-tiba ia mendengar suara teriakan minta tolong setelah itu senyap lagi.


"Tolong.. Tolong.." teriakan seseorang dari bawah setelah itu suaranya hilang.


"Kalian apakah mendengar teriakan minta tolong?" tanya Ryan pada semua stafnya.


"Dengar pak makanya itu kami sedang mencari sumber suaranya, soalnya setelah itu suaranya hilang," ucap salah satu staf dan yang lainnya pun juga mendengarnya.


"Tolong kalian waspada ya saya gak mau kalian kenapa-napa," perintah Ryan membuat semuanya panik.


"Nanti saya ceritakan, lebih baik kita sama-sama cari dimana orang yang meminta tolong, sebelum itu saya akan melihat ke bawah dulu melalui kaca," ucap Ryan serius lalu Ryan melihat pemandangan di bawah untuk memastikan apa yang terjadi, namun ia merasa heran karena di bawah ia tidak menemukan kejanggalan apapun, tak mau gegabah kini Ryan menyuruh sekretarisnya untuk menghubungi pihak sekuriti.


"Tolong telpon keamanan sekarang," perintah Ryan dengan tegas dan serius.


"Baik pak.." jawab sekretarisnya lalu menelpon keamanan namun sayang tidak ada sahutan.


"Nihil pak.. Saya jadi takut kejadian kemarin terulang lagi," ucap sekretarisnya ketakutan.


"Sudah jangan panik nanti situasinya malah kacau, mari sama-sama kita atur nafas agar tenang dan bisa berpikir jernih," ucap Ryan menginstruksikan pada seluruh karyawannya.


Pyar.. Pyar.. Pyar.. Pyar.. Pyar.. Suara benda yang di lemparkan ke kaca hingga membuat kacanya pecah di berbagai titik. Semua di lakukan dalam waktu yang sama. Para karyawan yang mendengarnya pun langsung kaget dan panik, karena setelah itu terdengar suara ledakan bom cukup keras.


Duar... Suara letusan bom molotov membuat kaca seketika pecah dan dinding-dinding gedung banyak yang retak.


"Pak ada apa ini? Mengapa sekarang jadi senekat ini pak?" tanya sekretarisnya ketakutan dan para karyawan yang lain mengamankan dirinya masing-masing.

__ADS_1


"Harap tenang semuanya ini memang kejadian di luar kendali saya, tadi saya sudah menghubungi kepolisian supaya segera ke kantor kita," ucap Ryan mencoba menenangkan.


Lalu Ryan kembali menelpon pihak keamanan dan kali ini di angkat namun bukan suara pak satpam, melainkan suara orang asing.


"Halo.. Anda pasti ingin bertanya pada para satpam cupu mu itu kan? Haha.. Gimana dengan kejutan dari saya? Apakah membuat anda gentar?" tanya seseorang via telpon.


"Gue gak mau sia-siakan momen ini jadi gue harus rekam," batin Ryan lalu merekam percakapan.


"Anda siapa dan ada masalah apa dengan saya?" tanya Ryan dengan tenang.


"Urusan saya dengan anda? Apakah anda melupakannya?" tanya seseorang membuat Ryan mengernyitkan dahi.


"Apa maksud anda? Langsung saja ke intinya," jawab Ryan tak suka basa-basi.


"Haha anda terlalu cerdas kalau nanti saya langsung ke intinya, saya ingin bersenang-senang dengan anda terlebih dahulu," ucap seseorang membuat Ryan naik pitam.


"Saya tidak ada waktu untuk meladeni pengecut seperti anda, kalau merasa gentleman mari kita bertatap muka dan selesaikan masalahnya dengan benar," tantang Ryan.


"Ah itu metode biasa, sudah umum.. Saya menginginkan yang seperti ini, meneror anda haha.." ucap seseorang seraya tertawa.


"Gue rasa ini orang memiliki gangguan kejiwaan deh, apa dia klien yang ingin somasi gue?" batin Ryan berpikir.


"Apa manfaat anda meneror saya?" tanya Ryan.


"Banyak.. Salah satunya membuat anda dan seluruh karyawan anda merasa tidak aman," jawab seseorang dengan entengnya.


"Cih terserah anda saja saya dan seluruh karyawan tidak akan gentar sedikit pun, jadi jangan main-main dengan kami, apakah anda salah satu klien kami yang waktu itu protes tidak puas akan kinerja kami yang lamban karena saya sedang cuti?" tanya Ryan memastikan.


"Anda cerdas sekali pantas saja banyak yang memakai jasa anda, saya salut dengan anda.. Tujuan saya bukan untuk memakai jasa anda melainkan untuk menghancurkan anda," ucap seseorang dengan penuh penekanan lalu menutup panggilan.


Ryan merasa kesal karena masalah ini terlalu, berbelit, Ryan nekat turun dan berhasil menangkap plat nomor sang peneror tanpa sepengetahuan mereka. Setelah itu Ryan menuju ruang sekuriti dan ia dibuat terkejut dengan keadaan sekuriti nya yang bersimbah darah, Ryan langsung menghubungi ambulance dan membawa sekuriti ke rumah sakit terdekat supaya bisa mendapat pertolongan dengan cepat.


"Andai setelah mendengar teriakan gue langsung turun dan memantau keadaan, mungkin mereka kemungkinan hidupnya sangat besar, maafkan saya.." gumam Ryan penuh penyesalan.

__ADS_1


__ADS_2